Pesawat Boeing 707 Lufthansa Lekat dengan Sejarah Indonesia-Jerman Akhirnya ‘Dimutilasi’

0
Boeing 707 Lufthansa di Bandara Hamburg. Foto: wiltshirespotter via Wikimedia Commons

Pesawat Boeing 707 Lufthansa dipastikan bakal dibongkar untuk diambil bagian-bagian yang masih bagus dan dijual kembali ke pasar suku cadang pesawat. Padahal, pegiat pesawat di seluruh dunia, utamanya di Jerman, sudah berupaya keras melakukan crowdfunding untuk menutupi biaya perawatan pesawat bersejarah itu.

Baca juga: Kompetisi Industri Dirgantara Inggris vs AS, Jadi Latar Belakang Lahirnya Boeing 707

Boeing 707 Lufthansa dengan nomor registrasi D-ABOD memang bukanlah pesawat biasa. Itu bernilai sejarah tinggi karena menjadi bagian dari diplomasi udara antara Indonesia-Jerman.

Lufthansa tercatat berdiri pada 6 Januari 1953. Sedangkan Lufthansa Indonesia berdiri hampir 15 tahun setelahnya, yaitu pada 3 Juli 1967. Upaya untuk membuka penerbangan Indonesia-Jerman terus dikebut sampai akhirnya terjadi tak lama setelahnya. Menariknya, pesawat pertama yang mendarat di Jakarta adalah Boeing 707 D-ABOD, yang memulai penerbangan perdananya pada April 1960.

Sejak saat itu, Lufthansa menjadi penghubung Indonesia-Jerman dengan penerbangan mingguan dari Jakarta menuju Frankfurt.

Saat ini, Lufthansa memiliki lebih dari 200 koneksi di seluruh dunia dan menawarkan lima penerbangan di setiap pekan dari Jakarta menuju Munich melalui Singapura menggunakan Airbus A340. Kendati demikian, penerbangan dari Jakarta tak lebih banyak ketimbang penerbangan dari Singapura, yang menawarkan penerbangan harian ke Frankfurt menggunakan Airbus A380.

Dilansir Simple Flying, avgeek di seluruh dunia setidaknya masih bisa melihat Boeing 707 Lufthansa di Bandara Hamburg selama beberapa hari ke depan, sebelum dipreteli menjadi bagian-bagian kecil pada 8 hingga 16 Juni 2021.

Sejak Februari tahun ini, sebetulnya gonjang-ganjing pembongkaran pesawat bersejarah itu sudah menggaung. Namun, itu menjadi gamang setelah pihak bandara mengungkapkan keinginannya untuk melestarikan pesawat itu.

Tetapi, pengelola Bandara Hamburg tak punya pilihan lain mengingat biaya perawatan pesawat mencapai 6 ribu Euro per tahun, cukup besar untuk ukuran saat ini. Terlebih, arus kas bandara juga sedang terganggu lantaran minimnya penerbangan.

Sebetulnya, avgeek di Jerman yang menamakan diri sebagai ‘Friends of the Boeing 707 D-ABOD’ sudah melakukan penggalangan dana dan berhasil mengumpulkan hampir 10 ribu Euro, jauh melebihi dana yang dibutuhkan untuk pemeliharaan pesawat.

Hanya saja, entah apa yang merasuki pihak bandara, secara tiba-tiba, mereka berubah pikiran dan pada bulan April sempat menyatakan keinginannya untuk membongkar pesawat.

Baca juga: Jejak Boeing 707 di Indonesia: Pernah Dioperasikan 4 Maskapai Hingga Jadi Pesawat Kepresidenan

Sampai di sini, tentu saja pegiat dirgantara di Eropa dan Jerman menentang kebijakan itu. Sekali lagi, itu karena nilai sejarah tinggi yang terkandung pada pesawat tersebut. Setelah isu pembongkaran pesawat Boeing 707 itu mereda, pihak bandara akhirnya mengkonfirmasi jadwal pembongkaran, yaitu pada 8-16 Juni.

Juru bicara Friends of the Boeing 707 D-ABOD menyatakan, pihak Bandara Hamburg tidak komunikatif dan melibatkan mereka sebelum mulai menetapkan tanggal pembongkaran. Tak hanya itu, seluruh akses dan ruang dialog juga ditutup mereka.

Leave a Reply