KA Aji Saka – Tingkat Okupansi Rendah, Terpaksa Berhenti Mengular Pada Juli 2014

KA Aji Saka

Setiap kereta tak hanya memiliki tujuan masing-masing, tetapi juga dibekali sebuah nama yang akan memudahkan penumpang mengingatnya. Tapi apakah nama sebuah kereta api bisa membuat mereka bertahan dan terus mengular? Apakah ada jaminan?

Baca juga: Setiap Nama Kereta Ternyata ada Filosofinya

Ternyata tidak, seperti salah satunya yakni KA Aji Saka yang diluncurkan PT kereta Api Indonesia (KAI) Daop VI Yogyakarta pada 1 Februari 2014 lalu. Kereta ekonomi AC ini melayani relasi Yogyakarta (Lempuyangan)-Kutoarjo yang ditempuh dalam waktu 70 menit atau satu jam sepuluh menit.

KA Aji Saka memiliki tarif Rp20 ribu per penumpang sekali jalan. Ketika beroperasi tiketnya bisa dibeli dua jam sebelum keberangkatan. Kereta ini memiliki kapasitas 728 kursi dan memanfaatkan rangkaian KA Progo relasi Lempuyangan-Jakarta.

Sayangnya KA Aji Saka yang berhenti di Stasiun Lempuyangan, Stasiun Tugu, Stasiun Wates, Stasiun Jenar, dan Stasiun Kutoarjo ini harus berhenti beroperasi pada 10 Juli 2014. Pengehentian operasi KA Aji Saka disebabkan okupansi rata-rata dari KA tersebut yang sangat rendah yakni di bawah seratus penumpang.

Bahkan berdasarkan data volume penumpang di Stasiun Kutoarjo selama Juni 2014, ada 14 hari perjalanan dimana okupansi KA Aji Saka hanya dinaiki kurang dari 50 penumpang perjalanan. Sebelum ditutup, KA Aji Saka merupakan KA penambahan baru di wilayah Jateng-DIY padahal saat itu KA Prambanan Ekspres juga sudah mengular dari Solo menuju ke Kutoarjo.

Nah, meski berhenti beroperasi hanya dalam beberapa bulan setelah diluncurkan, ternyata nama KA Aji Saka terkenal di Jawa salah satunya tentang asal usul aksara Jawa. KabarPenumpang.com yang merangkum dari berbagai laman sumber mendapatkan, bahwa Aji Saka merupakan legenda Jawa yang menceritakan bagaimana peradaban datang kejawa yang dibawa oleh raja Jawa pertama bernama Aji Saka. Aji Saka dikatakan berasal dari Bhumi Majeti yang mana sebuah lokasi mitos di Jambudvupa (India Kuno).

Namanya berasal dari kata Jawa saka atau soko yang berarti esensial, penting, atau dalam hal ini primordial. Dengan demikian nama Aji Saka secara harfiah berarti “raja purba”. Adapun penafsiran lebih modern mendapatkan nam Saka atau Satrap Barat Indo-Scythian dari Gujarat.

Baca juga: Setelah Baso, Butuh, dan Tanggung, Kapas Juga Ternyata Nama Stasiun Kereta!

Dalam legenda tersebut, Aji Saka dipandang melambangkan munculnya peradaban Hindu-Budha Dhamrik di Jawa. Selain itu ada pula legenda yang mengatakan Aji Saka adalah penemu tahun Saka atau raja pertama yang memprakarsai adopsi sistem kalender Hindu di Jawa.