Pelabuhan Oslo Targetkan Kurangi Emisi Karbon Hingga 85 Persen di 2030

Pelabuhan Oslo (grist.org)

Moda transportasi kini hampir semuanya berbenah untuk membantu mengurangi emisi karbon yang menyebabkan efek rumah kaca dan pemanasan global. Beberapa transportasi darat kini sudah mulai merambah penggunaan bahan bakar listrik untuk menjalankan bus ataupun moda transportasi lainnya.

Baca juga: Kurangi Emisi Karbon, Lufthansa Jual Tiket Penerbangan ‘Ramah Lingkungan’

Oslo yang merupakan ibukota Norwegia yang mulai berbenah diri tepatnya pada pelabuhan. Ini karena Pelabuhan Oslo sendiri menerima 50 sampai 70 panggilan dalam seminggu dan 12.500 kontainer dalam sebulan serta kapal-kapal dan peralatan pantai yang membantu menghasilkan 55 ribu metrik ton emisi karbon per tahun.

Nah, perbaikan diri tersebut dilakukan Oslo setelah masalah terakhir yakni 55 metrik ton emisi karbon. Nantinya pada 2030 mendatang, pelabuhan tersebut bertujuan mengurangi 85 persen emisi karbon dioksida, sulfur oksida, nitrogen oksida dan partikelnya.

Sebab mereka ingin menjadi pelabuhan pertama di dunia yang tanpa emisi. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman grist.org (9/11/2019), rencana aksi iklim ini meliputi pembenahan kembali kapal-kapal ferry, menerapkan proses kontrak rendah karbon dan lainnya.

“Ini sangat ambisius tetapi pada saat yang sama itulah yang diperlukan jika kita akan mencapai Perjanjian Paris,” kata Heidi Neilson, Kepala Lingkungan untuk pelabuhan Oslo.

Upaya ini juga merupakan bagian dari mandat kota untuk memangkas emisi keseluruhan sebesar 95 persen tahun 2030. Anggaran dan strategi iklim kota ini adalah penebusan untuk industri minyak yang menjadikan Norwegia negara yang sangat kaya.

“Untuk mencapai target, semua sektor harus mengurangi emisinya. Oleh karena itu, pelabuhan dan industri maritim di Oslo harus mendekarbonasikan dengan kecepatan yang sama dengan sektor-sektor lainnya (yaitu pasokan energi, pemanasan, konstruksi, limbah dan pembakaran, lalu lintas jalan),” kata Direktur Badan Iklim Oslo Heidi Sørensen.

Bahkan pada Agustus kemarin, pelabuhan sudah menandatangani kontrak dengan lembaga nirlaba Norwegia Bellona Foundation untuk bergerak cepat dalam mengurangi emisi. Menurut Organisasi Maritim Internasional AS, antara 80-90 persen perdagangan dunia diangkut melalui laut dengan minyak bahan bakar sulfur yang tinggi dan merupakan bahan bakar paling kotor yang ada.

Di Oslo ternyata kapal konteiner bukan satu-satunya masalah, sebab kapal ferry yang beroperasi ke Denmark dan Jerman juga bertanggung jawab atas hampir 40 persen emisi pelabuhan. Sedangkan ferry lokal hanya menyumbang 12 persen dan peralatan darat serta peralatan transportasi menyumbang 14 persen emisi.

Untuk mengurangi emisi ferry lokal, pelabuhan memberikan kontrak pada Norled yang ditugaskan untuk mengubah tiga ferry menjadi berbahan bakar listrik dari sepuluh kapal penumpang yang ada. Ketika tiga ferry ini dilengkapi dengan baterai, Norled memperkirakan emisi otoritas pelabuhan transit akan turun hingga 70 persen. Norled mengirimkan reparasi listrik pertama pada bulan September pekerjaan yang membutuhkan 150 pekerja total 25 ribu jam. MS Kongen sekarang memiliki setara dengan 20 baterai Tesla.

Tak hanya Oslo, sejumlah pelabuhan lain di seluruh dunia seperti Los Angeles dan Long Beach, Auckland, Spanyol Valencia, Guayaquil Ekuador dan Baku di Azerbaijan memiliki mimpi yang sama untuk netral karbon dan nol emisi. Oktober kemarin, Port of Los Angeles meluncurkan dua loader top baterai-listrik baru. Bahkan Rotterdam yang menjadi pelabuhan terbesar di Eropa menggunakan peralatan tanpa emisi.

Namun, mengurangi emisi maritim bukan hanya di lokal, tetapi semua pelabuhan harus ikut bergabung untuk mencapai hal tersebut. Bahkan jika pelabuhan di Oslofjord dan lintas wilayah dapat bersatu untuk melakukan hal yang sama, Oslo tidak akan kehilangan bisnis. Tetapi, jika menjadi nol-emisi berarti kehilangan pelanggan dalam jangka pendek, itu adalah harga yang harus dibayar oleh kota.

Baca juga: Peduli Lingkungan dan Manfaatkan Energi Terbarukan, Bandara Oslo Jadi Yang “Terhijau” di Dunia

“Saya pikir ini pesan yang kuat bahwa ini mungkin di sini, dan itu bukan hanya [mungkin] karena kami memiliki banyak dana. Ini adalah hal yang benar untuk dilakukan, dan ini adalah pengembangan yang tepat yang kita butuhkan di banyak kota pelabuhan di seluruh dunia,” kata Neilson.