Meski Didera Isu Penolakan, Pembangunan Bandara Kulon Progo Terus Berlanjut

Tentu bukan pekerjaan mudah bagi PT Angkasa Pura I (Persero) untuk merampungkan proyek Bandara Internasional Kulon Progo alias New Yogyakarta International Airport (NYIA). Ground breaking telah dilakukan pada 27 Januari 2017 oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan pada Meret-April 2019, tahap pertama pembangunan bandara tersebut sudah dijadwalkan rampung. Boleh dibilang waktu yang dibutuhkan pemerintah jelas tidak banyak jika mematok target yang ditentukan. Baca juga: Presiden Jokowi Lakukan Ground Breaking Bandara Kulon Progo Namun sayangnya sampai saat ini masih ada beberapa kalangan masyarakat yang menolak pembangunan Bandara Kulon Progo. Walaupun Amdal sudah keluar masih banyak masyarakat yang menolak untuk mengosongkan rumah mereka. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai sumber, bahwa saat ini pada pembongkaran tahap dua, bukan hanya masyarakat yang berdemo melainkan mahasiswa juga ikut. Dari lima desa yang terkenda dampak pengosongan sudah ada tiga yang menerima rencana AP I dan mengosongkan rumah mereka. Sedangkan ratusan warga yang menempati 30 rumah di desa Palihan dan Glagah masih menolak untuk meninggalkan tempat tinggal mereka. Menanggapi penolakan ini, Project Manager Bandara Baru Kulon Progo R Sujiastono mengungkapkan, pihaknya paham betul dengan gejolak yang sedang dialami warga, tetapi pihaknya tetap berharap agar warga dengan sukarela mengosongkan rumahnya guna pembangunan bandara baru untuk kepentingan khalayak yang lebih luas. “Apabila warga segera pindah, maka warga dapat menata kembali tempat tinggal yang baru dan apabila belum ada rumah bisa menggunakan rumah susun yang disediakan oleh Pemkab Kulon Progo, Untuk transit barang warga apabila terlalu banyak, Pemkab Kulon Progo juga telah menyiapkan tempat di Balai Desa Glagaj dan SMP Trimurti sebagai tempat transit sementara,” ujar Sujiastono yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers (7/12/2017). Sujiastono juga menekankan bahwa sudah tidak ada tenggat waktu, karena mengikuti aturan hukum yang ada dan bagi bidang yang telah dikonsinyasikan maka akan dilakukan pengosongan. “Lebih cepat menjadi lebih baik mengingat lahan tersebut akan segera dibangun. Pada tahun 2018 kita akan masuk tahun pembangunan dengan target bandara baru beroperasi sesuai Perpres 98 Tahun 2017 pada April 2019. Bagi rumah yang masih berpenghuni, kami mengharap kerjasama dan kerelaannya untuk dapat mengosongkan rumah karena pembangunan akan segera dilaksanakan sesuai schedule yang ada,” tambah Sujiastono. Baca juga: Satu Paket di Ground Breaking, PT KAI Siap Luncurkan Proyek Kereta Bandara Kulon Progo Tindak lanjut untuk menangani perpindahan masyarakat sebelumnya telah disiapkan tiga alternatif pilihan yakni membangun sendiri bagi masyarakat yang merasa mampu, penyediaan lokasi hunian baru, dan penyediaan rumah susun. Sujiastono menambahkan, tidak ada penggusuran di kecamatan Temon dan yang dilakukan pihaknya adalah hanya pengosongan lahan pada bangunan tidak berpenghuni. “Semua bidang yang dikosongkan telah ditetapkan oleh PN Wates dengan kata lain bidang yang masuk dalam kosinyasi,” ujarnya. Pembangunan bandara baru di Kulon Progo dilakukan karena beberapa hal mendasar. Pertama, di tingkat nasional, kunjungan wisatawan ke Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan tertinggi kedua setelah Bali. Kedua, kapasitas terminal Bandara Adisutjipto dirancang untuk menampung 1,2-1,5 juta penumpang, sedangkan jumlah per tahun 2014 sudah mencapai 6,2 juta penumpang. Ketiga, kapasitas area parkir (apron) hanya menampung 8 pesawat dan kapasitas landas pacu (panjang 2.200 m) tidak mampu menampung pesawat berbadan lebar. Keempat, dibutuhkan infrastruktur bandara baru sebagai pendukung arah kebijakan pemerintah ke depan. Kelima, Bandara Adisutjipto Merupakan civil enclave milik TNI AU yang dibangun tahun 1938 dan dirancang untuk penerbangan militer > 40 tahun. Terakhir, Bandara Adisutjipto saat ini berfungsi sebagai Pangkalan Utama TNI AU dan Pusdik Penerbang TNI AU serta tidak dapat dikembangkan lagi dilihat dari keterbatasan lahan dan kendala alam (obstacle). Untuk itu, perlu adanya bandara baru yang representatif agar mampu memenuhi kebutuhan penumpang dan mampu mendorong pertumbuhan daerah sekitar bandara maupun pertumbuhan nasional. Adapun pemilihan Kecamatan Temon sebagai lokasi bandara baru merupakan hasil studi yang dilakukan bersama UGM pada Tahun 2012. Dari tujuh calon lokasi yang tersebar di Sleman, Bantul, Gunungkidul, dan Kulon Progo, terpilihlah Kecamatan Temon sebagai lokasi pembangunan bandara baru. Beberapa kriteria dalam memilih lokasi untuk pembangunan bandara antara lain yakni kondisi lahan pembuatan landasan, ketersediaan lahan, topografi, obstacle, lokasi di luar zona vulkanik, relokasi terhadap permukiman warga, serta aturan pemerintah daerah. Disisi lain, paguyuban penolak New Yogyakarta International Airport (NYIA) mengatakan bahwa bandara Kulon Progo akan dibangun di wilayah rentan gempa atau di terjang tsunami. Sebab lokasi NYIA di kecamatan Temon ini masuk dalam zona paling terkena tsunami dengan peringatan awan dan sangat bahaya. Selain itu, Kulon Progo merupakan satu dari 14 gumuk atau bukit pasir pantai di dunia yang memiliki fungsi ekologis sebagai benteng atau pengaman terhadap tsunami. Pada pembangunan bandara baru di Kulon Progo, Yogyakarta, PT Angkasa Pura I (Persero) sudah memiliki dua izin analisis mengenai dampak lingkungan atau Amdal. Pertama yang mengacu pada Pasa 4 ayat 1 PP No. 27/2012 tentang Izin Lingkungan, Amdal disusun oleh pemrakarsa pada tahap perencanaan suatu usaha dan/atau kegiatan dalam hal ini PT. Angkasa Pura I (Persero) selaku pemrakarsa. Kedua, Amdal pada tahap pembangunan yang disahkan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia pada tanggal 17 Oktober 2017 dengan nomor SK.558/Menlhk/Setjen/PLA.4/10/2017 tentang Izin Lingkungan Kegiatan Pembangunan Bandar Udara Internasional Yogyakarta.

Jurus Awak Kabin Emirates Taklukan Si Kecil di Penerbangan Jarak Jauh

Bagi maskapai sekaliber Emirates, sebagian besar rute yang dijalaninya adalah untuk tujuan jarak menengah dan jauh, maklum maskapai milik Uni Emirat Arab ini memang super kaya dengan dukungan pesawat berbadan lebar (wide body) keluaran terbaru, sehingga tak sulit untuk meladeni penerbangan lintas benua. Nah, karena menyasar layanan penerbangan jarak jauh, sudah barang tentu awak kabin punya kiat-kiat tersendiri untuk membuat nyaman penumpang dalam perjalanan yang panjang. Baca Juga: Atasi Kebosanan Selama Penerbangan, Emirates Rancang Program Khusus Untuk Anak Bagi Anda yang belum berkeluarga, tentu perjalanan keluar negeri untuk menghabiskan waktu liburan tidaklah menjadi masalah yang berarti. Namun bagaimana jika Anda sudah berkeluarga dan turut menyertakan si kecil dalam perjalanan seperti ini? Tentu diperlukan beberapa tips khusus agar buah hati Anda anteng selama perjalanan. Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman mirror.co.uk (28/11/2017), seorang supervisor pramugari yang mengabdi untuk maskapai Emirates membagikan sedikit cara ampuh agar perjalanan jarak jauh perdana si kecil dapat berkesan. Pertama, sudah barang tentu Anda harus mempersiapkan segalanya dengan matang, mulai dari kendaraan yang akan membawa Anda ketika sampai di tujuan hingga ketersediaan kapasitas bagasi ketika pulang, untuk mengantisipasi anak Anda membawa mainan yang banyak. Selain itu, jika Anda berencana untuk memberikan kejutan kepada si kecil dengan memberikannya kado sesampainya di destinasi tujuan, pastikan kado tersebut tidak dibungkus terlebih dahulu, untuk mengantisipasi kado tertindih barang lain di bagasi. Di Emirates sendiri, penumpang yang membawa bayi atau balita diperbolehkan membawa hand carry lebih banyak dari penumpang lain, seperti kereta dorong lipat dan kursi bayi jika tersedia. Setelah semuanya terpenuhi, jangan lupakan ‘obat penenang’ si kecil jika ia mulai rewel, camilan! Makanan ringan ini dipercaya ampuh untuk menenangkan amukan si buah hati. Di luar itu, pastikan Anda membawa mainan kecil kesukaannya, agar ia bisa tenang selama perjalanan. Baca Juga: 32 Tahun Mengangkasa, Inilah Kaleidoskop Emirates Dari Emirates sendiri, mereka mempekerjakan awak kabin yang sudah telaten menghadapi beragam karakter penumpang, termasuk anak kecil. Selain piawai untuk mengurus anak kecil, awak kabin di Emirates juga  menyediakan selimut nyaman yang bisa digunakan oleh si kecil. “Kami menyediakan selimut Noel the Polar Bear yang sangat disukai anak-anak, namun ketersediaannya terbatas,” tutur Jade Cobbes, Cabin Supervisor di Emirates. “Khusus untuk peak season Natal seperti ini, Emirates menyediakan beberapa menu khusus yang disukai oleh anak-anak, seperti brownies dan lollipop.” Tutup Jade.

Berlin-Munich Kini Hanya Empat Jam dengan Intercity-Express Sprinter

Walaupun dalam usahanya untuk mengadakan moda transportasi baru tidak melulu berjalan mulus karena banyak menuai pro dan kontra, namun di balik itu semua ada satu poin penting yang patut digarisbawahi, yaitu pemerintah dan segenap perusahaan terkait memiliki tujuan untuk mensejahterakan warganya. Sama halnya dengan yang terjadi di Jerman, dimana proyek kereta Intercity-Express (ICE) yang menghubungkan dua kota besar di Jerman, yaitu Berlin dan Munich siap beroperasi pada 10 Desember 2017 mendatang, walaupun sebelumnya proyek tersebut menuai banyak kontroversi. Baca Juga: Tanggapi Waktu Penumpang Yang ‘Terbuang,’ Deutsche Bahn Hadirkan Gym di Idea Train Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman dw.com (7/12/2017), kehadiran VDE8, nama proyek ini, akan memperpendek jarak 505 kilometer yang membentang diantara dua kota tersebut menjadi kurang dari empat jam saja, dengan batas kecepatan maksimum hingga 250 km/jam. Operator Deutsche Bahn berharap agar perkeretaapian bisa lebih atraktif untuk menarik minat para penumpang, sehingga mereka tidak melulu bertumpu pada penerbangan murah atau bus jarak jauh. Saat ini, perkeretaapian di Jerman memiliki pangsa pasar sekitar 20 persen pada rute ini, dan Deutsche Bahn ingin meningkatkannya menjadi 50 persen. Lebih dari 300 sepur dan 170 jembatan sudah dibangun guna menunjang kelengkapan dari pengoperasian kereta ini kelak, bahkan, setengah dari rute yang dilalui oleh kereta VDE8 ini berada di bawah tanah hingga pinggiran lembah. Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, kereta yang memiliki kapasitas hingga 10.000 kursi ini akan beroperasi tiga kali sehari dan pihak Deutsche Bahn mengaku bahwa dalam pengaturan jadwal perjalanan kereta ICE “Sprinter” ini mempengaruhi sepertiga dari keseluruhan jadwal kereta jarak jauh. Ada keunikkan lain dari proyek kereta anyar ini. Alih-alih menggunakan batu, rel akan ditempatkan di atas 160.000 pelat beton, dengan tujuan untuk menekan biaya perawatan dan rel dapat diletakkan dengan lebih presisi. Tidak hanya itu, penemuan fosil berusia 150 sampai 200 juta tahun pun turut menghiasi proses konstruksi terowongan. Baca Juga: Tuai Kontroversi Hadirkan Kereta Cepat, Akankah California Rasakan Nasib Seperti Indonesia? Tingginya biaya pembangunan jalur kereta api ini tentunya harus segera dipulihkan dalam beberapa bentuk. Menarik lebih banyak penumpang adalah salah satu strategi untuk mengentaskan masalah finansial ini, dan menaikkan harga tiket merupakan opsi keduanya. Untuk perjalanan dari Berlin menuju Munich, Deutsche Bahn memperkirakan penumpang harus merogoh kocek hingga €150. Itu berarti, harga tiket akan mengalami kenaikan lebih dari 13 persen dari harga yang berlaku saat ini. Organisasi lingkungan Jerman, BUND, mengkritik dampak negatif terhadap lingkungan yang diakibatkan oleh adanya konstruksi jalur kereta api ini. Tapi Deutsche Bahn mengatakan telah melakukan penanaman sekitar 600.000 pohon di area seluas 4.000 hektar sebagai usahanya untuk kembali menghijaukan lahan yang terkena dampak negatif dari pembangunan proyek ini.

Mulai dari Kado Hingga Rusa Santa Claus, Ini Dia Livery Pesawat Bertema Natal

Mendekati momen Natal yang tak lama lagi dijelang, tidak hanya umat Nasrani yang mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan Natal, tetapi beberapa moda trasportasi pun melakukan hal yang serupa, sebut saja pesawat terbang. Demi memeriahkan Hari Raya umat Kristiani tersebut, beberapa maskapai mengganti livery  mereka dengan segala sesuatu yang bernuansa Natal. Kira-kira, maskapai apa saja ya yang pernah mengganti livery mereka dengan tema Natal? Berikut KabarPenumpang.com himpun 7 maskapai tersebut, disarikan dari laman baatraining.com. Baca Juga: Sambut Pesanan Airbus A380 Ke-100, Emirates Pasang Livery Presiden Pertama Uni Emirat Arab Finnair
Sumber: baatraining.com
Maskapai terbesar di Finlandia yang bermarkas di Vantaa ini pernah memasang livery bergambar Santa Claus, salah satu ikon Natal yang paling terkenal. Pihak Finnair memasang livery bertemakan Natal tersebut di Airbus A321 miliknya. Tidak hanya gambar Santa Claus, Finnair juga mencantumkan caption, “The Official Airline of Santa Claus” untuk memikat penumpang.
Sumber: baatraining.com
Selain itu, pada tahun 2007, Finnair juga pernah memasang stiker Santa Claus raksasa pada bagian samping sayap di armada McDonnell Douglas MD-11 milik mereka. Air Berlin
Sumber: baatraining.com
Maskapai terbesar kedua di Negeri Bavaria ini juga pernah merombak penampilannya dengan memasang livery bertemakan Natal. Mulai dari lilin Natal, butiran salju, hingga tulisan “Flying Home for Christmas” mendominasi armada maskapai yang dibentuk pada tahun 1978 tersebut.
Sumber: baatraining.com
Tidak hanya itu, maskapai ini juga pernah memasang livery yang berbeda hasil kerja samanya dengan salah satu produsen cokelat asal Swiss, Lindt. Thomson Airways
Sumber: baatraining.com
Jika dua maskapai di atas mengandalkan permainan gambar untuk menghias permukaan fuselage, berbeda dengan Thomson Airways yang lebih memilih untuk mencantumkan ucapan “Merry Christmas” di bagian belakang armada Boeing 737-800nya. Ryanair
Sumber: baatraining.com
Natal selalu identik dengan kado yang dibawa oleh Santa Claus, dan maskapai asal Irlandia ini memilih dua ikon Natal tersebut sebagai livery khusus mereka. Sebuah stiker pita raksasa berwarna merah yang melingkari bagian depan pesawat seolah menggambarkan armada Boeing 737-200 milik Ryanair adalah sebuah kado, dan stiker Paman Santa Claus menghiasi bagian ekor pesawat ini.
Sumber: baatraining.com
Tidak cuma satu, armada Ryanair lainnya juga pernah memasang sebuah livery yang sangat lucu. Di bagian depan pesawat, nampak sebuah Santa Claus yang seolah tertabrak oleh armada Boeing 737-200 milik Ryanair. Lucu ya! British Airways
Sumber: baatraining.com
Pada tahun 1994, maskapai yang bermarkas di Waterside, Inggris tersebut pernah memoles body salah satu armadanya dengan menggunakan gambar Santa Claus yang tengah meluncur terbang, diikuti dengan tulisan “Happy Christmas” di belakangnya. Compass Airlines
Sumber: baatraining.com
Maskapai yang bermarkas di Virginia, Amerika Serikat ini pernah memasangkan livery topi Santa Claus di atas ruang kokpit DC-9-82 miliknya pada tahun 1993 silam. Simpel namun berkelas! Baca Juga: Eva Air Tampilkan Tema Hello Kitty di Boeing 777-300ER Air Ontario
Sumber: baatraining.com
Livery maskapai yang kemudian berganti nama menjadi Air Canada Jazz pada tahun 2002 ini sedikit berbeda dengan sejumlah maskapai di atas. Alih-alih menggunakan gambar Santa Claus dan ucapan Natal sebagai gambar yang mendominasi, Air Ontario lebih memilih untuk mengubah livery armada Bombardier Dash-8 mereka dengan gambar rusa yang merupakan kendaraan dari Santa Claus. Kira-kira, akankah parade livery Natal menghiasi angkasa tahun ini?

WheelTug, Dukung Pergerakan Pesawat Lebih Cepat di Area Terminal

Menunggu pesawat merapat ke arah gate ruang tunggu memang hal yang membosankan , karena tidak jarang Anda dipaksa menunggu lama untuk proses ini. Guna meningkatkan layanan ini, terciptalah sebuah inovasi berupa roda bermotor listrik yang memungkinkan pesawat yang hendak pushback dari atau menuju gerbang lebih cepat dan tidak memerlukan kendaraan bantu lagi. Dengan begitu, efisiensi waktu di keseluruhan operasional pun dapat tercapai. Baca Juga: Antisipasi Peningkatan Lalu Lintas Drone, Airbus A³ Hadirkan Altiscope Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (7/12/2017), sebuah perusahaan teknik bernama Striling Dynamics bekerja sama dengan WheelTug dalam merancang roda bermotor listrik tersebut, yang hingga saat ini, roda tersebut hanya bisa digunakan oleh Boeing 737NG. Menurut data yang dikumpulkan oleh Flightwatching, sebanyak 98 persen pushback yang dilakukan pesawat dari gate memakan waktu 13 menit. Angka tersebut berpotensi menyebabkan keterlambatan yang akan berdampak bukan hanya pada penumpang saja, melainkan jadwal penerbangan maskapai lain pun bisa saja terganggu. Dengan menggunakan WheelTug, yang kebetulan nama produknya sama dengan nama perusahaannya, pilot dapat menggerakkan pesawat maju mundur tanpa harus mengandalkan aircraft towing lagi. Pihak perusahaan menilai, penggunaan WheelTug dapat memangkas waktu pushback tersebut hingga minimal tujuh menit per penerbangan. Namun tentu saja, roda ini tidak bisa serta-merta dipasang begitu saja. Diperlukan analisis khusus sebelum memasang roda bermotor listrik ini. Nantinya, Striling Dynamics akan mencocokkan desain dan sertifikasi WheelTug dengan Boeing. Fase ini akan melibatkan teknik reverse engineering, analisis roda, analisis landing gear, analisis keselamatan, hingga analisis tegangan struktural. “Kami bangga bisa menjadi bagian dari teknologi inovatif ini. Dengan kontrak kerja sama ini, melecut kamu untuk memastikan produksi inovatif WheelTug dapat dipasarkan sesegera mungkin,” kata Manajer Bisnis Aerospace Stirling, Bandula Pathinayake. Baca Juga: Lama Tak Dipikirkan, Glasgow Canangkan Travelator Sebagai Solusi Transportasi Memang, dewasa ini para pegiat bisnis di dunia aviasi tengah menekan efektifitas dan efisiensi dari banyak faktor. Seperti halnya yang terjadi di Bandara Internasional Glasgow, dimana bandara tersebut berencana untuk menghadirkan sebuah travelator yang menghubungkan terminal dengan stasiun kereta bandara. Pengadaan travelator tersebut dipercaya dapat mempersingkat estimasi perjalanan calon penumpang menuju terminal menjadi delapan menit saja.

Tembus Pegunungan Qinling, Cina Luncurkan Kereta Cepat Lintasi Wilayah Utara dan Selatan

Jalur kereta berkecepatan tinggi sepanjang 658 kilometer yang menembus Pegunungan Qinling baru saja diresmikan pada 6 November 2017 kemarin. Jalur ini menghubungkan kota Xian di barat laut ke Chengdu di barat daya yang membawa total jaringan berkecepatan tinggi lebih dari 22 ribu kilometer. Baca juga: Kereta Peluru Fuxing Akhirnya Kembali Merajai Dunia Kereta Api Cina KabarPenumpang.com melansir dari laman hindustantimes.com (6/12/2017), kereta ini bukanlah yang tercepat di Cina tetapi mampu berjalan dengan kecepatan 250 km per jam. Sehingga jarak tempuh dari Xian ke Chengdu yang tadinya sebelas jam menjadi hanya tujuh jam atau dipotong empat jam perjalanan dari biasanya. Rute kereta ini walaupun bukan yang tercepat, tetapi merupakan jalur kereta pertama yang melintasi pegunungan Qinling. Sebab selama berabad-abad pegunungan ini menjadi penghalang alami antara wilayah utara dan selatan Cina. Untuk mengerjakan proyek ini, para insinyur membutuhkan waktu hampir lima tahun untuk menyelesaikannya Selain itu mereka juga harus membangun 127 jembatan dan 34 terowongan karena wilayah ini berada di pegunungan dan lembah sungai. Diketahui, dalam pembuatan jalur ini, terowongan yang dibuat mencakup 16 km dengan jalur ganda dan menurut para ahli, ini termasuk terpanjang di Asia. Tahun 2016, Cina telah membangun 22 ribu kilometer jalur kereta api berkecepatan tinggi dalam waktu sekitar satu dekade yang dikatakan sebagai jaringan terpanjang dunia. Kereta berkecepatan tinggi pertama di rute baru ini meninggalkan Xian, ibukota provinsi Shaanxi, Cina barat laut pada pukul 8.22. Ini akan berhenti di 14 stasiun sebelum mencapai Chengdu, ibukota provinsi Sincuan. Tak hanya sampai di sini, Cina juga memiliki rencana untuk membangun jalur kereta api berkecepatan tinggi sepanjang 38 ribu kilometer di tahun 2025 dan 45 ribu kilometer di tahun 2030 mendatang. Nantinya lebih dari 80 persen kota besar di Cina akan terhubung oleh jalur tersebut dalam beberapa tahun kedepan. Untuk saat ini, jaringan 22 ribu kilometer tersebut mencakup hampir 10 ribu kilometer jembatan kereta api berkecepatan tinggi. Hal tersebut dikatakan oleh otoritas transportasi Cina pada awal tahun 2017 ini. Saat ini Cina juga telah meningkatkan kecepatan maksimum kereta peluru di jalur berkecepatan tinggi Beijing-Shanghai menjadi 350 km per jam. Ini akan menjadi layanan kereta tercepat di dunia selama enam tahun setelah dikurangi menjadi 300 km per jam. Sebab tahun 2011 lalu, terjadi tabrakan kereta api di Wnzhou sehingga kecepatan dibatasi hanya 300 km per jam selama enam tahun. Baca juga: Terbebas dari Status Skors, Kereta Peluru Cina Siap Mengular Kembali Kenaikan kecepatan telah memotong perjalanan antara Beijing dan Shanghai menjadi empat jam 28 menit. Kereta api Fuxing yang lebih cepat adalah peningkatan yang substansial pada kereta peluru sebelumnya, yang dikenal dengan Hexie, atau Harmony. Fuxing lebih luas dan hemat energi, dengan masa kerja lebih lama dan keandalan yang lebih baik. Saat ini India mulai bekerja pada jalur kereta berkecepatan tinggi pertamanya, menghubung sepanjang 500 kilometer antara Mumbai dan Ahmedabad, tahun ini.

Japan Airlines Gelontorkan US$10 Juta Untuk Proyek Pesawat Supersonik

Pengambilan keputusan saat ini jelas akan berpengaruh pada proyeksi bisnis di masa depan. Seperti dalam hal adopsi teknologi, apa yang dilakukan maskapai plat merah asal Jepang ini rasanya memang terdengar kontroversial, ya Japan Airlines baru-baru ini telah menginvestasikan dananya sebesar US$10 juta kepada Boom Technology yang berbasis di Denver. Japan Airlines menggandeng Boom Technology dalam niatan untuk terlibat dalam meluncurkan pesawat terbang komersial di masa mendatang. Baca juga: Lima Maskapai Ini Kondang dengan Sajian Makanan Yang Buruk KabarPenumpang.com melansir dari laman paddleyourownkanoo.com (5/12/2017), pihak Boom Technology berharap dengan kerja sama ini pihaknya mampu menciptakan pesawat komersial supersonik yang bisa mencapai kecepatan tertinggi Mach 2,2 atau melebihi dua kali kecepatan suara. Pesawat supersonik lansiran Boom Technology ini digadang sebagai suksesor dari jet Concorde yang tidak lagi terbang sejak tahun 2003. Pada masanya Concorde mampu melesat dengan kecepatan maksimum Mach 2,04. Dengan kemitraan bersama Boom Technology, Japan Airlines bersama beberapa investor lainnya yang memiliki high profile kemudian meninvestasikan dananya dalam proyek supersonik ini. Nantinya jika berhasil, jet baru tersebut akan dioperasikan pada pertengahan 2020 mendatang. Kabin pesawat ini akan menggunakan kabin kelas bisnis yang mampu membawa 45-55 orang penumpang. Maskapai milik Jepang ini mengatakan akan bekerja sama secara intens dengan Boom untuk mendapatkan pengalaman dan keahlian penerbangan dalam memperbaki desain pesawat terbang serta membantu penumpang dalam perjalanan supersonik. Sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, Japan Airlines menyatakan akan membeli 20 unit Boom jet, yang saat ini dalam  status pre order.
Kelas bisnis pesawat Boom Supersonic (Boom Supersonic)
Sebenarnya, Japan Airlines dan Boom sudah bekerjasama lebih dari satu tahun dan ini diungkapkan oleh pendiri dan CEO Boom, Blake Scholl. “Tim JAL yang penuh gairah dan visioner menawarkan pengetahuan dan kebijaksanaan praktis puluhan tahun tentang segala hal mulai dari pengalaman penumpang hingga teknis operasional. Kami senang bisa bekerja sama dengan JAL untuk mengembangkan pesawat yang handal dan mudah dipelihara serta akan memberikan kecepatan revolusioner kepada penumpang,” jelas Scholl. Baca juga: Tupolev “Concordski” T-114 – Jiplakan Concorde Yang Kalah Digdaya Scholl mengatakan, tujuan dari pihaknya adalah untuk mengembangkan sebuah pesawat terbang yang akan menjadi tambahan bagus bagi armada penerbangan internasional manapun. Presiden JAL, Yoshiharu Ueki mengatakan, ia ingin memajukan penerbangan komersial dengan kemampuan memotong waktu penerbangan menjadi dua kali lipat. Boom Supersonic jet ini jika tidak aral melintang akan ditampilkan prototipenya pada tahun 2023. Berikut speisifikasi Boom Supersonic Jet Long-Range Cruise, Supersonic: Mach 2.2 (1,451mph, 2,335km/h) Long-Range Cruise, Subsonic: Mach 0.95 Maximum Route: 17. 668 km Balanced Field Length: 2,590 meter Community Noise: Better than Stage IV

ICAO: Aspek Keamanan Membaik, Indonesia Naik Ke Peringkat 55 Untuk Keselamatan Penerbangan

Ada kabar baik terkait keselamatan penerbangan di Indonesia, pasalnya International Civil Aviation Organization (ICAO) telah menaikan peringkat Indonesia untuk urusan keselamatan di udara. Dengan acuan tingkat kepatuhan pada aspek keselamatan, Indonesia naik peringkat dari yang sebelumnya berada di ranking 151 di tahun 2016, kini Indonesia ada di peringkat 55 dari 191 negara yang tergabung dalam ICAO. Baca juga: Peragaan Alat Keselamatan Penerbangan, Masih Efektifkah? Sumber dari news.xinhuanet.com (17/11/2017) menyebut bahwa tingkat kepatuhan keselamatan penerbangan di Indonesia mencapai level 81,51 persen, jauh di atas standar rata-rata yang diminta ICAO di level 64,71 persen. “Ini merupakan lompatan yang luar biasa, mengingat kita bisa melewati 91 negara,” ujar Agus Santoso selaku Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan. ICAO sendiri telah meningkatkan standar keselamatan penerbangan pada tahun lalu, menyusul permintaan perbaikan pada layanan penerbangan di beberapa negara. Merujuk laporan yang dirilis International Air Transport Association (IATA) pada tahun 2015, menjelaskan bahwa “aspek keselamatan merupakan perhatian terbesar bagi pengembangan layanan penerbangan di Indonesia”. Dalam ICAO Universal Safety Oversight Audit Program, Indonesia sempat berada di bawah rata-rata global, lantaran di Indonesia terus terjadi kecelakaan setiap tahunnya, terhitung sejak 2010. Bahkan di tahun 2015 terjadi beberapa kecelakaan pesawat di Indonesia. Seperti pada Desember 2015, 162 orang dinyatakan tewas dalam musibah AirAsia QZ8501, dari Surabaya tujuan Singapura yang jatuh di Selat Karimata Masih terkait peringkat keselamatan, pada April 2017, US Federation Aviation Administration (FAA) menurunkan peringkat Indonesia ke kategori 2 dalam program International Aviation Safety Assessment. Dampaknya, Uni Eropa pun melarang beberapa maskapai asal Indonesa terbang menuju Benua Biru, kecuali lima operator penerbangan yang diperobolehkan, diantaranya Garuda Indonesia. Baca juga: Tingkatkan Efisiensi Penerbangan, Airnav Perkenalkan Aplikasi Oasis Kilas balik di tahun 2014, ICAO pernah menetapkan Indonesia di bawah standar rata-rata global dari delapan wilayah penerbangan. Di tahun 2014, hasil audit ICAO atas Indonesia hanya mencapai level 61 persen, lebih rendah dari standar rata-rata dunia saat itu yang 73,9 persen. Merespon jatuhnya peringkat keselamatan penerbangan, Otoritas Penerbangan Indonesia lantas mengumumkan beberapa langkah perbaikan sesuai dengan rekomendasi ICAO, diantaranya menyediakan program pelatihan inspeksi keselamatan penerbangan. Sayangnya audit ICAO pada tahun 2016 masih menyebut standar penerapan keselamatan penerbangan Indonesia masih di bawah rata-rata dunia.

Belanda Diterpa Cuaca Buruk, Bandara Schiphol Bakal Lebih Sepi di Akhir Tahun

Bandara Schiphol di Amsterdam, Belanda terkenal sebagai salah satu hub penerbangan transit utama di Eropa. Dan pada akhir tahun 2017 ini, diperkirakan cuaca buruk yang akan melanda Negeri Kincir Angin ini juga akan berdampak pada penerbangan dari dan ke Belanda, yang artinya Schipol akan lebih sepi di akhir tahun. Baca juga: Empat Bandara di Belanda Bersiap Manfaatkan Energi Angin Namun, dari sekian banyak penumpang ada lima persen yang masih menggunakan penerbangan walau dengan langit yang sedang tidak bersahabat. KabarPenumpang.com melansir dari laman curbed.com (20/11/2017), diperkirakan hanya sebanyak empat juta penumpang yang bisa melakukan perjalanan dengan menghindari badai yang menyebabkan penundaan penerbangan. Bandara Schiphol yang dibangun tahun 60-an menjadi model bandara selain Chicago O’Hare dan mampu mengakomodasi 65 juta penumpang setiap tahunnya. Menurut arsitek utamanya Han Benthem dari Benthem Crouwel Architects megawasi penambahan dan desain ulang pada tahun 80-an. Benthem mengatakan Schiphol sendiri memiliki ruang lebih sedikit yang digunakan dibandingkan bandara lainnya. “Lalu lintas udara telah berkembang pesat dan tidak dapat diprediksi. Masa depan tidak perah tiba tapi saat ini selalu ada, Jika Anda membiarkan desainnya mengarah pada visi masa depan, akhirnya Anda akan berakhir dengan bangunan tua,” ujar Benthem. Menurutnya, terlihat ironis jika selalu menganggap arus lalu lintas yang padat, sistem keamanan yang kedap udara dan keinginan bersaing dan maskapai membuat beberapa tempat yang paling tidak banyak dirancang. Dalam batasan ini, Schiphol berusaha memberi penumpang kekuatan untuk memberikan suara dalam pengalaman yang mereka rasakan. Saat ini Schiphol sedang berbenah untuk menjadi yang lebih baik dan akan selesai pembangunannya pada tahun 2023 mendatang. Arsitek Kees Kaan mengatakan, Schiphol akan dibuat dalam kesederhanaan yang berbeda dan spektakuler dengan tata letak rasional yang mencirikan Schiphol. Benthem menambahkan, bahwa keterbukaan berasaal dari desakan terhadap keseimbangan. Dimana menempatkan penumpang sejajar dengan kepentingan komersialnya. Dengan penempatan ini, bandara Schiphol telah berevolusi untuk menjadi lebih akomodatif. “Memecahkan sesuatu untuk semua orang tidak semudah kedengaranya,” jelasnya. Benthem menambahkan, banyak orang yang suka menganggap sebuah bandara sebagai kota, dengan desain interior yang terang dan mengkilap yang bisa terlihat lebih hebat. Tetapi jika hanya dipenuhi dengan toko dan jalan yang tidak jelas ini adalah suatu kegagalan sebuah bangunan dan bandara. “Kami mengundang Anda untuk tujuan penerbangan yang menyenangkan dan aman. Kami melihat bandara sebagai perpanjangan dari area publik. Tentu saja prosesnya tetap sama seperti bandara lainnya. Tapi kami pikir ini lebih efisien dan menyenangkan,” Benthem mengatakan. Menurut Jaap Wiedenhoff, seorang insinyur dan perancang dari ABT yang sedang mengerjakan terminal baru di Schipol, ini semua tentang strategu menciptakan arus. Tiga bagian pengalaman keamanan di darat, filter keamanan, dan penutup udara akan menampilkan efek siang hari yang melimpah. Dengan fokus holistik untuk mengurangi kecemasan, alih-alih hanya melemparkan barikade tambahan, transisi membantu mengurangi stres dalam perjalanan. Baca juga: Dari Italia Sampai Ke Inggris, Berikut 10 Bandara Tersibuk di Benua Biru! Dengan tes yang dilakukan pada pemindai baru yang memungkinkan penumpang untuk menjaga sepatu dan laptop dan cairan di tas mereka, serta tes lanjutan dengan teknologi pengenalan wajah, pengalaman pengguna jasa bisa menjadi lebih mulus.  

Antisipasi Peningkatan Lalu Lintas Drone, Airbus A³ Hadirkan Altiscope

Munculnya gagasan tentang penggunaan moda udara nirawak alias drone di masa depan akan meminimalisir kemacetan yang terjadi di jalanan, nyatanya tidak melulu menuai respon positif. Ada banyak pihak yang enggan mendukung program tersebut, tentunya dengan berbagai alasan yang melatarbelakanginya. Sementara sebagian warga lainnya dengan gamblang mendukung proyek ini, bahkan tidak sedikit juga kalangan yang lantas memikirkan bagaimana pengelolaan lalu lintas udara jika drone ini benar-benar beroperasi di masa depan. Baca Juga: Digital Air Traffic Solutions, Saatnya Menara ATC Dikendalikan Secara Remote Ya, memang salah satu cara yang paling mudah – namun sulit – untuk mengatasi masalah kemacetan yang kian meradang ini adalah dengan cara membatasi penggunaan kendaraan pribadi dan mulai beralih menggunakan moda transportasi umum. Namun sepertinya untuk sebagian warga di berbagai belahan dunia masih terlalu gengsi untuk meninggalkan moda yang kerap kali dijadikan tolak ukur kemapanan seseorang ini. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman airport-technology.com (28/11/2017), muncullah Altiscope, sebuah simulator yang dirancang khusus untuk menangani eksistensi moda dan lalu lintas udara dalam jumlah yang besar. Altiscope sendiri merupakan sebuah program hasil besutan A³, anak perusahaan dari Airbus. Project Executive A³, Karthik Balakrishnan mengatakan bahwa eksistensi kendaraan udara di masa depan diperkirakan akan meningkat drastis, sejalan dengan rencana beberapa perusahaan yang akan membuka layanan taksi udara, seperti Uber dan Airbus sendiri. Ia mengatakan bahwa teknologi Unmanned Aerial Vehicle (UAS) atau yang lebih familiar dengan sebuta drone ini memang tengah digandrungi oleh beberapa penggiat bisnis. Sebenarnya, Federal Aviation Administration (FAA) telah memperkirakan bahwa di tahun 2016 kemarin, akan ada sekitar 600.000 pesawat komersial yang beroperasi di angkasa dalam kurun waktu satu tahun. Prediksi tersebut belum diperparah dengan hadirnya drone seperti yang sudah dijabarkan di atas. Maka, tidak heran jika program Altiscope dipercaya sebagai solusi yang tepat untuk me-manage lalu lintas udara yang lebih kompleks. “Kami bekerja untuk menganalisis bagaimana drone dapat mengudara pada skala tertentu dan bagaimana pertumbuhan penggunaan drone secara luas akan mempengaruhi ekonomi dan masyarakat,” papar Karthik. Simulator Altiscope sendiri akan mengorganisasikan cara untuk mensimulasikan kebijakan, aturan, kasus penggunaan, arsitektur sistem, dan skenario desain dengan cepat berdasarkan beberapa variabel yang berinteraksi. “Bagaimana perencana kota yang berbeda di seluruh dunia membuat keputusan tentang infrastruktur jalan raya seperti konfigurasi jalan raya, batas kecepatan, dan peraturan persimpangan. Ini semua adalah keputusan yang bekerja secara berbeda tergantung pada konteks lokal,” jelas Karthik. “Dan hal yang sama berlaku untuk pengelolaan wilayah udara,” imbuhnya. Baca Juga: Mengenal Serba Serbi dan Peran Air Traffic Controller Dengan demikian, Altiscope mendekati manajemen wilayah udara dari perspektif holistik, tanpa menganjurkan untuk produk, kebijakan, atau konsep operasi tertentu. “Kami tidak memulai dengan tujuan mengaktifkan arsitektur sistem tertentu atau membuat produk atau aturan yang memecahkan satu platform atau profil misi. Sebagai gantinya, kami menciptakan sebuah kerangka pemodelan kebijakan yang dapat memungkinkan solusi Air Traffic Management (ATM) diterapkan pada berbagai bentuk atau skenario.” Tutup Karthik.