Pesawat Whitetail Airbus Habis, Pertanda Apa?

0
Ilustrasi pesawat whitetail Airbus. Foto: Aeroprints.com via Wikimedia Commons

Keberadaan pesawat whitetail bisa dibilang menjadi alarm tanda bahaya. Bagaimana tidak, pesawat yang sudah diproduksi belum jelas siapa pemiliknya alias nganggur di pabrik (belum terjual). Semakin banyak pesawat whitetail, berarti semakin berat beban perusahaan. Cost produksi terus keluar namun sedikitpun pemasukan dari penjualan pesawat tidak ada.

Baca juga: Backlog A320neo Buat Airbus Selamat dari Krisis Imbas Wabah Corona

Tetapi, itu bisa saja sebaliknya. Andai manufaktur pesawat tidak mempunyai pesawat whitetail karena jumlah produksi menurun (apalagi sampai tidak memproduksi pesawat sama sekali), itu juga berarti alarm tanda bahaya bagi bisnis manufaktur tersebut.

Menurut Airlines.net, Airbus diketahui memang selalu memproduksi pesawat whitetail. Itu dilakukan untuk menjaga supply chain serta jalur perakitan agar tetap berjalan dan mengejar target produksi bulanan. Selain itu pesawat whitetail ada juga karena pembatalan dari pihak pembeli.

Dibanding Boeing, yang bisa dibilang hampir tak pernah memiliki pesawat whitetail, begitu juga dengan Douglas yang sepanjang berdirinya perusahaan hanya pernah memproduksi MD-80 dan MD-11 tanpa pesanan, Airbus sering atau bisa dibilang selalu memproduksi pesawat whitetail.

Sejak tipe pesawat pertama Airbus, A300B2/4, diproduksi, perusahaan diketahui sudah lazim memiliki pesawat whitetail. Bahkan Airbus pernah mempunyai pesawat whitetail A320, A330, dan A340 dalam jumlah besar, membuatnya menumpuk di pabrik.

Head of Region & Sales Europe Airbus, Wouter Van Wersch, dalam gelaran MAKS-2021 di Rusia, belum lama ini mengungkapkan, di puncak krisis beberapa bulan lalu, Airbus memiliki sederet pesawat whitetail. Saking banyaknya pesawat whitetai Airbus bahkan sampai mengurangi produksi. Itu diperparah dengan lemahnya permintaan serta penundaan pengiriman pesawat.

Meski begitu, Airbus berhasil mengirimkan 566 pesawat pada periode krisis tersebut. Tak jelas kapan yang dimaksud periode krisis tersebut. Tetapi, itu diperkirakan terjadi di kuartal 2-4 tahun lalu.

Bulan lalu, Airbus tercatat masih memiliki lima pesawat whitetail. Beruntung, Van Wersch sudah mengkonfirmasi bahwa kelima sudah mendapat calon pembeli. Itu berarti Airbus sudah tak lagi memiliki pesawat whitetail. Dengan begitu, beban Airbus setidaknya jauh berkurang setelah periode pahit selama satu setengah tahun terakhir.

“Dari perspektif Airbus, kami duduk dan mengambil keputusan untuk mengurangi tingkat produksi kami,” ujar Van Wersch kepada wartawan.

Baca juga: Airbus PHK 15 Ribu Karyawan, Perancis Layangkan Protes!

“Kami juga melihat backlog kami. Kami menjangkau pelanggan kami untuk membahas masa depan dan bagaimana kami akan menyelesaikan krisis,” tambahnya.

Sejak awal tahun sampai akhir Juni tahun ini, Airbus tercatat sudah melakukan 297 pengiriman pesawat ke 67 pelanggan di seluruh dunia. Angka tersebut tentu bukan yang terbaik, tetapi cukup memuaskan di tengah pandemi virus Corona yang masih terus berlangsung.