Inilah Alasan Mengapa Tiket Penerbangan Langsung Jarak Jauh Lebih Mahal

Mana yang lebih murah antara penerbangan langsung (direct flight) dan penerbangan tak langsung (transit)? Ini biasanya pertanyaan yang kerap dilontarkan dari para calon penumpang pesawat yang memilih bepergian hemat dengan rute jarak jauh. Sebenarnya itu adalah pertanyaan klasik, dimana jawaban sederhananya merujuk antar hukum penawaran dan permintaan.

Baca juga: Setelah Penebalan Landasan, Boeing 777-300ER Garuda Indonesia Kini Bisa Terbang Langsung Jakarta-London

Dimana jika sebuah permintaan banyak maka penawaran harga akan menyesuaikan dan sebaliknya jika permintaan sedikit maka penawaran harga akan bisa melambung tinggi.

KabarPenumpang.com melansir dari smartertravel.com, rute penerbangan langsung seperti judi, sebab maskapai harus memiliki permintaan pasar yang konsisten untuk melakukan perjalanan di rute yang tepat. Ini biasanya tidak ada masalah pada penerbangan jarak jauh yang memiliki rute lintas negara dengan tujuan kota-kota besar.

Namun bagaimanan jadinya jika rute yang dibuka bukanlah rute jalur kota besar melainkan ke kota kecil? Pastinya biaya akan semakin mahal dan beragam risiko yang harus diperhitungkan. Biasanya pemecahan masalahnya adalah dengan membuka rute penerbangan transit untuk menghubungkan kota besar ke kota kecil dan kemudian berganti pesawat.

Bagi pihak maskapai, secara teoritis penerbangan tidak langsung merupakan sistem yang lebih murah dan dapat diandalkan karena menghindari risiko rute direct flight dengan permintaan yang tidak bisa selalu diandalkan. Jika dilihat dari sudut pandang penumpang, teori penawaran dan permintaan adalah masalah kenyamanan yang sederhana dan maskapai penerbangan tahu hal ini dengan jelas. Dari aspek layanan, penerbangan langsung jarak jauh umumnya dilayani oleh maskapai full service, artinya ada beban biaya layanan yang telah mengacu pada suatu standar internasional.

Baca juga: United Airlines Buka Rute Direct Flight Terjauh, Los Angeles – Singapura

Pada penerbangan langsung setiap maskapai menggunakan pesawat berbadan lebar. Sebab bukan hanya bisa mengangkut penumpang dengan jumlah banyak, tetapi mampu menampung bahan bakar yang cukup juga dalam sekali penerbangan.

Sementara benefit yang ditawarkan untuk penumpang layanan direct flight adalah bisa mengurangi waktu tiba dan tidak rentan pada masalah penundaan atau disfungsi. Selain itu pesawat yang lebih besar cenderung lebih nyaman dan memiliki fasilitas yang lebih baik dibandingkan jet regional yang kebanyakan menggunakan kelas narrow body dengan luas kabin yang terbatas.

Dengan penerbangan langsung, penumpang akan mendapat ketenangan pikiran dan kesempatan tiba tepat waktu dengan barang bawaan yang tak harus berpindah-pindah di bandara transit. Sampai saat ini ada beberapa maskapai yang melakukan penerbangan langsung jarak jauh dengan layanan penuh seperti Emirates, Qantas, Qatar, Singapore Airlines dan baru-baru ini Garuda Indonesia.

Garuda Indonesia menggunakan pesawat Boeing 777-300ER nya baru saja membuka rute penerbangan Jakarta ke Inggris. Sebenarnya dalam beberapa kasus pun penerbangan transit bukanlah sebuah ketidaknyamanan, melainkan juga memiliki nilai plus dimana jika singgah di suatu hub lebih lama, penumpang bisa berkeliling di area mall bandara.

Sebagai gambaran, perbedaan tarif antara penerbangan langsung dan transit diketahui memiliki rentang yang cukup jauh, dimana rute direct flight bisa dikenakan ongkos tarif lebih tinggi US$60-US$150 dibandingkan rute transit.