Mengenal Palestinian Airlines, Maskapai Nasional Sekaligus Simbol Kemerdekaan Palestina

0
Maskapai Nasional Palestina, Palestinian Airlines. Foto: Getty Images

Meski status Palestina sebagai sebuah negara belum diakui oleh PBB, namun, upaya demi upaya terus dilakukan untuk mencapai kemerdekaan. Salah satunya mendirikan maskapai penerbangan nasional, Palestinian Airlines, untuk kebanggan dan kemandirian, di samping memperkuat ekonomi melalui arus kedatangan penumpang dan barang.

Baca juga: Yasser Arafat International Airport, Saksi Bisu Kekejaman Militer Israel

Hanya saja, sejak Intifada kedua Al-Aqsa pecah pada Oktober tahun 2000 silam, maskapai Palestinian Airlines, dilarang beroperasi oleh penjajah Zionis Israel. Sejak saat itu, masa depan maskapai yang berada di bawah kendali langsung otoritas Palestina ini menjadi suram.

Kendati sempat bangkit pada 2012 lalu, maskapai nasional Palestina akhirnya resmi bangkrut pada tahun 2020 lalu, menandakan akhir dari upaya kemerdekaan Palestina melalui jalan kemandirian transportasi udara.

Dilansir The Jerusalem Post, Palestinian Airlines didirikan oleh otoritas Palestina pada tahun 1995 dan mulai beroperasi dua tahun setelahnya atau pada tahun 1997. Ketika itu, Belanda memainkan peranan penting lewat sumbangan dua pesawat Fokker 50. Tak hanya itu, Saudi juga demikian. Melalui Pangeran Saudi Al-Waleed bin Talal Al Saud, Arab Saudi menghibahkan sebuah Boeing 727.

Sejak saat itu, warga Gaza pada khususnya dan Palestina pada umumnya mulai terhubung dengan dunia luar, didukung keberadaan Bandara Internasional Yasser Arafat di Gaza, Palestina. Sebelum maskapai dan bandara tersebut beroperasi, warga Palestina harus menempuh jarak sekitar 350 km terlebih dahulu ke Kairo untuk menikmati penerbangan.

Namun, pasca serangan brutal Israel untuk menekan gerakan Intifada, yang pada akhirnya turut membuat bandara tersebut porak-poranda, Palestinian Airlines memindahkan basis operasinya ke Bandara Internasional El Arish, 60 km dari Gaza di Rafah, perbatasan Mesir-Palestina, mulai Desember 2001.

Di sana, Palestinian Airlines terus beroperasi lewat dua pesawat turborop andalan, Fokker 50 sampai tahun 2005. Ketika itu, bisnis maskapai nasional Palestina ini terus menggeliat, ditandai dengan adanya 98 karyawan. Maskapai itu mengoperasikan penerbangan dua mingguan dari El Arish dan Marka Airbase ke Amman, Yordania, mengangkut jutaan penumpang setiap tahunnya. Maskapai juga melakoni penerbangan ke Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah, Arab Saudi.

Kesuksesan tersebut bahkan sempat mendorong ekspansi rute ke Eropa, sekalipun itu tak pernah terjadi karena tekanan Israel. Namun demikian, Otoritas Palestina tetapi tidak diakui oleh Kementerian Penerbangan Sipil Mesir.

Baca juga: Hari Ini, 46 Tahun Lalu, TWA Flight 841 Dibom Pemuda Palestina Gegara Intel Israel

Setelah 25 tahun beroperasi atau sekitar akhir tahun 2020 lalu, Otoritas Palestina mengumumkan bahwa Palestinian Airlines stop operasi. Selain karena pandemi Covid-19, maskapai itu bangkrut juga karena perjanjian sewa guna usaha jangka panjang dengan Niger Airlines berakhir.

Seluruh karyawan yang berjumlah delapan orang pun di-PHK dan dua pesawat Fokker 50 hibah dari Pemerintah Belanda dijual. Selain itu, beberapa pesawat lainnya, seperti Boeing 727-100, -200, Bombardier Dash 8-300, dan Ilyushin Il-62 sudah lebih dahulu dijual.

Leave a Reply