Maksimalkan Jaga Jarak, Emirates Tawarkan Penumpang Blokir Kursi, Segini Harganya

0
Emirates (www.heraldsun.com.au)

Duduk di pesawat bersama orang lain mungkin biasa-biasa saja bagi penumpang pada umumnya. Tetapi, bagi penumpang tertentu, duduk bersama orang asing, terlebih duduk di tengah pada formasi kursi tiga baris dan di tengah wabah virus Corona, bisa jadi membuat tak nyaman. Peluang itulah yang kemudian ditangkap maskapai raksasa Timur Tengah, Emirates.

Baca juga: Analis Penerbangan Sebut Kosongkan Kursi Tengah di Pesawat Tak Masuk Akal!

Dilansir Simpel Flying, belum lama ini, Emirates dikabarkan mulai menawarkan produk baru guna meningkatkan kenyamanan bagi penumpang kelas ekonomi, dengan mengizinkan penumpang memblokir kursi sebelah. Harganya juga cukup terjangkau, dimulai dari US$55 atau sekitar Rp787 ribu (kurs 14.250) untuk satu kursi dan US$165 atau sekitar Rp2,3 juta (kurs 14.250) untuk tiga kursi ditambah pajak.

Hanya saja, layanan ini tidak tersedia secara daring melainkan harus langsung di check-in konter menjelang penerbangan. Emirates menegaskan, penumpang yang sudah membooking dan membayar kursi tidak akan bisa dipindah hanya untuk mengakomodir penumpang di sebelahnya untuk memblokir kursi. Bisa dibilang, hanya kursi kosong sajalah yang diizinkan untuk diblok penumpang.

Emirates optimis, layanan blok kursi ini akan disambut baik oleh penumpang. Sebab, di tengah wabah virus Corona yang tak kunjung usai, mengeluarkan uang lebih untuk kenyamanan dan keamanan ekstra (physical distancing atau jaga jarak) tentu tidak ada harganya. Apalagi, selama ini, mengosongkan kursi tengah untuk memaksimalkan pencegahan penularan Covid-19 dinilai semu.

Analis penerbangan yang sudah 20 tahun lebih bersama Northwest dan Republic Airlines, Jay Ratliff, sebagaimana dilansir The Hill, menyebut kebijakan mengosongkan kursi tengah tak masuk akal. Ia memang tak mempermasalahkan temuan tidak adanya droplet antara dua orang yang berjarak dua meter.

Tetapi, yang ia permasalahkan justru ketidakefektifan physical distancing di pesawat. Dalam pengamatannya, mengosongkan kursi tengah sebagai pengaplikasian physical distancing di pesawat hanya membuat airlines terus-menerus berada dalam keadaan terseok-seok sambil tetap tak menjalankan physical distancing dengan baik, dengan jarak tak lebih dari 80cm.

Bila benar-benar ingin menjalankan dengan maksimal, dalam satu row, seharusnya maskapai hanya diperbolehkan untuk mengisi dua orang atau sama saja mengosongkan empat kursi tengah dan pinggir dengan hanya menyisakan masing-masing satu kursi di dekat jendela.

Formasi tersebut sangat mungkin untuk menciptakan physical distancing sejauh dua meter sebagaimana rekomendasi Organisasi Kesahatan Dunia (WHO). Tetapi harga mahal di balik itu adalah pesawat kapasitas semakin menciut.

Emirates sendiri bukanlah yang pertama menyediakan layanan tersebut. Tercatat, dua maskapai sudah lebih dahulu menjalankan layanan blokir kursi, Air New Zealand serta Kenya Airways di bawah program Economy MAX.

Baca juga: Pengamat Penerbangan: Kalau Sudah Pakai Masker Semua, Kenapa Harus Jaga Jarak?

Di Indonesia sendiri, mayoritas maskapai secara natural sudah memberikan layanan bloking kursi secara cuma-cuma tanpa perlu mengeluarkan uang sepeserpun. Sebab, load factor maskapai, seperti Garuda Indonesia dan Citilink, kemungkinan besar tidak sampai 50, 70, apalagi 100 persen.

Alhasil, penumpang tidak perlu memblokir kursi sebelah, kecuali penumpang maskapai Lion Air, yang kerap kali kedapatan menerbangkan kursi 100 persen sekalipun masih di bawah kebijakan 70 persen kursi maksimal di kabin penumpang.

Leave a Reply