Lion Group Kembali Hentikan Penerbangan, Pengamat: Mereka ‘Pintar’ Melihat Kondisi

0
Boeing 737 Max 8 (Lion Air group)

Lion Group yang terdiri dari Lion Air, Batik Air dan Wings Air, memutuskan untuk melakukan penghentian sementara operasional penerbangan penumpang berjadwal domestik dan internasional, mulai 5 Juni 2020 sampai dengan pemberitahuan lebih lanjut (until further notice/ UFN).

Baca juga: Banyak Calon Penumpang Tak Pahami Ketentuan Terbang di Masa PSBB, Lion Air Group Hentikan Penerbangan Sementara

Dalam keterangan resmi yang diterima KabarPenumpang.com, keputusan tersebut diambil atas dasar evaluasi setiap pelaksanaan operasional penerbangan sebelumnya. Catatan mereka, banyak calon penumpang yang tidak dapat melaksanakan perjalanan udara akibat kurang memenuhi kelengkapan dokumen-dokumen sebagaimana persyaratan dan ketentuan yang telah ditetapkan selama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Akan tetapi, atas dasar penelusuran singkat ke beberapa calon penumpang Lion Air yang gagal terbang, mayoritas dari mereka mengaku sudah melengkapi persyaratan yang sudah ditentukan sebelumnya. Hanya saja, di beberapa kasus, justru terdapat perubahan ketentuan dan pada akhirnya membuat penumpang tersebut tidak masuk klasifikasi terbang.

Selain itu, muncul dugaan, bahwa keputusan Lion Group untuk kembali batal terbang saat proses recovery (ditandai dengan bergeraknya kembali lini bisnis di bawah tatanan The New Normal) lebih dikarenakan mereka takut rugi besar.

Pasalnya, dengan rendahnya minat penerbangan, praktis, tak ada yang bisa diharapkan dari sebuah penerbangan kecuali rugi. Dalam keadaan normal, pasca lebaran penerbangan akan kembali memasuki fase low season. Bila dalam keadaan normal saja, low season pasca lebaran load factor rendah, bagaimana kondisi tersebut ditambah dengan adanya kekhawatiran calon penumpang terhadap ancaman virus corona? Tentu akan semakin membuat penerbangan sepi peminat.

Tak hanya itu, menurut seorang pengamat penerbangan yang tak ingin disebutkan namanya, pemberlakuan PSBB di beberapa wilayah juga membuat kargo ikut sepi. Padahal, di banyak kasus, antara kargo dan penumpang, maskapai justru lebih banyak mendapat revenue dari kargo. Jadi, dengan sepinya penumpang dan kargo, praktis, maskapai tak ada pilihan lain kecuali menunggu ekosistem industri penerbangan kembali normal.

“Dugaan saya, mereka ‘pintar’ dengan menunggu ekosistem (penerbangan) terbentuk kembali (normal) dan setelah itu barulah kemudian mereka kembali seperti sediakala,” katanya.

Sebagai sebuah perusahaan swasta, tentu Lion Group tak punya kewajiban atau paling tidak tanggung jawab untuk tetap menyediakan moda transportasi udara sekalipun secara kalkulasi atau hitungan di atas kertas, penerbangan ke dan dari manapun dan dengan pesawat apapun akan mengalami kerugian.

Singkatnya, masih menurut pengamat tersebut, Lion Group cenderung ‘pintar’ untuk menunggu ekosistem industri penerbangan, baik berurusan dengan kargo maupun penumpang, terbentuk kembali; meskipun perusahaan yang berdiri sejak tahun 1999 tersebut memberikan alasan lain. Hal itu dilakukan guna menghindari kerugian besar.

Celakanya, sebagai maskapai dengan market share terbesar (pada tahun 2018 mencapai 51 persen) , langkah Lion Group pada akhirnya dinilai oleh sebagian pengamat menjadi acuan maskapai lainnya untuk mengikuti jejak mereka.

Di saat yang bersamaan, Garuda Indonesia, sebagai maskapai BUMN yang memiliki tanggung jawab lain untuk tetap menyediakan moda transportasi udara, ‘dibiarkan’ oleh Lion Group untuk ‘menikmati’ pangsa pasar dengan leluasa. Nantinya, setelah ekosistem industri penerbangan kembali terbentuk, barulah Lion Group memulai kembali operasionalnya, tanpa harus mengeluarkan cost besar untuk proses recovery selama diberlakukannya The New Normal.

Menurut seorang pengamat penerbangan lainnya, keputusan ‘pintar’ Lion Group dengan membiarkan Garuda Indonesia melayani sepinya penumpang dipandang sebagai keputusan yang sah-sah saja. Perusahaan swasta pada umumnya memang sudah barang tentu fokus hanya pada sisi bisnis saja.

Tetapi, pengamat penerbangan yang juga eks kapten pilot tersebut mengungkap, sebetulnya titik permasalah bukan ada pada Lion Group, melainkan ada pada pemerintah. Dengan market share besar, tentu, langkah Lion Group (dengan alasan apapun) akan sangat berpengaruh dalam upaya menyediakan moda transportasi udara untuk masyarakat.

Baca juga: Agar Bisa ‘Lolos’ Terbang di Masa Pandemi, Pastikan Syarat-syarat Berikut Ini Terpenuhi

“Persoalannya adalah mengapa pemerintah membiarkan mereka menguasai pasar lebih dari 50 persen. Nah, dalam keadaan normal kalau tiba-tiba mereka berhenti (dengan alasan apapun) maka masyarakat yang menderita dan juga berdampak pada perekonomian. Semoga kedepan pemerintah RI lebih hati-hati dalam menata komposisi penerbangan,” katanya melalui pesan singkat kepada KabarPenumpang.com.

Leave a Reply