Lokomotif sebagai penarik rangkaian kereta maupun gerbong harus memiliki tenaga yang kuat dalam melakukan perjalanan. Apalagi saat ini lokomotif memiliki tenaga yang sudah lulus uji coba untuk menarik rangkaian yang memiliki beban berat sekalipun. Ditambah dengan bahan bakar lokomotif di Indonesia yang saat ini semakin bertenaga yang mampu berlari dengan kecepatan diatas 100 km/jam.
Mengutip laman resmi PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI), lokomotif di Indonesia umumnya menggunakan High Speed Diesel (HSD) atau solar sebagai bahan bakar. Namun untuk mendukung keberlanjutan lingkungan dan program penggunaan Bahan Bakar Nabati (BBN), bahan bakarnya kini beralih menjadi Bio Solar (B35).
Bio solar terbuat dari campuran bahan bakar fosil dan bahan organik seperti minyak kelapa sawit atau limbah tumbuhan. Penggunaan Bio Solar dianggap ramah lingkungan dengan bantu mengurangi jejak karbon.
Diketahui bahwa tangki bahan bakar lokomotif kereta memiliki kapasitas yang bervariasi, tergantung pada jenisnya. Tapi rata-rata, kapasitasnya antara 3.000-3.800 liter. Lokasi tangkinya sendiri terletak di bagian tengah bawah, antara bogie 1 dan bogie 2.
Pengisian jumlah bahan bakar disesuaikan dengan jarak yang akan dilayani kereta api. Jarak yang bisa ditempuh saat bahan bakar terisi penuh tergantung jenis lokomotifnya. Sebab SFC (Specific Fuel Consumption) tiap-tiap jenis lokomotif berbeda. Sebagai perkiraan, kereta dengan kapasitas full tank 3.000 liter dapat menempuh jarak lebih kurang 1.034 kilometer.
Namun bagaimana jika bahan bakar lokomotif yang berupa solar di campur dengan olahan dari kepala sawit? Kabar berbagai sumber mengatakan bahwa PT KAI memang akan merencanakan program tersebut, yakni selain solar sebagai bahan bakar utama akan di campur 50% biodiesel berbasis minyak kelapa sawit.
Bahan bakar nabati sejauh ini sudah digunakan juga untuk lokomotif kereta api. PT KAI sudah menggunakan bahan bakar biosolar B40 di seluruh lokomotifnya sejak Februari 2025. Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyatakan KAI pihaknya sudah siap untuk menggunakan B50 yang nantinya dapat diterapkan pada sektor perkeretaapian.
Implementasi bahan bakar nabati B50 akan dimulai Juli 2026 mendatang. Namun untuk menjaga keselamatan perjalanan yang menjadi prioritas utama, seluruh sarana lokomotif dan genset yang akan menggunakan B50 dipastikan melalui rangkaian uji coba teknis terlebih dahulu sebelum resmi melayani penumpang.
Yang jelas pihaknya yakin penggunaan energi terbarukan akan menghasilkan emisi yang lebih rendah. Hal ini juga sejalan dengan strategi pemerintah dalam memperbesar pemanfaatan bahan bakar nabati (BBN) merupakan bagian dari strategi besar menuju kemandirian energi nasional serta pencapaian target Net Zero Emission (NZE) 2060.
Karena di tengah kondisi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang semakin terbatas, kereta api hadir sebagai solusi mobilitas yang tetap hemat dan bisa diandalkan. Dengan menggunakan B40 hasil inovasi Kementerian ESDM ini, setiap pelanggan otomatis menjadi bagian dari transformasi besar menuju transisi energi nasional yang lebih sustain dan ramah lingkungan.
Lolos Sejumlah Uji Coba, PT KAI Mulai Gunakan Bahan Bakar Biodiesel B20
