MRT Jakarta Lakukan Penetanan Status Emergency di Masa PPKM Mikro

0
Tiga Rangkaian Kereta MRT Jakarta di Depo Lebak Bulus

Seusai Lebaran 2021 penumpang MRT Jakarta merangkak naik dan mencapai 30 ribu penumpang per harinya. Namun setelah adanya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) mikro terlihat adanya penurunan penumpang kembali.

Baca juga: Skybridge MRT Jakarta dan TransJakarta Beroperasi Pertengahan 2021, Integrasi Tiket dan Tarif dalam Kajian

Di mana pada beberapa hari ini dikatakan direktur utama PT MRT Jakarta William Sabandar, penumpang turun sampai 14.551. Dia menyebutkan jam operasional yang sudah kembali ke normal pun kini menjadi berubah yakni mulai beroperasi pukul 05.00 hingga 21.00 pada hari biasa dan 06.00 hingga 21.00 pada akhir pekan.

William mengatakan bahwa on time performance atau OTP MRT Jakarta adalah 100 persen dengan 6780 perjalanan tanpa terlambat dan pembatalan serta dengan waktu tunggu lima menit di jam sibuk dan sepuluh menit dan jam biasa.

”Hingga hari ini, kami juga terus melakukan kontribusi layanan feeder bersama dengan beberapa transportasi lainnya seperti TransJakarta, PPD, Grab dan Bluebird,” ujar William dalam forum jurnalis.

Adanya PPKM mikro dan meningkatnya masyarakat yang terinfeksi Covid-19, William mengatakan, MRT Jakarta melakukan penetapan status emergency atau crisis. Di mana untuk staf kantor kebijakannya adalah work from home atau WFH 100 persen dan untuk petugas di lapangan seperti biasanya.

”Kita buat crisis management team meeting dengan melihat keseluruhan di lapangan ada yang terpapar atau tidak baik karyawan maupun keluarganya. Kita bekerja sama dengan rumah sakit dan asuransi kesehatan untuk memberikan vaksin dan konsultasi telemadicine,” jelasnya.

Sehingga bagi karyawan yang terpapar MRT Jakarta akan memberikan fasilitas rawat inap dan homecare bagi mereka yang isolasi mandiri di rumah. William menambahkan, bagi masinis dan para petugas di OCC, pihaknya menyiapkan mess atau tempat tinggal sementara.

Tujuannya adalah untuk mengantisipasi kekurangan masinis dan pekerja di OCC. Mereka akan bergantian selama sepuluh hari dan ada pengecekan swab sebelum masuk mess dan keluar mess untuk bertemu keluarga.

”Yang jelas kita respon cepat tanggap darurat bagi karyawan,” ungkapnya.

Selain itu penumpang yang akan menggunakan MRT Jakarta juga akan diwajibkan menggunakan masker double untuk mencegah penularan virus selain tidak berbicara di dalam kereta. Meski dalam PPKM mikro, William menyebutkan, banyak hal yang dilakukan dalam pembangunan sarana pendukung MRT Jakarta.

Hal ini terlihat adanya sembilan project on going yang mana tiga diantaranya merupakan proyek cepat berjalan. William menjelaskan, tiga proyek ini yang pertama adalah pembangunan transport hub Dukuh Atas dekat Stasiun Sudirman yang nantinya bangunan tersebut berfungsi untuk berbagai macam hal.

Proyek kedua yakni pembangunanan jembatan penyeberangan multi guna Dukuh Atas yang akan dilakukan PT MITJ. INi adalah jembatan pertemuan titik LRT Jabodebek hingga Stasiun Sudirman dan transport hub TransJakarta.

Baca juga: Gandeng Properti Sekitar, MRT Jakarta Fase 2 Pembangunannya Bersamaan TOD

”Nantinya jembatan ini akan beroperasi bersamaan dengan LRT Jabodebek,” kata William.

”Terakhir adalah pembangunan transit hub dan skybridge di Poin Square yang akan menghubungkan Stasiun MRT Lebak Bulus dengan Poins Square. Sedangkan bagian bawahnya dibuat sebagai hub,” tambahnya.