Mengapa Orang Pilih Timbun Tisu Toilet Ketimbang yang Lain? Ini Dia Jawabannya

0
Rak-rak tisu toilet tampak kosong sehabis diserbu masyarakat. Foto: Arstechnica

Mengapa semua orang tiba-tiba mencari tisu, khususnya tisu toilet? Pertanyaan tersebut mungkin banyak terdengar di sana sini. Tentu saja dengan didasari berbagai fenomena dimana supermarket manapun di banyak negara di dunia, dilaporkan hampir kehilangan stok tisu toilet yang mereka punya. Hal itu karena masyarakat ramai-ramai memborong tisu untuk jangka panjang. Di Australia, seorang wanita bahkan sampai menyetok tisu toilet hingga kebutuhan 12 tahun mendatang. Luar biasa bukan?

Baca juga: Marak Virus Corona, Wanita di Australia ini Timbun Tisu Toilet untuk Stok 12 Tahun!

Peneliti psikologi konsumen, Kit Yarrow, mengatakan bahwa sebetulnya hal tersebut adalah naluriah atau wajar mengingat masyarakat dihadapi dengan pemberitaan massif mengenai berbagai ketidakpastian akibat satu atau beberapa hal, dalam hal ini akibat pandemi virus corona. Terkhusus bagi sebagian besar masyarakat di Eropa, Amerika Serikat dan Australia, pun masih sangat bergantung pada gulungan tisu toilet untuk cebok selepas buang air besar. Dan inilah yang menjadi dasar begitu dicarinya tisu toilet di tengah pendemi corona, yakni ada rasa ketakutan bilamana tisu toilet langka di pasaran.

Di samping itu, secara psikologis, panic buying masyarakat untuk membeli tisu toilet bukanlah hal baru. Di musim dingin, saat badai salju mengintai masyarakat, misalnya, berbagai kebutuhan pokok, seperti roti, telur, dan susu juga kerap diborong habis. Namun, untuk panic buying saat ini, Kit Yarrow beranggapan bahwa masyarakat lebih disebabkan tidak bisa mengontrol keadaan di luar. Oleh karenanya, masyarakat lebih memilih untuk mengontrol apapun yang mereka bisa kontrol, semacam pelarian. Salah satunya memborong tisu toilet.

“Dan karena kita tidak bisa benar-benar mengendalikan jejak penyakit ini, kita beralih ke apa yang bisa kita kontrol, dan itulah sebabnya orang berbelanja. Itu seperti, ‘well, aku merasa seperti sedang melakukan sesuatu, aku merasa seperti aku’ Saya sedang bersiap-siap. Saya merasa seperti mengendalikan hal yang dapat saya kendalikan, yang sedang menumpuk,” katanya.

“Beberapa orang yang melakukan penimbunan, mereka bukan orang jahat dan mereka bukan orang yang egois. Mereka hanya orang-orang yang takut, dan saya pikir jika mereka memikirkan hubungan mereka dengan orang lain dan tanggung jawab mereka kepada masyarakat , mereka mungkin tidak akan melakukannya,” tambahnya, seperti dikutip laman arstechnica.com.

Selain itu, peneliti yang sudah hampir 30 tahun bergelut di bidang psikologi konsumen tersebut juga tidak begitu yakin kalau masyarakat benar-benar mencari tisu toilet sebagai kebutuhan pertama. Namun, saat berada di supermarket, dalam perjalanan ke supermarket, atau saat di rumah dengan melihat di televisi, beberapa orang terlihat sedang memborong tisu, alhasil beberapa masyarakat pun ikut melakukannnya. Terus seperti itu hingga seluruh masyarakat benar-benar tertarik untuk ikut memborong tisu.

Baca juga: Tisu Toilet di Stasiun Tokyo ‘Ingatkan’ Penumpang untuk Tak Gunakan Ponsel Ketika Berjalan

Sebab, di saat ketidakpastian tengah mendera masyarakat, seperti sekarang ini, mereka cenderung melihat apa yang orang lain lakukan. Dalam psikologi, hal itu disebut ilusi optik. Sayangnya hal yang masyarakat lihat kebanyakan terkait dengan toilet. Padahal, bukan tidak mungkin barang-barang lainnya juga ikut diborong habis jika ilusi optik yang tercipta bukan pada tisu toilet melainkan pada barang lainnya.

Oleh karenanya, Kit Yarrow, yang juga menulis buku tentang pola pembelian konsumen terhadap suatu barang tersebut, menyarankan agar masyarakat mencari ‘pelarian’ lain untuk memuaskan kontrol terhadap diri mereka sendiri. Seperti menghubungi orang lain, berjalan-jalan di taman, dan mencari aktivitas lainnya yang memungkinkan terjadinya banyak interaksi, ketimbang mencari kontrol atas diri sendiri dengan berbelanja.

Leave a Reply