Mendarat di Cengkareng Saat Dirgahayu RI, Mengapa Airbus A380 Tidak Beroperasi di Indonesia?

Emirates (www.heraldsun.com.au)

Bagi anda yang penasaran dengan wujud dari Superjumbo Jet, Airbus A380, sempatkanlah diri Anda untuk mengunjungi Bandara Internasional Soekarno Hatta pada tanggal 17 Agustus 2019 mendatang, karena pesawat penumpang terbesar di dunia tersebut bakal turut memeriahkan pengoperasian perdana runway ketiga dari bandara berkode CGK tersebut. Adapun varian A380 yang bakal mendarat di bandara yang terletak di Cengkareng, Tangerang ini dioperasikan oleh maskapai asal Timur Tengah, Emirates.

Baca Juga: Misterius! Qantas Terbangkan Airbus A380 Ke Orlando Pada Januari 2020, Terbangkan Siapa?

Isu ini beredar setelah salah satu pengguna jejaring sosial Twitter yang bernama Fery Utameyasa (@fery_utameyasa) mengunggah foto pertemuan atau meeting untuk mempersiapkan pendaratan Airbus A380 milik Emirates di Cengkareng.

“Preparation meeting for showing off flight A380 Emirates to @CGK_AP2 #airport #jakarta in #Independence Day of #Indonesia,” tulis Fery dalam sosial media Twitter miliknya, Jumat (9/8).

Dikutip KabarPenumpang.com dari laman aviatren.com (9/8), besar kemungkinan A380 ini akan menggunakan runway ketiga Bandara Internasional Soekarno-Hatta, karena dari kabar yang beredar sebelumnya menyebutkan bahwa runway ketiga itu akan dioperasikan mulai tanggal 17 Agustus 2019.

Emirates sendiri memiliki dua jadwal penerbangan dari Dubai ke Jakarta (CGK) setiap harinya, penerbangan EK356 dan EK358. Mengingat EK358 mendarat pada pukul 22.00 WIB, besar kemungkinannya EK356-lah yang akan menggunakan armada A380, mendarat di Soekarno-Hatta pada pukul 15.40 waktu setempat.

Terlepas dari semua pemberitaan di atas, muncul satu pertanyaan, “Mengapa Airbus A380 tidak beroperasi di atau menuju Indonesia?”

Jika dianalisis, Bandara Internasional Soekarno-Hatta bukan tidak mungkin untuk menampung pesawat jenis ini, mengingat pada 4 Mei 2012 silam, Airbus A380 milik Singapore Airlines (SQ232) sempat mendarat di landas pacu utara bandara tersebut karena alasan darurat. Dengan menggunakan runway lama saja, sebenarnya CGK bisa menampung varian A380.

Pun dengan masalah pada garbarata yang sama-sama sudah memenuhi standar internasional, jadi pengoperasian dua garbarata sekaligus untuk ‘mengevakuasi’ penumpang A380 sebenarnya tidak menjadi satu masalah yang serius. Begitu pula halnya dengan bagian imigrasi dan infrastruktur lain yang ada di CGK, semuanya seharusnya sudah bisa dimaksimalkan untuk bisa menampung A380.

Efisiensi Pengoperasian Rute ‘Gemuk’
Jika masalah teknis, CGK bisa menampung A380, maka masalah non-teknis lah yang mencuat untuk didalami. Dapat dibayangkan apabila ada makskapai Airbus A380 yang mengoperasikan rute ‘gemuk’, otomatis pihak maskapai akan mengurangi frekuensi penerbangannya dan lebih memaksimalkan kapasitas dari A380. Dengan begitu, efisiensi pengoperasian akan tercapai.

Baca Juga: A380 ‘Terancam Punah,’ Benarkah Airbus Salah Langkah Hadapi Kedigdayaan Boeing?

CGK Bukan Hub
Lalu faktor lainnya adalah CGK bukanlah hub selayaknya bandara-bandara seperti Changi, Dubai, dan lain-lain, dimana roda ekonomi di CGK tidaklah berjalan selancar di bandara-bandara tersebut, kendati CGK sudah punya Terminal 3 Ultimate yang sangat megah dan mewah.

Biaya Parkir
Faktor terakhir adalah biaya ‘parkir’ dari A380 yang masuk ke kocek Angkasa Pura II selaku operator dari CGK. Pesawat sebesar A380 akan memakan tempat ‘parkir’ yang lebih besar ketimbang varian-varian lain. Kembali ke poin awal, ketika ada maskapai yang memangkas jumlah armadanya dan mengganti dengan A380, maka secara otomatis pendapatan Angkasa Pura II akan serta merta menurun – walaupun ongkos parkir dari A380 lebih mahal ketimbang pesawat narrow-body lain.