Tunjang Wisata Kawah Ijen, Pemda Banyuwangi Canangkan Teknologi Kereta Gantung dari Swiss

Belakangan Kawah Ijen menjadi salah satu favorit para pelancong baik lokal maupun mancanegara. Hal ini karena adanya fenomena api biru atau blue fire dan di Indonesia hanya bisa di saksikan di kawah Ijen, Banyuwangi, Jawa Timur. Sebagai salah satu favorit para pelancong, menjadi tantangan baru bagi pemerintah banyuwangi sendiri. Apalagi untuk membuat para pelancong semakin tertarik menikmati keindahan kawah ijen. Baca juga: Livery “Aurora” Icelandair, Jadi Yang Paling Atraktif di Jagad Penerbangan KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, Pemerintah Banyuwangi memiliki satu inisiatif dengan pengembangan fasilitas cable car (kereta gantung) sepanjang 2,3 km di Kawah Ijen. Namun, untuk pembuatan ini pihak pemerintah daerah Banyuwangi masih menunggu izin dari kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). “Tengah menunggu proses perizinan tapak lahan di KLHK, karena ini terkait dengan cagar alamnya sehingga prosesnya tidak seperti perizinan yang biasa,” ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Pihaknya mengatakan, yang akan menangani proyek cable car ini kemungkinan berasal dari Swiss.
Kwah Ijen di Banyuwangi, Jawa Timur
“Ada sebuah perusahaan nasional yang bawa investor dari luar, expert cable car ini bukan dari Indonesia tapi dari Swiss. Dan rekomendasi Kemenpar itu harus yang terbaik, oleh karena itu Swiss,” tambahnya. Tak hanya itu, Dinas Kebudayaan dan Priwisata Banyuwangi juga menjelaskan, bahwa cable car tersebut akan dibuat dari Paltuding hingga puncak tertinggi Kawah Ijen. Rencananya adalah akan ada tangga termasuk lift menuju ke bawah dengan harapan panorama blue fire atau api biru bisa dinikmati oleh wisatawan sampai ke bawah. Sambil menunggu perizinan yang sedang diproses, konsultan dan pihak ketiga atau operator pembangunan kereta gantung dari Swiss akan turun ke lapangan. Ini dilakukan untuk mengecek lapangan, melihat kondisi medan dan memetakan kontur tanah yang akan menjadi tapak dari kereta gantung. Kawah Ijen sendiri adalah sebuah danau kawah yang memiliki sifat asam dan berada di puncak Gunung Ijen dengan tinggi 2.443 meter diatas permukaan laut dengan kedalaman danau 200 meter dan luas kawah yang mencapai 5.466 hektar. Danau di kawah Ijen sendiri merupakan salah satu danau air sangat asam terbesar di dunia. Kawah yang memiliki api biru ini masuk dalam wilayah Cagar Alam Taman Wisata Ijen Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Untuk menikmati api biru atau blue fire ini, biasanya terjadi setiap dini hari sekitar pukulu 02.00 hingga 04.00 WIB. Selain kawah Ijen, blue fire yang unik ini bisa dilihat juga di Islandia. Sebagai para pelancong yang menyukai keindahan danau kawah di atas Gunung Ijen, harus berhati-hati dengan gas belerangnya. Baca juga: Islandia (3): Sensasi Mekakjubkan ala Dunia Es Interstellar Sebab, gas belerang ini bukan hanya membuat Anda batuk, pusing ataupun pingsan saja, melainkan bisa menyebabkan kematian. Karena hal ini, kawah Ijen sering sekali ditutup karena kandungan belerang yang terlalu tinggi.

Terkoneksi Dengan Gadget, Ujet Hadirkan Asymmetrical Smart Scooter

Mungkin tidak terbayangkan oleh Anda bagaimana jadinya jika sepeda motor bisa menjadi moda transportasi yang terintegrasi dengan smartphone dan juga ramah lingkungan. Tapi Anda jangan dulu menyangkal pernyataan di atas, karena faktanya ada sebuah perusahaan yang tengah memberikan beberapa sentuhan akhir terhadap pengembangan teknologi tersebut dan siap untuk mengambil bagian di jalanan. Sudah barang tentu, inovasi ini akan mencuri perhatian siapa saja yang meliriknya. Baca Juga: Swytch Conversion Kit, Ubah Sepeda Konvensional Jadi Sepeda Listrik Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (13/1/2018), sebuah perusahaan bernama Ujet menelurkan inovasi berupa sepeda motor listrik yang terkoneksi langsung  dengan smartphone Anda. Sepeda motor yang bernama sama dengan perusahaan ini sontak mengundang decak kagum para pengunjung Consumer Electronics Show 2018 (CES 2018) yang diadakan di Las Vegas.
Sumber: newatlas
Dalam pagelaran dimana sepeda motor ini pertama kali dipertontonkan ke publik, pihak Ujet membeberkan kelebihan masterpiece-nya ini. Anda dapat ‘membuka kunci’ Ujet dengan menggunakan aplikasi yang sebelumnya harus diunduh terlebih dahulu melalui gadget Anda. Setelah melakukan berbagai personalisasi terhadap sepeda motor dan gadget, Anda dapat membuka berbagai platform sosial media, menggunakan maps, hingga menggunakan kamera yang terdapat di depan sepeda motor untuk merekam perjalanan Anda. Tidak berhenti sampai di situ, Ujet Smart Scooter yang memiliki konstruksi asimetris ini juga menggunakan tenaga listrik, dimana hal tersebut akan menunjang Ujet sebagai sepeda motor yang lebih ramah lingkungan ketimbang sepeda motor konvensional lainnya yang masih menggunakan bahan bakar bensin. Walaupun kecepatannya tidak bisa menyaingi sepeda motor konvensional (maksimal 45 km/jam), namun bukanlah kecepatan yang menjadi daya jual utama Ujet, melainkan aksesibilitas dan keramahan lingkungannya.
Sumber: Ujet
Untuk masalah isi ulang daya, Anda cukup membuka bagian bagasi dan mencolokkan kabel pada stop kontak terdekat. Pihak ujet sendiri menyediakan dua jenis baterai yang terbagi dari jarak tempuhnya, yaitu 70km dan 150km. Tidak membutuhkan waktu lama untuk mengisi daya sepeda motor cerdas ini, cukup dua jam saja hingga baterai berada dalam kondisi fully charged. Jika kabel yang disediakan oleh pihak Ujet tidak dapat mencapai stop kontak, Anda tidak perlu bingung, karena kesatuan baterai yang menempel dan terletak di bawah jok pengemudi ini dapat dengan mudah dilepas dan dibawa kemana-mana. Baca Juga: Niat Atasi Polusi, Mantan Pemilik Toko Sepeda ini Hadirkan Light Electric Vehicle Lalu, bagaimana jika tidak ada lahan parkir untuk sepeda motor ini? Mudah! Cukup lipat Ujet smart scooter sesuai dengan buku panduan dan sepeda motor ini pun akan menciut sehingga tidak menghabiskan lahan parkir. Ujet yang berbasis di Luksemburg ini berencana untuk meluncurkan smart scooter-nya di beberapa kota besar di Eropa, seperti Paris, Barcelona, dan Amsterdam pada paruh pertama tahun 2018. Sedangkan untuk wilayah Amerika Serikat dan Asia akan diluncurkan pada paruh kedua 2018. Menyinggung soal harga, Ujet mematok $8.900 (sekitar Rp119 juta) untuk Ujet Smart Scooter berdaya tempuh 70km, dan $9.900 (sekitar Rp132 juta) untuk yang berdaya tempuh 150km. Terdapat enam pilihan warna yang dapat Anda pilih sesuai selera. Tertarik untuk memilikinya?

Cina Rajai Populasi Bus Listrik di Seluruh Dunia

Bahaya laten polusi memang menjadi fokus pembahasan berbagai instansi terkait di dalamnya, tidak terkecuali para penyedia jasa transportasi. Bak sebuah koin, kehadiran transportasi memang terbukti memudahkan mobilitas khalayak ramai. Namun di sisi lain, menjamurnya penyedia jasa serupa membuat ancaman polusi menjadi semakin besar. Baca Juga: Bus Listrik Untuk TransJakarta, Antara Harapan dan Realita Tapi seiring perkembangan jaman dan teknologi, mulailah bermunculan sejumlah opsi untuk mengentaskan masalah yang saling bersinambungan tersebut. Mulai dari ‘meramu’ bahan bakar yang lebih ramah lingungan hingga peralihan menggunakan kedaraan bertenaga listrik. Di lihat dari dampak jangka panjangnya, penggunaan kendaraan listirk lebih banyak diminati oleh banyak pemangku kepentingan, sehingga tidak heran jika banyak manufaktur otomotif yang mulai menawarkan berbagai produk Electric Vehicle (EV) andalannya. Tidak hanya kendaraan pribadi saja yang mulai menggunakan tenaga baru ini, melainkan kendaraan besar seperti bus dan truk juga sudah mulai ‘terinfeksi’ inovasi ini. Walhasil, semakin banyak kendaraan yang menggunakan tenaga listrik, maka semakin rendah pula tingkat polusi yang dihasilkan, dan Cina berhasil membuktikan bahwa negara berjuluk Negeri Tirai Bambu tersebut mampu membuat perubahan yang signifikan dalam urusan pemberantasan masalah polusi. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman cleantechnica.com (1/1/2018), BYD Company sebuah manufaktur otomotif yang berbasis di Shenzhen berhasil menyulap semua armadanya dan beralih menggunakan tenaga listrik, termasuk bus. Diketahui, Shenzhen memiliki 16.359 bus dimana masing-masing di antaranya telah menggunakan energi listrik sebagai pembangkit tenaga utamanya. Demi menunjukkan keseriusannya dalam memberantas masalah polusi, misi selanjutnya yang akan dijalankan oleh BYD adalah mengkonversi semua taksi yang mereka produksi dengan menggunakan energi listrik. “Kami secara bertahap akan mengganti taksi bertenaga bahan bakar yang ada dengan yang bertenaga listrik dan menyelesaikan target pada tahun 2020, atau bahkan lebih cepat dari jadwal,” ungkap Zheng Jingyu, kepala departemen transportasi umum biro transportasi umum kota tersebut. Diketahui pula, jumlah bus berlabel BYD yang tersebar setara dengan rataan 3 kali lipat keseluruhan bus  yang ada di New York City, dan 8 kali lipat keseluruhan bus yang ada di Los Angeles. Tidak hanya perubahaan dari segi sarananya saja, Shenzhen pun turut membenahi semua prasarananya, dengan membangun 300 bus charger dan melengkapi sekitar 8.000 tiang lampu jalan dengan stasiun pengisian daya kendaraan listrik. Semua ini tidak terjadi tanpa uang. Pada tahun 2017 saja, kota ini menyiapkan hampir $500 juta untuk mempromosikan adopsi bus listrik dan pemasangan infrastruktur pengisian daya. Baca Juga: Sebentar Lagi, Bandara Brisbane Akan Operasikan Bus Listrik Selain masalah polusi, penggunaan bus listrik juga dipercaya dapat menghemat biaya operasi ketimbang bus bertenaga diesel. “Penggunaan bus listrik dan taksi yang luas memainkan peran penting dalam meningkatkan kualitas udara dan membangun Shenzhen yang indah,” tutur Lou Heru, wakil kepala komisi transportasi kota Shenzhen. Ketika Cina sudah mulai mengganti semua armada bus konvensional mereka dengan yang bertenaga listrik, lalu apa kabar dengan Ibu Kota yang hingga kini masih memperdebatkan soal regulasi penggunaan jalan?

Pangkas Human Error, Nanyang University Gandeng Volvo Hadirkan Bus Otonom

Ada banyak cara yang dapat ditempuh dalam rangka meminimalisir kecelakaan lalu lintas yang disebabkan oleh human error, salah satunya adalah mengembangkan teknologi bus nirawak. Walaupun solusi ini masih terhitung baru di dunia transportasi, namun banyak kalangan yang tengah berlomba untuk mencuri hati konsumen seraya membuktikan bahwa produknyalah yang paling baik. Baca Juga: Deutsche Bahn Luncurkan Bus Otonom di 2018 Begitu pula yang terjadi di negara tetangga kita, Singapura, dimana negara ini tengah bersiap untuk mengoperasikan bus nirawak, sebagai bentuk peningkatan layanan dan antisipasi kecelakaan yang dilatarbelakangi oleh faktor human error. Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman channelnewsasia.com (11/1/2018), Nanyang Technological University (NTU) akan mulai menerjunkan bus nirawak yang akan mengambil peran sebagai moda transportasi umum dan akan diuji coba para awal 2019 di sirkuit uji di NTU. Otoritas tersebut mempercayai produk yang dikeluarkan oleh salah satu raksasa otomotif, Volvo. Kedua belah pihak menandatangani sebuah kesepakatan pada hari Kamis (11/1/2018) untuk menguji dua buah bus listrik otonom berkapasitas 40 penumpang di NTU’s Centre of Excellence untuk Pengujian dan Penelitian Kendaraan Otonom. Sirkuit uji ini akan mereplikasi kondisi jalan di Singapura, lengkap dengan skema lalu lintas umum, infrastruktur jalan dan peraturan lalu lintas. Tidak hanya itu, sirkuit ini juga dilengkapi simulator hujan dan zona banjir untuk menguji kemampuan navigasi kendaraan di bawah kondisi iklim tropis. Uji coba bus otonom ini juga akan didukung oleh operator transportasi SMRT, yang akan terlibat dalam menentukan kelaikan jalan bus bus tanpa pengemudi. Nantinya, salah satu bus akan menjalani tes di depot bus yang dikelola oleh SMRT, untuk menilai kemampuan kendaraan tersebut untuk secara otonom menavigasi kendaraan di vehicle washing bays dan parkir dengan aman di area pengisian. Jika uji coba tersebut berhasil, pihak SMRT mengatakan akan menjalin kerja sama dengan Volvo, serupa dengan yang dilakukan oleh pihak NTU. Layaknya kendaraan otonom lain, bus sepanjang 12m ini dilengkapi dengan sistem laser pendeteksi rintangan serta sistem navigasi terpadu yang mencakup kemudi otomatis, penggantian gigi dan kemampuan mereduksi kecepatan. Menurut Volvo, bus otonom ini akan menghemat energi sebesar 80 persen ketimbang bus diesel dengan ukuran yang sama. Meski akan lebih mahal untuk membeli bus listrik otonom, namun Volvo meyakini bahwa biaya operasionalnya akan jauh lebih rendah. Baca Juga: Hadirkan Bus Otonom, DeNA Terbentur Regulasi Tentang Bangku Pengemudi “Kami akan memanfaatkan pengalaman kami yang luas dalam mengoperasikan dan memelihara bus untuk mendukung pengerahan kendaraan otonom di masa yang akan datang,” ungkap CEO SMRT, Desmond Kuek. “Penggunaan bus otonom diharapkan bisa diterjunkan dalam skala yang lebih besar di bawah rencana induk transportasi darat di masa depan. Kendaraan semacam ini akan memungkinkan penempatan tenaga kerja yang optimal, memungkinkan bus dikerahkan di jalan untuk layanan yang aman, tepat waktu dan efisien, siang dan malam, di semua cuaca dan kondisi lalu lintas,” imbuhnya. Diketahui, NTU dan Volvo juga akan bekerja sama dengan perusahaan teknologi ABB untuk mengembangkan solusi pengisian daya untuk kendaraan listrik.

Tahan Pintu Kereta Cepat, Guru Wanita Ini Diganjar Skorsing

Nasib apes menimpa seorang guru, pasalnya Ia mendapat skorsing dari pekerjaannya karena perbuatan yang cukup unik. Persisnya seorang guru di Cina Timur diskors dari sekolah tempatnya mengajar saat sebuah video dirinya memblokir pintu kereta tersebar secara luas di media sosial. Baca juga: Tiga Tahun Lagi Cina Luncurkan Kereta Maglev Berkecepatan 600 Km Per Jam KabarPenumpang.com melansir dari laman straitstimes.com (10/1/2018), bahwa saat itu dirinya melakukan penahanan agar pintu tidak tertutup dan suaminya bisa naik kereta yang sama dengan dirinya serta anak mereka. Wanita tersebut merupakan guru sekolah dasar yang bernama Luo Haili dan saat itu sedang bepergian bersama anak dan suaminya. Diketahui, satu keluarga tersebut terlambat melakukan perjalanan dengan kereta berekecepatan tinggi dari Hefei di Provinsi Anhui menuju Guangzhou. Keterlambatan tersebut dikarenakan mereka awalnya pergi ke stasiun yang salah. Dalam video berdurasi kurang lebih satu menit tersebut, Luo dan putrinya sudah berada di kereta yang hendak berangkat itu. Namun, karena suaminya ditahan diloket tiket, maka Luo menahan pintu kereta dengan tubuhnya agar pintu tidak tertutup. Karena menahan pintu kereta, Luo ditarik oleh petugas stasiun dan ada satu cuplikan dimana Luo ditarik dan jatuh ke peron tapi bangkit kembali dan menuju ke pintu sebelum pintu tersebut ditutup. “Suami saya ada di pintu masuk tiket, saya akan pindah saat dia datang,” ujar Luo saat berada di stand off. Perjuangan Luo untuk melawan petugas berlangsung selama lima menit dan akhirnya dia, suami dan anak perempuannya tidak dapat naik kereta tersebut. Viralnya video ini membuat para warganet bertanya-tanya bagaimana keputusan para petugas stasiun atas gangguan tersebut. “Saya merasa kasihan pada putrinya. Pasti sangat memalukan bagi dirinya saat menyaksikan ibunya melakukan hal itu,” ujar salah seorang pengguna internet. Baca juga: Tuai Pro dan Kontra, Thailand Setujui Proyek Pembangunan Kereta Cepat dengan Cina Atas kejadian ini, Luo diskors dari pekerjaannya sambil menunggu penyelidikan oleh biro pendidikan setempat. Karena menghalangi pengoperasian layanan kereta cepat di Cina, Luo bisa di denda hingga 2000 Yuan atau sebesar US$307.

Tangkal Masuknya Penumpang Mabuk, Inggris Perketat Peredaran Alkohol di Bandara

Bar di bandara tentu identik dengan minuman beralkohol. Pun sebenarnya minum alkohol tidak dilarang di bandara, hanya saja karena kerap memicu masalah di kabin, peredaran minuman beralkohol untuk calon penumpang akan dibatasi untuk mencegah masuknya penumpang dalam kondisi mabuk ke dalam kabin pesawat. Baca juga: (Lagi) Penumpang Mabuk Berhasil Paksa Pilot Untuk Mendarat Darurat KabarPenumpang.com melansir dari laman express.co.uk (8/1/2018), bahwa minuman beralkohol bisa saja dilarang sebelum terbang dan bar yang menjual alkohol bisa membatasinya. Home Office, otoritas yang mengatur keamanan di Inggris bahkan mempertimbangkan perpanjangan UU Perizinan 2003 untuk memasukkan bar dan pub ke dalam terminal bandara. “Maskapai percaya bahwa pembebasan bandara dari Undang-undang Perizinan harus dilepas sehingga sementara penumpang masih dapat menikmati minuman untuk memulai liburan mereka, gerai bandara akan dikenai persyaratan perizinan yang sama seperti bar, pub dan gerai lainnya yang menjual alkohol di kota-kota dan kota, dan juga di darat di bandara,” ujar salah seorang juru bicara maskapai Inggris. Diketahui insiden penumpang mabuk yang membuat masalah bagi maskapai dan penumpang lainnya tercatat cukup banyak di tahun 2017. Penumpang mabuk yang diamankan dalam penerbangan meningkat 50 persen dari tahun sebelumnya. Banyak video dan berita dalam beberapa tahun terakhir yang menunjukkan penumpang dikeluarkan dari penerbangan setelah berulah pada awak kabin dan mengancam penumpang lain. Salah satu yang belum lama terjadi adalah seorang penumpang Ryanair yang ditahan karena perilaku kurang menyenangkan dalam pesawat saat dirinya dalam keadaan mabuk. Home office mengatakan, penumpang mabuk yang diamankan pihak keamanan tersebut akan dikenakan sanksi berupa denda atau hukuman penjara selama dua tahun. Terkait masalah minuman alkohol penumpang di bandara, Ryanair mendukungnya dan mengatakan untuk penumpang mereka diadakan pembatasan yakni dua gelas. “Ini adalah masalah yang sekarang harus ditangani bandara. Kami meminta perubahan signifikan untuk melarang penjualan alkohol di bandara, terutama dengan penerbangan pagi dan saat penerbangan terlambat,” ujar Kenny Jacobs dari Ryanair. Bukan hanya penundaan penerbangan dan gangguan yang menimbulkan kekhawatiran, sebab banyak awak kabin juga melaporkan adanya peningkatan kasus penyerangan dari penumpang mabuk. Satu dari lima awak kabin dari anggota serikat Unite mengaku telah mengalami penganiayaan fisik dari penumpang. Mantan pramugari Ally Murphy mengatakan, “mereka menyentuh payudara Anda atau mereka menyentuh pantat atau kaki Anda”. Baca juga: Kerap Dilecehkan, Awak Kabin Beberkan Kelakuan Penumpang Mabuk Dia berhenti tahun lalu setelah 14 tahun di industri ini. Sebuah survei mengungkapkan bahwa orang Inggris minum sebanyak 15 unit alkohol dalam satu penerbangan, melipat gandakan batas mingguan yang disarankan.

Dipengaruhi Inggris dan Jepang, Indonesia Anut Mazhab Setir Kemudi di Kanan

Di belantara Eropa, setir kemudi pada kendaraan bermotor lebih banyak ada di kiri, sementara lain hal di Indonesia yang mengadopsi setir kemudi di kanan. Indonesia tentu tak sendiri, di kawasan regional, seperti Singapura, Malaysia dan Australia juga mengadopsi setir kemudi di kanan. Mungkin sebagian dari Anda masih ada yang mempertanyakan mazhab yang diambil Indonesia merujuk kemana? KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber bahwa gaya berkendara warga negara Indonesia dipengaruhi oleh dua faktor, yakni mayoritas mobil yang ada di pasaran adalah buatan Jepang dengan kemudi mobil di sebelah kanan, ini lantaran mobil merek Eropa kurang laku akibat harga yang jauh lebih mahal dan perawatan lebih kompleks. Persisinya Indonesia adalah penganut left driving countries atau sistem lalu lintas dimana warga negaranya menggunakan lajur kiri untuk berkendara serta kemudi mobil berada di kanan. Posisi Indonesia yang berada di antara negara-negara persemakmuran seperti Australia, Selandia Baru, Singapura dan Malaysia yang berkiblat pada Inggris turut memberi andil masuknya Indonesia sebagai left driving countries. Selain itu, sejarah penjajahan juga menjadi faktor lainnya yang menjadi cikal bakal Indonesia menganut konsep left driving. Baca juga: Flash Mobile, Marka Lalu Lintas Untuk Pengemudi Yang Mencoba Berponsel di Jalan Raya Seperti diketahui, Indonesia pernah di jajah oleh Inggris dimana saat itu dipimpin oleh Thomas Stamford Raffles. Raffles mengeluarkan kebijakan transportasi dengan mengubah sistem mengemudi di Hindia Belanda dari sebelah kanan menjadi sebelah kiri. Ini diperkuat ketika Jepang menduduki Indonesia karena mereka juga memiliki sistem yang sama di negaranya. Sejarah Letak Kemudi di Sebelah Kanan Sistem right driving countries merupakan kebalikan dari left driving countries dimana jalan kendaraan menggunakan lajur kanan dan kemudi mobil berada di sebelah kiri. Negara yang menganut right driving countries adalah Amerika, Cina dan mayoritas negara Eropa kecuali Inggris. Perbedaan ini ternyata dipengaruhi oleh sejarah pada zaman kerajaan. Dulu semasa perang, Ksatria di Kerajaan Inggris memiliki kebiasaan menggunakan kereta perang. Saat berperang, mereka beradu pedang dengan musuhnya yang berada di sebelah kanan. Ini karena biasanya orang menggenggam pedang menggunakan tangan kanan. Kemudian kebiasaan tersebut mulai digunakan pada kemudi mobil, yang letaknya di sebelah kanan. Sejarah Letak Kemudi di Sebelah Kiri Sedangkan di akhir tahun 1700-an, kusir di Perancis dan Amerika Serikat mengangkut hasil pertanian menggunakan sado besar yang ditarik oleh beberapa pasang kuda. Sado tersebut tidak memiliki kursi pegemudi. Kusir yang mengendalikan sado duduk di bagian belakang, di sebelah kiri kuda. Tujuannya adalah agar tangannya tetap bisa digunakan untuk bebas mencambuk kuda. Baca juga: Waymo Pastikan Penumpang Mobil Otonom Aman Dengan Teknologi Ini Secara otomatis, kusir yang duduk di sebelah kiri sado menginginkan orang lain untuk lewat di sisi kirinya juga. Agar kusir tersebut bisa memantau bagian bawah jalan untuk memastikan bahwa tidak ada orang yang celaka terkena roda sadonya. Itu sebabnya mobil dan kendaraan lainnya di sana sampai sekarang tetap berada di sisi kanan jalan, dengan setir yang otomatis berada di sebelah kiri. Hingga kini dari data yang ada hanya 75 negara yang menganut left driving dan 125 negara menganut right driving

Sejarah Stasiun Padang, Bangkit dari Kebutuhan Transportasi Batu Bara

Jejak kolonial Belanda di Pulau Sumatera tak kalah kuat dari yang ada di Pulau Jawa, pun pada sektor perkeretaapian, Sumatera punya segudang cerita tentang kereta, seperti jalur kereta api di Sumatera Barat yang identik sebagai pengusung layanan transportasi batu bara. Baca juga: Beroperasi Q1 2018, Kereta Bandara Minangkabau Adopsi Kereta Rel Diesel Listrik Sumatera Barat, tepatnya di ibukota provinsinya yakni Padang, memiliki jalur kereta api dan stasiun yang bernama Padang atau biasa juga disebut dengan stasiun Simpang Haru. Ini lantaran Stasiun Padang atau Simpang Haru sendiri terletak di Jalan Stasiun No.1, Simpang Haru, Kecamatan Padang Timur, Padang, Sumatera Barat. Berada di ketinggian 8 meter dari permukaan laut dan masuk dalam Divisi Regional II Sumatera Barat. Pembangunan stasiun ini sejalan dengan pembangunan kereta api dari kota Padang sampai Sawahlunto yang dimulai pada 6 Juli 1889 silam. Pembangunan ini juga berfungsi untuk memperlancar angkutan batu bara dari Sawahlunto ke pelabuhan Emmahaven atau sekarang disebut Teluk Bayur.
Stasiun Padang atau Simpang Haru
Diketahui pembangunan jalur kereta api ini dimulai dari jalur Pulau Aie di Muaro Padang menuju Padang Panjang. Kemudian diteruskan ke jalur Padang Panjang menuju Bukit Tinggi dan selesai tahun 1891, bersamaan dengan resmi dibukanya stasiun Padang. Kemudian diteruskan dari Padang Panjang hingga Solok lalu jalur Solok menuju Muaro Kalaban dan Padang serta Teluk Bayur yang juga selesai di tahun 1892. Selain itu, dengan adanya stasiun ini juga berfungsi sebagai induk sekaligus pusat yang menjangkau dan membawahi seluruh stasiun di Sumatera Barat dikarenakan merupakan salah satu stasiun besar di kota Padang. Baca juga: Mak Itam, Lokomotif Uap Legendaris Yang Jadi Ikon Wisata Sawahlunto Stasiun ini setelah tidak lagi mengoperasikan pengiriman batu bara, kini melayani perjalanan penumpang kereta api Sibinuang sebanyak empat kali PP dan kereta wisata Dang Tuanku yang menuju ke Pariaman. Sempat mati jalur kereta api dari stasiun Padang menuju Pulau Aie, saat ini kembali diaktifkan untuk angkutan kereta api tujuan Bandara Internasional Minangkabau. Diketahui kereta bandara yang akan melalui stasiun Padang akan datang pada Februari 2018 sebanyak satu train set dan dua lainnya menyusul pada Maret 2018 mendatang.

Bangku “Jemuran Handuk” di Stasiun Komuter, Tak Ramah Bagi Lansia dan Kaum Difabel

Jumlah penumpang kereta komuter yang melonjak pesat membawa imbas pada kapasitas peron di stasiun. Dan saat peron di stasiun tak lagi ‘sanggup’ menampung pergerakan jumlah penumpang, maka pengelola stasiun harus menyiapkan jurus untuk mengatasi persoalan di peron, khususnya pada penumpukan penumpang di jam-jam sibuk. Baca juga: Hindari Berebut Masuk KRL, PT KCJ Buat Garis Batas Antrean di Stasiun Berbeda dengan stasiun untuk keberangkapan kereta jarak jauh yang alur masuk penumpang ke dalam stasiun dapat diatur oleh petugas keamanan, maka stasiun untuk kereta komuter (KRL) Jabodetabek berbeda. Tak ada pembatasan arus penumpang masuk ke suatu stasiun. Sebagai konsekuensi suasana peron kadang begitu penuh sesak di sepanjang stasiun Jabodetabek. Melihat kondisi di atas, PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) mengambil langkah untuk mengganti bangku/kursi konvensional dengan jenis baru yang revolusioner. Maka bermunculankah bangku model “jemuran handuk,” bangku ala Jepang ini hadir di stasiun yang berada di Jakarta seperti Manggarai, Gondangdia dan beberapa stasiun lainnya yang tersebar di wilayah Jabodetabek. Disebut bangku jemuran handuk dikarenakan memang bentuknya yang mirip dengan jemuran handuk. Bisa dikatakan ini bukanlah bangku yang benar-benar untuk duduk, hanya untuk menempelkan atau menyandarkan bokong sembari menunggu kereta yang datang. Meski desainnya revolusioner, namun sayangnya sisi ergonomis bangku ini ikut dikorbankan, adanya bangku jemuran handuk ini dirasakan tidak nyaman oleh para pengguna komuter. Malahan sudah dibuat petisi oleh pengguna kereta komuter. Dalam petisi ini sudah banyak keluhan karena bangku untuk duduk hilang dan diganti “tempat besandar tersebut.” Bukannya semakin nyaman, justru penumpang tidak menikmati untuk menunggu kereta. Dalam petisi tersebut, digantinya fungsi bangku kereta terkesan mubazir dan tidak tepat guna jika dibandingkan dengan perjalanan kereta api saat ini yang tidak selalu ontime. Seperti di Stasiun Manggarai sebagai stasiun transit akan mengurangi space penumpang jika ada kursi untuk duduk. Tak hanya itu, keberadaan bangku yang seperti jemuran handuk bahkan bisa disebut tidak bersahabat untuk penumpang, terlebih bagi penumpang lansia, disabilitas dan membawa bayi/balita. Atas petisi ini, Direktur Utama PT KCI, M Nuruh Fadhila memahami keluhan tersebut. Menurutnya, hanya ada sedikit penumpang mengeluh. “Sudah sering kita dengar keluhan tentang itu. Filosofinya begini, menurut saya ini kan teman-teman bukan tidak mewakili ya, tapi persentasenya kecil penumpang yang mengeluh,” ujar Fadhil yang dikutip KabarPenumpang.com, Kamis (12/1/2018). Fadhil mengatakan bahwa yang dilakukan pihaknya dengan mengubah kursi peron untuk langkah antisipasi 2-3 tahun kedepan. “Di saat penumpang kami betul-betul sudah banyak. Saya kasih ilustrasi begini, setiap tahun di stasiun yang bertambah itu apa? Kan dua yang tambah, perjalanan kereta dan penumpang. Peron nggak bertambah luas dan panjang. Nah ini yang kami manage, ini yang kami antisipasi,” terang dia. Fadhil juga menyampaikan, dari Depok perjalanan setiap lima menit sekali. Dan itu mewakili 70 persen penumpang. Di mana dari 12 rangkaian gerbong mengangkut 2.500-3.000 penumpang. Baca juga: PT KCI Hadirkan Mesin Penyelaras Tarif dan Penetapan Saldo Minimun Baru untuk Kartu Multi Trip “Nah kita menyederhanakan dengan menggeser kursi, kita melakukan riset sebetulnya apa yang paling pantas kursi itu? Ya sandar. Karena pemahaman kami, dengan melihat juga di luar negeri, orang itu tidak duduk di peron, untuk layanan komuter. Bahkan di Jepang itu nggak ada di peron itu kursi. Lalu ada lagi nih nanti yang nanya, di Jepang kan kereta tepat waktu, loh iya saya juga tau. Nah sekarang saya tanya ini mau saling tunggu apa kami siapkan saat ini? Apa mau tunggu 4 tahun lagi baru saya beresin kursi itu? Supaya keretanya tepat dulu setelah Stasiun Manggarai selesai jadi keretanya bisa tepat lalu saya beresin kursinya. Padahal sebelum Stasiun Manggarai jadi penumpang naik terus volumenya, jadi mana yang saya tunggu? Saya nggak mau nunggu. Jadi mending saya beresin kursinya dulu,” tegas dia.

Terdengar Membosankan, Acara TV Seputar Kereta Ini Serap Ribuan Penonton!

Apa sih tujuan Anda menonton acara televisi? Tentu beragam alasan dapat Anda utarakan ketika mendapat pertanyaan seperti itu, seperti mencari berita terbaru yang terjadi belakangan ini, menghibur diri, hingga menemani Anda tidur. Begitu pula dengan pertanyaan “Apa program TV yang paling Anda tidak suka?”, beragam kemungkinan jawaban dapat Anda lontarkan. Mulai dari siaran berita, sinetron, hingga film kartun. Walapun banyak orang yang tidak suka terhadap acara TV tersebut, tapi tidak menutup kemungkinan rating acara tersebut tinggi. Baca Juga: Saat Kereta Ikut Kondang Sebagai Latar Film Box Office Kira-kira penggambaran tersebut senada dengan apa yang terjadi dengan salah satu acara televisi di saluran SBS, jaringan televisi nasional di Australia yang berdiri sejak 24 Oktober 1980. Dalam jaringan televisi tersebut, terdapat sebuah acara yang bernama The Ghan: the Australian’s Greatest Train Journey. Sesuai dengan namanya, acara ini menampilkan perjalanan kereta penumpang paling ikonik di Australia, The Ghan pada saat melakukan perjalanan dari Adelaide menuju Darwin via Alice Springs, daerah gurun tandus di tengah-tengah kedua kota tersebut. Dokumentasi perjalanan dari ujung Utara (Darwin) ke ujung Selatan (Adelaide) Australia tersebut nampaknya begitu membosankan untuk disaksikan. Dapat dibayangkan jarak 3027 kilometer yang membentang di antara dua kota tersebut didokumentasikan dan dipersingkat ke dalam sebuah acara berdurasi tiga jam, tanpa dialog, tanpa musik pengiring, dan tanpa jeda? Yang akan Anda saksikan hanyalah motion The Ghan yang sudah melewati tahap editing, lengkap dengan suara asli dari kereta tersebut. Tentu sebagian dari Anda akan memilih untuk mengganti channel dan menyaksikan acara lain. Tapi jangan salah, sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman news.com.au (10/1/2018), penjabaran hipotesa di atas berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di lapangan. Sebanyak kurang lebih 400.000 pasang mata duduk manis di depan televisi mereka dan menyaksikan perjalanan kereta yang mengular selama 54 jam dari Adelaide menuju Darwin ini. Sebuah lembaga pengukuran pemirsa televisi Australia, OzTAM menyebutkan bahwa acara The Ghan: the Australian’s Greatest Train Journey disaksikan oleh 436.000 penonton pada leg pertama, 406.000 penonton pada leg kedua, dan 392.000 penonton pada leg ketiga. Tingginya minat pemirsa yang menyaksikan acara tersebut tentunya ditunjang oleh berbagai  aspek, ada yang benar-benar suka atau hanya untuk ‘mendampingi’ waktu tidurnya. Terlepas dari berbagai alasan pemirsa untuk menyaksikan acara ini, The Ghan: the Australian’s Greatest Train Journey berhasil ‘mencuri’ perhatian berbagai kalangan dari seluruh dunia. Secara tidak langsung, laporan jumlah penonton menurut OzTAM di atas mengindikasikan masyarakat yang haus akan pemberitaan ringan mengenai moda transportasi seperti kereta. Baca Juga: KA Ekonomi Matarmaja, Kondang Berkat Jadi Latar Film “5 Cm” Berbicara soal kereta, Indonesia juga pernah menyinggung layanan kereta jarak jauh melalui film 5cm, yaitu Kereta Mataramja. Dalam adegan film yang diperankan oleh deretan artis kondang Indonesia tersebut, nampak bagian dalam gerbong kereta lengkap dengan kearifan lokal yang terkandung di dalamnya. Walaupun hanya berperan sebagai latar, namun keputusan sang sutradara untuk memasukkan adegan dalam kereta tersebut patut diacungi jempol, pasalnya dewasa ini sudah jarang film yang memasukkan unsur transportasi seperti kereta ke dalam salah satu adegannya. Alangkah lebih baiknya lagi jika ada sutradara yang bersedia membuat film dokumenter seperti The Ghan: the Australian’s Greatest Train Journey bukan?