Ketrersediaan nursery room sudah menjadi standar di setiap bandara, terlebih pada bandara bertaraf internasional, hadirnya nursery room menjadi perhatian tersendiri oleh pengelola bandara, karena secara langsung terkait pada image pengelolaan bandara itu sendiri. Namun, tahukah Anda, bandara internasional mana saja yang dianggap telah menyediakan nursery room terbaik?
Kali ini, KabarPenumpang.com merangkum dari bravotv.com, setidaknya ada tujuh bandara internasional yang dianggap paling ramah dan terdepan dalam penyediaan ruang perawatan untuk ibu dan anak atau ruang laktasi. Berikut ketujuh bandara tersebut.
Baca juga: Apa Kabar Fasilitas “Khusus” Bagi Penumpang?1. Bandara Internasional San Francisco
Di SFO, meyediakan tempat untuk ibu menyusui dengan ruangan pribadi yang bersih untuk melakukan segala perawatan bayi atau hanya untuk memompa ASI bila sang buah hati tak dibawa. Tak hanya itu, di SFO juga menyediakan toilet khusus keluarga di setiap terminal. Ada juga kamar-kamar pribadi yang bisa di buka melalui petugas keamanan.
2. Bandara Internasional Hong Kong
HKIA sendiri bukan hanya menawarkan dua atau tiga ruang untuk perawat ibu dan anak melainkan ada 31 ruang perawatan dan tersebar di seluruh bandara. Di dalam ruangan tersebut dilengkapi fitur yang memudahkan seorang ibu untuk merawat dan memberi makan atau menyusui bayinya.
3. Seattle Tacoma Airport
Terminal Pusat dan gerbang A ada ruang bermain untuk anak, selain itu ada kursi goyang, pencahayaan yang dibuat pun disesuaikan. Ini bisa menjadi tempat yang sempurna untuk ibu menyusui dengan sedikit ruang untuk menyusui sang anak atau hanya memompa ASI mereka. Ada juga ruang khusus di Terminal Pusat dan dua ruang mnyusui yang baru ditambahkan. Masing-masing ruang ini dilengkapi dengan outlet listrik bila menggunakan pompa listrik.
Seattle Tacoma Airport4. Amsterdam Schiphol Airport
Ibu menyusui pada bandara ini tak hanya bisa memberi makan dan mengganti baik popok atau baju bayi tetapi juga bisa memandikannya. Selain itu juga ada tujuh kabin yang tersedia untuk orang tua yang lengkap dengan tempat tidur.
5. Bandara Internasional Minneapolis St. Paul
Ada dua pusat laktasi di bandara MSP yakni Terminal 1 dan dekat gerbang F2 setra gebang C13 dilengkapi dengan wastafel, gorden, penerangan dan tempat yang nyaman untuk duduk sambil membersihkan pompa. Sebelum masuk dan menggunakan ruang ini, harus menuju ruang informasi atau menghubungi petugas untuk memudahkan aksesnya. Terminal 1 MSP juga ada pust keluarga yang bisa digunakan ibu untuk menyusui bayi atau memompa ASI. Di tempat tersebut ada kursi goyang, tempat tidur bayi, tempat duduk yang nyaman hingga kamar mandi. Tak lupa juga di setiap terminal bandara MSP dilengkapi dengan area bermain anak.
St. Paul Minneapolis International Airport6. Bandara Changi Singapura
Ruang baby care di bandara ini mendapatkan beberapa fasilitas yakni tempat duduk yang nyaman dan juga bisa mengakses air panas yang berguna untuk membersihkan atau menghangatkan makanan. Bandara ini memiliki banyak ruang perawatan, sehingga seorang ibu yang membawa bayi bisa mudah menemukan dan menggunakannya.
Baca juga: Adopsi Airport City, Tujuh Bandara Ini disebut Sebagai Ternyaman di Dunia7. Bandara Zurich
Untuk penumpang yang membawa anak-anak mereka, tidak perlu khawatir bila berada di bandara ini, sebab ada ruang bermain yang dilengkapi dengan berbagai peralatan elektronik seperti PlayStation, komputer atau area kerajinan. Tapi untuk seorang ibu yang membawa bayi juga tak perlu khawatir, sebab bandara Zurich memberikan ruangan yang dilengkapi dengan dapur yang bisa digunakan untuk menghangatkan makanan atau menyajikan makanan untuk anak-anak mereka. Dalam ruang ini juga dilengkapi dengan tempat duduk anak yang memudahkan si ibu memberi makan anak.
Zurich Airport
Hari Senin lalu (14/8/2017), KabarPenumpang.com berkesempatan secara khusus mengunjungi salah satu lokasi yang nantinya akan dijadikan stasiun Mass Rapid Transit (MRT). Stasiun ini dianggap oleh PT MRT Jakarta (PT MRTJ) sebagai stasiun dengan progress paling maju dibandingkan dengan stasiun lainnya. Stasiun yang berada di daerah Jakarta Selatan ini seakan menjadi garda terdepan karena letaknya yang berada di perbatasan stasiun layang dan stasiun bawah tanah, jadi dari stasiun ini bisa terlihat jalur kereta yang mulai menanjak. Ya, inilah Stasiun Senayan!
Baca Juga: Lintasi Tol JORR, Inilah “Special Bridge,” Jembatan Unik di Jalur MRT Fatmawati
Di awal perjalanan, rombongan kami bertolak dari Lebak Bulus, kemudian menyusuri jalur layang MRT di kawasan Fatmawati dan Panglima Polim yang tengah dalam pembangunan. Setibanya di Stasiun Senayan, kami diwajibkan mengenakan rompi serta helm keselamatan guna mencegah benturan langsung terhadap kepala jika selama di dalam terowongan ada benda yang jatuh. Jantung mulai berdegup kencang manakala kami menuruni tangga sementara yang terbuat dari besi, terpaan angin sedikit saja langsung membuat tangga tersebut goyang. Kurang lebih sekitar 20 meter kami menuruni tangga berkelok tersebut.
Sesampainya di dasar terowongan, kami disambut oleh lantai-lantai yang ditutupi oleh papan triplek. “Supaya tidak merusak ubin,” ungkap Dirut PT MRTJ, William P. Sabandar yang pada kesempatan itu ikut terjun langsung ke lapangan guuna memantau perkembangan proyek tersebut. Bentuk stasiun sendiri sudah mulai terlihat, walaupun masih berantakan karena memang stasiun ini masih dalam pembangunan.
Kondisi pengerjaan toilet di Stasiun Senayan.
Pada lantai atas di stasiun bawah tanah ini akan dikhususkan untuk pembelian tiket dan kelengkapan stasiun lainnya, seperti toilet wanita dan pria, toilet khusus penyandang disabilitas, hingga ruang menyusui. Dari hasil pantauan, toilet sudah siap pakai, terlihat dari interiornya yang sudah terpasang sepenuhnya.
Baca Juga: Antara Viaduct, MRT dan Pergeseran Makna
Karena waktu kunjungan masih siang, jadi tidak ada lampu stasiun yang menyala, hanya bermodalkan lampu konstruksi. Beralih ke lantai bawah, di sinilah yang nanti akan digunakan sebagai peron. Dengan dua jalur MRT di sisi kiri dan kanan, kelak di titik ini setiap penumpang akan menunggu giliran untuk naik kereta tersebut.
Empat terowongan berbentuk setengah lingkaran raksasa dapat di lihat di setiap ujung peron. Dua terowongan yang mengarah ke arah Patung Pemuda terlihat menanjak dengan sudut kemiringan yang landai. Dari sinilah lajur menanjak kereta MRT dimulai hingga nanti jalurnya berada di atas sebuah jembatan khusus yang hingga kini masih dalam tahap pembangunan. Walaupun rel masih belum dipasang, namun diantara sekian banyak stasiun yang tengah dibangun, hanya di stasiun Senayanlah kita dapat melihat gambaran masa depan stasiun MRT.
Asian Games akan diselenggarakan tahun 2018 mendatang dan Indonesia sebagai tuan rumahnya. Sebagai tuan rumah, Indonesia memilih Palembang dan Jakarta untuk menjadi tempat perhelatan akbar Asian Games ke XVIII tersebut. Selain Jakarta yang berbenah, Palembang sebagai pusat acara benar-benar merapikan dirinya.
Baca juga: Kejar Asian Games 2018, Proyek Palembang LRT Telah Mencapai 40 Persen
Memiliki ikon sungai Musi dan jembatan Ampera, kota yang terkenal dengan pempeknya, tidak sama sekali mengganggu gugat keberadaan jembatan Ampera, melainkan menambah jembatan lain untuk memperlancar arus kendaraan. Jembatan tersebut yakni jembatan Musi IV dan VI untuk membantu menopang beban berat yang ditanggung jembatan Ampera saat ini dengan terus bertambahnya kendaraan.
Tapi tahukah Anda bagaimana jembatan Ampera bisa menjadi ikon kota Palembang? KabarPenumpang.com merangkum, bahwa jembatan ini hadir ditengah kota palembang untuk menyatukan Seberang Ulu dan Seberang Ilir yang dipisahkan oleh sungai Musi. Dulu pada masa penjajahan Belanda, jembatan ini pernah terpikirkan, namun hingga Belanda hengkang dari Indonesia proyek pembangunannya tak pernah terealisasi.
Kemudian, pada masa kemerdekaan, gagasan pembangunan jembatan ini kembali hadir, DPRD Peralihan Kota Besar Palembang kembali mengusulkan pembangunan jembatan yang akan disebut jembatan Musi karena melintasi sungai Musi. Usulan ini bisa dikatakan sangat nekat karena anggaran yang ada di Palembang awalnya hanya Rp30 ribu. Tahun 1957, dibentuk panitia pembangunan jembatan ini yang terdiri atas Penguasa Perang Komando Daerah Militer IV/Sriwijaya, Harun Sohar, dan Gubernur Sumatera Selatan, HA Bastari. Pendampingnya, Walikota Palembang, M Ali Amin, dan Indra Caya.
Tim ini awalnya dibentuk untuk mendekatkan diri dengan Presiden Soekarno untuk mendukung rencana pembangunan jembatan. Pendekatan tersebut berhasil, bung Karno kemudian menyetujui usulan pembangunan itu. Jembatan ini rencananya dibangun dengan masing-masing kakinya di kawasan 7 Ulu dan 16 Ilir yang berarti ada di pusat kota.
Untuk pembangunan ini, Bung Karno mengajukan syarat yakni penempatan boulevard atau taman terbuka di kedua ujung jembatan dan tanda tangan kontrak dilakukan pada 14 Desember 1961 degan biaya US$4.500.000 (saat itu kurs US$ 1 = Rp200). Pembangunan dimulai tahun 1962 dengan biaya menggunakan dari dana pampasan perang Jepang dan tenaga ahli untuk pembangunan jembatan ini pun dari Jepang.
Sebelum bernama jembatan Ampera dulunya bernama jembatan Bung Karno, nama ini diberikan sebagai penghargaan karena Bung Karno benar-benar memperjuangkan keinginan warga Palembang memiliki jembatan di atas sungai Musi. Pada tahun 1965, jembatan ini menjadi yang terpanjang di Asia Tenggara dan terjadi pergolakan politik tahun 1966 den mengubah nama jembatan ini menjadi Ampera yang artinya Amanat Penderitaan Rakyat.
Dulu saat pertama kali beroperasi, bagian tengah, belakang dan depan jembatan ini bisa diangkat keatas agar tiang kapal yang melewatinya tidak tersangkut badan jembatan. Kecepatan pengangkatan jembatan ini sekitar 10 meter per menit dengan total waktu pengangkatan jembatan secara penuh selama 30 menit. Untuk mengangkat bagian tengah jembatan ini, ada dua bandul pemberat dengan masing-masing 500 ton di dua menaranya. Sayangnya sejak tahun 1970, aktivitas menaikkan dan menurunkan jembatan ini sudah tidak dilakukan lagi.
Baca juga: Jelang ASIAN Games 2018, Palembang Datangkan LRT Produksi PT INKA
Alasan tidak dilakukannya pengangkatan karena mengganggu aktivitas arus lau lintas di atas jembatan. Tahun 1990, kedua bandul pemberat di menara di turunkan untuk menghindari jatuhnya kedua beban ini. Diketahui, jembatan Ampera pernah direnovasi pada tahun 1981 dan menghabiskan biaya Rp 850 juta. Renovasi dilakukan setelah muncul kekhawatiran akan ancaman kerusakan Jembatan Ampera bisa membuatnya ambruk. Warna jembatan pun sudah mengalami 3 kali perubahan dari awal berdiri berwarna abu-abu terus tahun 1992 di ganti kuning dan terakhir di tahun 2002 menjadi merah sampai sekarang.
Aktifitas apa yang paling menyita waktu Anda di Ibu Kota? Meeting bersama klien untuk mengurus sebuah proyek besar? Atau menghadiri sebuah seminar yang membosankan? Mungkin dua aktifitas tadi cukup menyita waktu Anda yang berharga, tapi yang lebih menyebalkan adalah terjebak macet. Ya, seperti sudah menjadi “makanan” setiap hari bagi warga Jakarta untuk menikmati kemacetan yang tersaji.
Baca Juga: Sebagai Kota Termacet di Dunia, DKI Jakarta Raih Posisi Ketiga!
Pagi, siang, sore, bahkan hingga malam hari kota ini selalu dihiasi oleh kilauan lampu kendaraan di jalanan. Langkah pemerintah daerah untuk menghadirkan moda berbasis massal seperti TransJakarta dan Commuter Line nampaknya belum cukup ampuh untuk mengurai kemacetan yang ada. Untuk kasus seperti TransJakarta yang memiliki jalurnya sendiri, ini malah disalahgunakan oleh banyak oknum yang nekat menerobos busway agar terhindar dari macet. Alhasil, jalur khusus TransJakarta pun jadi ikut macet karena banyaknya pelanggar tadi.
Beragam inisiatif untuk mengentaskan masalah ini sudah dicoba, namun belum ada yang benar-benar cocok. Inilah yang menjadi salah satu faktor pendukung PT MRT Jakarta (MRTJ) dalam menawarkan solusi untuk masalah pelik ini. Banyak pihak yang beranggapan bahwa kehadiran MRTJ dapat menjadi jalan keluar untuk problematika semacam ini, dengan berkaca pada negara tetangga, Singapura yang berhasil menerapkan sistem transportasi serupa dan berhasil untuk mengatasi kemacetan yang terjadi.
Setelah sebelumnya KabarPenumpang.com sudah membahas tentang Jakarta yang dinobatkan menjadi kota termacet ketiga di dunia, maka tidak lengkap rasanya jika tidak membahas tingkat kemacetan yang ada di dalam negeri. Seperti yang tertera di situs inrix.com dalam INRIX Global Traffic Scorecard, Jakarta menempati posisi pertama kota termacet di Indonesia. Oleh lembaga riset tersebut, disebutkan rata-rata ada 55 menit waktu warga Jakarta yang terbuang jika sudah terjebak macet di Ibu Kota.
Posisi kedua dipegang oleh Kota Kembang, Bandung. Tidak heran jika kota berjuluk Paris van Java ini meraih “medali perak” dalam deretan kota termacet di Indonesia, karena kota ini menjadi tujuan utama para pelancong jika akhir pekan mulai tiba. Musim libur juga menjadi waktu-waktu krusial bagi Bandung, karena secara otomatis, jalanan di sana akan dipenuhi oleh plat nomor selain D. Menurut INRIX, disebutkan rara-rata ada 42,7 menit waktu warga Bandung yang terbuang akiba kemacetan.
Baca Juga: Kendalikan Pikiran Anda, Cara Ampuh Atasi Dampak Stress dari Kemacetan
Dilanjutkan oleh Malang yang berada di posisi ketiga dengan waktu ekstra 39,3 menit jika terjebak macet. Tidak heran jika warga di sekitaran Malang berdatangan ke Kota Apel ini karena udaranya yang relatif lebih dingin. Lalu ada Yogyakarta yang bertengger di posisi empat dengan durasi tambahan 39,2 menit jika tengah terjebak macet. Dibuntuti oleh Medan (36,7 menit), Surabaya (32,3 menit), Semarang (32,1 menit), dan Denpasar (26,1 menit) di deretan selanjutnya.
Secara mengejutkan Bogor yang terkenal dengan macetnya ada di posisi kesembilan daftar kota termacet di Indonesia versi inrix.com tahun 2016, dengan durasi ekstra perjalanan 19 menit. Padahal, dibenak banyak orang sudah terpatri bahwa kota Bogor terkenal dengan angkotnya yang sering ngetem sembarang dan akhirnya membuat macet. Peran setiap orang untuk mulai membatasi penggunaan kendaraan pribadi sangatlah berpengaruh terhadap penurunan angka kemacetan yang terjadi di setiap daerah.
Seperti keluar dari zona nyaman, salah satu raksasa teknologi multinasional asal Negeri Paman Sam, Apple diketahui kini tengah berusaha untuk menciptakan sebuah bus antar jemput otonom. Sebelumnya, Apple juga pernah mencoba untuk merangkai mobil otonom, namun entah kenapa perusahaan tersebut malah beralih untuk lebih fokus terhadap pengadaan bus antar jemput otonom. Nantinya, bus ini akan digunakan untuk “mengangkut” karyawan dari lingkungan kampus Apple yang sekarang menuju kampus yang baru.
Baca Juga: Waymo Pastikan Penumpang Mobil Otonom Aman Dengan Teknologi Ini
Dilansir KabarPenumpang.com dari laman theverge.com (22/8/2017), dari segi moda, pembuatan bus antar jemput otonom bernama Palo Alto to Intinite Loop atau yang lebih dikenal dengan singkatan PAIL ini, dipercayakan kepada sebuah bengkel khusus van untuk merakitnya. Apple sendiri sudah mengantongi izin untuk melakukan uji coba terhadap moda otonom tersebut, dan beberapa mobil Lexus dengan menggunakan perangkat lunak yang mereka ciptakan khusus.
Bisa dibilang proyek PAIL ini sangat jauh dengan ambisi awal Project Titan (nama proyek mobil otonom Apple), dimana mobil tersebut akan menggunakan roda bulat untuk mengganti fungsi ban, sehingga mobil otonom tersebut bisa bergerak secara lateral. Seperti yang kita ketahui bersama, Google juga tengah berjibaku dengan pengadaan mobil otonom yang dilabeli Waymo. Belakangan diketahui, Waymo telah menjalankan serangkaian uji coba guna menyempurnakan moda futuristik tersebut.
Dalam hal pengadaan autonomous shuttle bus ini, bukan berarti Apple tidak menemukan perbedaan pendapat yang akhirnya bisa memperlambat perkembangan kendaraan pengangkut karyawan ini. Diketahui, terjadi beberapa perdebatan internal di pihak Apple yang merujuk pada pilihan penggunaan program untuk Car OS.
Baca Juga: “Jemput Bola,” Google Edukasi Warga Sheffield Dengan Bus Pintar
Kembali, salah satu hipotesa vokal pihak Apple dalam pengadaan autonomous shuttle bus ini adalah untuk menekan angka kecelakaan yang disebabkan oleh human error. Tidak sedikit kecelakaan lalu lintas yang diakibatkan oleh kesalahan pengemudi selama berkendara. Kejadian seperti mengantuk merupakan alasan yang paling sering dilontarkan pengemudi yang mengalami kecelakaan saat berkendara. Berada di bawah pengaruh minuman beralkohol juga kerap kali ditemukan pihak kepolisian yang menyelidiki sebuah kecelakaan lalu lintas.
Melihat hal seperti ini, tidak sedikit dari warga Indonesia yang mungkin bertanya-tanya bilamana kendaraan otonom akan beroperasi di sini? Masih banyak yang harus dibenahi oleh otoritas yang berwenang jika ingin menghadirkan mobil tanpa awak, seperti penyediaan jalur khusus yang tidak mungkin diinterupsi oleh kendaraan lain, hingga sistem komunikasi yang hendak digunakan untuk menghubungkan pusat kontrol dan kendaraan itu sendiri.
Topan Hato kini sedang melanda daratan Hong Kong dan membuat banyak pesawat tak bisa lepas landas ataupun mendarat. Tepatnya pada hari Rabu (23/8/2017) kemarin, kecepatan angin mencapai 113 km per jam. Tak hanya itu, pihak bandara juga melihat adanya penurunan hingga 65 persen dalam penerbangan harian akibat dampak Topan Hato.
Baca juga: Tolak Tilang, Serikat Pekerja Hong Kong Angkat Bicara
Dampak Topan Hato terbilang parah dan menimbulkan malapetaka di bandara, persisnya hanya penerbangan dari Amsterdam, Belanda yakni maskapai KLM yang bisa mendarat di Hong Kong pada Rabu pagi pukul 10.33 di Bandara Internasional Hong Kong (HKIA). Padahal saat itu kecepatan angin antara 80 km per jam dan 113 km per jam sempat menerjang pesawat KLM 887 tersebut.
Dilansir KabarPenumpang.com dari scmp.com (23/8/2017), sebenarnya ada penerbangan Ethiopian Airlines dari Addis Abba dengan nomor penerbangan 672 yang akan mendarat di HKIA, tetapi dibatalkan karena masalah Topan Hato tersebut dan dialihkan ke bandara di daratan Cina.
Diketahui, karena masalah ini, setidaknya ada 400 penerbangan yang dibatalkan. Observatorium mengeluarkan sinyal badai nomor 10 yang artinya Topan Hato masuk kategori tertinggi. “Keepatan angin ini cukup kuat. Setiap penerbangan sangat bergantung pada sudut di landasan pacu, maka penerbang akan berada dalam batas pendaratan yang berlebih,” ujar pilot lokal yang berpengalaman dari maskapai Cathay Pacific tentang kondisi cuaca di bandara.
Gangguan ini juga diperparah karena pada puncak musim panas dan banyak penumpang yang berjuang untuk mencari kursi di penerbangan alternatif. Dari ribuan wisatawan yang terkena dampak cuaca ini, banyak yang membatalkan perjalanan ke luar negeri karena topan yang bisa dikatakan terkuat selama lima tahun terakhir ini.
Hong Thai Travel, satu agen perjalanan besar di Hong Kong, membatakan sembilan dari 13 turnya pada Rabu. Menurut Direkturnya, Jason Wong Chun-tat, sekitar 550 orang terdampak. Sunflower travel juga menunda dan membatalkan sepuluh tur ke Jepang, Thailand, Taiwan da Cina daratan dan membuat 360 wisatawan terdampak.
Kondisi cuaca di bandara Hong Kong umumnya dianggap menantang karena windshear tingkat rendah, yang berarti perubahan arah angin atau kecepatan yang jelas mempengaruhi pendaratan atau lepas landas.
Baca juga: Mau Wisata Ke Makau? Kini AirAsia Tawarkan Penerbangan Langsung dari Jakarta
HK Express dan Singapore Airlines keduanya berhasil mendapatkan penerbangan dari bandara Hong Kong sebelum jam delapan pagi. Pada pukul 11.00, sekitar 450 penerbangan ke dan dari Hong Kong dibatalkan. Juru bicara Otoritas Bandara, menambahkan bahwa pusat darurat HKIA diaktifkan untuk beralih ke mode pemulihan untuk mulai menjadwal ulang ratusan penerbangan yang dibatalkan dan tertunda di seluruh dunia.
Gelombang pertama penerbangan dalam perjalanan ke Hong Kong akan mulai berdatangan dari jam 3 sore dan seterusnya. Dua bandara di Cina Daratan juga menghadapi gangguan. Pada pukul 11.55, sekitar dua jam setelah Shenzhen mengeluarkan peringatan topan merah, 82 penerbangan telah dibatalkan dan lebih dari 170 tertunda di Bandara Internasional Bao’an.
Pada pukul 10.15, sebanyak 25 penerbangan tiba dan satu penerbangan berangkat di Bandara Internasional Guangzhou Baiyun telah dibatalkan, sementara dua penerbangan ke Beijing telah ditunda lebih dari dua jam. Di bandara Zhuhai, yang diperkirakan juga akan terkena Topan Hato, lebih dari 130 penerbangan telah dibatalkan. Tak jauh dari Hong Kong, di Makau sekitar 40 penerbangan dibatalkan, ditunda atau dijadwal ulang.
Bagi sebagian orang, membaca merupakan adalah aktifitas terbaik untuk menghabiskan waktu luang. Mulai dari novel, hingga majalah biasanya menjadi gear tambahan bagi si penggila baca. Kapan pun rasa bosan mulai menyerang mereka, bahan bacaan ini seakan siap untuk menghibur empunya, tidak terkecuali ketika si kutu buku tengah berada di dalam sebuah perjalanan jarak jauh yang menghabiskan waktu yang cukup lama.
Baca Juga: Ini Alasan Lampu Kabin Pesawat Dimatikan Saat Lepas Landas dan Mendarat
Kehadiran lampu baca di hampir semua moda transportasi memang sudah tidak asing lagi bagi kita. Mulai dari bus, kereta, hingga pesawat memilki fitur yang menempel di atas bangku penumpang ini. Posisinya yang langsung menyorot vertikal ini memungkinkan penumpang menghabiskan waktu perjalanan mereka dengan membaca gear tambahan tersebut. Letaknya yang biasanya bersebelahan dengan AC tersebut memudahkan penumpang kutu buku ini untuk menyalakan atau mematikan lampu baca kapanpun mereka butuhkan.
Tidak hanya lampu baca yang biasanya tersedia di moda transportasi tersebut, dewasa ini juga sudah banyak toko buku yang menjual lampu baca portable yang mudah dibawa kemana-mana. Untuk menyalakannya pun cukup menggunakan batu baterai atau menggunakan sistem penyimpanan energi (charge). Lampu baca portable ini bisa digolongkan sebagai sebuah inovasi yang dapat memudahkan setiap orang yang hendak membaca di tempat yang memiliki intensitas pencahayaan yang kurang.
Sumber: alibaba.com
Kembali ke soal lampu baca di moda trasportasi, pancaran sinar yang dihasilkan juga tidak terlau silau, sehingga tidak mengganggu penumpang lain yang berada di sebelah kita. Jika diperhatikan, ada dua macam warna yang biasanya dihasilkan oleh lampu baca ini, yaitu putih atau kuning. Lalu, diantara dua warna cerah ini, warna mana yang dianggap paling cocok untuk menemani si kutu buku membaca selama berada dalam perjalanan? Apakah diantara kedua warna tersebut ada yang bisa merusak mata lebih cepat? Ini jawabannya!
Seperti yang KabarPenumpang.com himpun dari laman aao.org, seorang dokter spesialis mata mengatakan bahwa tidak ada warna yang lebih baik diantara keduanya. Warna cahaya tidak seberapa penting dibandingkan dengan intensitas cahaya yang dihasilkan. Diketahui, kemampuan mata untuk mengakomodasi (fokus untuk aktifitas jarak dekat seperti membaca) setiap orang akan terus mengalami penurunan seiring bertambahnya usia.
Baca Juga: Meski Terlihat Bersih, Kursi dan Meja Lipat di Kabin Pesawat Dipenuhi Bakteri
Seperti yang diungkapkan oleh Dr. William Barry Lee, MD, FACS, seorang konsultan mata di Atlanta, penurunan kemampuan mata ini wajar terjadi pada semua orang, umumnya di dekade kelima kehidupan. “Kondisi penurunan kemampuan mata ini disebut presbyopia,” ungkap Dr. William. Ia juga mengatakan tidak ada cahaya yang lebih baik dari yang lain, baik putih maupun kuning. “Namun pencahayaan yang terang akan sangat membantu seseorang dalam membaca. Ini juga menjadi sebuah alasan mengapa orang yang mengidap presbyopia dapat membaca lebih baik di siang hari ketimbang malam hari,” tambahnya.
Jadi kesimpulan yang bisa ditarik adalah, pencahayaan yang cukup akan membantu setiap orang dalam membaca, terlepas dari kontroversi mengenai warna putih atau kuning. Namun patut digaris bawahi, gunakanlah lampu-lampu dengan warna cerah untuk membaca, seperti kuning atau putih, dan hindari warna-warna yang dapat membuat mata cepat lelah seperti hijau atau merah.
Pertumbuhan angka kendaraan di jalanan yang pesat secara kasar dapat dijadikan suatu tolak ukur bahwa negara tersebut termasuk salah satu yang berkembang. Walaupun jika ditelisik lebih jauh, tolak ukur tersebut tidaklah melulu benar, melihat banyaknya anomali yang mencuat ke permukaan, seperti murahnya harga cicilan kendaraan hingga buruknya sistem transportasi umum massal. Sudah barang tentu ini merupakan sebuah ironi bagi negara-negara yang dimaksud, salah satunya adalah Indonesia.
Baca Juga: Kendalikan Pikiran Anda, Cara Ampuh Atasi Dampak Stress dari Kemacetan
Dari dalam negeri sendiri, sering kali kita jumpai tim marketing sebuah manufaktur kendaraan yang mengiming-imingi biaya cicilan murah terhadap suatu kendaraan yang sebenarnya akan memperparah kondisi jalanan saat ini. Jika dianalogikan seperti air yang diisi penuh ke dalam suatu gelas, saat ini Indonesia khususnya Jakarta sudah masuk ke dalam tahap membludaknya kendaraan pribadi di jalanan. Tidak bisa dipungkiri kemacetan seakan menjadi teman setia setiap pengendara. Tidak hanya ketika peak hours, kemacetan kini bahkan sudah merata di sepanjang hari.
Ini sudah menjadi PR setiap lapisan masyarakat untuk memperbaiki kondisi yang ada. Dengan beralih menggunakan sarana transportasi massal, maka itu sudah menjadi satu peran aktif untuk mengentaskan masalah kemacetan yang ada. Bayang-bayang jauh dari kata nyaman dalam menggunakan sarana transportasi massal memang akan terus membelit selama operator layanan tersebut tidak memperbaiki sistem yang sudah ada sebelumnya.
Tidak hanya di Jakarta, kemacetan yang merajalela juga banyak terjadi di luar sana. Inilah yang menjadi motor bagi perusahaan pengembang aplikasi asal Belanda, TomTom untuk membuat sebuah indeks yang menunjukkan tingginya angka kemacetan yang terjadi di berbagai belahan dunia. Dengan bermodalkan hampir 19 triliun data poin yang telah terakumulasi selama sembilan tahun, ini merupakan tahun keenam TomTom Traffic Index, sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman corporate.tomtom.com.
Sumber: tomtom.com
Dari hasil yang dirangkum TomTom mengenai 10 kota dengan tingkat kemacetan tertinggi di dunia tahun 2016 silam, secara mengejutkan Jakarta muncul di posisi ketiga dari deretan tersebut dengan persentase 58 persen. Berada di bawah Mexico City di peringkat pertama dengan 66 persen dan Bangkok di posisi kedua dengan persentase 61 persen, jelas ini bukanlah suatu prestasi yang dapat dibanggakan oleh Ibu Kota. Sebagai tambahan, indeks ini dirangkum TomTom dengan menyasar kota-kota dengan populasi di atas 800.000 penduduk. Di sini, Jakarta berhasil mengalahkan beberapa kota-kota besar di dunia, seperti Chongqing di Cina dengan 52 persen, Bucharest dengan 50 persen, Istanbul dengan 49 persen, Rio de Janeiro dengan 47 persen. dan Beijing dengan 46 persen.
Persentase tersebut merupakan indikator peningkatan waktu tempuh selama perjalanan. TomTom pun menyederhanakan perhitungan tersebut, dan menghasilkan angka 48 menit waktu ekstra yang harus ditempuh para pengendara ketika macet. Itu berarti para pengendara sudah menghabiskan sekitar 184 jam bermacet-macet ria selama satu tahun. Sungguh ironis!
Total 42.073 km jalan yang membentang di Ibu Kota ternyata tidak mampu mengurai kemacetan yang semakin mengular. Inilah yang menjadi fokus pemerintah setempat untuk mencari jalan keluar untuk permasalahan menahun ini. Sebelumnya, pemerintah setempat menghadirkan dua sarana transportasi berbasis massal yang diharapkan dapat mengurai kemacetan, yaitu TransJakarta dan Commuter Line Jabodetabek.
Baca Juga: Terjebak Macet? Yuk Lakukan Hal Berikut Ini Biar Tidak Stress!
Nampaknya Commuter Line mampu memberikan sedikit perubahan terhadap kondisi jalanan. Banyak orang dari daerah sub-urban beralih menggunakan kereta komuter ini ketimbang mereka harus menghadapi macet di jalanan. Namun tidak bagi TransJakarta, jalurnya yang langsung bersinggungan dengan jalan umum membuat pergerakan moda ini terhambat dengan banyaknya pelanggar yang menggunakan separator agar tidak kena macet.
Belakangan ini, warga Jakarta terpaksa harus “bersakit-sakit dahulu” karena adanya proses pengerjaan proyek Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta yang amat diharapkan oleh banyak orang sebagai titik terang untuk masalah kemacetan di kota dengan angka populasi sebesar 10.199.700 per tahun 2016 ini. Rencananya, MRT Jakarta akan mulai beroperasi pada tahun 2019 mendatang. Kita tunggu saja nanti, apakah benar kehadiran MRT Jakarta dapat membawa perubahan terhadap tingkat kemacetan di Ibu Kota, atau bahkan warga Ibu Kota masih tetap memilih menggunakan kendaraan pribadi?
Membludaknya peminat layanan kereta komuter KRL Jabodetabek membawa dampak tersendiri, terlebih pada jam sibuk, di stasiun-stasiun tak asing terlihat ratusan penumpang kereta saling beradu badan guna menerobos masuk ke dalam gerbong. Sementara disisi dalam kereta, ada begitu banyak penumpang yang akan keluar dari gerbong. Nah, yang terjadi mudah untuk ditebak, akibat saling dorong jatuh korban akibat kena siku dan terjebak diantara dua arus penumpang.
Baca juga: FeliCa, Gelang Ajaib Berbasis Chip Untuk Transaksi Komuter Jabodetabek
Seperti halnya moda transportasi massal lainnya, sudah ada pakem bahwa harus didahulukan penumpang yang akan turun, baru kemudian penumpang yang akan naik. Namun berangkat dari tekanan jumlah penumpang yang besar, plus budaya warga yang jauh dari tertib, pakem diatas kerap dilupakan, salah satunya yang terjadi di kereta KRL.
Berangkat dari fenomena diatas, pihak pengelola layanan, yakni PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) mengasah otak untuk menertibkan penumpang yang kerap tak sabar hingga bertabrakan di peron, solusinya adalah dengan membuat garis batas antre di peron stasiun yang dilengkapi dengan tanda panah untuk memandu arus penumpang, untuk saat ini baru diterapkan di Stasiun Juanda.
Warna garis batas antre ini hijau dengan tanda panah berwarna merah. Tapi untuk apa sih sebenarnya tanda panah dan garis batas antre ini? KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai sumber pemasangan garis batas antre berwarna hijau ditunjukkan agar pengguna jasa yang akan naik KRL bisa memberi kesempatan dan tidak menutupi jalur penumpang yang akan turun saat KRL tiba di stasiun.
Ruang untuk penumpang naik dibuat lebih kecil dengan posisinya berada di sisi kanan dan sisi kiri ruang untuk penumpang turun. Sedangkan untuk penumpang turun dibuat lebih besar dan posisinya berada di tengah. Vice President (VP) Communication PT KCJ Eva Chairunisa mengatakan, garis sengaja dibuat agar arus keluar masuk penumpang lebih teratur. “Jadi penumpang yang mau naik KRL antre pada batas tersebut sehingga orang yang mau turun flow-nya tidak terhalangi,” kata Eva, yang dikutip KabarPenumpang.com dari kompas.com (8/8/2017).
Adanya garis batas ini juga bisa memperkecil resiko bahaya penumpang terjatuh dan terdorong akibat berebut saat naik atau turun kereta. “Untuk saat ini masih diingatkan petugas. Ya kami harapkan untuk kenyamanan bersama penumpang dapat mengikuti ketentuan yang ada terkait batas antre. Mudah-mudahan bisa mengeduksi penumpang,” kata Eva.
Baca juga: Mei 2017, PT KCJ Tambah Portable Ramp di 74 Stasiun
Sebenarnya, garis batas antre ini sudah banyak digunakan di stasiun-stasiun negara lain, tetapi bagi Indonesia ini adalah hal baru. Kedepannya dalam satu hingga dua bulan semua stasiun yang melayani KRL akan dipasangi garis batas antre.
Pada awal kemunculannya di rentang tahun 2011 hingga 2012, Online Travel Agents (OTA) tidak sekonyong-konyong meraup keuntungan besar. Layaknya industri lain, mereka juga mengalami masa terseok-seok akibat jenis bisnis yang masih terbilang baru waktu itu. Walaupun kehadirannya terbukti memudahkan para pelancong untuk bepergian, tidak hanya di dalam negeri melainkan ke luar negeri.
Baca Juga: Intip Yuk 10 Tujuan Wisata Favorit Versi Pinterest!
OTA awalnya dipandang sebagai jalan pintas menuju peningkatan margin dan pertumbuhan keuntungan tanpa benar-benar menambah nilai bagi industri perjalanan dan pariwisata. Namun, dengan meningkatnya pemesanan online via media sosial dan teknologi mobile, OTA telah menetapkan diri sebagai tolak ukur bagaimana sebuah perusahaan perjalanan online dapat dan harus beroperasi di pasar perjalanan global saat ini.
Meskipun OTA telah mempertegas posisinya di industri perjalanan, banyak mitos yang masih berkecamuk mengenai fungsi hingga nilai yang mereka berikan kepada pelanggan di industri perjalanan modern ini. Beberapa mitos ini berasal dari kesalahpahaman sederhana tentang peran OTA di sektor e-commerce. Berikut, KabarPenumpang.com lansir beberapa mitos mengenai OTA versi dcsplus.net.OTA Kerap Kali Tidak Memperdulikan Tingkat Layanan Terhadap Pelanggan
Di awal kemunculannya, agen-agen perjalanan wisata online ini mungkin masih sedikit agak kaku dengan mekanisme yang berjalan, karena OTA ini seolah menjadi anak bungsu di industri pariwisata. Tapi semua itu sudah berubah seiring berjalannya waktu. Terbukti dengan penawaran layanan tingkat tinggi melalui aplikasi seluler, situs web yang responsif, kampanye melalui email, hingga platform di media sosial. OTA yang sekarang sudah banyak belajar dari masa lalu. Semakin melebarnya sayap mereka menjadi satu momen penting dimana ajang promosi bukanlah menjadi sebuah penghalang bagi mereka untuk terus mengembangkan bisnis ini.
Agen Perjalanan Konvensional Mulai Sekarat, OTA Akan Segera Menyusul
Sebenarnya, agen perjalanan konvensional telah melihat kebangkitan dari OTA dalam beberapa tahun terakhir. Memang, OTA menawarkan kemudahan dalam hal pemesanan tiket melancong, namun itu semua tidak menjadikan agen perjalanan konvensional semakin surut, karena masih banyak orang yang sedikit ragu untuk memesan tiket perjalanan via online. American Society of Travel Agents (ASTA) melaporkan lebih dari 30 persen pelancong menggunakan jasa agen perjalanan konvensional dalam kurun waktu 12 bulan terakhir terhitung sejak akhir tahun 2015. Menurut ASTA, OTA yang diketahui memiliki persentase hampir sama dengan agen perjalanan konvensional dinilai akan terus mengalami pertumbuhan dalam jangka waktu beberapa tahun mendatang.
OTA Tidak Dapat Mengakomodir Pengalaman Pemesanan Tiket Sesuai Kemauan Wisatawan
Mitos ini jelas terbantah dengan kemajuan jaman. Sebut saja proses geomapping yang canggih, kemampuan untuk melakukan pencarian kembali, serta alogaritma rekomendasi yang sebenarnya dapat memungkinkan para pelanggan untuk menyesuaikan pemesanan tiket para pelancong dengan spesifikasi yang bisa dibilang akurat. Selain itu, OTA juga memanfaatkan perkembangan di sektor komunikasi yang memungkinkan mereka untuk segera melaporkan kepada pengguna jasa jika terjadi kesalahan dan mengkonsultasikannya melalui pembicaraan one-on-one via telepon.
Baca Juga: Nah Ini! Trik Unik Buat Cari Tiket Pesawat MurahKesulitan Pihak OTA Untuk Memecahkan Masalah Kesalahan, Perubahan, atau Pembatalan Pemesanan
Hal ini masih terkait dengan poin sebelumnya, dimana OTA benar-benar memanfaatkan perkembangan telekomunikasi. Karena pada dasarnya layanan OTA tersedia 24/7, maka hampir tidak mungkin jika pihak OTA tidak melaporkan masalah tersebut. Justru dengan perkembangan jaman seperti sekarang ini akan mempercepat penyebaran informasi tersebut. Pencarian jalan keluar pun dapat dilakukan cukup melalui telepon atau media komunikasi lainnya. Dengan begitu, para pemesan dapat lebih tenang jika terjadi suatu hal yang tidak diharapkan.
OTA Adalah Tren Sesaat yang Akan Segera Memudar
Pemesanan global melalui agen perjalanan online telah berkembang pesat dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, dan para ahli di industri serupa memperkirakan kenaikan ini akan terus berlanjut hingga tahun 2020. Layaknya melakoni bisnis dengan pesaing yang kian hari kian menjamur, pihak OTA harus selalu melakukan inovasi agar namanya tetap eksis dan tidak terkubur para pesaingnya. Inovasi tersebut tentu bisa dilakukan dari banyak aspek, ambil contoh dari segi pemasaran, karena dari segi inilah biasanya para pebisnis di bidang perjalanan wisata menuangkan ide-ide kreatif mereka.