Kabar mengejutkan datang dari dunia aviasi, dimana sebuah power bank yang dibawa oleh salah satu penumpang maskapai Aeroflot meledak dan membuat kondisi di dalam kabin panik. Untungnya, insiden meledaknya power bank pada Rabu (30/1/2018) ini terjadi sesaat setelah maskapai rute Moskow – Volgograd ini mendarat di tujuan. Merujuk pada penyataan pihak Aeroflot, insiden di Airbus A320 ini tidak menelan korban jiwa maupun korban luka.
Baca Juga: Kedapatan Bawa “Granat,” Penumpang Ini Tetap Bisa Mengudara. Kok Bisa?
“Saat para penumpang hendak meninggalkan pesawat, sebuah power bank milik seorang penumpang mengeluarkan asap putih dan meledak,” ujar juru bicara Aeroflot, dikutip KabarPenumpang.com dari laman metro.co.uk (1/2/2018). “Sebagian besar penumpang tak panik dan keluar dengan tenang lewat pintu dan tangga,” ujar salah satu penumpang dalam penerbangan tersebut.
Jika diperhatikan, sebelum mengudara kru kabin telah menginstruksikan untuk tidak mengoperasikan benda-benda elektronik seperti gadget, rokok elektrik, dan sejenisnya selama penerbangan berlangsung. Benda bermuatan listrik tersebut baru boleh dioperasikan kembali setelah pesawat mendarat dan berhenti dengan sempurna.
Selain dikhawatirkan radiasi sinyal yang dikeluarkan oleh gadget-gadget tersebut mengganggu sistem navigasi pesawat, gesekan senyawa kimia yang terkandung di dalam baterai gadget tersebut dikhawatirkan dapat mengakibatkan reaksi yang berbahaya seperti halnya ledakan di maskapai Rusia tersebut.
Sementara itu, merujuk pada peraturan yang telah ditetapkan oleh International Air Transport Association (IATA) terkait membawa power bank ke dalam kabin, pengisi daya portable ini tidak diperbolehkan untuk masuk ke dalam bagasi dan harus turut serta penumpang ke dalam kabin.
Untuk spesifikasinya, power bank dengan kapasitas kurang dari 20.000 mAh masih diijinkan untuk masuk ke dalam kabin, maksimal sebanyak 20 buah. Sedangkan untuk powerbank dengan kapasitas di antara 20.000 hingga 32.000 mAh juga masih boleh diijinkan untuk masuk ke dalam kabin, maksimal sebanyak dua buah saja. Lebih dari itu, power bank dengan kapasitas melebihi 32.000 mAh dilarang untuk ikut dalam penerbangan.
Baca Juga: 4 Gadget Canggih Ini Siap Dampingi Perjalanan Anda
Senada dengan IATA, Federal Aviation Administration (FAA) dan Transportation Security Administration (TSA) pun mengijinkan penumpang untuk membawa beragam jenis baterai dan power bank ke dalam sebuah penerbangan, selama kapasitas penampungan power bank tersebut tidak melebihi batas yang telah ditetapkan oleh IATA. Alih-alih menyimpannya di dalam bagasi, alangkah baiknya untuk membawanya ke dalam kabin dan mengikuti semua peraturan yang berlaku.
Jika pihak maskapai menghimbau untuk tidak menggunakan peralatan elektronik selama penerbangan karena dikhawatirkan akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, maka patuhilah karena pihak maskapai sudah mempertimbangkan segala sesuatunyayang dapat menunjang keselamatan penerbangan.
Ajang Singapore AirShow yang digelar pada 6 hingga 11 Februari 2018 memang mengundang perhatian banyak kalangan, terutama para peminat dunia dirgantara. Selain dapat menyaksikan beragam jenis pesawat dan segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia aviasi secara dekat dan langsung, pagelaran ini juga dimanfaatkan oleh sejumlah manufaktur pesawat untuk memamerkan mahakarya terbarunya.
Baca Juga: Singapore AirShow 2018: Garuda Indonesia Gandeng Thales Hadirkan In Flight Entertainment
Seperti contohnya perusahaan multinasional Eropa yang bergerak di bidang aeornautika sipil dan militer global, Airbus yang memamerkan salah satu mahakarya teranyarnya A350-1000 yang menggunakan mesin ganda. Diharapkan, dengan dipamerkannya pesawat baru ini mampu menyerap pengunjung lebih banyak di booth mereka.
Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman straitstimes.com (5/2/2018), momen Singapore AirShow 2018 ini dijadikan Airbus sebagai salah satu ajang perkenalan pesawat jet berkapasitas 366 kursi di hadapan publik. Dalam sebuah konferensi pers yang diadakan oleh pihak Airbus pada Senin (5/2/2018), perusahaan tersebut telah menerima 169 pesanan untuk armada A350-1000 nya, termasuk dari Japan Airlines, British Airways dan Etihad.
“Kami melihat pasar Trans-Pasifik yang meledak. Inilah yang menjadi target A350-1000, dimana pesawat ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan pasar, ” tutur Marketing Director Airbus, Francois Obe. Tidak heran jika pesawat yang mampu menjangkau jarak 14.750 km ini dinilai sangat ideal oleh banyak maskapai yang memiliki rute penerbangan jarak jauh di pasar Asia-Pasifik.
Pada seri sebelumnya, yaitu A350-900, maskapai negeri tetangga Singapore Airlines merupakan pelanggan terbesar pesawat ini, dengan total 69 pesawat, dimana 20 diantaranya sudah beroperasi.
Ternyata, ajang Singapore AirShow 2018 ini merupakan salah satu pemberhentian Airbus dalam rangkaian ‘World Tour’ A350-1000 yang tengah mereka lakukan. Setelah Singapura, rencananya pesawat ini akan diterbangkan menuju Bangkok, Sydney, Auckland, Tokyo dan Manila.
Baca Juga: Pamer Kekuatan di Dubai Airshow 2017, Airbus Dongkrak Saham Yang Anjlok di Bulan Lalu
Material komposit dipilih Airbus untuk mengisi sekitar 50 persen kerangka A350-1000, dimana dengan menggunakan material ini pesawat akan jauh lebih ringan. Airbus juga tengah mengupayakan untuk melakukan penghematan bahan bakar sebanyak 25 persen ketimbang kompetitornya yang mengeluarkan pesawat dengan spesifikasi yang hampir serupa.
Kendati pada tahun 2017 silam, maskapai Cathay Pacific dan United Airlines sempat menukar A350-1000 dengan varian A350-900 karena ditemukan masalah yang dikhawatirkan akan menghambat proses pengoperasiannya, namun Airbus tidak patah arang dan tetap melakukan perbaikan di semua aspeknya.
Para pecinta dunia otomotif tentu sudah akrab dengan yang namanya Kawasaki, salah satu manufaktur sepeda motor asal Jepang yang terkenal dengan produk Ninja-nya. Di dalam negeri sendiri, motor Kawasaki Ninja merupakan salah satu sepeda motor yang diminati oleh banyak kalangan, walaupun harga jualnya selangit. Bagi sebagian orang, merupakan satu kebanggan tersendiri jika mampu menunggangi Kawasaki Ninja untuk berkendara keliling kota.
Baca Juga: Michio Suzuki – Bermula dari Mesin Tenun Hingga Digdaya di Pasar Otomotif Dunia
Tingginya popularitas Kawasaki Ninja di Tanah Air seolah sulit untuk dipatahkan, namun ada beberapa fakta yang terlupakan dari manufaktur sepeda motor ini, diantaranya adalah perusahaan ini juga bergerak di bidang heavy equipment dan aerospace. Tapi, kali ini kita tidak akan membahas soal perusahaan ini, melainkan pendiri dari manufaktur raksasa ini.
Adalah Kawasaki Shōzō, pria kelahiran 2 Desember 1837 ini merupakan otak dibalik hadirnya Kawasaki Heavy Industries, Ltd. Lahir di Daikoku, Satsuma domain, Jepang, Kawasaki tidaklah lahir dari keluarga yang berada. Orang tua Kawasaki hanyalah berprofesi sebagai penjual baju khas Jepang, Kimono. Di usianya yang menginjak 15 tahun, Kawasaki harus merelakan kepergian sang ayah untuk selama-lamanya.
Momen tersebut menjadi pelecut bagi Kawasaki untuk menggantikan peran tulang punggung keluarga yang dulu diemban mendiang ayahnya. Dua tahun selepas kepergian ayahnya menghadap Ilahi, Kawasaki memutuskan untuk hijrah ke Nagasaki untuk mengadu nasib menjadi seorang pedagang di pelabuhan. Nagasaki dipilih Kawasaki karena di sanalah satu-satunya tempat dimana ia bisa terhubung dengan orang Barat secara langsung.
Ketika Kawasaki berumur 27 tahun, ia memutuskan untuk membuka toko sendiri di daerah Osaka. Namun, Dewi Fortuna tidak berpihak padanya karena bisnisnya dideru banyak masalah, seperti masalah pada kapal pengangkut barang dagangannya, hingga kehilangan kargo selama barang dagangannya berlayar.
Tapi kejadian tersebut tidak mematahkan semangat Kawasaki. Ia lalu berkelana kembali menuju Tokyo dan sempat dipekerjakan oleh Menteri Keuangan untuk menyelidiki rute laut ke Ryûkyû, dan kemungkinan perdagangan gula Ryukyuan pada tahun 1873. Berkat kinerjanya yang gemilang, Kawasaki lalu dipromosikan menjadi wakil presiden Japan Mail & Steamship Company beberapa tahun berselang.
Kawasaki Dockyard. Sumber: global.kawasaki.com
Karirnya yang mulai menanjak tidak membuat Kawasaki berkepala besar. Ia tetap mencari ilmu mengenai dunia perkapalan dari siapapun, termasuk mempelajari teknologi pembuatan kapal bergaya Eropa dan Amerika. Di sini, ia percaya bahwa kapal-kapal buatan Eropa dan Amerika memiliki tingkat kestabilan dan kecepatan yang jauh di atas kapal buatan Jepang.
Singkat cerita, Kawasaki yang namanya mulai harum mendapat tawaran kerja sama dari Wakil Menteri Keuangan pada tahun 1876, Matsukata Masayoshi untuk mendirikan Kawasaki Tsukiji Shipyard di tanah pinjaman dari pemerintah di samping Sungai Sumida-gawa, Tsukiji Minami-Iizaka-chō. Kebetulan, Matsukata berasal dari provinsi yang sama dengan Kawasaki.
Baca Juga: Iwasaki Yataro – Titisan Keluarga Samurai Yang Sukses Mendirikan Mitsubishi
Dilansir KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, pengalamannya di bidang perkapalan membuatnya percaya diri untuk membangun perusahaan sendiri. Alhasil pada 1887, ia mendirikan perusahaannya sendiri yang bernama Kawasaki Shipbuilding Corporation, yang bermarkas di Kobe.
Entah apa yang melatarbelakangi Kawasaki untuk mengakhiri masa jabatannya di perusahaan besotannya itu. Hingga sembilan tahun berselang, tepatnya pada 1896, Kawasaki menyerahkan jabatan tertinggi di perusahaan tersebut kepada Matsukata Kôjirô, anak ketiga dari Matsukata Masayoshi.
Sayangnya, Kawasaki tidak bisa melihat perusahaan yang didirikannya itu berkembang menjadi perusahaan yang mencakup banyak aspek karena tepat di hari ulang tahunnya yang ke-75, Kawasaki menutup lembar perjalanan hidupnya untuk selama-lamanya.
Intensitas hujan yang cukup tinggi beberapa hari ini yang melanda Jakarta dan Bogor tidak hanya menyebabkan longsor di Bogor sehingga kereta Bogor tujuan Sukabumi tak beroperasi. Kereta bandara Soekarno-Hatta juga sempat tak beroperasi karena longsor yang terjadi di underpass Jalan Perimeter Selatan jalur kereta bandara tersebut.
Baca juga: Jalur Kereta Cijeruk Longsor, Perjalanan Kereta Bogor-Sukabumi Berhenti Operasi SementaraKabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, bahwa tim Pusat laboratorium dan Forensik (Puslabfor) Mabes Polri bersama Polresta Bandara Soetta melakukan pemeriksaan olah Tempat Kejadian Perkara longsornya dinding underpass tersebut. Penyelidikan tersebut dilakukan selama enam jam dan pihak kepolisian memastikan jalur kereta bandara Soetta dipastikan sudah bisa dilalui kembali.
Tak hanya itu, pihak PT KAI juga melakukan penelitian geometris jalur kereta bandara Soetta tersebut. “Sebagai antisipasi bencana selama cuaca ekstrem ini, PT KAI, PT Railink, PT Waskita Karya, dan PT Angkasa Pura II akan menyiapkan tim posko untuk memantau lintasan jalur KA Basoetta, terutama di area timbunan tinggi sepanjang 2,5 kilometer yang ada di jalur ini untuk menjamin keselamatan dan kelancaran perjalanan KA Basoetta,” ujar Edi Sukmoro yang dikutip dari keterangan tertulis, Rabu (7/2/2018).
Diketahui, titik terjadinya longsor tersebut berjarak hanya lima meter dari jalur kereta bandara sehingga mengakibatkan terganggunya perjalanan kereta bandara sejak Senin (5/2/2018). Bahkan membuat beberapa perjalanan kereta tertahan dan pembatalan perjalanan karena jalur sekitaran longsor masih tidak aman untuk di lalui.
Karena longsor di terowongan jalur kereta bandara, PT Railink yang merupakan operator kereta bandara mengatakan penumpang bisa melakukan refund tiket jika kereta mereka mengalami pembatalan.
“Caranya mengirim email ke info@railink.co.id. E-mail yang akan dikirim itu berisikan subjek Refund KA Bandara Batal Berangkat. Kemudian menyertakan data-data calon penumpang,” ujar Humas PT Railink Diah.
Dia mengatakan dalam email tersebut yang dikirimkan seperti kode booking, jam keberangkatan, relasi keberangkatan, nomor telepon atau alamat email dan nomor rekening serta nama bank penumpang.
Akibat longsor yang terjadi di underpass juga merenggut satu orang korban jiwa bernama Dianti Dyah Cahyani Putri yang bisa di evakuasi setelah berjam-jam dan meninggal saat penanganan medis. Sedangkan korban kritis Mukmainnah masih dalam perawatan intensif.
Adanya korban dalam longsor underpass, Pihak PT KAI memberikan santunan kepada korban dan menawarkan kepada korban selamat maupun keluarga korban meninggal untuk menjadi pegawai.
Baca juga:PT Railink Patok Dua Skema Tarif Untuk Kereta Bandara Soekarno-Hatta
“Sebagai rasa empati, PT KAI juga akan memberikan santunan kepada para korban dan menawarkan kepada korban yang selamat dan keluarga terdekat dari korban yang meninggal untuk diberikan kesempatan menjadi pegawai PT KAI jika berminat,” ujar Edi.
Perusahaan multinasional Perancis yang menyediakan layanan untuk pasar kedirgantaraan, pertahanan, transportasi dan keamanan, Thales telah mengumumkan bahwa pihaknya telah menjalin kerja sama dengan maskapai Flag Carrier, Garuda Indonesia dalam hal penyediaan layanan hiburan di armadanya.
Baca Juga: Garuda Indonesia Resmikan Penerbangan Denpasar ke Xi’an dan Zhengzhou
Diketahui, ini merupakan hubungan kerja sama perdana yang dijalin oleh kedua belah pihak, dan Singapore Airshow 2018 menjadi saksi dari permulaan kerja sama ini. Rencananya, pemasangan alat hiburan di 14 armada Airbus A330neo milik Garuda Indonesia ini dijadwalkan bergulir pada 2019 kelak, ketika pesawat anyar ini tiba di Tanah Air.
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman gmf-aeroasia.co.id, kerja sama yang ditanda tangani langsung oleh Direktur Utama Garuda Indonesia, Pahala N. Mansyuri, Direktur Utama GMF, Iwan Joeniarto dan SEVP International Development, Pascale Sourisse merupakan kesepakatan atas pengembangan bisnis konektivitas dan sistem In Flight Entertainment (IFE).
AVANT IFE System merupakan teknologi yang dipilih Garuda untuk memaksimalkan jaringan hiburan di armada terbarunya tersebut. Teknologi ini mencakup kehadiran monitor High Definition (HD) versi terbaru dari Thales di kelas bisnis dan ekonomi. Penumpang kelas bisnis pun bisa menikmati teknologi handset touchscreen Avii yang ditawarkan oleh Thales.
“Kami memilih Thales untuk entertainment system yang baru pada armada Garuda Indonesia. Sebagai maskapai bintang lima, in flight entertainment juga harus mengikuti teknologi yang up to date,” ungkap Pahala dalam pagelaran yang bergulir sejak 6 hingga 11 Februari 2018 ini.
“Kami sangat antusias untuk bermitra dengan Garuda Indonesia, maskapai kelas dunia yang sarat akan nilai budaya dalam pelayanannya. Sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan pengalaman perjalanan bagi para penumpangnya, Thales bangga bisa mengambil bagian di dalamnya dan diharapkan dapat membantu mempercepat perjalanan digital mereka dengan cara menghadirkan hiburan mutakhir,” tutur Erik-Jan Raatgerink, Country Director Thales di Indonesia, dikutip dari sumber terpisah.
Diketahui, sistem IFE yang baru milik Thales ini didasarkan pada platform Android terbuka, dan akan mendukung banyak bahasa dan aplikasi host seperti Interactive 3D Map, e-reader dan lainnya.
Baca Juga: Jelang Pembukaan Rute Baru, Inilah Sejumlah Tantangan Yang Menerpa Garuda Indonesia
Tidak hanya menandatangani kerja sama dengan pihak Thales, anak perusahaan dari Garuda Indonesia, GMF juga menjalin kerja sama dengan Kementerian Sekretariat Negara dalam hal perawatan dan pemeliharaan pesawat kepresidenan Republik Indonesia, Boeing Business Jet (BBJ). Kementerian Sekretariat Negara ini tidak hanya mempercayakan GMF dalam perawatan airframe saja, namun juga engine dan komponen.
Direktur Line Operation PT GMF AeroAsia Tbk (GMF), Tazar Marta Kurniawan dan Kepala Biro Umum Kementerian Sekretariat Negara, Piping Supriatna menandatangani kesepakatan kerja sama ini di Booth Garuda Indonesia yang ada di Singapore AirShow 2018, pada Selasa (6/2/2018).
“Kepercayaan kepada kami dalam merawat Pesawat VVIP ini merupakan bentuk dukungan dari pemerintah atas kualitas GMF. Pesawat kepresidenan yang dirawat di kami ini kami lakukan perlakuan khusus, karena BBJ ini akan digunakan presiden, jadi keamanannya harus lebih ketat,” ungkap Tazar.
Terbang dengan kendaraan otonom atau tanpa awak seperti mimpi disiang bolong. Bahkan banyak komunitas teknologi yang menertawakan hal tersebut dan bertanya apakah pesawat tanpa awak mungkin terealisasikan?
Baca juga: CityAirbus, Prototipe Taksi Drone Lansiran Airbus, Mengudara di Akhir Tahun DepanKabarPenumpang.com melansir dari laman theverge.com (5/2/2018), bahwa perusahaan pesawat tanpa awak milik Cina yakni Ehang baru-baru ini melakukan uji coba pertamanya. Dari cuplikan video, semua yang naik untuk merasakan terbang dengan pesawat tanpa awak sangat berkesan dan mengatakan hal tersebut bukanlah lelucon.
Ehang 184, pesawat tanpa awak tersebut adalah quadcopter dan sudah melalui sebuah tes dalam beberapa bulan terakhir. Diketahui, Ehang 184 ini sudah melakukan uji coba sebanyak seribu kali penerbangan dengan penumpang manusia di ketinggian 984 kaki atau 300 meter. Uji coba lainnya yakni dengan membawa penumpang lebih berat yakni 500 pound atau sekitar 230 kg dengan jarak tempuh 9,3 mil atau sekitar 15 km dengan kecepatan tinggi mencapai 80,7 mph atau 130 km per jamnya.
Ehang 184 (Ehang)
Perancang Ehang tak hanya menguji coba dalam kondisi cerah, mereka juga melakukan uji coba saat udara lebih panas dari biasanya, kabut tebal, malam hari hingga topan kategori tujuh dengan angin kencang.
“Apa yang kami lakukan bukanlah olahraga yang ekstrem, jadi keselamatan setiap penumpang selalu datang lebih dulu. Sekarang setelah kami berhasil menguji Ehang 184, saya sangat bersemangat untuk melihat seperti apa masa depan bagi kami dalam hal mobilitas udara,” kata pendiri dan CEO Ehang Huazhi Hu.
Ehang 184 berbentuk seperti telur dan multidoor ini rencananya akan digunakan untuk taksi udara dan membawa penumpang dalam melintasi lingkungan perkotaan yang padat. Pihak perusahaan akan mewujudkan layanannya tersebut dalam Dubai’s World Government Summit akhir bulan ini.
Tetapi juru bicara Ehang masih belum menanggapi akan terlakasana atau tidak. Hal ini juga dikarenakan Dubai bekerja sama dengan Volocoptor Jerman yang melayani taksi udara serupa.
Jika nantinya di Dubai tak berhasil, pihak Ehang sudah mendapatkan izin dari negara bagian Nevada untuk menguji Ehang 184 di tempat uji UAV yang disetujui Federal Aviation Administration (FAA). Ehang 184 ini menggunakan listrik untuk bahan bakarnya dan bisa membawa penumpang hingga sejauh 10 mil atau sekitar 23 menit penerbangan.
“Penumpang yang berada di kokpit tidak mengendarai dan hanya memasukkan tujuan mereka serta menikmati perjalan mereka. Pesawat ini juga mampu lepas landas secara mandiri, menerbangkan ke rute tujuan, merasakan hambatan dan mendarat,” ujar pihak perusahaan.
Pihak perusahaan melihat wahana mewah untuk orang-orang kaya sebagai tahap awal di pasar baru-baru ini. Dengan pesawat otonom menjadi lebih luas dimana harga lebih rendah setelah armada dan jalur penerbangan pasti.
Meskipun sukses melakukan uji coba penerbangan, Ehang masih melakukan perbaikan pada pesawat. Dalam hal perbaikan tersebut diberikan penekanan dan ditempatkan untuk pengalaman penumpang serta menambah opsi untuk kontrol manual.
Adanya kontrol manual tersebut bisa memberi penumpang pengalaman piloting untuk mengoperasikan pesawat secara manual jika terjadi sesuatu pada pesawat tersebut. Perusahaan juga menguji dua tempat duduk dengan muatan hingga 617 pound atau sekitar 680 kg.
Baca juga: Bukan Sekedar Isapan Jempol, Dubai Mulai Uji Coba Taksi Drone
Pihaknya juga membuktikan kendaraan udara otonomnya bisa terbang dan bukanlah prestasi kecil. Tetapi ini membuktikan bisa meningkatkan layanan taksi udara seutuhnya. Meskipun tatangan yang dihadapi berbeda dengan perusahaan raksasa lainnya dengan miliaran dolar yang dimiliki mereka. Ehang membuktikannya dengan take of vertikal dan pendaratan yang mulus.
Boeing 737 MAX 8 memang sudah diresmikan menjadi salah satu armada teranyar Garuda Indonesia pada akhir tahun 2017 silam, namun manufaktur pesawat yang berbasis di Illinois, Amerika Serikat ini diketahui baru saja merilis ‘adik’ dari armada baru Flag Carrier Indonesia tersebut, yaitu Boeing 737 MAX 7.
Baca Juga: Intip Kecanggihan dan Ruang Kabin Boeing 737 MAX 8 Garuda Indonesia
Walaupun statusnya masih prototipe, namun pesawat ini direncanakan mulai beroperasi pada tahun 2019 mendatang, dengan Southwest Airlines terdaftar sebagai maskapai pertama yang akan menggunakan jasanya.
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (5/2/2018), pesawat ini baru saja diluncurkan dari pabrik Boeing yang terletak di Renton, Washington diiringi oleh ribuan karyawan Boeing yang turut menantikan kehadiran pesawat jet bermesin ganda ini. Adapun versi ketiga dari keluarga Boeing 737 MAX 7 ini ditujukan untuk menggantikan peran dari Boeing 737-700. Dengan kata lain, burung besi baru ini akan bersaing dengan Airbus A319neo.
Pihak Boeing mengatakan perubahan yang paling mudah dilihat adalah pada jumlah kursi penumpangnya yang mampu menampung 172 penumpang dalam sekali penerbangan, selisih dua bangku dari versi sebelumnya. Di segi tenaga penggerak, Boeing 737 MAX 7 menggunakan dua buah mesin LEAP-1B dari CFM International yang mampu memberikan pesawat ini jangkauan 3.850 mil laut atau yang setara dengan 7.130 km.
Belum lagi penghematan bahan bakar sebanyak 18 persen per kursi dibandingkan dengan Boeing 737-700, tentu saja pesawat seri terbaru ini menjadi idaman para maskapai. “Kami berharap dapat menunjukkan fleksibilitas dan jangkauan yang luar biasa dari pesawat ini,” kata Keith Leverkuhn, Vice President dan General Manager program 737 MAX di Boeing Commercial Airplanes.
Minat para penyedia layanan jasa penerbangan terhadap keunggulan yang ditawarkan pada Boeing 737 MAX 7 ini ditunjukkan dengan ramainya pesanan yang masuk. Tercatat sekitar 4.300 pesawat yang sudah dipesan oleh berbagai maskapai. Dengan angka tersebut, pencapaian ini tercatat sebagai penjualan pesawat tercepat sepanjang sejarah Boeing.
Baca Juga: Kebanjiran Pesanan, Boeing 737 MAX Toreh Sejarah Penjualan Pesawat Tercepat di Dunia
Jika dibandingkan dengan Boeing 737 MAX 8, perbedaan signifikan terlihat dari panjang fuselage-nya. Boeing 737 MAX 7 memiliki panjang 35,56 meter, sedangkan MAX 8 memiliki panjang 39,52 meter. Tidak heran jika maskapai anyar Garuda Indonesia tersebut mampu mengangkut penumpang hingga 210 orang. Kendati menggunakan mesin yang sama, jarak tempuh Boeing 737 MAX 7 lebih jauh ketimbang MAX 8 yang hanya mampu mengudara sejauh 3.550 nm atau yang setara dengan 6.570 km.
Saban Momen Lebaran, puluhan juta warga di Tanah Air melakukan budaya mudik ke kampung halaman. Lantas bagaimana bila warga di Cina yang melakukan mudik, dengan jumlah penduduk mencapai 1,4 miliar jiwa, sudah barang tentu mudik ala Cina lebih bombastis. Ya seperti halnya mudik di Indonesia, warga Cina setiap perayaan Imlek juga melakukan kebiasaan pulang ke kampung halaman. Angka pemudik pun tak hanya puluhan juta, melainkan tembus ratusan juta orang.
Baca juga: Cina Siap Kontrol Warganya dengan Teknologi Pemindai Wajah
Setiap tahunnya saat perayaan Imlek berlangsung, ratusan juta penduduk Cina akan memadati stasiun, terminal bus, pelabuhan hingga bandara. Tahun ini diperkirakan 2,98 miliar perjalanan akan terjadi pada periode 1 Februari hingga 12 Maret 2018 mendatang.
KabarPenumpang.com melansir dari laman straitstimes.com (2/2/2018), penduduk Cina biasanya lebih banyak menggunakan bus saat kembali ke kampung halaman mereka. Namun, perjalanan dengan bus diperkirakan akan turun di tahun ini untuk pertama kalinya.
Sebab jaringan kereta dengan kecepatan tinggi di Cina semakin berkembang dan penduduk banyak yang memilih pulang ke kampung halaman dengan kereta. Pihak Kementerian Perhubungan Cina mengatakan, banyak orang yang sudah berpikir untuk menggunakan kereta atau pesawat terbang saat pulang ke kampung halaman mereka.
Festival musim semi dan Tahun Baru Imlek yang jatuh pada 16 dan 17 Februari tahun ini. Sedangkan liburan akan berlaku selama seminggu sejak tanggal 15 Februari. “Sekitar 2,98 miliar perjalanan selama 40 hari akan menjadi ujian besar bagi departemen transportasi negara tersebut,” kata Liu Xiaoming, pejabat Kementerian Perhubungan Cina.
Sayangnya, cuaca saat ini sudah membekukan banyak bagian wilayah di Cina dan membuat tantangan yang besar pada pihak berwenang serta observatorium nasional. Ini dikarenakan untuk mempertahankan kesiap siagaannya setelah musim dingin menghantam bagian tengah dan timur Cina.
Hingga kini pihak kereta api dan bandara masih terus membersihkan salju dan es dari jalanan untuk keselamatan penumpang. Diketahui, untuk perayaan Imlek dan festival musim semi di Cina, pihak China Railway Corporation (CRC) menambah 177 layanan kereta berkecepatan tingginya yang akan dioperasikan dan mengangkut penumpang sebanyak 100 ribu lebih setiap hari.
Pihak perkeretaapian Cina juga memberikan kemudahan check in pada penumpang untuk mengurangi kepadatan dengan teknologi pengenalan wajah dalam memverifikasi identitas penumpang. Di saat yang sama otoritas penerbangan berencana untuk menjadwalkan 30 ribu lebih banyak penerbangan saat melakukan perjalanan.
Baca juga:Fenomena Kereta Tabrak Burung Jadi Dampak Ekologi Kehadiran Bullet Train?
Tak hanya itu, sebanyak 33 juta orang diperkirakan akan menggunakan layanan ride sharing untuk pulang ke kampung halaman mereka di tahun ini. Kepala layanan carpooling Didi Huang Jieli mengatakan, perusahaan telah melihat peningkatan 10 persen per tahun untuk perjalanan mudik menggunakan layanan berbagi mobil.
Seekor burung merak yang menjadi hewan dukungan emosional akan dibawa masuk dalam penerbangan milik United Airlines. Namun, merak tersebut sayangnya tidak bisa ikut dalam penerbangan itu. KabarPenumpang.com merangkum dari laman traveller.com.au (1/2/2018), bahwa merak ini milik seorang fotografer dan artis pertunjukkan di New York City, Ventiko. Dia membeli tiket untuk meraknya yang bernama Dexter dalam penerbangan dari New Jersey Newark Liberty International Airport ke Los Angeles.
Baca juga: Bebek Ini Bantu Atasi Stress Pasca Trauma
Merak yang sudah dibeli tiketnya ini tak bisa masuk dalam penerbangan karena tidak memenuhi pedoman dan beberapa alasan lainnya seperti ukuran dan berat merak tersebut. Juru bicara United, Andrea Hiller mengatakan, pihaknya telah menjelaskan pada Ventiko sebanyak tiga kali sebelum sampai di bandara.
Maskapai ini mencatat bahwa penumpang diminta untuk memberikan dokumentasi yang benar dari pihak medis 48 jam sebelum menaiki pesawat. Diketahui, si pemilik merak sudah mencoba beberapa kali bersama unggas tersebut salah satunya dari bandara JFK.
Merak pendukung emosional tak bisa terbang dengan United Airlines (www.traveller.com.au)
Di Newark, tiket perempuan tersebut dikembalikan dan maskapai mengembalikan ongkos taksi dan hotel.
“Saya benar-benar berpikir bahwa seluruh hewan dukungan emosional akan lepas kendali. Memang ada orang-orang diluar sana yang membutuhkannya, tetapi sekarang ini banyaj yang menggunakan penerbangan untuk mencoba apakah hewan mereka bisa masuk,” ujar seorang pembawa acara Bobby Laurie.
Dalam penanganan masalah hewan pendukung emosional yang dibuat oleh United, hal ini juga berlaku pada maskapai Delta Airlines pada tanggal 1 Maret mendatang. Tak jauh berbeda pihak Delta juga mewajibkan penumpang yang membawa hewan pendukung emosional diajukan secara online 48 jam sebelum berangkat baik itu bukti kesehatan hingga vaksinnya.
Menurut Delta, kurangnya peraturan menyebabkan risiko keselamatan serius yang melibatkan hewan tak terlatih dalam penerbangan. Pihak Delta juga mengatakan, mereka membawa sekitar 700 dukungan hewan setiap hari atau hampir 250 ribu per tahun dan naik 150 persen sejak tahun 2015 lalu.
“Pelanggan telah mencoba untuk terbang dengan kalkun yang nyaman, sugar glider, ular, laba-laba dan banyak lagi,” menurut Delta. Maskapai ini telah melihat peningkatan insiden hewan sebanyak 84 persen sejak 2016, termasuk buang air kecilatau buang air besar dan menggigit. Tahun lalu, Delta mengatakan bahwa karyawannya melaporkan lebih banyak menggonggong, tumbuh, menerjang dan menggigit dari hewan layanan dan dukungan, perilaku yang biasanya tidak terlihat pada hewan ini saat dilatih dan bekerja dengan baik.
Baca juga: Halau Rusa di Jalur Kereta, Peneliti Jepang Pasang Klakson Suara Anjing Melolong di Lokomotif
Wakil Presiden Senior Delta Airlines mengatakan, kenaikan insiden serius yang melibatkan hewan dalam penerbangan membawa kita untuk percaya bahwa kurangnya peraturan dalam skrining kesehatan dan pelatihan untuk hewan-hewan ini adalah menciptakan kondisi yang tidak aman di seluruh perjalanan udara AS.
“Ini adalah langkah pertama kami untuk melindungi mereka yang terbang dengan Delta dengan proses penyaringan yang lebih baik,” ujarnya dalam pernyataan tertulis. Delta juga menyiapkan service animal support desk untuk memverifikasi dokumen yang diterima. Perusahaan tersebut mengatakan bahwa pihaknya tidak menerima layanan eksotis atau tidak biasa atau hewan pendukung.
Sebuah serikat pramugari besar mengatakan mendukung langkah yang dibuat oleh Delta. Masakapai United juga mengatakan, pihaknya tidak akan memerlukan formulir untuk hewan servis terlatih.
Dengan populasi penduduk terbesar di muka Bumi, jelas Cina adalah pasar terbesar untuk dunia penerbangan. Dan sebagai turunan dari berkah trafik penerbangan yang tinggi adalah kapasitas bandara yang ikut meroket dari waktu ke waktu. Seperti Beijing, Ibukota Cina ini dikenal sebagai salah satu kota terpadat di dunia dengan penduduk di atas 25 juta jiwa. Dan baru-baru ini ada kabar bahwa Bandara Beijing Capital International bakal menjadi bandara tersibuk di dunia.
Baca juga: 10 Bandara Ini Disebut Sebagai Yang TersibukKabarPenumpang.com melansir dari laman bloomberg.com (5/2/2018), mendapatkan data pada tahun 2017 kemarin, lalu lintas penumpang di bandara internasional Beijing naik dan mencapai rekor baru yakni 95,8 juta.
Peningkatan penumpang di bandara Beijing ini mengalami kenaikan selama lima tahun berturut-turut. Adanya kenaikan tersebut membuat Bandara Internasional Beijing Capital mempersempit kesenjangan dengan Bandara Internasional Hartsfield-Jackson Atlanta yang jumlah penumpangnya turun pada tahun 2017 lalu.
Data stastistik peningkatan jumlah penumpang di Beijing dan Atlanta (Bloomberg)
Karena kenaikan penumpang tersebut, Cina diperkirakan akan menyalip Amerika Serikat dan menjadi pasar perjalanan udara terbesar di dunia setelah tahun 2022 mendatang. Dalam mengatasi lonjakan penumpang tersebut, Cina sedang membangun mega bandara di Beijing dengan total biaya pembangunan US$12,9 miliar atau sekitar Rp174 triliun di pinggiran selatan yang dijadwalkan buka tahun depan.
Bandara ini nantinya akan mampu menampung 100 juta penumpang setiap tahunnya dan kemungkinan akan berbagi 170 penumpang per tahun pada 2025 mendatang. Bandara baru ini sendiri telah ditunjuk oleh pihak SkyTeam untuk menjdi pusat bagi aliansi tersebut.
Di Cina sendiri ada dua maskapainya yang masuk sebagai anggota SkyTeam yakni China Eastern Ailines dan China Southern Airlines. Dua operator penerbangan milik Cina ini masing-masing diizinkan untuk mengangkut 40 persen penumpang bandara dan mendapatkan slot waktu penerbangan ke Eropa dan Amerika Serikat.
Baca juga: Ini Dia! Hal Yang Kurang Menyenangkan Saat Bertandang Ke Cina
Beijing juga akan bergabung dengan daftar pilih kota-kota besar dengan dua atau bahkan tiga bandara internasional, termasuk London, New York, Tokyo dan Paris. Tidak seperti di Beijing, bandara tersebut biasanya mengambil peran pelengkap, seperti yang melayani rute internasional atau antarbenua dan yang lainnya berfokus pada penerbangan domestik atau regional.