Lima Evolusi Wahana ‘Penderek’ Pesawat, Dari Mulai Tangan Kosong Sampai Teknologi Canggih

0
Ilustrasi Ground Support Equipment (GSE). Foto: mototok.com

Dunia kedirgantaraan terus mengalami evolusi dari waktu kewaktu. Di artikel sebelumnya, redaksi KabarPenumpang.com telah mengupas tuntas teknologi body scanner sejak awak kemunculan hingga kemudian menginspirasi ilmuan untuk mengembangkannya menjadi thermal scanner yang kini marak digunakan di seluruh bandara di dunia untuk mencegah corona.

Baca juga: Bandara Internasional Moskow Gunakan Tank untuk Menderek Pesawat

Begitu juga dengan Ground Support Equipment (GSE) yang terus berevolusi dari waktu ke waktu. Salah satunya seperti aircraft tugs alias wahana untuk menderek pesawat.Mulai dari menggunakan Towbars, towbarless tractors, sampai electric aircraft tugs untuk pushback pesawat. Namun, sebelum itu semua ada, tepatnya saat teknologi belum secanggih saat ini, tangan kosong rupanya sempat menjadi andalan untuk membantu proses pushback pesawat, loh. Agar lebih jelas, berikut luma evolusi GSE sebagaimana dikutip dari laman mototok.com.

1. Bahu dan Tangan Kosong
Sebelum semua kendaraan aircraft tugs ada, dahulu bahu dan tangan kosong menjadi perantara ampuh untuk pushback pesawat, loh. Namun, jangan salah sangka dulu. Tentu saja pesawat yang di-pushback dengan menggunakan tangan kosong adalah pesawat tipe sport aircraft atau pesawat kecil lainnya. Adapun pesawat jet saat itu seperti de Havilland Comet ataupun McDonnell Douglas tentu menggunakan aircraft tugs versi jadul.

2. The Common Towbar
Sebelum kemunculan towbarless tractors atau yang jauh lebih mutakhir daripada itu, aircraft tugs with towbar tentu begitu diandalkan. Selama beberapa dekade sejak kemunculan industri penerbangan, dimana orang-orang dari seluruh dunia tertarik untuk mengunjungi satu negara ke negara lainnya dan dari satu benua ke benua lainnya, aircraft tugs with towbar terus setia mengawal geliat industri penerbangan global.

3. Towbar Tractors And Tug
Meskipun sudah mengalami perkembangan, namun, penggunaan traktor towbar untuk pushback pesawat masih kurang maksimal. Hal itu dikarenakan proses pushback masih tetap mengandalkan pilot untuk menggerakan kemana arah pesawat. Jadi, bila tidak terjadi komunikasi dengan baik, bukan tak mungkin insiden kecil akan terjadi.

4. Towbarless Tug
Setelah lama didominasi oleh inovasi towbar usang, seiring berjalannya waktu, solusi pun kemudian kembali muncul dengan hadirnya towbarless tug pada tahun 1980-an di Perancis. Dengan inovasi towbarless tug, seluruh proses pushback pesawat dimungkinkan untuk mendapat kontrol penuh tunggal oleh traktor, tak seperti sebelumnya dimana pilot masih harus mengendari pesawat ke arah tertentu. Sebab, roda pesawat bertengger di atas traktor. Tak lama setelah kemunculan inovasi tersebut, seluruh bandara-bandara di dunia pun akhirnya mulai menggunakan towbarless tug.

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, penggunaan bahan bakar fosil pada traktor towbarless tug dinilai menjadi sebuah pemborosan dan tak baik untuk kesehatan karena mencemari lingkungan, khususnya di lingkungan kerja ground handler. Oleh karenanya, inovasi teknologi penggunaan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan di GSE pun terus didorong oleh sejumlah kalangan hingga akhirnya munculah Electric Towbarless Remote-Controlled Aaircraft Tugs

Baca juga: WheelTug, Dukung Pergerakan Pesawat Lebih Cepat di Area Terminal

5. Electric Towbarless Remote-Controlled Aircraft Tugs – Mototok
Sebuah studi tahun 2008 oleh Institute for Automotive Engineering (IKA) di RWTH University of Aachen, Jerman menyimpulan bahwa sudah saatnya untuk mengganti penggunaan traktor diesel towbarless tug menjadi electric towbarless aircraft tug. Alasannya, tentu saja untuk membuat bumi lebih hijau. Bahkan, pengembangan tidak hanya dilihat dari sisi ekologis, melainkan dari sisi ekonomi, dimana, electric towbarless aircraft tug dibuat tanpa jurumudi atau bisa dikendalikan dari jarak jauh (remote controlled).

Electric towbarless remote controlled aircraft tug karya Mototok ini pun digadang-gadang menjadi pioneer terciptanya ekosistem yang lebih hijau di lingkungan kerja GSE. Saat ini, beberapa unit di GSE pun juga sudah mulai menggunakan tenaga listrik sebagai sumber penggerak dan otonom. Salah satunya seperti shuttle bus listrik otonom di Bandara Haneda yang rencananya akan mulai beroperasi penuh pada akhir 2020 mendatang.

Leave a Reply