Pernah Beroperasi Lima Dekade di Indonesia, Lokomotif D301 59 Jadi Monumen di Stasiun Semarang Tawang

Monumen Lokomotif D 301 59 di Semarang (KAI)

Stasiun Tawang baru-baru ini memiliki monumen kereta api dengan sebuah lokomotif yang sudah purna tugas sejak 2014 lalu yakni D301 59. Monumen ini sendiri berada di Polder Stasiun Semarang Tawang yang juga masih berada di kawasan milik PT Kereta Api Indonesia (KAI).

Baca juga: Lokomotif Diesel Hidraulik D301 22 Kini Jadi Koleksi Stasiun Tugu Yogyakarta

Monumen lokomotif ini pun setiap malam dihiasi dengan dancing fountain yang juga berada di Polder Stasiun. Fungsi keduanya adalah untuk menghiasi polder stasiun dan mengenang beroperasinya lokomotif D301 59 di perkeretaapian Indonesia.

Lokomotif D 301

Direktur Utama PT KAI Edi Sukmoro mengatakan, pihaknya menjadikan lokomotif D301 59 sendiri selain untuk mempercantik, karena lokomotif ini seperti barang rongsok yang mangkrak dan memenuhi emplasemen Depo Lokomotif Semarang Poncol. Hal inilah yang membuat KAI membuat inisiatif tersebut di area kota lama yang menjadi salah satu ikon kota Semarang.

“Alangkah baiknya bisa jadi monumen mengingat lokomotif buatan Fried Krupp, Jerman ini. Bayangkan pernah ada orang Belanda menemui saya. Dia minta satu Lokomotif di Ambarawa. Sementara di seluruh dunia sudah tidak ada. Kalau minta ya saya tidak boleh. Untuk apa monumen ini, untuk menjaga kelestarian cerita. Kita wariskan ke anak cucu bangsa,” kata Edi yang dikutip dari kai.co.id, (27/3/2019).

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, lokomotif D 301 59 ini hadir di Indonesia sejak tahun 1962. Saat itu sebanyak 80 lokomotif yang didatangkan dari Pabrikan Fried Krupp Jerman oleh Djawatan Kereta Api yang kini KAI selama tahun 1962-1963.

Lokomotif dengan bobot kosong 26,6 ton ini bisa melaju dengan kecepatan hingga 50 km per jam dan dibekali mesin diesel berdaya 340 HP. Bila ditelisik, ternyata lokomotif D 301 59 sendiri sudah beroperasi selama 52 tahun atau bisa dikatakan lebih dari lima dekade sejak 1962 hingga 2014 kemarin. Lokomotif D 301 59 dulunya digunakan untuk melangsir kereta penumpang ataupun barang .

Dimana saat beroperasi pernah menarik kereta api campuran yakni dua gerbong penumpang dan tiga gerbong barang dengan relasi Semarang-Demak, Rembang-Blora, Demak-Purwodadi-Gambringan, Yogyakarta-Bantul-Palbapang, Yogyakarta-Magelang, serta Purwosari-Wonogiri. Lokomotif ini juga merupakan perintis modernisasi lokomotif di Madura hingga ditutup tahun 1987 dan menjadi lokomotif untuk menarik kereta api barang di Jabodetabek hingga ditutup akibat banjir melanda.

Ternyata sebelum pensiun di 2014, pada tahun 1992, diadakan repowering bersama D300 untuk memperpanjang masa pakai lokomotif tersebut. Meski tak lagi mampu beroperasi, tidak semua lokomotif jenis ini dipensiunkan. Karena beberapa unit digunakan untuk keperluan dinas langsir di stasiun-stasiun besar di Pulau Jawa.

Baca juga: D52, Lokomotif Uap Modern Pasca Kemerdekaan Indonesia

Ada pula yang digunakan untuk kereta wisata di Museum Kereta Api Ambarawa, Jawa Tengah. Kini monumen yang dipajang oleh KAI sudah ada dua di Indonesia selain Stasiun Semarang Tawang juga di Staiun Yogyakarta. Edi menambahkan, pihaknya juga akan membuat monumen yang sama di Stasiun Poncol, Semarang.