Meski ukuran mahal untuk setiap orang tidak sama, namun sebagian orang beranggapan makan di restoran bandara terbilang mahal, khususnya di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta). Mungkin wajar disebut mahal, lantaran pengenaan pajak restoran dan gerai kelontong di bandara juga dipatok lebih tinggi. Lantas bagaimana dengan Anda yang mungkin ber-budget pas-pasan, apakah masih bisa menikmati panganan yang murah, enak dan bersih di Bandara Soetta?
Baca juga: Wow! Bandara-Bandara Ini Memiliki Restoran Bintang 5 di Dalamnya
Jawabannya tentu pasti bisa, seperti halnya bandara-bandara lainnya, di Bandara Soetta memiliki kantin karyawan dengan harga makanan jauh lebih murah dari gerai yang ada di dalam bandara. Bandara Soetta memiliki kantin yang letaknya di Terminal 1, Terminal 2 D dan F serta di Terminal 3. Bila saat Anda berangkat dengan jadwal pagi dan tidak membawa sarapan, bisa makan di areal kantin-kantin tersebut yang buka selama 24 jam.
KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai sumber, di Terminal 1 tepatnya di tengah parkiran mobil ada yang namanya Joglo. Karena memang berbentuk joglo tempat makan ini terbilang jauh lebih murah dari di restoran dalam bandara. Bisa dikatakan untuk makan di kantin ini Anda dengan budget pas-pasan bisa makan kenyang kurang dari Rp20 ribu.
Sementara di Terminal 2 untuk cari makan murah, para penumpang yang menunggu pesawat bisa menuju parkiran motor. Mungkin bila tidak lapar bisa ngopi atau sekedar minum teh sembari berbincang dan menunggu keberangkatan. Di kantin-kantin ini juga, karyawan bandara sering berkumpul untuk makan.
Bagi para karyawan kebanyakan, makan di kantin ini bukan lantaran bosan dengan makanan ada di dalam bandara, melainkan para karyawan bandara pun memiliki gaji yang sama dengan pekerja lainnya sehingga adanya kantin dapat menghemat pengeluaran. Sebagai bandara internasional, dan Terminal 3 sebagai keberangkatan penumpang internasional, juga ada tempat makan murah alias kantin karyawannya.
Kantin Terminal 3 berada agak sedikit kepelosok, berada tak jauh dari pagar pembatas dan dekat taman disitu terlihat bangunan yang lengkap dengan meja serta kursinya. Tempatnya cukup nyaman dan besar, makanan yang dijual pun seperti warteg, warung padang, warung soto dan penjual minuman. Harga jual makanannya pun sama seperti saat Anda berada di pinggir jalan atau sekedar mampir di warteg.
Nasi dengan soto ayam dihargai sekitar Rp13 ribu, sedangkan nasi yang dijual di warteg dengan berbagai pilihan lauk pauknya paling mahal Rp18 ribuan. Untuk air mineral pun cukup terjangkau dengan botol standar 600ml dihargai Rp5 ribu, lebih murah bila dibadingkan membeli di mesin otomatis dengan mengeluarkan kocek Rp10 ribu dan di dalam bandara Rp18 ribu.
Tak ayal saat makan masakan Padang pun dihargai paling mahal Rp20 ribu. Bukan hanya makan murah, saat makan di kantin karyawan ini pun Anda akan merasakan kenyamanan dan kebersihan tempat ini walaupun sedikit jauh untuk berjalan.
Baca juga: Saking Nyamannya, 9 Bandara Ini Buat Penunjungnya Lupa Pulang
Uniknya, di kantin-kantin karyawan, bukan hanya karyawan bandara dan penumpang lokal, tetapi juga terlihat pelancong (backpacker) mancanegara ikut makan di kantin ini. Mereka menikmati makanan murah tanpa harus merogoh kocek yang dalam seperti makan di restoran. Terkadang pun Anda yang memang berada di parkiran sering melihat para penjual kopi, pop mie ataupun gorengan dengan pecel sayuran yang bisa di beli di tengah-tengah area parkir. Harga kopi yang dijual pedagang keliling ini dengan harga nongkrong di coffee shop dalam bandara dengan jarak perbedaan harga bisa Rp30 ribuan.
Sayangnya jalur untuk menuju area kantin tidak akrab bagi Anda yang membawa koper dengan roda. Tapi ada solusi lain, bagi Anda yang malas untuk jalan ke kantin, setiap terminal di bandara juga ada ritel baik Indomaret ataupun Alfamart yang juga menyediakan makanan beku di panaskan atau mie instan lengkap dengan air panasnya. Makan beku ini pun di jual dengan harga tak sampai Rp20 ribu, sehingga bisa dikatakan cukup untuk kocek kantong dengan budget rendah.
Maskapai internasional papan atas, Singapore Airlines dan Lufthansa Group baru saja meluncurkan usaha kerjasama baru yang mencakup penerbangan dari Singapura, Australia dan Jerman, Swiss, Austria dan Belgia. Kerjasama ini digadang bisa memudahkan penumpang saat memilih jadwal perjalanan dan harga yang sesuai.
Baca juga: Jerman Datangkan Saksi Bisu Pembajakan Lufthansa 1977, Indonesia Juga Punya Sejarah Yang Mirip
Gagasan dari kerjasama ini adalah karena banyaknya jadwal dan harga yang ditawarkan oleh kedua perusahaan penerbangan. “Kami senang dapat meluncurkan usaha bersama dengan Lufthansa Group, dimana dapat memberikan fondasi yang kuat untuk bekerja sama yang memungkinkan banyaknya frekuensi penerbangan dan pilihan perjalanan yang lebih baik bagi pelanggan dua maskapai penerbangan ini. Usaha bersama ini menunjukkan apa yang bisa kita capai dengan mitra yang tepat. Kami berharap dapat bekerja lebih intens lagi dengan Lufthansa Group,” ujar Tan Kai Ping, Singapore Airlines Senior Vice President Market Palanning yang KabarPenumpang.com kutip dari laman spicenews.com.au (3/10/2017).
Sebenarnya tandatangan perjanjian kerjasama ini sudah dilakukan sejak November 2015 dan memperluas kapasitas penerbangan antara Singapura, Jerman dan Swiss. Peluncuran kerjasama ini juga termasuk pengenalan penerbangan rute baru yang dioperasikan Singapore Airlines, yakni dari Singapura menuju Dusseldorf, Jerman yang telah dibuka pada Juli 2016.
Tak hanya itu, pada Maret 2017, Swiss Airlines yang merupakan bagian dari Lufthansa Group menghadirkan pesawat Boeing 777-300ER terbarunya pada penerbangan harian dari Singapura menuju Zurich (Swiss) dan sebaliknya. Di kesempatan yang sama, Lufthansa juga mengumumkan rencana membuka kembali layanan penerbangan dari Singapura menuju Munich yang akan dimulai Maret 2018 mendatang.
Layanan penerbangan ini juga akan meningkatkan pengaturan antar kedua grup penerbangan ini, yang secara signifikan meningkatkan hubungan codeshare di lebih dari 130 kota yang di tawarkan untuk pasar Eropa, Asia Tenggara dan Pasifik Barat Daya.
Baca juga: Zonal Employee Discount, Inilah Rahasia Terbang Murah Untuk Para Pekerja Maskapai
Mr Dieter Vranckx, Wakil Presiden Lufthansa Group President Sales Asia Pasifik mengatakan, “Ini adalah tonggak sejarah yang luar biasa bagi Lufthansa Group dan Singapore Airlines. Dengan diluncurkannya joint venture ini, dua grup maskapai penerbangan premium kini bersama-sama dapat mengoptimalkan penawaran produk dan layanan berkualitas tinggi di pasar yang sangat kompetitif di seluruh Eropa, Asia Tenggara dan Pasifik Barat Daya. Kami sangat bangga bisa bekerja sama dengan Singapore Airlines, mitra high-end yang memiliki reputasi baik dan andal, memberi pilihan terbaik bagi pelanggan kami.”
Dua hari lagi puncak HUT TNI 5 Oktober akan digelar di Dermaga Indah Kiat, Cilegon, Banten. Tidak hanya ratusan kendaraan tempur darat yang ikut memeriahkan defile di hajatan besar-besaran tersebut, namun di perairan Cilegon saat ini juga bersandar puluhan kapal perang TNI AL dalam berbagai jenis. Dan mengingat puncak HUT TNI akan dilangsungkan dengan defile dan atraksi penembakkan roket ke arah lautan, maka aktivitas tersebut akan berdampak langsung pada pelayanan kapal ferry di Pelabuhan Merak.
Baca juga: KRI Tanjung Kambani 971, Kapal Ferry RoRo dengan Cita Rasa Militer
Bila dirunut dari lokasi perhelatan, antara Dermaga Indah Kiat dan Dermaga Ferry PT ASDP hanya berjarak kurang dari 1,2 kilometer. Untuk menjamin keamanan dan keselamatan dalam layanan penyeberangan ferry, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Provinsi Banten, Kementerian Perhubungan telah menerbitkan pola operasi pada pelayanan di Pelabuhan Merak menjelang dan saat puncak HUT TNI.
Pada 5 Oktober 2017, pelayanan Angkutan Penyeberangan di Dermaga VI Pelabuhan Merak akan ditutup pada pukul 01.30 WIB, selanjutnya akan digunakan tempat sandar bagi KRI Tanjung Nusanive pada pukul 02.00 sampai dengan 15.00 WIB. Sedangkan Dermaga III dan IV Pelabuhan Merak akan ditutup mulai pukul 05.00 sampai dengan 13.00 WIB. Dengan adanya penutupan ini maka kapal kapal yang beroperasi di Dermaga III, IV dan VI akan dikeluarkan dari jadwal lintasan.
Sementara pelayanan di Dermaga I dan II tetap beroperasi dengan jumlah kapal beroperasi sebanyak 12 kapal. Di Pelabuan Merak sejatinya masih ada Dermaga V, namun hingga kini sedang dalam proses perbaikan pasca penabrakan KMP Prima Nusantara milik PT. Jembatan Nusantara pada tanggal 12 Juli 2017 dan diperkirakan baru selesai pada akhir Oktober ini.
Terkait keseluruhan aktivitas HUT TNI, seluruh dermaga di Pelabuhan Merak akan mulai beroperasi kembali setelah selesai acara puncak yakni pada pukul 15.00 WIB.
Baca juga: Beroperasi 2018, PT ASDP Lakukan Ground Breaking Pembangunan Dermaga Eksekutif Merak – Bakauheni
Untuk hari ini (3/10), dilaksanakan Gladi Bersih dan Tabur Bunga, Dermaga VI di Pelabuhan Merak digunakan untuk sandar KRI DR. Soeharso mulai pukul 05.00 sampai 18.00 WIB, sedangkan untuk mendukung kegiatan Gladi Bersih Dermaga III dan Dermaga IV ditutup mulai pukul 06.00 sampai 11.00 WIB. Kapal kapal yang beroperasi di Dermaga III, IV dan VI sementara dikeluarkan dari jadwal lintasan, selama penutupan maka jadwal kapal yang beroperasi menyesuaikan dengan jumlah Dermaga yang tersedia. Untuk besok, Rabu (4/10) merupakan hari tenang, tidak ada kegiatan latihan dan gladi dari pihak TNI, pelayanan ferry PT ASDP berlangsung normal.
Ada rasa bangga saat melihat ada banyak atribut pariwisata Indonesia di luar negeri. Terlebih atribut promosi wisata ini tak sembarang hadir, bus-bus wisata berupa sight seeing bus yang terkenal di Paris terlihat hilir mudik di tengah kota, mencitrakan panorama dan obyek wisata andalan Indonesia lewat kampanye “Wonderful Indonesia.”
“Desain livery pada bus tingkat (wisata) di Paris ini sangat bagus untuk memperkenalkan obyek wisata di Indonesia. Dimana-mana terlihat kampanye Wonderful Indonesia, sangat menyenangkan untuk dilihat,” ujar Mahisa Murti, seorang videographer asal Jakarta yang tengah berada di Paris.
Baca juga:Gandeng Merek-Merek Ternama, Wonderful Indonesia Lebarkan Sayap
Persisnya ada 16 unit bus ‘Open Tours’ yang mewarnai jalan-jalan di kota yang terkenal dengan Menara Eiffelnya mulai 12 September hingga tanggal 9 Oktober 2017 mendatang. Bus ini di branding dengan Wonderful Indonesia seperti piala Eropa empat tahun lalu.
Gambar-gambar yang di tampilkan 16 bus ini memberikan pemandangan indah Indonesia yakni Candi Borobudur yang megah, Danau Toba di Sumatera Utara, penari bali yang cantik, Raja Ampat yang memesona dengan lautnya, Komodo binatang asli Indonesia hingga senyuman khas orang Indonesia yang penuh pesona. Di setiap livery pada dilengkapi dengan image QR code, sehingga seseorang yang tertarik dengan ikon wisata yang ditampilkan dapat langsung melakukan scan browsing dari smartphone.
Menteri Pariwisata Arief Yahya menyadari dengan biaya promosi untuk Wonderful Indonesia ini sangatlah terbatas, sehingga harus menggunakan banyak cara branding yang sudah ada di 47 negara tidak merosot. Apalagi untuk menjaga brand ini cukup berat dimana harus menaikkan valuenya dengan promosi.
“Tentu kita perlu budget dan harus tetap kreatif mencari momentum yang pas dan lokasi yang tepat,” ujar Arief yang dikutip KabarPenumpang.com dari kompas.com (14/9/2017). Untuk menyiasati budget ini, Arief melakukan co-branding dengan menggunakan momentum dan memilih media promosi yang pas. Dengan menggunakan bus, trem, kereta, taksi dan transportasi umum bergerak lainnya lebih efektif dan bisa cepat viral ke media sosial.
Arief mengatakan, bahwa tidak boleh berhenti promosi walaupun jumlah wisatawan asing ke Indonesia terus meningkat. Inilah yang membuat akhirnya Perancis dilirik, dan membuat bus yang dipenuhi Wonderful Indonesia kembali wara-wiri di Perancis.
Menurutnya, dengan branding ini akan memberi umpan yang baik bagi warga Paris dan wisatawan negara lain yang sedang berada di kota tersebut, dan sesuai sasaran postingan di mesia sosial dengan hastag #wonderfulindonesia memang cukup ramai, diantaranya postingan tentang foto-foto bus wisata di Paris yang kini sedang menjajakan promo Indonesia.
“Sangat efektif. Wonderful Indonesia jadi makin dibicarakan publik di dunia nyata dan dunia maya. Yang hobi narsis, malah bisa dijadikan ‘senjata’ untuk posting dan menjadi viral di digital,” katanya.
Tahun 2016 kunjungan wisatawan Perancis ke Indonesia meningkat 19,8 persen dibandingkan 2015 lalu. Dari 209.466 orang naik menjadi 250,921 orang dan angka ini sudah melebihi target Kemenpar yang membidik 250 ribu orang tahun 2016 lalu. Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kemenpar I Gde Pitana mengatakan, bus bertingkat yang berkeliling kota Paris menjadi sarana mempromosikan Wonderful Indonesia kepada masyarakat Perancis dan juga wisatawan yang berkunjung ke Paris.
Baca juga: Tourist Information Center, Mudahkan Wisman saat tiba di Bandara Soetta
“Promosi ini akan menunjukkan dan memperlihatkan keindahaan alam Indonesia dan kebudayaan ramah tamah bangsa Indonesia, kita harus terus tampil elegan dan di tempat-tempat yang vital,” ujar Pitana.
Sementara itu, Visit Indonesia Tourism Officer (VITO) Perancis yang dipimpin Eka Moncarre mengatakan, bulan September akan penuh dengan aktivitas untuk mempromosikan Wonderful Indonesia dalam skala pemasaran penuh B to B dan B to C dalam rangka menjaring target wisatawan yang berkunjung ke Indonesia.
Eka menjelaskan, Perancis merupakan pasar berpotensial untuk Indonesia. Dengan penduduk 66 juta orang, Indonesia merupakan salah satu negara favourit bagi orang Perancis.
“Tahun ini Indonesia menjadi negara TOP 5 pilihan orang Perancis. Apalagi sekarang, tidak diperlukan visa untuk berkunjung ke Indonesia selama 30 hari maksimum, minat mereka berwisata meningkat luar biasa,” kata Eka. Tak hanya Paris, Korea Selatan yang diwakili Seoul dan Busan juga menjadi bagian promosi Wonderful Indonesia. Apalagi pengunjung Korea Selatan lebih banyak ke Bali dan Yogyakarta.
Salah satu jurus ekspansi bisnis adalah dengan menawarkan paket investasi kepada pemodal. Terlebih bagi investasi di bandara yang padat modal, maka kehadiran investor swasta bisa menjadi solusi untuk mempercepat rencana pengembangan bandara. Seperti dua paket investasi Bandara Internasional Kualanamu di Sumatera Utara telah ditawarkan senilai Rp11 triliun oleh PT Angkasa Pura II (Persero). Kedua paket ini ditawarkan ke sektor swasta pada ajang The 4th Asia- Europe Meeting Transport – Transport Minister Meeting (ASEM – TMM) di Bali pada 26-28 September 2017 kemarin.
Baca juga: Bird Strike Paksa AirAsia QZ104 ‘Return to Base’ di Bandara Kualanamu
Kedua paket investasi ini juga ditawarkan dalam seminar Investasi di Infrastruktur: Peranan BUMN dan Investasi Asing yang berlangsung di Jakarta 28 Setember 2017. Paket investasi I ditawarkan senilai Rp7 triliun dan paket II senilai Rp4 triliun.
Investasi paket I mencakup pengembangan runway sehingga dapat melayani penerbangan pesawat berbadan lebar Airbus A380-800, lalu perluasan area kargo menjadi 24.715 m2 dari saat ini 13.450 m2, kemudian terminal penumpang dari menjadi 224.256 m2 atau saat ini berkapasitas 9 juta penumpang per tahun menjadi 17 juta penumpang per tahun.
Paket I merupakan bagian dari tahapan pengembangan bandara dari keseluruhan tiga tahap yang direncanakan. Targetnya, pengembangan paket I dapat di mulai tahun 2018 mendatang.
“Melalui Paket investasi ini investor dapat memiliki saham maksimal 49 persen di perusaahan yang akan berperan sebagai pengelola Bandara Internasional Kualanamu. Sisa saham, atau pemegang saham terbesar di perusahaan tersebut masih dimiliki oleh AP II,” ujar Direktur Utama AP II, Muhammad Awalludin yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers (30/9/20117).
Untuk paket II dengan nilai Rp4 triliun untuk pengelolaan lahan sekitar 200 hektar guna pengembangan area komersial yang berada di luar terminal penumpang. Areal komersial dibangun berkonsep airport city yang akan terdapat hotel bintang 3, 4 dan 5. Kemudian di bangun supermarket, gedung perkantoran, theme park, golf course, food arcade, convention center, rumah sakit, bioskop dan lainnya.
“Tujuan AP II menawarkan investasi tidak lain agar mendapat sumber pendanaan secara cepat guna melakukan ekspansi sehingga pelayanan di Bandara Internasional Kualanamu dapat semakin meningkat di samping tentunya membuat bandara ini mampu berperan signifikan dalam mendorong perekonomian nasional. Kami juga menggunakan prinsip kehati-hatian atau secara prudent dalam memilih investor dalam kerjasama dalam artian salah satu syarat adalah rekanan tersebut harus memiliki keahlian kelas dunia dalam hal pengelolaan bandara,”kata Awaluddin.
Adapun pada ASEM – TMM, AP II mengikuti dua bilateral meeting untuk lebih detail menawarkan kedua paket investasi tersebut, di mana bilateral meeting dilakukan dengan perwakilan dari Korea Selatan dan Tiongkok.
“Pada ASEM – TMM ini AP II juga membuka booth dengan tema Transportation Infrastructure and Logistic Exhibition sebagai media one on one business meeting dengan investor potensial,” jelas Awaluddin.
Baca juga: Sumatera Utara Ternyata Punya 10 Bandara
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan bahwa pengembangan Bandara Internasional Kualanamu termasuk bagian dari upaya pemerintah dalam meningkatkan sektor logistik dan konektivitas transportasi di Indonesia.
Sementara itu, pada seminar Investasi di Infrastruktur: Peran BUMN dan Investasi Asing, Menteri BUMN Rini M Soemarno menuturkan, “Kami memberi ruang besar kepada sektor swasta melalui berbagai kesempatan, karena pemerintah dan BUMN tidak dapat membangun dan membiayai setiap proyek infrastruktur sendiri. Kami memiliki keterbatasan, termasuk dalam pendanaan.”
Bandara Internasional Kualanamu merupakan bandara terbesar kedua yang dikelola AP II, setelah Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Pergerakan penumpang di bandara ini meningkat setiap tahunnya hingga kini sekitar 9 juta penumpang per tahun atau mencapai kapasitas bandara.
AP II memikiki rencana pengembangan hingga terminal penumpang berkapasitas 42 juta penumpang pada 2027. Dari sisi keuangan, Bandara Internasional Kualanamu mampu membukukan kinerja cukup baik pada 2016 untuk pendapatan bisnis aeronautika, nonaeronautika dan juga kargo.
Penundaan keberangkatan sebuah pesawat dapat disebabkan oleh banyak aspek, sebut saja masalah pada mesin hingga kondisi cuaca yang kurang bersahabat. Salah satu masalah yang kerap kali muncul di landas pacu adalah terkait crosswind, alias terjangan angin samping yang dapat membahayakan keselamatan penerbangan. Kini, masalah yang berkaitan dengan kelancaran pengoperasian di dunia aviasi tersebut nampaknya sudah menemukan sebuah titik terang yang dapat diaplikasikan di masa yang akan datang.
Baca Juga: Crosswind, Terjangan Angin dari Samping, Juga Jadi Ancaman di Moda Darat
Pada tahun 2015 lalu, Henk Hesselink, seorang insinyur senior R&D untuk Netherlands Aerospace Center (NLR) ditugaskan oleh European Commission (EC) untuk menemukan solusi terhadap masalah yang berulang ini. Tidak hanya itu, Henk juga ditugaskan untuk meningkatkan kapasitas bandara yang diperkirakan akan meningkat di tahun-tahun mendatang.
Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman airport-technology.com (10/7/2017), Henk lalu menggagas konsep Endless Runway, dimana konsep jalur lurus landas pacu yang diterapkan di hampir semua bandara diganti dengan konsep melingkar yang tidak berujung. Nantinya, landas pacu ini memiliki panjang total 10 km jika ditarik garis lurus, dengan diameter lingkaran yang mencapai 3 km. Untuk bangunan bandara sendiri akan ditempatkan di tengah-tengah lingkaran.
Para periset beropini bahwa pesawat akan selalu bisa beroperasi dengan lancar walaupun kondisi angin sedang tidak kondusif, ini berarti bahwa pesawat bisa berangkat dengan aman ke segala arah setiap saat. “Salah satu masalah yang dihadapi di runway adalah angin,” ungkap Henk. “Dan saya berpikir: apakah hal seperti ini masih akan menjadi masalah di tahun 2050? Seharusnya masalah angin ini sudah bisa dipecahkan dalam waktu dekat, tapi bagaimana caranya? Yaitu dengan menggunakan Endless Runway,” imbuhnya.
Gagasan mengenai landas pacu melingkar tersebut hingga kini masih dalam tahap uji coba, dimana penggunaan landas pacu seperti ini akan menjanjikan beberapa keuntungan, diantaranya lintasan pesawat yang lebih baik, hingga efisiensi mobilitas penumpang dari gerbang ke gerbang.
Proyek Endless Runway tanpa henti dikembangkan di bawah pengawasan EC’s 7th Framework Programme, yang bersiap untuk terus membuat teknologi terobosan di waktu yang akan datang. Bahkan, sebuah konsorsium yang terdiri dari pusat penelitian aeronautika nasional masing-masing berada di Belanda, Prancis, Jerman, Spanyol dan Polandia bekerja sama dalam meneliti dan menguji konsep landas pacu tersebut.
Namun jangan kira ini merupakan ide baru di dunia aviasi. Model Endless Runway telah dieksplorasi oleh sebagian negara di dunia, sebut saja Perancis, dimana konsep Endless Runway pertama diadopsi pada akhir abad ke-19, diikuti oleh serangkaian artikel, laporan, dan paten atas gagasan yang diajukan untuk penggunaan di abad ke-20.
Pada tahun 1960, pilot Angkatan Laut AS, James R. Conrey mengemukakan sebuah paten untuk konsep ini, dengan keyakinan bahwa konsep tersebut akan memungkinkan pesawat untuk mendarat dalam kondisi angin yang parah sekalipun. Hal ini pula yang akhirnya mengilhami Henk untuk menghidupkan ide Endless Runway kembali.
Baca Juga: 10 Bandara Ini Punya Landasan Paling Ekstrim
Seperti yang sudah dijabarkan di atas, selain masalah angin, efektifitas akomodasi penumpang juga akan berubah dengan pengaplikasian model landas pacu seperti ini. Melihat ke 2050, European Research Establishments in Aeronautics (EREA) memprediksi jumlah penumpang udara hampir 14 miliar dalam periode satu tahun. Diharapkan konsep Endless Runway ini juga dapat mengatasi masalah penumpang ini.
Lalu, kenapa konsep landasan pacu belum rilis sampai sekarang? Menurut sebuah laporan tahun 2014 yang diterbitkan oleh EC’s Community Research and Development Information Service (CORDIS), landasan pacu tersebut sejauh ini tetap berada pada tingkat eksperimen karena biaya tinggi, kebutuhan untuk memperkenalkan prosedur, dan teknik pendaratan baru. Laporan tersebut berpendapat bahwa biaya konstruksi akan lebih tinggi daripada landasan pacu konvensional, terkait keseluruhan fisik landas pacu yang lebih besar. Selain itu, pilot juga mesti mempelajari teknik baru untuk mendarat di landas pacu ini.
Bagi para pengguna layanan Commuter Line di Ibu Kota tentu tidak terlalu asing dengan mesin penjual (vending machine) tiket yang tersedia di beberapa stasiun. Keberadaannya berhasil memangkas antrian yang terjadi di loket umum pembelian tiket, terutama pada peak-hours. Tidak seperti kebanyakan mesin penjual yang lain, vending machine yang tersedia di beberapa stasiun di Ibu Kota bisa memberikan kembalian jika transaksi yang dilakukan para penumpang membutuhkan uang kembali.
Baca Juga: Seabreg Tantangan Implementasi E-Ticketing Pada Transportasi Massal
Begitu juga yang vending machine baru yang ada di Bielefeld, Jerman. Secara keseluruhan, vending machine yang diluncurkan oleh penyedia layanan mobilitas, moBiel ini hampir tidak ada bedanya dengan yang ada di Jakarta, lalu apa poin istimewa dari mesin penjual ini? Ternyata, seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman eurotransportmagazine.com (21/9/2017), ini merupakan vending machine yang dirancang dengan mempertimbangkan para penyandang disabilitas. Diketahui, mesin ini dilengkapi dengan sistem audio yang dapat membantu penumpang tuna netra.
Langkah yang diambil oleh Scheidt & Bachmann, perusahaan yang memproduksi sektiar 100 vending machine ini merupakan bentuk peremajaan model pendahulunya yang telah beroperasi selama lebih dari 25 tahun. Mengikuti perkembangan jaman, vending machine milik Scheidt & Bachmann ini menggunakan sistem layar sentuh yang lebih modern ketimbang sistem tombol yang terkesan kuno.
Untuk sistem pembayarannya, mesin menerima uang logam dan kertas, tentu saja mesin tidak akan menerima uang kertas yang sudah terlipat, basah, dan usang. Rencananya, Scheidt & Bachmann akan mengembangkan sistem pembayaran non-cash, seperti kartu debit dan kredit. Mesin ini digalang-galang siap menyediakan tiket perjalanan penumpang masa depan yang canggih.
Baca Juga: E-Ticket, Antara Mempermudah Atau Memperkeruh
Seperti yang tertera di laman sumber, moBiel vending machine tidak hanya menyediakan mesin yang dapat memenuhi kebutuhan tiket para penumpang, melainkan juga bisa memberikan informasi seputar moda terkait kepada penumpang. Mesin ini memiliki fitur yang bisa menginformasikan penumpang tentang keberangkatan atau penundaan perjalanan secara real-time, jadwal perjalanan yang lengkap, serta beberapa informasi penting lainnya.
Jika Anda didapati tidak memiliki tiket selama perjalanan, maka Anda bisa membayar denda yang sudah ditetapkan sebelumya di mesin ini pula. Cukup canggih bukan? Di Jakarta sendiri hampir tidak mungkin jika ada penumpang yang tidak memiliki tiket berhasil naik Commuter Line, karena semua KRL Jabodetabek sudah menggunakan sistem tap-cash.
Salah satu mimpi terburuk bagi pengguna jasa kereta adalah terdorong dari pinggir peron hingga jatuh ke track lintasan. Itu bukan saja kerap divisualkan dalam film-film action, namun kasus orang terjatuh dari peron dan kemudian langsung tersambar kereta yang melintas memang kerap terjadi, apalagi saat peak hour dimana kumpulan orang saling berdesakan di peron menunggu kedatangan kereta.
Baca juga: Stasiun Tsutsuishi, Stasiun Bawah Tanah yang Menyerupai Sebuah Bangker
Insiden menakutkan tersebut memang telah menjadi perhatian bersama para operator jasa kereta, terutama pada jalur kereta komuter yang melayani penumpang dalam jumlah besar. Sebagai solusinya beberapa stasiun modern kini telah dilengkapi Platform screen doors (PSD). Berupa pintu dan partisi pemisah antara batas peron dan jalur track kereta. Bagi publik di Indonesia meski belum ada stasiun yang dilengkapi PSD, pada dasarnya solusi ini mirip dengan konsep automatic doors yang ada di halte TransJakarta. Meski ada pemisah, calon penumpang di peron masih dapat melihat jelas kedatangan kereta, mengingat material pemisah dibuat dari kaca tahan getaran yang bening.
Nah, PSD nantinya akan diterapkan di seluruh stasiun MRT (Mass Rapid Transit) Jakarta. Model PSD pun terbagi ke dalam dua tipe, yakni full height platform screen doors, dimana lapisan kaca dan pintu screen terutup rapat dari jalur track. Kemudian ada half-screen doors, dimana posisi bagian atas screen terbuka dengan jalur track. Umumnya full height platform screen doors digunakan pada stasiun bawah tanah (underground), sebaliknya half screen doors banya digunakan pada stasiun upperground.
Stasiun MRT Bishan di Singapura dengan full height platform screen doors.
Terjatuh dari peron faktanya tak melulu jadi faktor insiden, ada juga kasus memang orang sengaja bunuh diri dengan cara meloncat dari peron. Meski menekankan pada keselamatan calon pengguna jasa yang berada di peron, PSD punya fungsi lain yang tak kalah penting, seperti mengurangi efek hempasan angin saat kereta melintas dengan kecepatan tinggi. Harus diakui efek hempasan angin cukup mengganggu kenyamanan pada orang yang menanti di peron.
Baca juga: Intip Langsung Kungstradgarden, Stasiun Bawah Tanah Paling Keren di Dunia
Dari aspek kenyamanan, PSD membuat kondisi stasiun bawah tanah lebih nyaman, dimana pengaturan sirkulasi udara dan pengatur suhu bisa lebih optimal. Polusi suara yang diakibatkan kereta juga dapat jauh dikurangi. PSD juga dapat meningkatkan keamanan pada infrastuktur jaringan kereta, semisal tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam terowongan. Dari sisi pengelola stasiun, PSD dapat meningkatkan efisensi, pasalnya bila sudah ada PSD maka tak perlu lagi ada petugas keamanan yang berjaga-jaga di peron.
Merujuk ke sejarahnya, PSD pertama kali diterapkan di Stasiun Saint Petersburg Metro’s Line 2 pada tahun 1961 – 1971. Saat ini stasiun MRT seperti di Singapura dan Malaysia sudah jamak wajib menggunakan PSD. Sebaliknya stasiun kereta bawah tanah di Sydney, Melbourne, Munich dan Stockholm justru belum mengadopsi PSD.
Adanya fasilitas Visa On Arrival menjadi magnet tersendiri untuk menyambangi suatu negara, betapa tidak, tanpa harus ribet mengurus Visa di Kedutaan Besar, dengan Visa On Arrival pelacong bisa lebih fleksibel untuk masuk ke negara tujuan. Selain dokumen standar, mengurus Visa On Arrival lebih ditekankan pada kesiapan Anda untuk membayar tarif Visa itu sendiri.
Baca juga: Visa on Arrival, Bisa Berdampak Pada Risiko Keamanan di Dalam NegeriKabarPenumpang.com merangkum dari berbagai sumber, Indonesia menduduki peringkat ke 79 dalam kebebasan bepergian menurut data statistik Henley visa restriction index 1 Januari 2017. Dengan data ini total akses bebas visa dan visa on arrival (VOA) Indonesia hanya bisa masuk dengan mudah ke 57 negara.
Berikut ini, KabarPenumpang.com mendapat sumber beberapa negara yang mengenakan biaya pada pembuatan Visa on arrival saat tiba di bandara.
1. Nepal
Bandara Internasional Tribhuvan, Kathmandu di Nepal memberlakukan Visa on arrival. Anda sebagai pelancong bisa menggunakan mesin aplikasi visa yang berbentuk seperti ATM tak jauh dari pintu masuk bandara. Siapkan paspor dan isi eform di mesin aplikasi, jangan lupa mengisi data diri, nomor telepon serta tempat Anda menginap. Foto juga langsung dilakukan pada mesin tersebut, setelah selesai di mesin aplikasi, Anda diharuskan ke Fee Collection Counter dan siapkan uang tunai. Uang ini untuk membayar biaya bila 15 hari akan dikenakan US$25, 30 hari US$40 dan 90 hari US$100.
Pembayaran visa ini bisa menggunakan mata uang USD, AUD, Yen dan Euro. Setelah selesai baru Anda menuju imigrasi untuk pengecekan pembayaran visa dan cek stiker visa, waktu pengurusan diperkirakan sekitar satu jam.
2. Turki
Untuk masuk ke Turki, warga Indonesia mendapat dua jenis visa dan tidak perlu mengurus ke kedutaan besar Turki atau bisa dikatakan Anda langsung mendapat akses mengurus di bandara. Sampai di bandara Ataturk Istanbul, Turki carilah konter Visa on Arrival dan siapkan uang tunai US$35. Untuk paspor Indonesia, visa ini berlaku selama 30 hari.
3. India
Pelancong Indonesia yang masuk ke India, sesaat setelah tiba di bandara bisa masuk ke ruang imigrasi untuk wawancara kemudian mengisi formulir VOA dan diserahkan ke petugas bersama paspor, tiket pulang serta bukti pemesanan hotel. Setelah mendapat stempel kedatangan Anda harus membayar INR3600 per orangnya dan pembayaran wajib dengan uang Rupee. Disini, uang Anda akan diteliti dengan jelas karena banyak pemalsuan uang Rupee. Uniknya bukan stiker yang Anda terima di paspor untuk VOA di India melainkan hanya stempel dan berlaku selama 30 hari.
Tidak semua bandara internasional di India bisa melayani VOA, beberapa bandara yang siap untuk VOA seperti di Bandara Netaji Subash Chandra Bose, Kolkata, Bandara Bengaluru, Chennai, Cochin, Delhi , Goa, Hyderabad, Mumbai dan Trivandrum.
Sebelum berangkat ke India, sebagai pelancong juga bisa mengisi aplikasi melalui website sehingga nantinya mudah saat di bandara hanya perlu membawa print out saja. Untuk penbuatan TVOA online ini Anda harus membayar US$60 untuk 30 hari. Dokumen yang dipersiapkan pun tak jauh berbeda dengan saat Anda melakukan pembuatan VOA langsung di bandara. Untuk persetujuannya VOA online ini paling lama 72 jam dan akan masuk ke dalam email Anda. Lain dari itu, pihak Kedutaan Besar India di Jakarta juga melayani jalur pembuatan Visa dengan sistem konvensional.
4. Timor Leste
Sebagai negara yang pecah dari Indonesia, masuk ke Timor Leste juga memerlukan VOA dengan biaya US$30 dan berlaku selama satu bulan.
Untuk negara-negara di Asia Tenggara, pemegang paspor hijau Indonesia, tidak dikenakan visa alias bebas visa. Sehingga pelancong Indonesia tak perlu repot memikirkan biaya visa dan segala pengurusannya untuk masuk ke negara-negara Asean.
Meningkatnya arus wisatawan ke suatu negara banyak dipengaruhi oleh beragam faktor, salah satunya adalah kebijakan dalam peraturan keimigrasian yang ditetapkan negara yang bersangkutan. Dari sisi pelancong tentu mendambakan negara tujuan wisata sudah menerapkan standar bebas Visa seperti halnya untuk berkeliling sesama negara ASEAN. Namun semua kebujakan yang diambil akan berdampak pada risiko pada keamanan di dalam negeri, dan sektor pendapatan pemerintah dari non pajak, karena Visa merupakan dana yang masuk ke kas negara tuan rumah.
Faktanya hanya sebagian kecil negara yang menerapkan bebas Visa, selebihnya memberlakukan Visa untuk para pelancong dan pebisnis. Ketimbang harus mengurus Visa di Kedutaan Besar yang kadang kurang fleksibel dan merepotkan, beberapa negara sahabat dan juga Indonesia menerapkan apa yang disebut dengan Visa on Arrival.
Visa on arrival sendiri merupakan dokumen izin masuk seseorang ke suatu negara yang bisa didapatkan langsung di perbatasan antarnegara seperti di bandara atau pelabuhan. Bisa dikatakan Visa on arrival ini adalah tiket masuk ke suatu negara yang bisa di beli di negara tujuan.
Baca juga: Mau Ke Eropa dengan Visa Schengen? Jangan Lupa Pesan Tiket Kereta Secara OnlineKabarPenumpang.com merangkum dari berbagai sumber, bahwa di Indonesia sendiri kebijakan untuk pembebasan kunjungan baru mulai April 2015 lalu. Dimana juga mengizinkan warga negara asing dari tambahan 30 negara untuk mengunjungi Indonesia tanpa visa.
Dari sisi Pemerintah Indonesia, kebijakan ini diambil karena masih rendahnya jumlah turis yang masuk ke Indonesia dibandingkan dengan negara lain yang berada di Asia Tenggara. Sebanyak 90 negara diperbolehkan datang dan menetap di Indonesia tanpa visa selama 30 hari dan warga negara asing dari beberapa negara bisa mengajukan Visa on arrival untuk menetap 30 hari dengan membayar US$35 di loket pintu masuk.
Diketahui, untuk saat ini Pemerintah melalui Peraturan Presiden Nomor 21 Tahun 2016 tentang Bebas Visa Kunjungan telah membebaskan visa bagi turis asing di 169 negara yang hendak berkunjung ke Indonesia. Berikut negara-negara yang bebas visa yakni Australia, Antigua & Barbuda, Armenia, Albania, Andora, Bahama, Banglades, Barbados, Belize, Benin, Bhutan, Bolivia, Bosnia & Herzegovina, Bostwana, Brasil, Burkina Faso, Burundi, Chad, Cile, Ekuador, El Savador, Gabon, Gambia, Georgia, Grenada, Guatemala, Guyana, Haiti, Honduras, Hongkong (SAR), Jamaika, dan Kenya.
Baca juga: Gara-Gara Salah Administrasi, Perempuan Ini Tak Bisa Masuk Inggris Selama 10 Tahun
Selanjutnya ada Kepulauan Marshall, Kepulauan Solomon, Kiribati, Komoro, Kuba, Lesotho, Makau (SAR), Madagaskar, Makedonia, Mauritius, Mauritania, Malawi, Mali, Maroko, dan Mongolia, Mozambik, Moldova, Namibia, Nepal, Nikaragua, Palestina, Palau, Pantai Gading, Paraguay, Peru, Puerto Rico, Republik Dominika, Rwanda, dan Saint Kitis dan Navis,Saint Lucia, Saint Vincent dan Grenadis, Samoa, Sao Tome dan Principe, Serbia, Sri Lanka, Swaziland, Tajikistan, Tahta Suci Vatikan, Tanjung Verde, Togo, Tonga, Trinidad dan Tobago, Turkmenistan, Tuvalu, Uganda, Ukraina, Uruguay, Uzbekiztan, Vanuatu, Zambia, dan Zimbabwe.
Kemudian, ada Afrika Selatan, Aljazair, Amerika Serikat, Angola, Argentina, Austria, Azerbaijan, Bahrain, Belanda, Belarusia, Belgia, Bulgaria, Ceko, Denmark, Dominika, Estonia, Fiji, Finlandia, Ghana, Hongaria, India, Inggris, Irlandia, Islandia, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Kazakhstan, Kirgistan, Kroasia, Korea Selatan, Kuwait, Latvia, Lebanon, Liechtenstein, Lituania, Luksemburg, Maladewa, Malta, Meksiko, Mesir, Monako, Norwegia, Oman, Panama, Papua Niugini, Perancis, Polandia, Portugal, Qatar, Republik Rakyat China, Romania, Rusia, San Marino, Arab Saudi, Selandia Baru, Seychelles, Siprus, Slowakia, Slovenia, Spanyol, Suriname, Swedia, Swiss, Taiwan, Tanzania, Timor Leste, Tunisia, Turki, Uni Emirat Arab, Vatikan, Venezuela, Jordania, dan Yunani.
Menggunakan Visa on arrival ini, tidak tanggung-tanggung warga negara asing bisa masuk dengan mudah ke semua bandara besar dan pelabuhan utama di berbagai kota Indonesia. Sayangnya, dengan kebijakan Visa on arrival juga memiliki resiko salah satunya terkait dengan keamanan negara.
Saat suatu negara membiarkan masukknya orang tidak dikenal tanpa adanya pengecekan kredensial mereka berupa dokumen-dokumen penting yang diperlukan, maka akan membawa risiko tersendiri. Sebaliknya pada prosedur Visa konvensional, calon pelancong yang akan masuk ke suatu negara dapat “difilter” terlebih dahulu di negara asal mereka sebelum berangkat. Apalagi saat ini isu teroris, penyelundupan narkotika dan perdagangan manusia kian meningkat. Dalam prosedur konvensional ini, pihak Kedutaan Besar akan mengecek secara detail identitas dokumen para pemohon Visa. Negara-negara yang terkenal ketat dalam urusan pemberian Visa seperti Amerika Serikat, Inggris dan Australia.