Mengenal Wright Flyer, Pesawat Lebih Berat dari Udara Pertama yang Bisa Terbang

0
Wright Flyer, pesawat berbobot lebih berat dibanding udara pertama di dunia yang bisa terbang, sukses terbang perdana. Foto: Library of Congress via Wikipedia

Dunia dirgantara memang sangat mengenal Wilbur Wright dan Orville Wright atau lebih dikenal dengan Wright bersaudara karena berhasil terbang dengan mesin secara terkendali untuk pertama kalinya sejauh 36,5 meter setinggi 3 meter selama 12 detik di kaki bukit pasir Big Kill Devil, dekat Kitty Hawk, North Carolina. Dari situlah cikal bakal penerbangan modern berasal.

Baca juga: Hari Ini! 111 Tahun Lalu Penerbangan Perdana Pesawat Penumpang Rakitan Wright Bersaudara

Akan tetapi, seringkali sebagian kalangan melupakan hal penting lainnya yang juga menjadi bagian kesuksesan Wright bersaudara; Wright Flyer atau biasa juga disebut Flyer 1, sebuah pesawat berbobot lebih berat dibanding udara pertama di dunia yang bisa terbang.

Dilansir Simple Flying, pertemuan Wright bersaudara dengan mesin terbang pertama kali pada tahun 1878. Ketika itu, ia bersama ayahnya Milton Wright dan ibunya Susan Catherine Koerner tengah tinggal di Cedar Rapids, Lowa, Amerika Serikat (AS).

Suatu hari, sang ayah pulang dengan membawa sebuah helikopter besutan perintis penerbangan asal Perancis, Alphonse Pénaud. Helikopter tersebut dibuat dari bambu, kertas, gabus, dan karet gelang untuk memberi daya pada rotor. Wright bersaudara kemudian memainkan helikopter itu sampai akhirnya rusak dan coba membuat helikopter serupa versi Wright bersaudara.

Senang helikopter buatannya digemari orang lain (Wright bersaudara) Alphonse Pénaud pun tak segan melanjutkan mimpinya membuat pesawat yang cukup besar bagi seorang pria untuk terbang di udara. Sayangnya, akibat tak mendapat banyak dukungan, ia pun memilih untuk mengakhiri hidup.

Sebelum mulai membuat pesawat, Wright bersaudara banyak belajar pada makalah-makalah ilmuan ternama Italia, Leonardo da Vinci. Setelah dirasa cukup menimba ilmu dari Leonardo da Vinci, Wright bersaudara pun memutuskan mulai melakukan penerbangan glider, di sebuah pantai di Kitty Hawk, North Carolina.

Orville Wright tengah melakukan penerbangan glider di sebuah pantai di Kitty Hawk, North Carolina. Foto: Library of Congress via Wikimedia

Pantai dipilih karena dinilai memiliki angin yang cukup untuk membantu gaya lift pada pesawat buatannya. Maklum, pada tahun 1902, Wright bersaudara belum mendapat sokongan mesin dari pabrikan besar di dunia untuk menerbangankan pesawat. Jadi, masih mengandalkan angin untuk terbang. Terbukti, angin di pantai Kitty Hawk mampu membawa Wright bersaudara melakukan penerbangan glider sebayak 700 kali.

Tak juga kunjung mendapat dukungan mesin dari pabrikan otomotif dunia, Wright bersaudara pun memberanikan diri untuk membuat mesin sendiri. Dengan dibantu Charlie Taylor, keduanya mampu membuat mesin berpendingin air empat silinder segaris yang mampu menghasilkan 12 tenaga kuda. Menariknya, dudukan mesin tersebut terbuat dari alumunium untuk mengurangi beban yang membuatnya sebagai yang pertama kali dalam sejarah.

Mesin sudah, Wright bersaudara pun mulai menyempurnakan pesawat yang kemudian diberi nama Wright Flyer. Pesawat tersebut dibuat dengan menggunakan konstruksi desain sayap canard biplane. Canard adalah istilah aeronautika -berasal dari bahasa Perancis- yang menggambarkan sayap depan kecil yang ditempatkan di depan sayap utama pada pesawat sayap tetap. Nama canard berasal dari pesawat Santos-Dumont 14-bis yang konon mirip bebek terbang.

Dua stabilisator kecil di bagian depan pesawat mengendalikan pitch di Wright Flyer. Pengaturan ini digunakan daripada di ekor seperti yang digunakan oleh pesawat saat ini. Kemudi berada di bagian belakang pesawat seperti halnya di pesawat modern.

Guna menciptakan daya dorong, Wright bersaudara membuat dua baling-baling kayu. Baling-baling dihubungkan dengan mesin menggunakan sproket dan sistem rantai yang mirip dengan sepeda. Setelah memasang mesin bensin gravitasi ke kanan cradle pilot, mereka harus memperluas sayap dengan empat inci, membuatnya menjadi 40 kaki, panjang 4 inci. Bingkai Wright Flyers terbuat dari ash dan spruce, dua jenis kayu yang ringan namun tahan lama. Penutup aerodinamis untuk sayap adalah kain muslin murni yang tidak dirawat.

Baca juga: Haerul Montir Pembuat Pesawat dari Pinrang, Kisahnya Bikin Geleng-geleng Kepala

Persyaratan penerbangan pertama pada 17 Desember 1903 hampir sempurna dengan hembusan angin hingga 27 mil per jam. Sekitar pukul 10.30 pagi itu, Orville Wright berbaring di sayap pesawat dan menghidupkan mesinnya. Menggunakan sistem rel yang membentang sejauh 60 kaki, pesawat lepas landas dan terbang selama 12 detik di ketinggian delapan kaki dengan kecepatan 6,8 mph. Uji coba penerbangan kedua malah lebih jauh, mencapai jarak 200 kaki. Tanpa roda pendaratan, Wright Flyer dirancang untuk mendarat di pasir lembut Outer Banks.

Sayangnya, Wright Flyer yang berbobot sekitar 274 kg harus rusak karena hembusan angin kencang yang membuatnya terpontang-panting. Pesawat rusak dan harus direparasi terlebih dahulu hingga pada akhirnya saat ini pesawat diabadikan di Museum Smithsonian di Washington DC, AS.

Leave a Reply