Penumpang Internasional Masih Loyo di Asia-Pasifik, Lambannya Vaksinasi Jadi Penyebab

0
Bandara Internasional Changi Singapura (executivetraveller.com )

Penutupan perbatasan, pembatasan perjalanan, dan lockdown nasional di sejumlah negara di Asia-Pasifik terus menekan penerbangan internasional di kawasan. Terbaru, data dari Association of Asia-Pacific Airlines (AAPA) menunjukkan, jumlah penumpang internasional masih sebesar 3,6 persen dibanding periode yang sama tahun 2019.

Baca juga: Seakan Mati Suri, Akankah Era Perjalanan Backpacker Berakhir Karena Pandemi?

Sebetulnya, penumpang internasional pada April 2021 sudah jauh meningkat dibanding April 2020. Catatan AAPA, sepanjang April 2021, ada sekitar 1.126.000 penumpang internasional yang diangkut maskapai se-Asia-Pasifik. Jauh berbanding terbalik dari kondisi pada April 2020 yang hanya sebesar 367.000 penumpang internasional.

Kendati demikian, angka di kedua tahun tersebut masih jauh dibanding April 2019, di mana angkanya mencapai 31.185.000 penumpang.

Direktur Jenderal AAPA, Subhas Menon, mengungkapkan, ada beberapa faktor penyebab masih rendahnya jumlah penumpang internasional. Salah satunya ialah lambannya vaksinasi di negara-negara Asia-Pasifik.

“Munculnya varian (Covid-19) baru dengan tingkat penularan yang lebih tinggi telah menghalangi ekonomi Asia untuk membuka kembali perbatasan mereka, dengan persyaratan karantina yang ketat semakin menekan permintaan perjalanan internasional,” jelasnya.

“Di Asia, kecepatan vaksinasi yang relatif lambat terus merusak pemulihan ekonomi kawasan, khususnya, sektor perjalanan dan pariwisata yang sangat terpukul,” tambahnya, seperti dikutip dari Simple Flying.

Kehadiran travel corridor antar dua negara sempat meningkatkan asa perjalanan internasional, seperti antara Singapura-Hong Kong serta perjalanan tanpa karantina mandiri antara Selandia Baru-Australia. Kendati demikian, fakta di lapangan berkata lain. Permintaan tetap rendah sekalipun maskapai sudah bersiap kemungkinan lonjakan penumpang.

Menon menyebut, vaksinasi dan kolaborasi antar lembaga berwenang menjadi kunci keberhasilan penerbangan di sebuah negara dan kawasan untuk bisa bangkit. Lebih dari itu, ia menekankan, industri penerbangan harus tetap hidup dan mengambil hikmah dari pandemi Corona agar terus tumbuh dan semakin kuat.

“Mempercepat program vaksinasi akan menjadi kunci untuk membuka jalan bagi dimulainya kembali industri perjalanan. Namun, pemerintah masih menghadapi banyak tantangan, termasuk kendala pasokan dan masalah logistik,” ujarnya.

Baca juga: Terdampak Shutdown Nasional, Penumpang Delta Air Lines ‘Loloskan’ Senpi di Penerbangan Internasional

“Kolaborasi berbagai pemangku kepentingan seperti pemerintah, maskapai penerbangan, bandara dan penyedia layanan, serta penerapan langkah-langkah berbasis risiko yang selaras sesuai dengan pedoman ICAO dan WHO, akan diperlukan untuk memulai kembali perjalanan udara internasional secara cerdas, aman, dan berkelanjutan,” tuturnya.

Selain itu, ia juga menyoroti diwajibkannya paspor vaksinasi Covid-19 sebagai syarat perjalanan internasional. Hal itu dinilai merupakan bentuk diskriminasi terhadap penumpang yang negaranya lamban melakukan vaksinasi. Pada akhirnya itu hanya membuat angka perjalanan internasional terus melambat.