Kabar Baik, Rolls-Royce Mulai Uji Mesin 100 Persen Ramah Lingkungan!

0
Mesin jet bisnis Pearl 700 baru yang tengah diuji coba menggunakan bahan bakar 100 persen ramah lingkungan. Foto: Rolls Royce

Sebagai bagian dari target menggunakan 100 persen bahan bakar ramah lingkungan pada 2050 mendatang atau wujud dari dukungan Kesepatan Hijau Eropa (European Green Deal), Rolls-Royce dikabarkan telah memulai uji kelayakan mesin jet bisnis Pearl 700 baru berbahan bakar ramah lingkungan (SAF).

Baca juga: Rugi Rp104 Triliun, Rolls Royce PHK 9 Ribu Karyawan dan Jual Enam Pabrik

Uji kelayakan tersebut dilakukan di Dahlewitz, Jerman, tempat dimana keluarga mesin turbofan Rolls-Royce BR700 diproduksi, menjadi uji kelayakan kedua setelah sebelumnya dilakukan dengan mesin Trent 1000 yang lebih besar di Derby, Inggris.

Dilansir New Atlas, saat ini, perjalanan udara disinyalir menyumbang antara 2-3 persen dari emisi karbon dunia per tahun, tetapi persentase untuk itu setara dengan 4,5 miliar perjalanan penumpang, pergerakan 64 juta metrik ton kargo dan sepertiga dari perdagangan global dunia. Di samping itu, penerbangan juga menopang 65 juta pekerjaan.

Sebetulnya, di Bandara Zurich, Swiss, sudah menyediakan bahan bakar berkelanjutan atau ramah lingkungan yang dapat menyuplai pesawat. Namun, kendala logistik, harganya yang mencapai 3-4 kali lipat dari bahan bakar konvensional, serta ekosistem bisnis pendukungnya yang belum tersedia, membuat maskapai belum bisa beralih sepenuhnya dari bahan bakar konvensional.

Menyikapi hal itu, bahan bakar berkelanjutan atau bahan bakar ramah lingkungan yang digunakan dalam uji kelayakan mesin Rolls-Royce berasal dari berbagai sumber, seperti limbah padat perkotaan, limbah selulosa dari industri kehutanan, minyak goreng bekas, tanaman energi yang mencakup commelina, jatropha atau jarak pagar, halofit, dan alga, serta bahan bakar non-biologis seperti gas limbah dari pabrik baja.

Teknisnya, bahan bakar ramah lingkungan di atas hanya perlu ditambahkan -dengan takaran tertentu- ke dalam bahan bakar fosil atau konvensional. Dengan begitu, tidak dibutuhkan perubahan infrastruktur besar-besaran yang selama ini dikeluhkan pelaku bisnis.

Uji kelayakan Rolls-Royce kemarin menggunakan SAF yang diproduksi oleh World Energy di Paramount, California, untuk Shell Aviation. Menurut Rolls-Royce, bahan bakar baru ini berpotensi mengurangi emisi karbon dioksida hingga lebih dari 75 persen, dan bahkan bisa mencapai 100 persen saat disempurnakan nanti.

Meski bahan bakarnya sudah bisa mengurangi lebih dari 50 persen karbon dioksida, tetap saja, penggunaannya tidak bisa maksimal. Sebab, regulator penerbangan sipil di dunia rata-rata hanya mengizinkan campuran SAF atau bahan bakar berkelanjutan ke dalam bahan bakar fosil sebesar 50 persen.

Baca juga: Lima Alternatif Pengganti Bahan Bakar Fosil Pesawat di Masa Depan, Nomor Dua Aneh!

Nantinya, saat pengujian menunjukkan hasil maksimal dan aman untuk penerbangan -bukan hanya untuk lingkungan- SAF akan diizinkan untuk 100 persen digunakan sebagai campuran bahan bakar fosil di setiap pesawat.

“Bahan bakar penerbangan yang berkelanjutan memiliki potensi untuk secara signifikan mengurangi emisi karbon mesin kami dan menggabungkan potensi ini dengan kinerja luar biasa dari rangkaian mesin Pearl kami membawa kami selangkah lebih dekat untuk memungkinkan pelanggan kami mencapai emisi karbon nol (zero carbon emission),” kata Joerg Au, Chief Engineer Business Aviation and Engineering Director Rolls-Royce Deutschland.