Bukan di Kota Tangerang, Sejarah Ciledug Ternyata Miliki Dua Bangunan Stasiun yang Berbeda

Jalur kereta api wilayah Daerah Operasi (Daop) 3 Cirebon pun tak luput dari sejarah. Ya, jalur yang terkenal dengan laju kecepatan kereta api yang tinggi ini mengisahkan sejarah yang unik di beberapa wilayah. Nah, salah satu stasiun yang akan kabarpenumpang bahas kali ini adalah Stasiun Ciledug.

Sekilas nama Ciledug bagi warga Jabodetabek pasti mengingat akan daerah yang ada di Kota Tangerang, Kabupaten Banten. Padahal nama Ciledug ada stasiunnya juga, lho. Ya, Stasiun Ciledug, yang terletak di antara Cirebon dan Semarang, dibangun pada masa kolonial Belanda sebagai bagian dari jalur kereta api untuk mengangkut hasil pertanian dan perdagangan.

Stasiun yang terletak pada ketinggian +16 m ini, Awalnya stasiun ini memiliki tiga jalur kereta api dengan jalur 2 merupakan sepur lurus. Setelah dibangunnya jalur ganda di segmen Larangan – Ciledug per 16 Desember 2014 dan dilanjutkan dengan segmen terakhir Cirebon – Ciledug per 1 April 2015, jumlah jalur bertambah menjadi empat.

Sejarah mengatakan bahwa Stasiun Ciledug ternyata memiliki keunikan. Jaman era Kolonial Belanda, ternyata stasiun ini sempat memiliki 2 nama namun di perusahaan yang berbeda. Lokasinya pun juga berbeda jauh dari lokasi aslinya yang berada di rute Cirebon – Kroya.

Pada awalnya, Stasiun Ciledug di jalur yang dibangun oleh Maskapal Semarang Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS) pada tahun 1897 dari Cirebon sampai Semarang yang merupakan jalur tram pinggir jalan raya.

Stasiun Ciledug yang dibangun SCS. (Foto: Dok. indonesiarailwaymap.com)

Ada namanya Stasiun Mundu yang menjadi jalur utama berbelok ke arah selatan menuju Ciledug dan berbelok kembali ke utara di Stasiun Losari lama. Jalur cabang ini dibangun untuk memfasilitasi angkutan produk pabrik gula di sekitar Ciledung, Karangsuwung, Sindanglaut dan Jatipiring.

Sekitar dua puluh tahun kemudian SS juga membangun jalur Cirebon – Kroya (informasi tentang jalur Cirebon – Kroya yang dibangun SS dapat dilihat pada postingan INI dan INI) yang melewati Ciledug sehingga di daerah yang sama bisa ada dua stasiun, misalnya di Sindanglaut ada Stasiun milik SCS dan ada Stasiun milik SS. Kemudian baru pada tahun 1915 dibangun jalur shortcut dari Waruduwur ke arah timur dan berujung di Stasiun Losari (dan sekarang menjadi bagian dari jalur lintas utara jawa dari Cirebon ke Brebes).

Untuk jalur di Waruduwur – Ciledug – Losari saat ini sudah tidak banyak yang tersisa termasuk bangunan stasiun. Sedangkan jalur utama masih aktif sampai sekarang. Dari sejumlah stasiun yang dibangun pada masa SCS sampai sekarang, beberapa stasiun sudah dinonaktifkan dan kebanyakan hilang kecuali Stasiun krandon yang masih tersisa bangunannya, Stasiun Losari lama (Stasiun Losari baru 400 meter disebelah barat Stasiun lama) dan Stasiun Bulakamba yang belum lama dinonaktifkan setelah Jalur ini diselesaikan upgrade ke Double Track pada tahun 2013-2014.

Kini yang masih aktif digunakan hanyalah Stasiun Ciledug dengan rute Cirebon – Kroya. Stasiun ini juga aktif melayani penumpang Kerta Api Jarak Jauh (KAJJ) baik dari arah Jakarta maupun dari arah Yogyakarta atau Surabaya. Memiliki bangunan yang cukup megah membuat Stasiun Ciledug terlihat lebih luas hingga kini. Beberapa KA yang berhenti di Stasiun Ciledug adalah KA Cakrabuana, KA Ranggajati, KA Fajar Utama Yogyakarta, dan KA Gaya Baru Malam Selatan.

Stasiun Cirebon, Bernilai Strategis dan Menyandang Bangunan Cagar Budaya

Sempat Ditutup, Kini Masyarakat Kembali Bisa Memesan Tiket KA Desember Mendatang

Beberapa hari lalu informasi yang disampaikan oleh PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) mengenai penyesuaian perjalanan kereta api (KA). Penyesuaian tersebut adalah pola pengaturan kecepatan perjalanan KA. Diketahui bahwa kecepatan perjalanan KA saat ini mencapai maksimum 120 km/jam.

Ya, PT KAI akan melakukan penyesuaian jadwal dan pola perjalanan kereta api di seluruh wilayah Daerah Operasional (Daop) 1 sampai dengan 9 mulai 1 Desember 2025. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan keselamatan, efisiensi operasional, dan kenyamanan pelanggan.

Penumpang kereta api memadati stasiun. (Foto: Dok. Istimewa)

Sebelumnya dengan proses pembaruan tersebut, pemesanan tiket untuk perjalanan bulan Desember 2025 sempat sementara belum dapat dilakukan. Pelanggan dapat membeli tiket hingga tanggal keberangkatan 30 November 2025 melalui seluruh kanal resmi KAI: aplikasi Access by KAI, situs booking.kai.id, Call Center 121, dan mitra resmi KAI.

Vice President Public Relations KAI Anne Purba menjelaskan pembaruan jadwal merupakan bagian dari peningkatan keandalan layanan. Menurutnya, langkah tersebut penting untuk memastikan pelayanan KAI semakin efisien dan tepat waktu di seluruh daerah.

KAI juga menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang mungkin dirasakan pelanggan selama masa penyesuaian berlangsung. Tentunya setiap perubahan terkait pola perjalanan, jadwal, dan sistem pemesanan tiket akan diinformasikan secara berkala melalui media sosial resmi KAI.

Beruntung per hari ini jadwal KA sudah dapat dipesan untuk Bulan Desember. Berbagai rute dan tujuan baik kereta kelas ekonomi maupun eksekutif sudah dapat dilayani. Melalui aplikasi ataupun website resmi KAI, masyarakat sudah bisa mengatur jadwal perjalanan KA ke destinasi favorit.

Masyarakat pun sudah bisa memesan tiket KAI mulai H-45. Antusiasme masyarakat tentunya berharap bisa mendapat tiket perjalanan KA di Bulan Desember, mengingat pada bulan tersebut merupakan momen yang ditunggu-tunggu bagi masyarakat. Momen tersebut adalah libur Natal dan tahun baru (nataru).

Perjalanan Mendadak? Jangan Khawatir, Pesan Tiket Kereta Bisa 2 Jam Sebelum Keberangkatan

“Indian Pacific” (Sydney-Perth): Kereta Mewah Lintas Benua yang ‘Menyapa’ Dua Samudra

Bila “The Ghan” adalah kereta mewah jarak jauh yang melayani rute Adelade (Australia selatan) – Darwin (Australia utara), maka untuk rute Australia timur ke Australia barat juga ada kereta sejenis yang tak kalah mewah dengan melintasi jalur wisata yang eksotis. Kereta mewah jarak jauh yang dimaksud adalah “Indian Pacific.”

Baca juga: “The Ghan” (Adelaide-Darwin) – Perjalanan Kereta Eksotis 3 Hari Melintasi Gurun dan Pedalaman Australia

Indian Pacific adalah layanan kereta api mewah yang menghubungkan Sydney di New South Wales dengan Perth di Australia Barat. Perjalanan dimulai di stasiun kereta api Sydney Central di New South Wales. Dalam perjalanan, kereta akan melintasi kawasan wisata unggulan seperti Blue Mountains, Broken Hill, Adelaide, Cook, Nullarbor Plain, dan berakhir di kota pantai Perth di Australia Barat.

Gagasan untuk menghubungkan timur dan barat Australia dengan jalur kereta api telah ada sejak akhir abad ke-19. Namun, proyek ini terbukti sulit karena tantangan geografis dan teknis yang melibatkan melewati gurun pasir dan daerah terpencil. Pembangunan jalur kereta api antara Sydney dan Perth dimulai pada awal abad ke-20. Bagian-bagian berbeda dari jalur ini dibangun oleh berbagai perusahaan kereta api negara bagian dan federal.

Pada tahun 1970, layanan Indian Pacific secara resmi diluncurkan setelah selesainya jalur rel yang menghubungkan Sydney dan Perth. Kereta ini dioperasikan oleh perusahaan kereta api negara bagian yang kemudian digabung menjadi perusahaan kereta api nasional Australia, yang dikenal sebagai “Australian National.”

Pada tahun 1997, layanan Indian Pacific dan Australian National Railways secara keseluruhan dijual kepada sektor swasta sebagai bagian dari inisiatif privatisasi yang lebih besar di Australia. Selama beberapa tahun, Indian Pacific mengalami berbagai perubahan pemilik dan operator dalam industri kereta api swasta Australia.

Indian Pacific kini telah berkembang menjadi lebih dari sekadar transportasi, tetapi juga menjadi pengalaman wisata yang populer di kalangan turis lokal maupun internasional. Perjalanan dengan Indian Pacific menawarkan pemandangan alam yang spektakuler dan pengalaman melintasi dataran Australia yang luas.

Nama “Indian Pacific” sendiri merujuk pada perjalanan yang menghubungkan Samudra Hindia (Indian Ocean) di barat dengan Samudra Pasifik (Pacific Ocean) di timur. Jarak tempuh Indian Pacific Train, yang menghubungkan Sydney dengan Perth bervariasi tergantung pada rute dan kondisi perjalanan tertentu. Secara kasar, perjalanan ini melibatkan perjalanan melintasi benua Australia dari timur ke barat. Jarak tempuh yang diestimasi adalah sekitar 4.352 kilometer (2.703 mil) dengan memakan waktu sekitar 72 jam.

Meskipun layanan dan fasilitas dapat berubah dari waktu ke waktu, berikut adalah beberapa layanan standar di Indian Pacific:

Kabin Tidur
Indian Pacific menawarkan berbagai jenis kabin tidur, mulai dari kabin ekonomi hingga kabin yang lebih mewah dengan fasilitas pribadi, tempat tidur nyaman, dan pemandangan luar yang spektakuler.

Makanan dan Minuman
Penumpang dapat menikmati makanan dan minuman yang lezat selama perjalanan. Sarapan, makan siang, dan makan malam disajikan di gerbong restoran, dan menu sering kali mencakup hidangan lokal dan khas Australia.

Lounge dan Bar
Kereta ini biasanya memiliki lounge dan bar yang menyediakan tempat bersantai, bersosialisasi dengan penumpang lain, dan menikmati minuman ringan.

Hiburan
Beberapa kereta memiliki fasilitas hiburan di dalam kabin, seperti televisi layar datar, radio, dan lebih banyak lagi. Selain itu, perjalanan itu sendiri adalah hiburan dengan pemandangan luar yang menakjubkan.

Baca juga: Kuranda Scenic Railroad – Jalur Kereta Berbahaya di Australia yang Tampilkan Eksotisme

Pemandu Wisata
Indian Pacific biasanya memiliki pemandu wisata yang memberikan informasi tentang pemandangan, sejarah, dan budaya daerah yang dilalui selama perjalanan.

Aktivitas di Luar Kereta
ndian Pacific menyertakan perhentian di kota-kota tertentu yang memberikan kesempatan bagi penumpang untuk tur dan menjelajahi tempat-tempat menarik.

Arab Saudi dan UEA Membawa Kembali Era Emas Kereta Mewah: Siap-siap Check-in di ‘Hotel di Atas Roda’

Era perjalanan cepat mungkin mulai jenuh. Di saat dunia sibuk memesan tiket pesawat low-cost carrier dan penerbangan short-haul, Timur Tengah justru bergerak mundur—tapi dengan standar kemewahan yang sangat maju.

Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) kini memimpin kebangkitan gerakan slow travel dengan memperkenalkan “hotel bintang lima di atas roda.” Dua proyek kereta ultra-mewah, Dream of the Desert di Saudi dan layanan eksklusif Etihad Rail, siap mengubah lanskap pariwisata regional, mengubah gurun pasir menjadi Jalur Sutra yang berlapis emas.

Arab Saudi: Impian Gurun yang Berjalan (Dream of the Desert)
Bagi CEO Arsenale Group, Paolo Barletta, kereta bukan sekadar gerbong; itu adalah “hotel di atas roda.” Konsep inilah yang dibawa ke Arab Saudi melalui proyek Dream of the Desert.

Ditargetkan beroperasi pada akhir 2026, rute strategis kereta ini akan menyusuri 1.300 km jalur kereta api dari Riyadh menuju situs-situs Warisan Dunia UNESCO, melintasi keindahan gurun, oasis Qassim, hingga pegunungan Al Hail. Ini adalah cara baru yang lambat (tapi mahal) untuk menjelajahi kerajaan.

Oriental Desert Express, Sensasi Kereta Mewah Pelintas Padang Pasir

Kereta ini dirancang oleh arsitek Aline Asmar d’Amman dan hanya menampung 66 tamu di 33 suite (termasuk Presidential Suites). Desain interiornya bukan sekadar mewah, tapi juga membawa “seluruh budaya negara ke dalam gerbong,” dengan referensi desain dari AlUla hingga Laut Merah.

Tiket dipatok antara $3.000 hingga $5.000 per orang per malam. Ini menegaskan bahwa perjalanan ini adalah pengalaman ultra-luxury, bukan sekadar moda transportasi.

UEA: Pesiar Darat Versi Etihad Rail
Tak mau kalah, Uni Emirat Arab sedang menyiapkan layanan mewah di jaringan kereta api nasional mereka, Etihad Rail. Layanan mewah ini diharapkan meluncur pada tahun 2028, setelah infrastruktur kereta penumpang Etihad Rail selesai. Daripada memfokuskan pada kecepatan, Arsenale dan Etihad Rail berfokus pada “pesiar darat” (inland cruise). Bayangkan, naik kereta dari gurun Liwa yang sunyi, menuju pegunungan Hatta, dan berakhir di pesisir Fujairah—semuanya sambil bersantai di kabin mewah Anda.

Barletta melihat kereta ini sebagai pelengkap sempurna bagi pariwisata UEA. Tamu bisa menginap satu malam di hotel bintang tujuh, dua malam di kereta, dan kemudian kembali ke hotel.

Hubungkan Abu Dhabi – Dubai dengan Kereta Cepat, Etihad Rail Mulai Layani Penumpang di Tahun 2026

Mengapa Kereta Mewah Kembali Populer?
Tren ini didorong oleh tiga faktor utama yang dikutip Barletta, yaitu Nostalgia, seperti kerinduan akan era The Orient Express dan kemewahan perjalanan darat yang elegan. Kemudian keberlanjutan, meskipun perjalanan ini mahal, ia diposisikan sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan daripada penerbangan jarak pendek (short-haul flight), dan disconnection, di era digital yang hiper-konektif, perjalanan lambat memungkinkan penumpang untuk benar-benar bersantai dan melepaskan diri dari tuntutan pekerjaan atau media sosial.

Timur Tengah, yang dikenal dengan kemajuan arsitektur dan kecepatan pembangunan, kini menggunakan teknologi terdepan untuk menghidupkan kembali pesona perjalanan kuno. Namun, kali ini, Anda tidak perlu khawatir tentang kamar mandi komunal; karena, ini adalah standar bintang lima, bukan gerbong tua.

Misteri Kereta Mewah Orient Express Terpecahkan, Gerbong yang Hilang Berhasil Ditemukan

 

Catat! Ada Jadwal Kereta Api Tambahan Selama November 2025

Perjalanan menggunakan kereta api (KA) memang selalu diminati masyarakat. Tak hanya saat liburan tiba, namun saat di hari-hari biasa pun penumpang kereta api terlihat ramai di stasiun terutama stasiun keberangkatan dari Jakarta.

Seperti pada bulan November ini, meskipun tak ada tanggal yang menunjukkan liburan panjang namun PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) tetap menjalankan beberapa perjalanan KA tambahan. Selain itu tanggalnya pun sudah dipilih untuk memenuhi kebutuhan bertransportasi menggunakan kereta api.

Penumpang kereta api di Stasiun Pasar Senen. (Foto: Dok. KAI)

Untuk kota-kota pilihan yang akan ditambah perjalanan KA rencananya, KAI akan menambahkan perjalanan dari atau menuju kota-kota destinasi wisata seperti Yogyakarta, Malang, Surabaya, dan Bandung. Beberapa kota atau destinasi tujuan yang disebutkan memang dipilih sebagai minat masyarakat untuk berkunjung.

Alasan KAI melakukan penambahan perjalanan ini bertujuan untuk mengakomodasi lonjakan penumpang dan mendukung mobilitas masyarakat selama musim wisata akhir tahun. Apalagi jelang Desember, banyak masyarakat yang berlomba-lomba memesan tiket KA untuk liburan panjang.

Sementara itu, Vice President Public Relations KAI Anne Purba menyatakan, langkah ini diambil karena meningkatnya permintaan perjalanan menjelang akhir tahun. Guna mendukung aktivitas dan mobilitas masyarakat, KAI memberikan layanan berupa penambahan perjalanan kereta.

Berikut ini daftar beberapa kereta ditambahkan selama Bulan November:

• Keberangkatan 1-30 November 2025:
1. KA Argo Anjasmoro (relasi Gambir – Surabaya Pasar Turi PP)
2. KA Sancaka Utara (relasi Cilacap – Surabaya Pasar Turi PP)
3. KA Ijen Ekspres (relasi Ketapang – Malang PP)
4. KA Arjuno Ekspres (relasi Malang – Surabaya Gubeng PP).

• Keberangkatan 1–2, 6–9, 13–16, 20–23, dan 27–30 November 2025:
1. KA Purwojaya (relasi Gambir – Cilacap PP)
2. KA Sancaka (relasi Surabaya Gubeng – Yogyakarta PP)
3. KA Parahyangan Fakultatif (relasi Bandung – Gambir PP)
4. KA Kaligung (relasi Semarang Poncol – Tegal PP)
5. KA Batavia (relasi Solo Balapan – Gambir PP).

• Keberangkatan khusus 2, 9, 16, 23, dan 30 November 2025:
1. KA Cirebon Fakultatif (Cirebon – Gambir PP).

KAI mencatat rute Yogyakarta, Malang, dan Surabaya sebagai destinasi paling diminati. Penambahan kereta ini juga bertujuan untuk menggerakkan sektor wisata dan mendongkrak perekonomian daerah.

Seluruh perjalanan tambahan akan menggunakan rangkaian terbaru dari KAI, seperti Eksekutif Stainless Steel New Generation, Ekonomi New Generation Modifikasi, dan Ekonomi Premium Stainless Steel.

Anne menambahkan dalam keterangan resminya bahwa melihat tren peningkatan jumlah pelanggan setiap kali musim liburan tiba, KAI pastinya selalu menambah perjalanan kereta agar masyarakat bisa bepergian dengan lebih mudah, nyaman, dan menyenangkan.

“Kami ingin setiap perjalanan menjadi pengalaman yang berkesan. Masyarakat tidak hanya berpindah tempat, tetapi juga menikmati pemandangan Indonesia yang indah dari balik jendela kereta,” ujar Anne.

Tak Kenal Maka Tak Sayang, Inilah Sebenarnya Peran dan Tugas PKD!

Emirates Menggunakan Kecerdasan Buatan untuk Memprediksi Turbulensi Udara

Emirates Airlines, salah satu maskapai penerbangan terbesar di dunia, mengumumkan inovasi terbaru dalam teknologi penerbangannya dengan mengadopsi kecerdasan buatan (AI) untuk memprediksi turbulensi udara secara lebih akurat. Langkah ini bertujuan meningkatkan kenyamanan dan keselamatan penumpang serta efisiensi operasional maskapai.

Penerbangan sering kali terganggu oleh turbulensi, yang dapat menyebabkan ketidaknyamanan bahkan risiko keselamatan jika tidak diprediksi dan diatasi dengan tepat. Emirates bekerja sama dengan perusahaan teknologi terkemuka untuk mengembangkan sistem prediksi turbulensi berbasis AI yang mampu memantau kondisi cuaca secara real-time dan memproyeksikan potensi turbulensi di jalur penerbangan.

Sistem ini memanfaatkan algoritma machine learning yang akan memproses data cuaca dari berbagai sumber, termasuk satelit, radar, dan sensor cuaca di pesawat. Data tersebut kemudian dianalisis untuk mengidentifikasi pola yang mengindikasikan kemungkinan turbulensi, sehingga pilot dapat mengambil tindakan preventif lebih awal.

Terjebak Turbulensi Saat Berada di Dalam Toilet Pesawat, Ini yang Harus Anda Lakukan!

Dengan penerapan teknologi ini, Emirates berharap dapat mengurangi kejadian turbulensi yang tidak terduga, memberikan pengalaman penerbangan yang lebih nyaman bagi penumpang. Selain itu, penggunaan AI juga membantu maskapai dalam mengoptimalkan jalur penerbangan, mengurangi konsumsi bahan bakar, dan memperpanjang umur pesawat melalui perencanaan rute yang lebih efisien.

CEO Emirates, Ahmed bin Saeed Al Maktoum, menyatakan, “Inovasi ini merupakan langkah maju dalam memastikan keselamatan dan kenyamanan penumpang kami. Menggunakan AI untuk memprediksi turbulensi adalah contoh nyata dari komitmen kami terhadap teknologi dan inovasi dalam industri penerbangan.”

Adopsi AI oleh Emirates menjadi bagian dari tren global dalam industri penerbangan yang semakin mengandalkan teknologi canggih untuk meningkatkan layanan dan efisiensi. Di masa depan, kemungkinan besar teknologi serupa akan diterapkan di maskapai lain, menjadikan penerbangan yang lebih aman, nyaman, dan ramah lingkungan.

Dengan kemajuan ini, Emirates menegaskan posisinya sebagai pelopor dalam inovasi penerbangan berteknologi tinggi, sekaligus memperkuat reputasinya sebagai maskapai yang selalu mengedepankan keselamatan dan kenyamanan penumpang.

Waspada! Lima Rute Penerbangan ini Terkenal dengan Turbulensi Parah

Meski Kecil, Ternyata Ini Fakta Unik di Stasiun Rejotangan

Berada di wilayah Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun dan berada di jalur antara Kertosono – Blitar. Kereta api (KA) yang melintas pun cukup ramai, walaupun masih ada jeda perjalanan antar KA hingga lebih dari setengah jam. Stasiun yang akan kita bahas ini merupakan stasiun dengan bangunan yang agak kecil dan sederhana namun ramai dengan penumpang.

Ya, Stasiun Rejotangan merupakan stasiun kelas III dengan bangunan yang terlihat ornamen sejak jaman Kolonial Belanda. Stasiun ini juga merupakan stasiun cagar budaya yang memiliki ciri khas tertentu termasuk pondasi atau dinding yang berbatu.

Stasiun Rejotangan juga merupakan salah satu dari lima stasiun kereta api yang melayani masyarakat Tulungagung. Meskipun termasuk kelas kecil, namun keberadaannya sangat dibutuhkan masyarakat. Berikut sederet fakta Stasiun Rejotangan dikutip dari berbagai sumber.

Stasiun Rejotangan. (Foto: Dok. Istimewa)

Beberapa fakta unik yang ada di Stasiun Rejotangan pun tak luput dari bangunan maupun sekitar stasiun. Banyak masyarakat menggunakan KA baik dari arah Surabaya,Malang maupun sebaliknya naik dan turun di stasiun ini. Nah, kabarpenumpang merangkumnya untuk kalian.

• Stasiun dengan Bangunan Kecil
Stasiun Rejotangan merupakan salah satu stasiun kelas III/kecil di bawah pengelolaan Daop 7 Madiun. Stasiun ini berada di ketinggian +116 mdpl. Fasilitas stasiunnya pun sama halnya seperti stasiun kecil lainnya.

• Stasiun Paling Ujung Timur
Hal ini berbanding lurus dengan letak wilayah Kecamatan Rejotangan yang merupakan kecamatan paling timur di Tulungagung. Bahkan kecamatan ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Blitar.

• Dikelilingi Pemukiman
Lokasinya berada di Desa/Kecamatan Rejotangan tepatnya di sisi utara Jalan Raya Tulungagung-Blitar dan berada di belakang pemukiman warga. Terhitung tidak begitu jauh dari polsek, koramil, maupun kantor Kecamatan Rejotangan.

• Stasiun Perhentian Kereta Lokal (Commuter Line)
Lokasinya berada di Desa/Kecamatan Rejotangan tepatnya di sisi utara Jalan Raya Tulungagung-Blitar dan berada di belakang pemukiman warga. Terhitung tidak begitu jauh dari polsek, koramil, maupun kantor Kecamatan Rejotangan.

Stasiun Rejotangan dilayani Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA) dengan persinyalan mekanik. Selain kereta api lokal (Penataran/Dhoho) yang berhenti di stasiun ini, ada pula kereta api yang melewati bahkan melintas langsung. Kereta api tersebut adalah KA Kahuripan, KA Matarmaja, KA Brantas, KA Singasari, KA Majapahit, KA Kertanegara, KA Malioboro Ekspres, KA Malabar, KA Brawijaya, dan KA Gajayana.

Stasiun Tulungagung, Dahulu Pernah Dilengkapi Turn Table Lokomotif

Mengenal Moda Berbasis Levitasi Magnetik (Maglev)? Ini Dia Serba-Serbinya!

Apa yang terbesit di benak Anda pertama kali ketika mendengar kata magnetic levitation (maglev)? Mungkin sebagian dari Anda langsung teringat akan moda futuristik Hyperloop yang lahir dari buah pemikiran entrepreneur kelahiran Pretoria, Afrika Selatan, Elon Musk. Berbeda dengan kereta api pada umumnya yang mengular di atas rel, kereta bertenaga maglev ini merupakan kereta yang mengambang secara magnetik. Lalu, bagaimmana cara kerja dari kereta levitasi magnetik ini?

Baca Juga: Tiga Tahun Lagi Cina Luncurkan Kereta Maglev Berkecepatan 600 Km Per Jam

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, prinsip kerja yang utama dari kereta jenis ini adalah memanfaatkan gaya magnet untuk mengangkat rolling stock sehingga tidak menyentuh rel alias mengambang. Dengan begitu, gaya gesek yang semula dihasilkan antara rel dan roda kereta dapat dikurangi. Tidak hanya mengangkat, gaya magnet yang tercipta pun dimanfaatkan sebagai pendorong.

Dengan kecilnya gaya gesek dan besarnya gaya dorong, kereta ini mampu melaju hingga kecepatan 600 km per jam, jauh melebihi kecepatan yang dihasilkan oleh kereta biasa. Jika ditinjau dari segi keuntungan, utamanya adalah biaya pengoperasian yang lebih hemat. Ini dikarenakan oleh tidak adanya gaya gesek yang dihasilkan antara roda dan rel, sehingga diperkirakan tidak ada bagian yang aus.

Keuntungan lainnya ketika mengoperasikan kereta levitasi magnetik adalah tidak ada gaya resistansi (hambatan) yang dihasilkan akibat gesekan. Kendati demikian, gaya resistansi udara tentunya masih ada, maka tidak heran jika banyak perusahaan rolling stock yang tengah mengupayakan ‘kelahiran’ dari kereta maglev yang lebih aerodinamis.

Untuk kekurangannya terletak pada tingkat kebisingan yang dihasilkan, dimana sebuah studi melaporkan bahwa kereta maglev menghasilkan sekitar 5 dB (desibel) atau 78 persen lebih bising ketimbang kereta konvensional. Selain itu, mahalnya biaya investasi terutama pada pengadaan rel menjadi kelemahan kereta maglev yang lainnya.

Bagi Anda yang daritadi kebingungan akan definisi mengambang seperti yang sudah dijabarkan di atas, tentu saja kereta ini tidak seperti sebuah kapal laut yang mengambang di atas permukaan laut, hanyalah kurang lebih 10 mm dari atas rel. Gaya dorongnya sendiri dihasilkan melalui interaksi antara rel magnetik dengan mesin induksi yang juga menghasilkan medan magnetik di dalam kereta.

Diketahui, hingga saat ini tercantum beberapa negara yang tengah mengembangkan teknologi berbasis gaya magnetik ini, seperti Cina, Jepang, Perancis, Amerika, dan Jerman. Kendati namanya tidak tercantum sebagai salah satu pengembang kereta maglev, tapi tahukah Anda bahwa kereta yang menggunakan teknologi maglev pertama kali dikomersialkan di dekat Birmingham, Inggris pada tahun 1984 silam.

Gerbong Shinkansen Dipamerkan Untuk Jalur Maglev Linear Chuo dengan Kecepatan 500 km/jam

 

Gerbong Shinkansen Dipamerkan Untuk Jalur Maglev Linear Chuo dengan Kecepatan 500 km/jam

Pers pertama kali melihat gerbong kereta yang akan digunakan untuk jalur maglev Linear Chuo Shinkansen ketika diresmikan pada hari Jumat lalu di jalur uji coba di Prefektur Yamanashi.

M10, gerbong kereta baru dari Central Japan Railway Co. (JR Tokai), masih dalam tahap uji coba dan diperkirakan akan digunakan ketika Linear Chuo Shinkansen mulai beroperasi.

Salah satu fitur M10 adalah kursinya tidak dapat direbahkan, karena dirancang untuk penumpang yang bepergian dalam waktu singkat.

Karena pembangunan satu ruas jalur Linear Chuo Shinkansen belum dimulai, jadwal kapan M10 akan digunakan masih belum jelas. Namun, gerbong-gerbong tersebut masih dalam tahap pembangunan.

Ini adalah gerbong kereta maglev pertama yang diresmikan dalam lima tahun. Kereta maglev ini akan memiliki kecepatan tertinggi 500 km/jam dan diperkirakan akan menempuh jarak antara Stasiun Shinagawa dan Nagoya dalam waktu 40 menit. Untuk mencapai kecepatan tersebut, fungsi sandaran kursi dan fitur-fitur lainnya dihilangkan agar lebih ringan.

Ruang di depan setiap kursi telah diperluas, sehingga penumpang dapat meletakkan barang bawaan dan barang-barang lainnya di dekat kaki mereka.

Kereta Maglev Jepang Akan Gunakan Kursi Non-reclining

Kecepatan Linear Chuo Shinkansen dan gambar-gambar seperti langit biru dan berbagai lokasi akan diproyeksikan di langit-langit gerbong kereta saat rel kereta melewati banyak terowongan dan tidak akan ada banyak pemandangan dari jendela.

“Teknologi yang diperlukan untuk pengoperasian maglev sebagian besar telah dikembangkan,” kata direktur pusat pengujian kereta maglev di Prefektur Yamanashi.

Namun, dengan adanya kekhawatiran tentang pembangunan terowongan yang memiliki berbagai dampak lingkungan, pembangunan di salah satu ruas rel di Prefektur Shizuoka belum dimulai, dan belum ada jadwal pasti kapan pembangunan tersebut akan dimulai.

Selain itu, JR Tokai menyatakan pada hari Rabu bahwa total biaya pembangunan jalur maglev antara Stasiun Shinagawa dan Nagoya diperkirakan akan meningkat sekitar 4 triliun yen hingga 11 triliun yen. Mengamankan dana dalam jumlah besar akan menjadi tantangan yang signifikan.

Mengenal Moda Berbasis Levitasi Magnetik (Maglev)? Ini Dia Serba-Serbinya!

Stasiun Purwosari: Saksi Sejarah Pertemuan Jalur Trem Kuda Menuju Boyolali

Stasiun kereta api (KA) di wilayah Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta rasanya tak pernah habis akan sejarah. Ya, ada stasiun di wilayah tersebut yang cukup unik dan juga merupakan jalur percabangan menuju kawasan Boyolali, Jawa Tengah. Stasiun ini adalah Purwosari yang berada antara petak Stasiun Solo Balapan dengan Stasiun Gawok.

Selain tempat naik dan turun penumpang dengan disinggahi banyaknya KA, Stasiun Purwosari pastinya memiliki sejarah yang melegenda. Bangunan serta arsitektur yang mencerminkan gaya khas sejak jaman Kolonial Belanda ini, mampu menarik daya tarik masyarakat akan ukiran dan ornamen yang masih terlihat keasliannya.

Stasiun Purwosari juga digadang-gadang termasuk ‘stasiun pulau’ yang sangat mirip dengan Stasiun Kedungjati dan Ambarawa. Konstruksinya dari besi yang menopang atap dengan penutup seng gelombang. Kemudian di bagian tengah terdapat ruang-ruang pelayanan stasiun dan ruang-ruang tunggu dengan peron di kedua sisinya.

Disebutkan bahwa Stasiun Purwosari juga menjadi stasiun kedua setelah Stasiun Solo Balapan yang dibangun Nederlandsch-Indische Maatschappij (NISM) di Solo pada akhir abad ke-19. Stasiun ini dilintasi kereta rute Semarang-Vorstenlanden, Yogyakarta-Solo-Surabaya, dan sebaliknya.

Stasiun Purwosari juga jadi perlintasan/pertemuan jalur Boyolali-Solo-Wonogiri yang diprakarsai perusahaan swasta kereta api Solosche Tramweg Maatschappij (STM) pada awal abad ke-20. Sejarah mencatat Stasiun Purwosari juga menjadi terminal trem dalam kota.

Wajah Stasiun Trem Boyolali. (Foto: Dok. malayanrailways.com)

Fakta sejarah bahwa Stasiun Purwosari Solo menjadi terminal trem juga diungkapkan laman heritage.kai.id. Pada awalnya, STM menggunakan tenaga kuda sebagai penarik trem. Terdapat sambungan jalur trem menuju Boyolali milik perusahaan trem swasta, Solosche Tramweg Maatschappij [STM] yang dibuka untuk umum tahun 1897.

Selain itu, terdapat jalur trem menuju Wonogiri milik NISM yang diresmikan pada 1922 melewati Stasiun Solo Kota. Trem kuda yang dioperasikan STM melayani jalur sepanjang sepanjang 27 km dari Solo Jebres-Stasiun Purwosari-Boyolali.

Lokasi pemberhentiannya di dekat Warung Pelem, Pasar Gede, dan Benteng Vastenburg. Namun sayangnya trem kuda ini tidak bertahan lama. Pada 1899, banyak unit kuda STM yang terjangkit penyakit. STM lalu menjalin kontrak kerja sama dengan NISM dan diakuisisi oleh NISM pada 1 Januari 1911.

Bangunan Stasiun Purwosari yang ada sekarang selesai dibangun pada 1912. Kini Stasiun Purwosari masih terus melayani KA dari arah Surabaya maupun dari arah Bandung dan Jakarta.

Keunggulan lainnya adalah stasiun ini menjadi jalur percabangan KA menuju Stasiun Wonogiri di mana jalur kereta apinya sangat langka dan ikonik di Indonesia karena berdampingan dengan moda transportasi lain di tengah kota.

Ini Dia Alasan Kenapa Singkatan Stasiun Solo Jebres Adalah “SK” Bukan “SJ”