Lama Tak Dipikirkan, Glasgow Canangkan Travelator Sebagai Solusi Transportasi

0
Sumber: youtube.com

Bandara Glasgow di Skotlandia sepertinya tengah mempersiapkan sebuah pembaruan yang dapat memanjakan para calon penumpangnya. Bandara yang letaknya cukup jauh dari pusat kota ini tengah merencanakan untuk mengadakan kereta bandara yang akan nantinya akan tersambung dengan sebuah travelator. Rencana tersebut dinilai sebagai langkah terakhir ketimbang pemerintah harus membangun sebuah bandara baru yang letaknya tidak terlalu jauh dari pusat kota.

Baca juga: Travelator, Wahana Transportasi Massal Yang Bebas Emisi

Dihimpun KabarPenumpang.com dari laman eveningtimes.co.uk (5/12/2017), seorang arsitek bernama Maurice Rodger mengatakan bahwa kehadiran travelator di bandara Glasgow tersebut merupakan sebuah solusi terjangkau untuk menghubungkan stasiun kereta bandara dan Bandara Glasgow itu sendiri. Ia mengklaim bahwa pengadaan travelator tersebut akan memotong biaya dari £144 juta menjadi hanya £10 juta.

Maurice yang bekerja untuk ID> A Design telah menyusun rencana kasar untuk membuat stasiun kereta baru yang menghubungkan Bandara Glasgow dengan Wemyss Bay di dekat perumahan keluarga Ferguslie Park di Paisley. Dalam rencana tersebut, Maurice akan menghubungkan stasiun dengan terminal di Bandara Glasgow dengan travelator, dimana ia meyakini bahwa penumpang hanya membutuhkan delapan menit untuk sampai di terminal.

Usulan Maurice ini mulai muncul tatkala rencana pembangunan kereta bandara menuai kritik dari berbagai pihak yang menilai bahwa keberadannya hanya akan memperlambat layanan yang ada. Namun Dewan Kota Glasgow, Susan Aitken mengatakan bahwa rencana jalur kereta yang diusulkan tersebut masih berada di ‘jalur’ yang benar. “Kami akan meninjau ulang pembangunan stasiun tersebut,” paparnya.

Hingga saat ini, Glasgow Prestwick adalah satu-satunya bandara di Skotlandia yang menyediakan fasilitas kereta bandara yang dapat diakses melalui travelator dari dan ke bandara. Rencana pengadaan stasiun dengan travelator yang panjangnya kurang dari setengah jalur trem tersebut diyakini dapat selesai dalam waktu dua tahun. “Ini merupakan gagasan yang sangat sederhana. Saya heran tidak ada yang memikirkannya, “ucap lelaki berusia 71 tahun tersebut.

Baca Juga: Ternyata, Trem Listrik di Jakarta Lebih Dulu Ketimbang di Belanda

Namun, tetap saja rencana yang bisa dibilang sederhana ini menuai banyak pro dan kontra, mulai dari keberadaan lahan, hingga faktor ekonomi yang melatarbelakangi protes tersebut. “Harus ada tim konsultan untuk melihat ke dalamnya. Bercermin pada Bandara Glasgow Prestwick, saya pikir ini adalah ide ekonomi yang sangat sederhana,” tegas Maurice. Untuk masalah lahan, Maurice mengklaim bahwa sebagian besar lahan yang dibutuhkan sudah dimiliki oleh bandara, Network Rail dan Glasgow City Council.

Leave a Reply