Jika Terjadi Pemogokan Pilot dan Karyawan, Garuda Indonesia Telah Siapkan Langkah Mitigasi
1.370 pilot Garuda Indonesia berencana akan melakukan mogok kerja, terhitung sejak 30 hari kerja sejak tuntutan mereka diutarakan ke publik. Ancaman tersebut sontak membuat geger dunia penerbangan, mengingat aksi ribuan pilot yang tergabung dalam Asosiasi Pilot Garuda Indonesia (APG) bakal memiliki dampak besar dalam aspek pelayanan penerbangan.
Baca juga: RUPST 2018, Garuda Indonesia Canangkan Akselerasi Bisnis dan Pertumbuhan Penumpang 10 Persen
Seperti dikutip dari liputan6.com, puluhan pilot Garuda Indonesia protes terhadap kondisi perusahaan saat ini. Ketua umum Serikat Karyawan Garuda (Sekarga) Ahmad Irfan Nasution menjelaskan, kondisi keuangan Garuda semakin menurun dilihat dari net profit loss atau rugi bersih 2017 yang naik signifikan yakni US$213,38 juta dollar dari tahun sebelumnya yang hanya US$9,36 juta.
menurut Sekarga, hal ini diakibatkan kegagalan manajemen PT Garuda Indonesia di antaranya dalam penjadwalan kru. Sehingga adanya pembatalan dan penundaan penerbangan, adanya jabatan direktur kargo yang tidak dibutuhkan. Dan hanya menambah biaya organisasi serta nilai saham yang semakin merosot di level 286 per saham pada penutupan perdagangan akhir April lalu dibanding pada pembukaan harga saat IPO yang mencapai Rp750 lembar saham.
Sekarga meminta Presiden Jokowi, Kementerian BUMN serta para pemegang saham segera merestrukturisasi Direksi Garuda Indonesia dengan mencabut direktur kargo yang dianggap tidak dibutuhkan.
Sementara, Hengky Heriandono, VP Corporate Secretary Garuda Indonesia dalam siaran pers (2/5/2018) yang diterima KabarPenumpang.com menyebutkan bahwa terkait dengan rencana pemogokan yang akan dilakukan oleh Serikat Karyawan dan Asosiasi Pilot Garuda, manajemen menegaskan bahwa kegiatan operasional penerbangan akan tetap berlangsung secara normal. Manajemen Garuda Indonesia telah melakukan langkah langkah mitigasi untuk mengantisipasi kondisi tersebut.
Terkait sorotan akan keberadaan direktorat kargo, Ia menyapaikan bahwa sejalan dengan tantangan industri penerbangan yang kian kompetitif, perusahaan turut mengembangkan berbagai model bisnis dalam memaksimalkan potensi pasar, yang salah satunya dilakukan melalui utilisasi pasar kargo.
Melalui lini usaha kargo udara, sepanjang tahun 2017 Garuda Indonesia berhasil mengangkut 446.8 ribu ton angkutan kargo, meningkat sebesar 7,4 persen dibandingkan tahun 2016 dengan pendapatan kargo Garuda Indonesia yang meningkat sebesar 8,2 persen menjadi US$237,1 juta di tahun 2017.
Baca juga: Belum Ada Kesepakatan, Garuda Indonesia dan Koosmariam Lanjutkan Permasalahan di Pengadilan
Mengenai sorotan kinerja keuangan, Garuda Indonesia juga berhasil menekan tren kerugian dari 1Q-2017 sebesar US$99,1 juta menjadi US$38,9 juta pada 2Q-2017. Garuda Indonesia juga telah berhasil membukukan laba operasi sebesar US$61,9 juta pada periode 3Q-2017 (diluar tax amnesty dan extraordinary items sebesar US$145 juta). Jumlah itu naik 216,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dongkrak Perekonomian Wilayah Purbalingga, Bandara JB Soedirman Siap Beroperasi di 2019
Ditengarai tidak adanya bandara yang memadai untuk masyarakat di Jawa Tengah bagian Selatan dan Barat, Presiden Joko Widodo lantas berinisiatif untuk membangun Bandara Jenderal Besar Soedirman, di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah pada Senin (23/4/2018) kemarin. Bandara yang semula diusulkan bernama Lanud Wirasaba tersebut pun secara resmi mentransformasikan statusnya menjadi dalam pengembangan. Diharapkan, Bandara Jenderal Besar Soedirman ini mampu memenuhi kebutuhan masyarakat akan layanan transportasi udara.
Baca Juga: Ada Lima Bandara Pionir di Indonesia, Semuanya Buatan Belanda Lho!
Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, tahap pertama pengembangan Bandara Jenderal Besar Soedirman ini akan dilengkapi dengan runway sepanjang 1.600 meter. Kendati hingga kini bakal calon landas pacu tersebut masih berupa pada rumput seluas 850 meter, namun Presiden Jokowi tetap optimis bahwa proyek ini akan rampung pada akhir 2019 kelak.
“Selesai, Inshaa Allah selesai,” ujar Jokowi. “Kita harapkan nanti untuk tahapan pertama runaway (landasan pacu) akan sepanjang 1.600 meter. Tahap kedua nantinya 2.500 meter. Nanti juga ada terminal seluas 3.000 meter persegi yang akan bisa menampung penumpang sekitar 300 ribu penumpang dalam setahun,” tandasnya, dikutip dari laman resmi Setkab.
Jokowi sendiri berharap, bandara ini dapat memberikan manfaat yang lebih luas. Tidak hanya sebatas di Kabupaten Purbalingga saja, melainkan juga kabupaten atau kota lainnya yang berada di sekitarnya, seperti Banjarnegara, Kebumen, Banyumas, Pemalang, Tegal, Brebes, Kota Tegal, dan Wonosobo.
“Kita harapkan nantinya juga akan muncul titik-titik pertumbuhan ekonomi baru di Purbalingga dan sekitarnya. Harapan kita itu,” tutur Jokowi.
Baca Juga: Hang Nadim, Bandara dengan Landas Pacu Terpanjang di Indonesia
Bandara Jenderal Besar Soedirman ini sendiri terletak di Purbalingga bagian Selatan. Pada awalnya, bandara ini merupakan Pangkalan Udara TNI AU Wirasaba. Namun sesuai dengan instruksi Presiden pada awal tahun 2016 silam, statusnya pun berubah menjadi bandara yang akan melayani penerbangan sipil.
Pengambilan nama bandara ini sendiri dilandaskan pada Purbalingga yang merupakan tempat kelahiran dari Sang Jenderal Besar. Peresmian pergantian nama tersebut pun dilakukan pada 7 November 2016 silam, dipimpin langsung oleh Panglima Komando Operasi Angkatan Udara I TNI AU yang saat itu dijabat Marsekal Muda Yuyu Sutisna.
Akibat Ancaman Bom, Lion Air JT120 Alami Delay Selama Dua Jam
Selain problem yang bersifat teknis, penundaan penerbangan bisa diakibatkan oleh hal lain, salah satunya yang menyangkut urusan keamanan. Seperti yang baru saja dialami pesawat Lion Air Boeing 737-800NG dengan nomer PK-LYJ dan kode penerbangan JT-120. Pesawat dengan rute Bandara Internasional Soekarno-Hatta, ke Bandara H.A.S. Hanandjoeddin, Tanjung Pandan, Belitung.
Baca juga: Lion Air Group Beli 50 Unit Boeing 737 Max 10 Senilai Rp858 Triliun
Dikutip dari siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com (2/5/2018), ancaman bom (bomb threat) dalam pesawat tersebut yang bersumber dari seorang penumpang wanita bernisial FW – bernomor kursi (seat) 24C dengan memberitahu ke salah satu awak kabin (flight attendant/ FA) adanya bom di pesawat. Pimpinan awak kabin (FA1) berkoordinasi dengan seluruh kru yang bertugas guna menjalankan tindakan sesuai prosedur standar operasional (standard operation procedure).
Dalam menjamin keselamatan, keamanan dan kenyamanan pelanggan dan kru, pilot sebagai PIC memutuskan untuk menurunkan kembali dan dilakukan pengecekan ulang (screening) pada pesawat; 166 penumpang dewasa, enam anak-anak dan dua bayi; seluruh barang bawaan serta kargo. Dengan kerjasama yang baik antara kru pesawat, petugas layanan di darat (ground handling) dan petugas keamanan bandar udara (aviation security/ avsec) proses pemeriksaan diselesaikan secara tepat dan benar.
Akibat kejadian tersebut, Lion Air JT 120 mengalami keterlambatan penerbangan (delay) 120 menit, dari waktu berangkat pukul 09.25 WIB. Lion Air telah menerbangkan dengan jadwal keberangkatan terbaru menuju Tanjung Pandan pada 11.15 WIB.
Penumpang (FW) saat ini masih dalam penyelidikan dan Lion Air telah menyerahkan ke avsec bandar udara beserta pihak berwenang guna menjalani proses lebih lanjut.
Baca juga: Garap Wisata di Cina Selatan, Lion Air Buka Penerbangan Surabaya-Haikou
Lion Air menginformasikan, kondisi itu berpotensi menyebabkan delay pada rute Tanjung Pandan ke Cengkareng dan Cengkareng menuju Bandar Udara Internasional Hang Nadim, Batam, Kep. Riau (BTH) pergi pulang (PP).
Akibat Kegerahan di Kabin, Pria Ini Tak Sengaja Membuka Pintu Darurat
Pintu darurat jelas hanya digunakan saat pesawat mengalami keadaan yang darurat seperti mendarat di air atau ditempat lainnya. Tetapi apa jadinya jika pintu tersebut di buka dengan sengaja karena seorang penumpang kegerahan? Baru-baru ini seorang penumpang bernama Chen membuka pintu darurat tersebut dan panik.
Baca juga: “Nilai Kredit Sosial” Rendah, Cina Batasi Warga Gunakan Pesawat maupun Kereta Api
KabarPenumpang.com melansir dari laman newsweek.com (1/5/2018), bahwa saat itu diketahui pesawat sedang dalam posisi deplaning atau sedang menunggu pintu pesawat terbuka agar penumpang bisa turun di bandara Mianyang Nanjiao Sichuan dimana pesawat tersebut berangkat dari pulau Hainan. Namun saat menunggu itu, pria 25 tahun tersebut mulai merasa tidak nyaman dan mendorong pegangan pintu terdekatnya yang ternyata adalah pintu keluar darurat.
Dia panik ketika pintu tiba-tiba terjatuh ke dalam dan slide darurat terkembang otomatis keluar. “Karena begitu pengap dan panas di pesawat, saya hanya mendorong pegangan jendela di sebelah saya. Tiba-tiba pintu itu roboh dan saya panik,” ujar Chen.
Sayangnya pihak maskapai dan keamanan tidak yakin dengan penjelasan Chen. Maskapai penerbangan yang tidak disebutkan namanya tersebut mengatakan, kurangnya pengetahuan pria tersebut tidak dapat dimaafkan. Sebab, demonstrasi terkait instruksi keselamatan dan panduan manual darurat diberikan kepada penumpang dalam penerbangan.
Maskapai tersebut menambahkan, pintu darurat tidak akan terbuka tanpa menggunakan kekuatan untuk membukanya. Pihak maskapai menjelaskan, secara khusus semua penumpang yang duduk di pintu keluar darurat dibuat sadar akan tindakan pencegahan dan tanggung jawab ketika duduk dibaris tersebut.
Baca juga: Penasaran, Apa Sih Fungsi Penanda Pada Pintu Darurat di Kabin Pesawat?
Diketahui atas insiden ini Chen ditahan pihak kepolisian setempat selama 15 hari dengan tuduhan pemindahan fasilitas penerbangan tanpa izin. Tak hanya itu, dia juga dikenakan denda 70 ribu Yuan atau sekitar US$11 ribu atau Rp153 juta untuk membayar pemeliharaan maskapai dan biaya penundaan.
Asosiasi Transportasi Udara Cina diketahui juga telah memperketat denda dan periode penahanan untuk penumpang nakal selama beberapa tahun terakhir. Penumpang yang ditemukan merokok atau terlibat perkelahian di bandara maupun pesawat akan dilarang terbang ke seluruh negeri selama satu tahun.
Rasa gerah saat di dalam kabin memang kerap dirasakan, terutama pada penerbangan berbiaya murah. Saat masih di darat dan proses entry penumpang sedang berlangsung, pengatur suhu ruangan kadang tak diaktifkan dengan dalih penghematan biaya.
Garuda Indonesia Deklarasikan Gerakan Anti Narkoba dan Berita Hoax
Maraknya pemberitaan palsu atau hoax belakangan ini membuat sejumlah otoritas saling menguatkan fondasi satu sama lain, guna memotong ruang gerak dari penyebaran berita tak bertuan ini. Sebut saja Flag Carrier Garuda Indonesia yang mendeklarasikan gerakan anti hoax bersama Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Baca Juga: Perjalanan Kasus Koosmariam Djatikusumo Hingga Gugatan ke Garuda Indonesia
Berdasarkan pantauan KabarPenumpang.com di lapangan, deklarasi yang diadakan pada Rabu (2/5/2018) di Garuda Management Building ini sendiri turut dihadiri oleh Kepala Divisi Hubungan Masyarakat (Kadiv Humas) Polri, Irjen Pol Setyo Wasisto. Adapun kegiatan deklarasi anti hoax ini merupakan bagian dari komitmen bersama dalam meningkatan pemahaman masyarakat akan pentingnya edukasi tentang kampanye anti hoax.
“Kami dari Garuda Indonesia mendukung upaya Polri dalam menyukseskan program anti hoax. Diharapkan karyawan dan karyawati kita dapat bertanggung jawab dalam menggunakan sosial media, untuk tidak terlibat dalam penyebaran berita-berita hoax atau yang tidak akurat,” tutur Pahala di hadapan awak media.
“Sudah jadi bagian dari tugas kami untuk melakukan pengawasan terhadap seluruh karyawan karyawati kita agar tidak menyebarkan berita yang berpengaruh negatif kepada masyarakat dan tentu saja beretika,” imbuhnya.
Sementara itu, Irjen Pol Setyo Wasisto yang hadir mewalikan Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian turut mengapresiasi partisipasi Garuda Indonesia dalam menyukseskan program anti hoax ini.
“Kami turut mengapresiasi Garuda Indonesia sebagai maskapai national flag carrier yang berinisiatif berperan aktif dalam mendukung upaya bersama melalui kampanye anti hoax khususnya melalui edukasi seluruh jajaran manajamen, operasional, dan karyawan akan pentingnya pemahaman dalam menyikapi pemberitaaan hoax” terang Setyo.
“Penyebaran berita hoax yang marak terjadi saat ini dinilai bisa menjadi ancaman serius bagi stabilitas nasional, dan ekonomi bangsa Indonesia. Untuk itu, kesadaran akan pentingnya menyaring peredaran informasi secara tepat guna menjadi penting untuk diketahui dan dipahami oleh seluruh pihak. Selain itu masyarakat juga harus semakin jeli dalam menyikapi peredaran pemberitaaan hoax yang kini marak terjadi pada lini digital dan sosial media”, tandas pria penyandang dua bintang tersebut.
Tidak hanya deklarasi anti hoax, pada kesempatan yang sama Garuda Indonesia pun melakukan kerja sama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) guna menyuarakan komitmen untuk memerangi zat-xat adiktif ini.
Baca Juga: Lebaran 2018: Garuda Indonesia Tingkatkan Kapasitas Penerbangan Hingga 8 Persen
“Sebagai penyedia jasa transportasi udara tentunya kami sadari bahwa kami juga memiliki peranan signifikan dalam mendukung upaya seluruh pihak dalam mencegah masuknya akses penyebaran narkoba khususnya melalui jalur penerbangan internasional maupun domestik”, jelas Pahala.
Sementara itu, Kepala BNN Heru Winarko yang turut hadir dalam acara tersebut pun mendukung upaya Garuda dalam pemberantasan narkoba. “Sebagai maskapai penerbangan terdepan di Indonesia, Garuda Indonesia punya peran penting untuk melakukan pengawasan arus transportasi udara baik penumpang maupun barang, khususnya terhadap akses jalur penerbangan yang riskan akan penyelundupan narkoba,” jelas Heru.
Menhub Targetkan Integrasi Transportasi Massal di Jakarta Pada 2023 – 2024
Mengingat kondisi lalu lintas Ibu kota yang sudah semakin tidak kondusif dewasa ini, pemerintah pun menargetkan akan mengintegrasikan semua angkutan massal di Jabodetabek pada 2023 hingga 2024 mendatang. Dengan misi tersebut, otoritas terkait pun membidik peningkatan jumlah penumpang, dari satu juta menjadi empat hingga lima juta penumpang.
Baca Juga: Di Tengah Pesimisme, Dirut Jakpro Optimis LRT Jakarta Bisa Digunakan Saat Asian Games 2018
Jika diperhatikan, misi pemerintah ini tidaklah berjalan tanpa arah. Mereka mematok pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta dan Light Rapid Transit (LRT) sudah rampung. Dengan menjadikan dua sarana transportasi berbasis massal ini sebagai senjata pamungkas mereka untuk menekan angka kendaraan pribadi di jalanan Ibukota, maka misi tersebut bukanlah mustahil untuk diwujudkan.
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman netralnews.com (29/4/2018), Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi mengatakan bahwa pengadaan sejumlah sarana transportasi publik merupakan langkah antisipasi dari angka pertumbuhan kendaraan pribadi yang kian melejit. “Ini adalah kepastian bahwa (volume) sejumlah jalan di Jakarta dan sekitarnya akan terus meningkat dan ini harus diantisipasi dengan membangun fasilitas transportasi massal publik yang memadai,” tutur Budi.
Mempercepat perkembangan secara keseluruhan, pemerintah pun terus menggenjot instansi terkait supaya estimasi penyelesaian proyek dapat dipersingkat. “Tiga rute favorit terus dikembangkan dengan sarana transportasi massal yang memadai,” tandas Budi seraya membeberkan hasil evaluasi pemerintah yang mendapati bahwa rute Cibubur-Jakarta, Bekasi-Jakarta, dan Bogor-Jakarta merupakan rute favorit para komuter.
Tidak hanya percepatan yang diupayakan, pun dengan aspek keselamatan yang juga tidak luput dari perhatian pemerintah. “Keselamatan adalah prioritas utama dan mempertimbangkan agar mencapai presentase kecelakaan nol persen,” tambah Budi.
Baca Juga: Jelang Asian Games 2018, Pekerjaan MRT Jakarta Dibekukan Sejenak
Pada kesempatan sebelumnya, suksesor dari Ignasius Jonan pun telah menjamin proyek pembangunan LRT dan MRT Jakarta tidak akan ngaret dari jadwal. Pasalnya, proyek pembangunan dua sarana transportasi umum ini mendapat perhatian khusus dari Presiden Joko Widodo.
“Presiden selalu mengatakan kepada kami bahwa untuk pembangunan menggunakan prinsip money follow program, artinya setiap rupiah yang dibangun itu bukan saja membangun tetapi dipastikan pembangunan itu bisa berfungsi. Oleh karenanya selain tugas saya untuk menjamin konektivitas, ada kewajiban saya yang harus memastikan segala proyek itu memang jadi dibangun,” jelas Budi, dikutip dari laman dephub.go.id.
PO Pahala Kencana, dari Kudus Hingga Akhirnya Berpusat di Jakarta
Mungkin bagi penggemar bus atau biasa di sebut busmania pastinya tak asing lagi dengan bus nama PO Pahala Kencana. Perusahaan Otobus yang satu ini awalnya didirikan di Kudus, Jawa Tengah oleh Hendro Tedjokusumo tahun 1976 lalu. Pahala Kencana sendiri sejak meluncur di jalanan menjadi salah satu andalan masyarakat kota Kudus dan sekitarnya serta Solo yang melaju ke ibu kota Jakarta.
Baca juga: PO Sinar Jaya, Tawarkan Kenyamanan dengan Harga Bersahabat
KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman, bahwa seiring pejalanan waktu dan minat masyarakat akan transportasi yang nyaman serta berkualitas, Pahala Kencana kemudian memikat hati banyak pengguna setia dengan merambah trayeknya ke kota besar dan kecil di Pulau Jawa, Madura, Bali, Lombok hingga Sumatera. Kemudian di tahun 1990-an PO Pahala Kencana justru menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia.
Tahun 1993, PT Pahala Kencana kemudian mengembangkan usaha jasa titipan Pahala Kencana dan melayani tujuan-tujuan sesuai rute operasi bus. Tetapi kini, jasa titipan Pahala Kencana kemudian berubah menjadi Pahala Express yang melayani pengiriman ke lebih 200 kota besar dan kecil ke seluruh Indonesia. Tak hanya itu tahun 1997, didirikan Pahala Tours & Travel yang melayani wisata domestik dan internasional tiketing serta MICE.
Pahala Kencana sendiri juga melayani rute bus kota di wilayah padat Jakarta. Bus ini melayani ke kota-kota kecil di dalam provinsi dalam rute dekat. Tahun 2000 kemudian, kantor pusat PT Pahala Kencana kemudian berpindah dari Kudus ke Jakarta. PO Pahala Kencana memiliki empat jenis kelas bus yakni Bisnis AC (2-3), VIP(2-2), Eksekutif (2-2) dan Super Eksekutif (2-1).
Kelas Bisnis AC melewati rute dengan tujuan Purwokerto, Bobotsari, dan Wonosobo. Kelas VIP melewati rute degan tujuan Palembang, Yogjakarta, Solo, dan Wonogiri. Kemudian kelas Eksekutif melayani semua rute yang terdapat pada Pahala Kencana. Sedangkan bus kelas Super Eksekutif, melayani rute dari Jakarta ke Semarang, Kudus, dan Lasem.
Dengan banyaknya trayek yang dimiliki, PO Pahala Kencana memiliki sekitar delapan tempat keberangkatan yakni Jakarta, Bandung, Tangerang, Merak, Semarang, Solo, Sragen dan Blitar. Tujuannya pun ke berbagai macam wilayah baik itu di Pulau Jawa sendiri hingga Bali dan Sumatera.
Baca juga: Sejarah ALS, Perusahaan Otobus dengan Trayek Terjauh Lintas Jawa-Sumatera
Tiket bus Pahala Kencana sendiri beragam, berikut ini tiket untuk keberangkatan dari beberapa tempat tersebut.
a. Harga Tiket Bus Keberangkatan Jakarta.
Jakarta – Tujuan Semarang Rp. 200.000 (executive), Rp. 220.000 (super executive)
Jakarta – Tujuan Solo Rp. 170.000
Jakarta – Tujuan Kudus Rp. 200.000
Jakarta – Tujuan Rembang Rp. 220.000
Jakarta – Tujuan Temanggung Rp. 220.000
Jakarta – Tujuan Yogyakarta Rp. 220.000
Jakarta – Tujuan Ponorogo Rp. 190.000 (VIP)
Jakarta – Tujuan Wonogiri Rp. 170.000 (VIP)
Jakarta – Tujuan Madiun Rp. 250.000
Jakarta – Tujuan Kediri – Blitar Rp. 270.000
Jakarta – Tujuan Cepu – Bojonegoro Rp. 220.000
Jakarta – Tujuan Lasem Rp. 250.000 (executive) Rp. 300.000 (super executive)
Jakarta – Tujuan Surabaya Rp. 310.000
Jakarta – Tujuan Malang Rp. 330.000
Jakarta – Tujuan Pasuruan Rp. 285.000
Jakarta – Tujuan Probolinggo Rp. 295.000
Jakarta – Tujuan Lumajang Rp. 365.000
Jakarta – Tujuan Banyuwangi Rp. 365.000
Jakarta – Tujuan Denpasar Rp. 455.000
Jakarta – Tujuan Pruwokerto Rp. 90.000 (AC Ekonomi)
Jakarta – Tujuan Bobotsari Rp. 100.000
Jakarta – Tujuan Wonosobo Rp. 160.000
Jakarta – Tujuan Cilacap Rp. 100.000
Jakarta – Tujuan Madura Rp. 300.000
Jakarta – Tujuan Palembang Rp. 230.000 (VIP) Rp. 280.000 (executive)
Jakarta – Tujuan Prabumulih Rp. 200.000 (VIP)
b. Harga Tiket Bus Keberangkatan Bandung.
Bandung – Tujuan Denpasar Rp. 460.000
Bandung – Tujuan Semarang Rp. 165.000
Bandung – Tujuan Blitar Rp. 230.000
Bandung – Tujuan Surabaya Rp. 250.000
Bandung – Tujuan Malang Rp. 270.000
Bandung – Tujuan Yogyakarta Rp. 170.000
Bandung – Tujuan Solo Rp. 180.000
Bandung – Tujuan Bojonegoro Rp. 180.000
Bandung – Tujuan Kalianda Lampung Rp. 255.000
Bandung – Tujuan Baturaja Rp. 310.000
Bandung – Tujuan Palembang Rp. 330.000
c. Harga Tiket Bus Keberangkatan Tanggerang.
Tanggerang – Tujuan Wonosobo Rp. 110.000 (VIP)
Tanggerang – Tujuan Surabaya – Malang Rp. 330.000
Tanggerang – Tujuan Madiun Rp. 160.000 (VIP)
Tanggerang – Tujuan Yogyakarta Rp. 160.000 (VIP)
Tanggerang – Tujuan Palembang Rp. 230.000 (VIP)
Tanggerang – Tujuan Purwokerto Rp. 90.000 ( AC Ekonomi ), Rp. 110.000 (VIP)
Tanggerang – Tujuan Bobotsari Rp. 100.000 ( AC Ekonomi )
Tanggerang – Tujuan Wonogiri Rp. 170.000 (VIP)
Tanggerang – Tujuan Semarang – Salatiga – Solo Rp. 170.000
Tanggerang – Tujuan Ponorogo Rp. 190.000 (VIP)
Tanggerang – Tujuan Cilacap Rp. 100.000 ( AC Ekonomi )
d. Harga Tiket Bus Meliputi Rute Lain.
Merak – Tujuan Yogyakarta Rp. 190.000
Merak – Tujuan Semarang Rp. 190.000 (VIP)
Semarang – Tujuan Denpasar Rp. 290.000
Solo – Tujuan Denpasar Rp. 290.000
Sragen – Tujuan Lampung Rp. 370.000
Blitar – Tujuan Lampung Rp. 430.000

