Pesawat Listrik NASA X-57 Maxwell Segera Terbang Perdana

0
Belum tuntas pengembangan pesawat supersonik X-59 QueSST hasil kolaborasi dengan perusahaan kedirgantaraan Amerika Serikat, Lockheed Martin, NASA dikabarkan juga tengah mengembangkan pesawat varian ‘X’ lainnya, yakni X-57 Maxwell. Ditargetkan, X-57 Maxwell akan mulai terbang perdana sebelum akhir tahun 2020 mendatang. Foto: hackaday.com

Belum tuntas pengembangan pesawat supersonik X-59 QueSST hasil kolaborasi dengan perusahaan kedirgantaraan Amerika Serikat, Lockheed Martin, NASA dikabarkan juga tengah mengembangkan pesawat varian ‘X’ lainnya, yakni X-57 Maxwell. Pesawat itu digadang-gadang bukan hanya akan menjadi pioneer pesawat listrik di masa mendatang, melainkan juga menjadi pijakan kuat NASA dalam bisnis pesawat listrik komersial.

Baca juga: X-59 QueSST, Pesawat Supersonik Rancangan NASA, Siap Unjuk Gigi Pada 2021

Varian ‘X’ sendiri, sejak 1951, dalam dunia kedirgantaraan di Amerika Serikat (AS) sering sebetulnya dianggap sebagai lambang kecepatan dan kemampuan pesawat dalam bermanuver. X-1 dan X-15, misalnya, digunakan untuk mempelajari penerbangan pada ketinggian dan kecepatan ekstrem.

Pada kasus pesawat listrik X-57 Maxwell, lambang kecepatan dan kemampuan bermanuver di udara mungkin jauh dari kenyataan. Justru sebaliknya, pesawat hanya diproyeksikan dalam jarak dekat, dengan kecepatan tak lebih baik dari pesawat dengan mesin turbofan modern, dan eksotisme desain yang tak terlalu nyentrik.

Meski demikian, karena tetap menyandang kode ‘X’ pesawat listrik X-57 Maxwell wajib memiliki sesuatu yang menonjol. Dikutip dari hackaday.com,dari segi desain, pesawat listrik yang mulai diperkenalkan NASA pada 2015 lalu tersebut, secara keseluruhan, desainnya diadaptasi dari pesawat baling-baling bermesin ganda Tecnam P2006T buatan Italia. Jadi, desain mungkin bukan hal yang dibanggakan dalam pesawat tersebut.

Namun, dengan sejumlah modifikasi dan pengembangan pada sistem teknologi listrik pada pesawat itu sendiri, mencakup baling-baling, baterai ion lithium, 14 motor listrik, dan sistem propulsi, pesawat listrik X-57 Maxwell dinilai masih layak menyandang status ‘X’.

Dari sekian banyak lini yang dimodifikasi dan dikembangkan, tantangan paling berat terletak pada teknologi baterai. Prinsipnya, bagaimana caranya para peneliti bisa mengembangkan baterai dengan ukuran yang sama, seperti baterai yang ada pada saat ini, tetapi memiliki kapasitas yang jauh lebih besar.

Selain itu, teknologi charge-nya pun juga harus jauh lebih cepat dari yang sudah ada. Bila teknologi tersebut, fast charging, belum juga ditemukan dalam waktu yang sudah ditentukan, opsi lainnya, tim ditantang untuk membuat baterai mudah dibongkar pasang. Tujuannya, ketika pesawat mendarat, petugas ground handling bisa langsung mengganti baterai dalam waktu sekejap dengan baterai yang baru dan beberapa saat kemudian pesawat bisa kembali melanjutkan perjalanan.

Mesin juga tak luput dari amatan NASA. Mesin asli Tecnam P2006T dan sayap sudah diganti dengan teknologi sistem “Distributed Electric Propulsion”. Sistem tersebut memungkinkan terdistribusinya daya dengan berimbang dan proporsional, sesuai kebutuhan motor listrik saat di udara. Sebab, tidak semua motor listrik beroperasi penuh. Ketika lepas landas dan mendarat, seluruh motor listrik memang beroperasi.

Namun ketika di udara, sejauh ini diproyeksikan hanya dua yang beroperasi. Adapun 12 lainnya dalam posisi standby. Dua motor listrik yang beroperasi itu tentu tidak sendirian, mereka akan didukung oleh desain sayap mutakhir yang mampu membawa pesawat pada posisi mengambang. Hal itu terjadi berkat memaksimalkan putaran udara atau vortex di sayap yang pada akhirnya menambah daya angkat pesaway. Dengan begitu, target efisiensi lima kali lipat dapat tercapai.

Baca juga: Gandeng Boeing, NASA Siap Luncurkan Penerbangan Orbital Nirawak Perdana

Saat ini, pesawat listrik NASA X-57 Maxwell dikabarkan sudah memasuki tahap kedua dari setidaknya empat tahap yang harus dilalui. Tahap kedua itu mencakup uji motor listrik dan struktur sayap secara terpisah. Setelah keduanya berhasil, tahap ketiga akan mulai menyatukan seluruh komponen dalam satu kesatuan pesawat. Barulah pada tahap terakhir seluruh komponen diuji kinerjanya, apakah sesuai dengan target efisiensi, kebisingan, dan lain sebagainya.

Pada 2015 lalu, NASA berujar akan mulai mengujicoba X-57 Maxwell. Namun, karena kendala di sana sini, proyek pun harus molor. Target berikutnya, pesawat dijadwalkan mulai melakukan penerbangan perdana sebelum akhir tahun 2020 mendatang. Menarik di tunggu, akankah sesuai rencana atau kembali molor karena berbagai kendala?

Leave a Reply