Nostalgia Boeing 747 Lion Air, Andalan Penerbangan Haji-Umroh yang Beralih Fungsi Jadi Restoran

0

Boeing 747 pernah menempati posisi penting di Indonesia, dalam hal ini terkait penerbangan haji umroh. Sang ratu langit selama beberapa tahun selalu jadi andalan maskapai pada penerbangan tersebut. Salah satunya oleh Lion Air.

Baca juga: Ikuti Jejak Garuda Indonesia, Lion Air Pensiunkan Boeing 747-400

Barisan armada Lion Air mulai dilengkapi Queen of the Skies pada 23 April 2009 silam. Selain mengoperasikan penerbangan haji umroh Jeddah dan Madinah, dua Boeing 747-400 bekas dengan nomor registrasi PK-LHF dan PK-LHG itu juga melayani penerbangan reguler ke rute-rute gemuk, seperti Soekarno-Hatta Tangerang, Medan Kualanamu, Batam, Surabaya, Denpasar dan Makassar.

Sebelum bergabung dengan Lion Air, Boeing 747-400 itu diketahui mulai beroperasi sejak tahun 1989 dengan Singapore Airlines masing-masing sebagai 9V-SMC dan 9V-SME. Keduanya terus berada di pangkuan maskapai nasional Singapura itu sampai tahun 2004. Namun, salah satunya, sempat dipinjamkan ke maskapai Air China pada 1994 selama tiga tahun, sebelum balik ke Singapore Airlines (SIA).

Dari data Planespotters.net, seperti dikutip dari Simple Flying, usai dilepas SIA, dua sejoli Boeing 747 itu sempat berpindah tangan ke berbagai maskapai, seperti Air Atlanta Icelandic, Iberia, maskapai Hong Kong Oasis, dan berakhir di Boeing Aircraft Holding Company pada tahun 2008.

Boeing 747-400 Lion Air dibongkar untuk dijadikan pesawat. Foto: Kumparan

Pada April 2009, Lion Air kedatangan pesawat tersebut dan diplot sebagai pesawat haji dan umroh, di samping rute-rute domestik. Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia memang jadi pasar potensial penerbangan haji umroh. Dengan kapasitas besar, mencapai 504 penumpang, terdiri dari 12 kursi kelas bisnis dan 492 kelas ekonomi, pesawat terbesar yang pernah dioperasikan Lion Air ini tentu jadi angin segar maskapai dalam mengeruk keuntungan.

Seiring berjalannya waktu Boeing 747-400 Lion Air dinilai terlalu usang untuk terus membersamai maskapai, baik untuk rute-rute regional maupun internasional. Selain itu, pesawat juga kurang efektif dalam kacamata strategi bisnis perusahaan.

Setelah sempat dipinjamkan ke Flynas Arab Saudi dan Nas Air, Lion Air akhirnya memutuskan pesawat itu pensiun pada akhir Maret 2019. Pesawat dipensiunkan usai kurang lebih 10 tahun dioperasikan maskapai.

Baca juga: Pensiun dari Dunia Aviasi, Boeing 747 Disulap Jadi Restoran Mewah

“Momentum terbaik ini sekaligus menegaskan bahwa Lion Air mengedepankan program revitalisasi atau peremajaan armada,” ujar Corporate Communications Strategic of Lion Air Danang Mandala Prihantoro dalam rilis resmi.

Sebagai penggantinya, Lion Air akan mengoperasikan pesawat widebody Airbus 330-900NEO yang dikenal lebih hemat bahan bakar dan memiliki jangkauan terbang lebih panjang. Nasib PK-LHF dan PK-LHG awalnya sempat tidak jelas pasca dipensiunkan. Namun, disebutkan, salah satu di antaranya, PK-LHF, bakal disulap menjadi sebuah restoran bertema penerbangan di daerah Bekasi, Jawa Barat.

Leave a Reply