Industri Penerbangan Global Bingung, Maju Kena Mundur Babak Belur

0
Ilustrasi pesawat mangkrak gegara virus Corona. Foto: AirTeamImages via Bloomberg

Perjalanan udara disinyalir menyumbang antara 2-3 persen dari emisi karbon dunia, tetapi persentase untuk itu setara dengan 4,5 miliar perjalanan penumpang, pergerakan 64 juta metrik ton kargo dan sepertiga dari perdagangan global dunia. Di samping itu, sektor penerbangan juga menopang 65 juta pekerjaan.

Baca juga: Bagaimana Load Factor Pengaruhi Profit Maskapai? Berikut Penjelasannya

Namun sekarang sebagian besar jaringan penerbangan global telah ditutup sebagai bagian dari upaya mencegah penyebaran virus corona yang lebih luas. Jumlah penerbangan harian tercatat telah turun 80 persen sejak awal tahun ini, dan di beberapa wilayah hampir semua lalu lintas penerbangan telah ditangguhkan.

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) juga telah mengingatkan, bahwa maskapai penerbangan pada umumnya hanya bisa bertahan dengan cadangan kas perusahaan hingga akhir kuartal II atau Juni. Hal itu menyebabkan sekitar 25 juta pekerja terancam PHK. Bila tak ada langkah konkret, maskapai akan bangkrut.

Belum juga sampai di bulan Juni, ancaman PHK nyata adanya. Airbus dikabarkan telah mem-PHK sebanyak 3.000 karyawan. Sedangkan Boeing, belakangan santer dikabarkan akan mem-PHK sebanyak 7.000 karyawan. British Airways, lebih gila lagi, lebih dari 12 ribu posisi dipangkas. Easyjet merumahkan sekitar 4 ribu awak kabin selama dua bulan, Qantas 20 ribu karyawan dipaksa cuti tanpa dibayar, dan American Airlines telah menegosiasikan pensiun dini untuk 700 pilot. Masih banyak lagi gelombang PHK di industri penerbangan global yang tak mungkin disebutkan seluruhnya.

Saat ini, menurut Cirium, diperkirakan ada sekitar 17.000 pesawat yang di-grounded di bandara di seluruh dunia. Angka tersebut mewakili sekitar dua pertiga dari armada global. Sisanya, bukan masih terus eksis melayani penumpang, melainkan dikonversi menjadi angkutan kargo untuk mengangkut peralatan medis dari dan ke seluruh dunia tanpa satupun penumpang.

Dikutip dari BBC Internasional, Direktur Jendral IATA, Alexandre de Juniac, mengatakan bahwa tantangan industri penerbangan global saat ini adalah bagaimana membuat kepastian kapan negara-negara di dunia mengakhiri kebijakan pembatasan perjalanan. Jika itu bisa terjawab, mungkin ke depannya keadaan tidak akan memburuk. Namun, ia percaya, bahwa kebijakan lockdown atau pembatasan perjalanan sebagian negara akan berakhir pada pertengahan tahun dan sebagian lainnya akan terus berlaku sampai akhir tahun 2020.

Ketika situasi itu terjadi, lanjutnya, mungkin perlahan tapi pasti penerbangan domestik akan mulai bergairah lebih dulu, diikuti penerbangan internasional jarak pendek, dan jarak jauh atau antar benua menyusul kemudian.

Namun, ketika penerbangan mulai bergairah, tantangan belum berarti usai. Selama wabah corona berlangsung, perjalanan udara memang terus menurun. Penyebabnya sebagian besar diakibatkan oleh kebijakan lockdown atau pembatasan perjalanan di hampir seluruh negara, ekonomi anjlok, dan ketakutan penumpang terhadap corona itu sendiri. Ketakutan penumpang inilah yang diprediksi akan terus dikelola oleh maskapai.

Salah satu caranya tentu saja memperpanjang kebijakan physical distancing di dalam kabin selama penerbangan sampai keadaan benar-benar kembali normal dan psikologi penumpang dapat ter-manage dengan baik. Hal ini mungkin akan berdampak dengan pengalaman end-to-end penumpang.

Menurut sebagian ahli, menerapkan kebijakan physical distancing di setiap penerbangan, dalam jangka pendek dan sebagai bagian dari memulihkan psikologi penumpang akan ketakutan berlebih terhadap corona, mungkin itu tak menjadi masalah. Namun, untuk jangka panjang, mungkin akan menjadi masalah baru bagi maskapai.

Baca juga: Walau Nganggur, Pesawat Tetap ‘Merepotkan’ Petugas, Loh

Celakanya, maskapai tak punya pilihan lain. Menggrounded pesawat tanpa ada penerbangan akan membuat mereka tercekik habis. Pasalnya, pesawat tetap harus mendapat perawatan, selain ongkos parkir yang cukup besar. Menurut Mark Martin, pendiri Martin Consulting LLC yang berbasis di Dubai, biaya parkir bisa mencapai $1.000 per hari untuk pesawat besar.

Bayangkan jika maskapai harus menggrounded berbulan-bulan dan tanpa dibarengi pemasukan. Artinya, cadangan uang maskapai akan terus tergerus. Tetapi, bila pun terbang dengan menerapkan kebijakan physical distancing atau 65 persen dalam posisi penuh, mungkin cukup menjadi beban buat maskapai, terlebih untuk maskapai LCC atau berbiaya hemat yang biasanya mengangkut 90persen dari kapasitas. Inilah yang pada akhirnya membuat industri penerbangan dalam posisi dilema. Tak terbang merana, terbang pun belum tentu terhindar dari celaka.

Leave a Reply