Tak Hanya Satu, Ada 4 Stasiun MRT Singapura yang Terkenal Angker
Dengan Embraer E190-E2, Scoot Buka Rute Baru ke Belitung dan Pontianak
Scoot, maskapai penerbangan bertarif rendah yang merupakan anak perusahaan Singapore Airlines (SIA), hari ini mengumumkan peluncuran rute baru ke Belitung dan Pontianak di Indonesia. Menggunakan pesawat Embraer E190-E2, penerbangan ini akan dimulai pada bulan Mei dan Juni 2026 secara berurutan, memberikan kemudahan akses yang lebih luas serta lebih banyak pilihan perjalanan bagi para wisatawan.
Belitung merupakan wilayah tropis yang indah dan tersembunyi di pesisir timur Sumatra, dan dikenal dengan formasi geologi yang unik, kaya akan keanekaragaman hayati, serta garis pantai yang masih alami. Pulau ini juga menjadi habitat bagi Tarsius Belitung, subspesies primata nokturnal yang hanya dapat ditemukan di pulau ini. Mulai 3 Mei 2026, Scoot akan memulai penerbangan ke Belitung dengan frekuensi dua kali seminggu.
Pontianak adalah ibu kota Kalimantan Barat yang terletak tepat di garis khatulistiwa dan memiliki Tugu Khatulistiwa, di mana pengunjung dapat berdiri di antara belahan dunia bagian utara dan selatan. Kota tepi sungai yang kaya akan budaya ini berada di sepanjang sungai terpanjang di Indonesia, yaitu Sungai Kapuas, dan juga dikenal sebagai surga kuliner dengan beragam hidangan khas lokal. Mulai 29 Juni 2026, Scoot akan mengoperasikan penerbangan ke Pontianak dengan frekuensi tiga kali seminggu.
Tarif kelas ekonomi sekali jalan dari Belitung mulai dari Rp540.000, dan dari Pontianak mulai dari Rp780.000, sudah termasuk pajak, menuju jaringan luas Scoot melalui Singapura. Pemesanan rute baru dapat dilakukan mulai hari ini melalui situs web, aplikasi mobile, dan secara bertahap melalui saluran lainnya.
Dengan diluncurkannya layanan ke Belitung dan Pontianak, jaringan Scoot akan bertambah menjadi 85 destinasi di 18 negara dan wilayah. Selain adanya destinasi baru, Scoot juga akan meningkatkan frekuensi penerbangan pada jaringannya untuk mendukung peningkatan permintaan perjalanan udara, khususnya selama periode libur sekolah yang akan datang.
2x Seminggu, Scoot Buka Penerbangan Langsung Singapura – Labuan Bajo
Seperti Tak Termakan Zaman, Jembatan Cirahong Tetap Kokoh Berdiri Sejak Tahun 1893
Jalur selatan kereta api sudah pasti memiliki sejuta panorama yang membuat penumpang kagum saat menikmati perjalanan. Selain melewati berbagai macam pemandangan, jalur selatan juga melewati bangunan yang memiliki nilai sejarah yang tinggi, bahkan masih digunakan hingga saat ini. Perawatan yang rutin tentu menjadi bukti bahwa bangunan paling tua pun masih tetap beroperasi meski usianya sudah lebih dari seabad lamanya.
Ya, jika pernah mendengar kata ‘Cirahong’ tentu yang terpintas adalah sebuah jembatan yang berada di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Sebuah jembatan kereta api legendaris ini berada di petak antara Stasiun Ciamis dengan Stasiun Manonjaya. Dari bentuk dan rangkanya saja, sudah jelas bahwa jembatan ini dibangun pada masa kolonial Belanda karena konstruksinya memiliki keunikan tersendiri.
Keunikan tersebut bisa terlihat dibagian bawah rel kereta api terdapat lorong yang bisa dilewati kendaraan bermotor dari arah Tasikmalaya maupun dari arah Ciamis. Banyak yang memanfaatkan area Jembatan Cirahong ini untuk para masyarakat sekadar beristirahat atau dijadikan tempat wisata kecil-kecilan karena terdapat warung camilan. Suasana semakin meriah saat kereta api melintas di jembatan dan pandangan masyarakat pun tertuju sembari mengabadikan dengan kamera ponsel.
Jembatan Cirahong bukan sekadar tumpukan besi tua. Jembatan ini adalah monumen hidup yang merekam kemajuan teknik sipil akhir abad ke-19 dan hingga kini masih menjadi urat nadi transportasi yang vital di Jawa Barat. Sebagaimana dicatat dalam berbagai arsip sejarah, jembatan ini merupakan satu-satunya jembatan susun atau geladak ganda (double deck) di Indonesia yang masih berfungsi aktif untuk dua jenis transportasi sekaligus.
Pembangunan Jembatan Cirahong dimulai pada tahun 1893 di bawah bendera pemerintah Hindia Belanda. Menurut penelitian R. Prasetyo (2022), pembangunan jembatan ini dipicu oleh dinamika ekonomi pasca-pemberlakuan Undang-Undang Agraria 1870. Kebijakan tersebut membuka keran bagi investor swasta untuk membuka perkebunan luas di Tatar Galuh, seperti perkebunan karet Bangkelung.
Untuk mengangkut hasil bumi yang melimpah menuju pelabuhan atau pusat kota, dibutuhkan infrastruktur distribusi yang cepat dan andal. Jembatan Cirahong pun hadir sebagai jawaban logistik untuk menghubungkan Distrik Ciamis dengan jalur ekonomi di wilayah sekitarnya.
Secara teknis, Jembatan Cirahong adalah sebuah keajaiban pada zamannya. Memiliki panjang mencapai 202 meter dan menjulang setinggi 66 meter di atas permukaan sungai, strukturnya didesain untuk menahan beban berat secara vertikal.
Salah satu fakta unik yang jarang diketahui adalah asal-usul materialnya. Sebagaimana ditulis dalam jurnal penelitian arkeologi Sangia, rangka jembatan ini menggunakan besi baja dengan konstruksi mirip anyaman yang didatangkan langsung dari Eropa. Penggunaan teknologi rangka baja ini memungkinkan jembatan tetap stabil meski melintasi jurang sungai yang dalam dan lebar.
Sejak pertama kali beroperasi pada tahun 1893, Jembatan Cirahong tidak pernah mengalami renovasi total atau perubahan desain struktural. Meskipun demikian, jembatan ini tetap mendapatkan perawatan rutin untuk menjaga keselamatannya. Perbaikan struktur baja guna mengatasi risiko korosi akibat cuaca dan usia. Kerja sama kolaboratif antara Dinas Pekerjaan Umum dan PT Kereta Api Indonesia (KAI) terus dilakukan untuk memastikan warisan sejarah ini tetap kokoh berdiri.
Cirahong, Jembatan Double Deck Satu-Satunya di Indonesia
59 Tahun Boeing 737: Mengenang Penerbangan Perdana Sang Legenda Langit yang Tak Tergantikan
Tepat hari ini, 9 April 2026, dunia penerbangan memperingati 59 tahun sejak sebuah pesawat kecil bermesin ganda lepas landas dari landasan pacu Boeing Field di Seattle, Amerika Serikat. Pada tanggal 9 April 1967, purwarupa pertama Boeing 737-100 dengan registrasi N7370 melakukan penerbangan perdana yang bersejarah.
Di bawah kendali pilot uji Brien Wygle dan co-pilot Lew Wallick, pesawat yang dijuluki “Baby Boeing” ini mengudara selama sekitar dua jam setengah. Keberhasilan penerbangan perdana di langit Washington tersebut menandai lahirnya keluarga pesawat jet komersial narrow body paling sukses dan paling banyak diproduksi sepanjang sejarah penerbangan sipil.
Sejarah pengembangan Boeing 737 bermula dari keinginan Boeing untuk mengisi celah pasar pesawat jet jarak pendek yang saat itu didominasi oleh kompetitor seperti BAC One-Eleven dan Douglas DC-9. Proyek ini resmi diluncurkan pada tahun 1964 dengan konsep awal yang sangat berani, yaitu menempatkan mesin langsung di bawah sayap untuk menghemat ruang kabin dan memudahkan perawatan di darat.
Keputusan desain ini terbukti revolusioner karena memungkinkan Boeing 737 memiliki badan pesawat (fuselage) yang lebih lebar—menggunakan penampang yang sama dengan Boeing 707—sehingga mampu menampung enam kursi sejajar (six-abreast seating), sebuah keunggulan kapasitas yang tidak dimiliki oleh para pesaingnya di kelas yang sama.
Evolusi Boeing 737 selama lebih dari lima dekade terbagi dalam beberapa generasi ikonik yang mengikuti perkembangan teknologi mesin dan avionik. Generasi pertama, yang dikenal sebagai Original (seri -100 dan -200), mendominasi akhir era 60-an hingga 70-an dengan mesin Pratt & Whitney JT8D yang ramping namun bising.
Hari ini 37 Tahun Lalu, Boeing 737-400 Terbang Perdana, Salah Satu Narrow Body Terpopuler di IndonesiaMemasuki dekade 80-an, Boeing meluncurkan generasi Classic (seri -300, -400, dan -500) yang menggunakan mesin CFM56 yang jauh lebih efisien dan ramah lingkungan. Perubahan fisik yang paling mencolok pada generasi ini adalah bentuk nacelle mesin yang tidak bulat sempurna atau “flat-bottomed” guna memberikan jarak aman (ground clearance) dengan permukaan landasan tanpa harus merombak struktur kaki pesawat secara total. Memasuki milenium baru, persaingan dengan Airbus A320 memicu lahirnya generasi Next Generation (NG) yang mencakup seri -600 hingga -900ER. Generasi ini membawa lompatan teknologi besar dengan sayap yang lebih luas, winglet untuk efisiensi bahan bakar, serta sistem kokpit digital yang sepenuhnya baru. Hingga akhirnya, evolusi berlanjut ke seri 737 MAX yang didesain untuk efisiensi maksimal di dekade 2010-an ke atas. Meskipun sempat menghadapi tantangan teknis yang berat dalam perjalanannya, keluarga Boeing 737 tetap membuktikan ketangguhannya sebagai pesawat komersial yang adaptif. Dari pesawat jarak pendek yang sederhana di tahun 1967, Boeing 737 telah bertransformasi menjadi platform yang juga digunakan dalam misi militer seperti pesawat intai maritim P-8 Poseidon dan pesawat peringatan dini E-7 Wedgetail, membuktikan bahwa desain dasarnya tetap relevan meski usia telah melampaui setengah abad.
LRT Jabodebek Catat 7,7 Juta Pengguna dalam Triwulan I Tahun 2026, Berikut Rincian Datanya
Naik signifikan, itulah yang dicatat oleh PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) sebagai pengguna LRT Jabodebek. Ini karena pasca libur Lebaran lalu telah melayani masyarakat di berbagai stasiun LRT yang mayoritas masyarakatnya adalah untuk akses menuju kawasan wisata. Tak hanya itu akses beberapa stasiun yang disinggahi LRT Jabodebek membuat masyarakat terbantu sebagai perjalanan yang praktis.
Keberadaan stasiun-stasiun LRT Jabodebek tentunya memperkuat ekosistem urban mobility yang terintegrasi, sekaligus mendorong masyarakat untuk beralih ke transportasi publik yang lebih efisien dan berkelanjutan. Selama triwulan I 2026 terdapat 5 stasiun paling favorit, yaitu Dukuh Atas, Harjamukti, Pancoran, Kuningan, dan Cikoko. Lima stasiun ini memiliki peran strategis dalam mendukung konektivitas kawasan.
Stasiun Dukuh Atas terkoneksi dengan moda transportasi KRL, KA Bandara, MRT Jakarta, serta Trans Jakarta. Begitu juga dengan Stasiun Cikoko yang memiliki integrasi dengan KRL serta TransJakarta, sehingga memudahkan perpindahan antarmoda secara efisien.
Stasiun Kuningan dan Pancoran berada di pusat aktivitas bisnis dan perkantoran Jakarta, menjadikannya simpul utama pergerakan masyarakat. Sementara itu, Stasiun Harjamukti menjadi akses penting bagi masyarakat dari wilayah penyangga menuju pusat kota.
Manager of Public Relations LRT Jabodebek, Radhitya Mardika menyampaikan bahwa peningkatan ini mengindikasikan adanya kecenderungan perubahan pola mobilitas masyarakat perkotaan, seiring meningkatnya penggunaan transportasi publik yang terintegrasi serta efisien.
LRT Jabodebek tentunya menjadi salah satu pilihan transportasi bagi masyarakat yang menawarkan ketepatan waktu, konektivitas dengan lokasi pusat aktivitas perkantoran, integrasi antarmoda, dan bebas dari kemacetan.
Dari sisi pola perjalanan, kata Mardika, rata-rata pada hari kerja (weekday) mencapai 113.898 pengguna per hari, meningkat 23.992 pengguna atau naik 27% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, rata-rata pengguna pada akhir pekan (weekend) mencapai 42.829 pengguna per hari, meningkat 6.875 pengguna atau 19%. Berikut rincian jumlah pengguna per bulan sepanjang triwulan I-2026:
– Januari: 2.714.594 pengguna
– Februari: 2.530.000 pengguna
– Maret: 2.510.352 pengguna
KAI pun berterima kasih atas kepercayaan pengguna LRT Jabodebek, dan menegaskan akan terus meningkatkan kualitas layanan serta mendukung pengembangan transportasi publik di Indonesia. LRT Jabodebek akan terus memperkuat perannya dalam mendukung mobilitas perkotaan melalui layanan andal, terintegrasi, dan berorientasi pada efisiensi waktu perjalanan.
Masih Belum Tau? Catat, Ini Stasiun Transit yang Dilintasi KRL Jabodetabek
Hampir Terlupakan, Inilah Alasan Terbengkalainya Stasiun Kalasan di Jalur Yogyakarta
Jalur kereta api di Pulau Jawa memang banyak sekali menyimpan sejarah yang kental. Tak heran banyak pula bangunan disekitar jalur kereta api yang menjadi cagar budaya karena kondisinya masih utuh bahkan masih digunakan. Bangunan peninggalan kolonial Belanda tentunya menjadi identitas atau ciri khas tersendiri saat melihatnya. Terlebih saat melihat di perjalanan kereta api.
Beberapa wilayah di Pulau Jawa tentu masih terlihat bangunan seperti stasiun kereta api . Walaupun sudah non aktif, namun keberadaannya menjadi saksi bisu peradaban jaman kolonial Belanda dulu. Seperti halnya stasiun yang ada di wilayah Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta. Ya, siapa yang tak kenal dengan Stasiun Kalasan.
Stasiun Kalasan berada di petak antara Stasiun Maguwo dengan Brambanan ini menjadi kenangan yang hampir terlupakan. Bagaimana tidak, padahal stasiun ini menjadi lokasi strategis bagi masyarakat yang ingin berkunjung ke destinasi wisata bersejarah, yaitu Candi Kalasan. Apalagi saat ini di jalur tersebut sudah tersedia layanan Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line.
Stasiun yang dibangun pada tahun 1929 – 1930 ini memiliki bangunan yang estetik dan kokoh. Namun sayangnya, sejak di nonaktifkan sejak tahun 2007, stasiun ini hanya terlihat kotor dan kumuh terutama di bagian dalamnya. Tapi saat aktif, Stasiun Kalasan juga dijadikan Belanda untuk tempat persilangan kereta Api Yogyakarta, Solo dan Semarang.
Karena digunakan sebagai tempat persilangan, Stasiun Kalasan sempat memiliki 4 jalur kereta api. Lambat laun, stasiun ini mengalami pengurangan jalur, sehingga hanya punya 3 jalur saja. Dan inilah yang menjadi awal mula terbengkalainya Stasiun Kalasan ini. Karena intensitas penumpang dan pengunjung yang sedikit, serta jaraknya tidak terlalu jauh dengan Stasiun Maguwo.
Stasiun Kalasan sendiri memiliki gaya arsitektur indis tanpa daun pintu di bagian depan, sehingga saya bisa melihat arah kedatangan kereta api dari luar. Sementara, di sebelah bangunannya terdapat gudang barang dengan pintu-pintu berwarna cokelat yang tertutup.
Suasana Stasiun Kalasan kini sepi dan tidak terawat. Aksi vandalisme pun terlihat dengan adanya coretan pada dinding bangunan peron. Serta beberapa tuna wisma yang menempati area dalam stasiun untuk beristirahat. Meski begitu, Stasiun Kalasan masih di jaga oleh warga sekitar agar bangunan dan lingkungannya tetap terjaga dengan baik.
Ini Dia Alasan Kenapa Singkatan Stasiun Solo Jebres Adalah “SK” Bukan “SJ”
Jembatan Kereta Api Yahya Abad di Iran Lumpuh Akibat Serangan Udara, Jalur Logistik Strategis Terputus
Lumpuhnya urat nadi transportasi kereta api di jantung Iran kini menjadi sorotan dunia. Jembatan Kereta Api Yahya Abad yang berlokasi di wilayah strategis Kashan, dilaporkan hancur berantakan setelah menjadi sasaran serangan udara yang diduga melibatkan kekuatan militer Amerika Serikat dan Israel. Serangan presisi ini tak hanya meruntuhkan struktur beton jembatan, tapi juga seketika memutus jalur logistik dan mobilitas penumpang yang menghubungkan ibu kota Teheran dengan wilayah selatan, menyisakan ribuan pelancong dalam ketidakpastian di tengah bara konflik Timur Tengah yang kian memanas.
Jembatan Yahya Abad bukan sekadar struktur penyeberangan biasa. Terletak di rute utama yang menghubungkan Teheran dengan kota-kota industri di selatan, jembatan ini memiliki peran krusial dalam mobilitas penumpang dan distribusi logistik nasional. Insiden ini memaksa otoritas perkeretaapian Iran untuk menghentikan operasional seluruh rangkaian kereta yang melintasi jalur Kashan, mengakibatkan ribuan penumpang terlantar dan rantai pasokan barang terganggu secara signifikan.
Era Baru Logistik Eurasia: Kereta Kargo Rusia-Iran Beroperasi Penuh Melalui Koridor INSTCJembatan Yahya Abad merupakan bagian dari warisan teknik perkeretaapian Iran yang memiliki nilai strategis tinggi. Berikut adalah profil singkat mengenai jembatan tersebut: Nama Struktur: Jembatan Kereta Api Yahya Abad (Yahya Abad Railway Bridge). Lokasi: Kabupaten Kashan, Provinsi Isfahan, Iran. Panjang Struktur: Jembatan ini memiliki panjang bentang sekitar 120 hingga 150 meter, yang dirancang untuk melintasi cekungan gurun dan aliran musiman di wilayah pinggiran Kashan. Tahun Pembangunan: Struktur yang ada saat ini merupakan bagian dari modernisasi jalur kereta api trans-Iran yang dilakukan secara masif pada periode 1980-an hingga awal 1990-an, guna meningkatkan kapasitas angkut beban berat pasca-perang. Fungsi Utama: Menjadi jalur utama bagi kereta api ekspres penumpang dan kereta barang yang membawa komoditas industri, bahan bakar, serta hasil tambang dari wilayah tengah menuju pelabuhan-pelabuhan di selatan. Hal yang menarik dari jembatan ini adalah desainnya yang menggunakan struktur beton bertulang dengan ballasted track yang sangat kokoh, dirancang untuk menahan suhu ekstrem gurun Kashan yang bisa mencapai lebih dari 45 derajat Celsius. Wilayah Kashan sendiri merupakan persimpangan transportasi di Iran; jika jalur ini terputus, maka rute alternatif harus memutar ratusan kilometer, yang secara otomatis meningkatkan biaya operasional dan waktu tempuh perjalanan kereta api secara drastis. Bagi para pengguna jasa transportasi kereta api di Iran, serangan terhadap Jembatan Yahya Abad adalah pukulan telak. Hingga saat ini, pihak berwenang masih melakukan penilaian kerusakan untuk menentukan apakah jembatan tersebut bisa diperbaiki dalam waktu dekat atau memerlukan pembangunan ulang total. Insiden ini menjadi pengingat pahit bahwa di tengah konflik geopolitik, infrastruktur transportasi yang melayani kepentingan publik sering kali menjadi korban pertama yang merasakan dampaknya.
Jembatan Tumangang – Jembatan Kereta Penghubung Antara Rusia dan Korea Utara
Pengguna LRT Jabodebek Meningkat, Masyarakat Memanfaatkan untuk Akses Wisata, Ini Datanya
Light Rapid Transit (LRT) Jabodebek semakin digemari masyarakat. Layanan tersebut telah menjadi aktivitas keseharian masyarakat baik dalam bekerja atau sekadar menikmati perjalanan bersama keluarga. Selain itu menggunakan LRT Jabodebek ternyata bisa digunakan akses wisata yang dapat dijangkau di berbagai stasiun terdekat.
Ya, diketahui bahwa perjalanan LRT Jabodebek ini telah membantu masyarakat meminimalisir kemacetan jalan raya yang semakin semerawut. Alasan menggunakan transportasi layang ini jelas untuk terhindar dari kemacetan atau kepadatan kendaraan jalan raya serta praktis dan menghemat waktu.
Sebagai bukti bahwa data yang di informasikan dari PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) mencatat jumlah pengguna LRT Jabodebek selama periode libur panjang dalam rangka memperingati Wafat Yesus Kristus dan Paskah pada 3 hingga 5 April 2026 sebanyak 270.696 pengguna LRT Jabodebek. Angka ini meningkat lebih dari 2 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun 2025 pada long weekend 18-20 April 2025, tercatat sebanyak 113.606 pengguna.
Pada masa libur panjang 18–20 April 2025, tercatat jumlah penumpang hanya berada di angka 113.606 orang. Stasiun Dukuh Atas tetap menjadi titik dengan volume pengguna tertinggi karena perannya sebagai simpul mobilitas pusat kota yang terhubung langsung dengan konektivitas antarmoda seperti KRL, KA Bandara, MRT, dan Transjakarta.
Lalu peningkatan volume yang signifikan juga terjadi di Stasiun TMII, yang mencatat sebanyak 13.627 pengguna selama masa long weekend. Paparan data ini sekaligus mengindikasikan tingginya minat masyarakat untuk berkunjung ke kawasan wisata Taman Mini Indonesia Indah. Apalagi akses dari Stasiun TMII disediakannya layanan shuttle gratis bagi masyarakat yang ingin berkunjung ke wisata tersebut.
Sementara itu, pergerakan masif masyarakat dari kawasan hunian menuju pusat aktivitas juga terpantau di Stasiun Cikoko, dengan volume 27.418 pengguna. Ini karena stasiun tersebut terintegerasi dengan layanan Stasiun Commuter Line Cawang dan Halte Trans Jakarta Cikoko yang mengakibatkan volume penumpang transit cukup banyak.
Lalu Stasiun Bekasi Barat turut mencatatkan angka kunjungan yang cukup tinggi, mencapai 23.337 pengguna. Akses di area Stasiun Bekasi Barat sangat berdekatan dengan pusat perbelanjaan terbesar di Bekasi serta akses pintu keluar tol Bekasi Barat dengan banyaknya layanan transportasi di sekitarnya. Ini yang menyebabkan tingginya volume penumpang di stasiun tersebut.
Manager of Public Relations LRT Jabodebek, Radhitya Mardika, menyampaikan bahwa tren ini mencerminkan perubahan pola mobilitas masyarakat yang semakin modern. Kemudahan akses ke berbagai destinasi wisata dan ruang publik menjadikan LRT sebagai solusi perjalanan yang praktis dan nyaman.
LRT Jabodebek pun terus berkomitmen untuk menghadirkan perjalanan yang tepat waktu serta terintegrasi dengan berbagai moda transportasi seperti KRL Commuter Line, KA Bandara, Kereta Cepat Whoosh, MRT Jakarta, hingga Trans Jakarta.
Catat, Begini Cara Temukan Barang Tertinggal-Hilang di Stasiun-Kereta LRT Jabodebek
