Sederet Kasus Ini Bikin Ide Penerbangan Satu Pilot di Kokpit Jadi Horor

0
Ilustrasi kebijakan satu pilot atau single pilot di kokpit. Foto: Jalopnik

Seiring perkembangan teknologi, peran manusia di dunia penerbangan menjadi sangat terbatas. Dahulu, kokpit diisi oleh lima orang, termasuk pilot dan kopilot, radio operator, navigator, dan flight engineer. Tiga terakhir sudah lenyap digantikan teknologi. Kini, satu lainnya, yaitu kopilot/pilot, sudah diatur untuk disingkirkan di masa mendatang.

Baca juga: Airbus A350 Cathay Pacific Terbang dengan Satu Pilot Mulai 2025!

Belum lama ini, Cathay Pacific mengumumkan rencana menerbangkan armada Airbus A350 dengan satu pilot mulai tahun 2025 mendatang. Itu dilakoni di hampir seluruh penerbangan jarak jauh A350, dengan catatan proses sertifikasi berjalan lancar sesuai rencana. Dengan begitu, kebutuhan pilot maskapai Hong Kong itu bisa ditekan.

Saat ini, Cathay Pacific telah memulai mimpi berbalut Project Connect tersebut bersama Airbus untuk mengembangkan operasi penerbangan jarak jauh A350 dengan hanya satu pilot.

Kendati demikian, Cathay Pacific belum akan meluncurkan penerbangan A350 satu pilot usai mendapat sertifikasi dari regulator. Keamanan akan menjadi proritas utama maskapai dan masih mengkaji pendapat para penumpang terkait itu.

Sebelum kebijakan satu pilot ditarget Cathay Pacific dan Airbus, beberapa tahun ke depan kebutuhan pilot akan sangat tinggi.

Menurut studi terbaru oleh Geoff Murray dari Oliver Wyman, perusahaan konsultan manajemen terkemuka di Amerika Serikat (AS), sebelum mencapai 2024 pun, industri penerbangan, dalam hal ini maskapai, diprediksi sudah mulai kekurangan pilot mulai tahun 2023. Bila industri penerbangan bisa kembali pulih lebih cepat, itu artinya akhir tahun ini kebutuhan pilot maskapai sudah mulai melonjak.

Melesatnya jumlah penumpang pada 2030 mendatang dipercaya membutuhkan sekitar 60 ribu pilot di seluruh dunia. Terdekat, pada 2025 mendatang, dunia setidaknya butuh 34 ribu pilot. Angka itu bisa saja meleset menjadi sekitar 50 ribu pilot.

Andai kata Airbus dan Boeing sukses mengembangkan pesawat single cockpit atau satu pilot dan diaplikasikan oleh maskapai seperti Cathay Pacific, sudah pasti angka-angka di atas sirna.

Tetapi, bagi para taruna atau calon pilot atau mungkin pilot yang sudah aktif sekalipun, era satu pilot di kokpit masih jauh dari harapan. Prosesnya masih akan berlangsung dalam waktu lama untuk membuatnya jadi massif. Penyebabnya, apalagi kalau bukan tantangan untuk membuat penerbangan aman, khususnya saat terjadi insiden.

Catatan The Print, setidaknya ada tiga kasus kecelakaan di masa lalu yang harus bisa dicarikan solusinya andai itu terjadi pada penerbangan satu pilot atau single pilot di kokpit.

Kasus kecelakaan pesawat pertama ialah pecahnya kaca pesawat BAC 1-11 British Airways pada 10 Juni 1990 silam.

Ketika itu, pesawat berhasil mendarat dengan selamat tanpa ada korban jiwa. Padahal, pilot sedang berjuang melawan maut usai kepala dan lehernya sudah berada di jendela pesawat pasca pecahnya kaca. Beruntung masih ada kopilot yang berada di posisi sempurna untuk mendaratkan pesawat. Andai ketika itu hanya ada satu pilot, penerbangan akan berakhir seperti apa?

Kasus kedua yaitu penerbangan Delta Airlines pada Oktober 2009. Saat itu, pesawat mendarat di taxiway Bandara Atlanta, bukan di runway. Setelah penyelidikan, itu terjadi karena pilot dan kopilot kelelahan. Sedang dua pilot saja masih bisa terjadi seperti ini, apalagi satu pilot?

Baca juga: Siap-siap, Lowongan Kerja 60 Ribu Pilot Bakal Dibuka!

Adapun kasus kecelakaan ketiga yaitu pada penerbangan Air France flight 447 Juni 2009. Waktu itu, pesawat Airbus A330 rute Paris – Rio de Janeiro jatuh di Samudera Atlantik.

Hasil analisis penyidik, sejak masalah muncul sampai kecelakaan terjadi, pilot dan kopilot hanya punya waktu empat menit untuk menemukan masalah dan menanganinya. Sedang dua pilot di kokpit saja masih tak sanggup memecahkan masalah, bagaimana dengan satu pilot?

LEAVE A REPLY