Ini Profil LRT Kelana Jaya yang Baru Mengalami Insiden Selama 23 Tahun Beroperasi

0
LRT Kelana Jaya (wikipedia)

Light Rail Transit atau LRT Kelana Jaya merupakan angkutan kereta api kelima dan sistem otomatis tanpa pengemudi di wilayah Lembah Klang. LRT ini juga merupakan bagian dari sistem bawah tanah dan jalur Lembah Klang. LRT ini melayani sebanyak 37 stasiun dan memiliki jalur sepanjang 34,3 km. Tak hanya itu, ada pula pemisahan tanjakan yang sebagain besar berjalan di jalur bawah tanah dan layang.

Baca juga: Dua Kereta LRT Kelana Jaya Tabrakan di Jalur Bawah Tanah, 213 Penumpang Terluka

Sebelumnya bahkan bernama PUTRA LRT yang operasikan oleh Rapid Rail yang adalah anak perusahaan prasarana Malaysia. Jalur ini dinamai dari terminal sebelumnya yakni Stasiun Kelana Jaya. KabarPenumpang.com merangkum wikipedia, pembangunan jalur LRT Kelana Jaya dimulai tahun 1994. Sedangkan operasional kereta ini dimulai 1 September 1998 antara Depo Subang dan Pasar Seni pada tahap pertama. Kemudian tahap kedua dari Pasar Seni ke Terminal Putra tanggal 1 Juni 1999.

Empat tahun beroperasi, LRT Kelana Jaya mengangkut 150 juta penumpang dengan rata-rata 160 ribu penumpang per harinya dan setiap tahun semakin naik jumlahnya. Jalur ini mengalami perpanjangan 17 km dengan konstruksi yang dimulai pada awal 2010 hingga 2016. Dengan 13 stasiun baru, terminal baru sekarang berada di Putra Heights, diperpanjang dari Kelana Jaya, di mana ia bertemu dengan Jalur Sri Petaling.

Dikatakan ada 37 stasiun dengan 31 di antaranya berada di jalur layang, Sri Rampai sejajar dengan jalanan dan lima lainnya berada di bawah tanah. Stasiun, seperti Jalur Ampang dan Sri Petaling , ditata dalam beberapa jenis desain arsitektur. Stasiun layang, di sebagian besar bagian, dibangun dalam empat gaya utama dengan desain atap yang khas untuk bagian jalur tertentu.

Stasiun dibangun untuk mendukung penumpang penyandang disabilitas , dengan lift dan lift kursi roda di samping eskalator dan tangga di antara lantai. Stasiun memiliki celah platform yang lebih kecil dari 5 cm untuk memudahkan akses bagi penyandang cacat dan pengguna kursi roda.

Sempat dikenal dengan nama PUTRA sebelum menjadi Kelana Jaya, ternyata ini adalah singkatan dari Projek Usahasama Transit Ringan Automatik Sdn Bhd (Proyek Joint Venture Light Transit Otomatis), sampai perusahaan tersebut diambil alih oleh pemiliknya saat ini Prasarana Malaysia .

Kereta LRT yang digunakan Kelana Jaya awalnya terdiri dari 35 kereta Innovia Metro 200 (ART) dengan peralatan dan layanan terkait yang dipasok oleh Bombardier Group dan perusahaan elektronik kereta api Quester Tangent. Mereka terdiri dari dua unit listrik ganda yang berfungsi sebagai mobil penggerak atau mobil trailer tergantung pada arah perjalanannya.

Baca juga: Jadi Korban Pelecehan Seksual di LRT, Wanita ini Malah Kena Bully Warganet

Tetapi sejak Juni 2016 di bawah program Kendaraan Tambahan Kuala Lumpur, generasi baru Bombardier Innovia Metro 300 mulai digunakan. Setiap kereta tanpa pengemudi memiliki desain baru untuk tutup ujung dan struktur dinding samping yang melengkung, dengan interior yang lebih besar dan lebih terbuka. Semua kereta memiliki konfigurasi empat gerbong, dengan masing-masing gerbong menampung hingga 220 penumpang. Dengan kereta baru, jalur tersebut dapat meningkatkan kapasitasnya sebesar 20 hingga 30 persen.