Rugi Rp104 Triliun, Rolls Royce PHK 9 Ribu Karyawan dan Jual Enam Pabrik

0
Pesawat 787 yang didukung mesin besar Rolls-Royce Trent 1000. Foto: Rolls Royce via simpleflying.com

Raksasa otomotif asal Inggris, Rolls Royce, melaporkan mengalami kerugian besar mencapai £5,4 miliar pound atau Rp104 triliun lebih (kurs 19.320) selama enam bulan terakhir. Harga dari kerugian tersebut, sebanyak 9 ribu karyawan, termasuk penutupan sebanyak dua pabrikan dan asset lainnya, dari semula 11 menjadi enam.

Baca juga: Produksi Pesawat Supersonic Setara Concorde, Virgin Galactic Gandeng Rolls Royce Hingga NASA

BBC Internasional melaporkan, PHK dan penjualan asset perusahaan ialah bagian dari program efisiensi selain mencari tambahan dana segar sebesar £2 miliar atau sekitar Rp38 triliun lebih (kurs 19.320) untuk memperkuat likuiditas perusahaan selama beberapa bulan ke depan.

Dalam sebuah pernyataan, juru bicara Rolls Royce berkata, “Mengingat ketidakpastian yang sedang berlangsung di sektor penerbangan sipil, kami terus menilai opsi tambahan (menjual asset) untuk memperkuat neraca kami untuk memungkinkan kami keluar dari berbagai kesulitan akibat pandemi corona untuk memanfaatkan peluang jangka panjang di pasar global.”

Rolls Royce selama ini dikenal sebagai merek mobil mewah yang juga memasok mesin pesawat Boeing 787 dan Airbus A350. Khusus untuk pesawat, perusahaan yang sebelumnya memiliki karyawan sebanyak 50 ribu di seluruh dunia itu mendapatkan uang bukan dari hasil penjualan mesin, melainkan dari biaya penggunaannya. Dengan anjloknya penerbangan di seluruh dunia, praktis, pendapatan perusahaan juga ikut melorot.

Tahun ini, perusahaan awalnya menargetkan pengiriman sekitar 500 mesin jet baru ke maskapai. Setelah corona menerjang, jumlah tersebut direvisi menjadi kurang dari setengahnya.

Bak jatuh tertimpa tangga, kerugian akibat turunnya jumlah penerbangan dan pengiriman mesin juga diikuti dengan masalah yang timbul pada mesin XWB-84. Mesin Airbus A350 XWB itu belum lama ini dikabarkan mengalami keretakan setelah melalui perjalanan panjang mencapai 14 juta kilometer atau setara dengan 350 kali keliling dunia.

Pasca temuan itu, pabrikan asal Inggris tersebut mau tak mau harus menginspeksi seluruh mesin Rolls-Royce XWB-84 di fasilitas perawatan mereka, terutama bagi pesawat-pesawat dengan masa tugas serupa atau sekitar empat sampai lima tahun, sebagai bentuk pencegahan. Selama masa inspeksi tersebut, mesin Rolls-Royce XWB-84 akan disorot khususnya pada bagian bilah mesin di Kompresor Tekanan Menengah.

Baca juga: Setelah Lalui Jarak Setara 350 Keliling Dunia, Mesin Rolls-Royce Airbus A350 XWB Alami Keretakan

Di samping itu, ruang bakar di dalam mesin juga tak lepas dari sorotan. Sebab, ruang bakar di dalam mesin merupakan bagian mesin yang paling berat bebannya. Ruang bakar harus tahan setidaknya suhu 2 ribu derajat Celcius selama berjam-jam, khususnya pada saat take off dan landing, dimana pesawat mengeluarkan tenaga maksimal. Jika sedikit saja terjadi kesalahan, mesin akan mati total.

Praktis, dengan masalah mesin XWB-84, berbagai biaya untuk merecall dan mereparasi mesin makin memperberat keuangan perusahaan. Di samping itu, mesin yang seharusnya menghasilkan uang seiring penggunaan pada pesawat di seluruh dunia, justru malah membuat perusahaan merogoh kocek lebih dalam.

Leave a Reply