Profil Boeing 737-400 TNI AU Hibah dari Garuda Indonesia yang Evakuasi WNI di Kabul

0
Pesawat Boeing 737-400 VIP TNI AU dengan nomor registrasi A-7305 yang merupakan hibah dari Garuda Indoneai pada tahun 2011 silam. Foto: Twitter @rickurick

Kementerian Luar Negeri Indonesia (Kemenlu) sukses memulangkan 26 warga negara Indonesia sebagai respon atas ketegangan yang terjadi di Afghanistan pasca kudeta oleh Taliban.

Baca juga: Praktisi Hukum Leasing: Hibah Bisa Dilakukan Bila Pesawat Sudah Lunas 

“Alhamdullilah, Pemerintah Indonesia telah berhasil mengevakuasi WNI dari Kabul, Afghanistan dengan pesawat TNI AU. Pesawat saat ini sudah berada di Islamabad untuk melanjutkan penerbangan ke Indonesia,” tulis Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, di laman Twitternya.

“Tim evakuasi membawa 26 WNI termasuk staff KBRI, 5 WN Filipina, dan 2 WN Afghanistan (suami dari WNI dan staff lokal KBRI),” cuitnya.

Sementara itu, Kadispenau Marsma Indan Gilang Buldansyah, dalam keterangan tertulisnya, mengatakan pesawat Boeing 737-400 yang menjalankan misi evakuasi WNI dari Kabul, Afghanistan, teregistrasi sebagai A-7305.

Dari data planespotters.net, pesawat tersebut merupakan hibah dari flag carrier Garuda Indonesia. Pesawat dengan nomor seri produksi MSN 25714 ini diketahui bergabung ke barisan armada Garuda pada 23 Desember tahun 1993 dengan nomor registrasi PK-GWL.

Bersama Garuda Indonesia, pesawat ini pada umumnya lebih sering terbang di rute-rute domestik, meliputi Jakarta, Surabaya, Medan, Makassar, Bali, Yogyakarta, dan lain sebagainya. Meski begitu, pesawat ini juga beroperasi untuk rute-rute internasional jarak pendek, seperti Singapura dan Australia (Perth).

Sejak dioperasikan Garuda Indonesia selama kurang lebih selama 17 tahun, hampir tidak ada laporan adanya kendala teknis maupun non-teknis apapun.

Setelah dihibahkan ke TNI AU pada 9 Maret 2011, nomor registrasinya berubah menjadi A-7305. Pesawat dikonfigurasi sebagai VIP. Tak ayal, TNI AU menugaskannya untuk menjalani misi evakuasi WNI dari Kabul, Afghanistan, mengingat desain kabinnya mumpuni untuk itu.

Meski begitu, secara kemampuan terbang, pesawat bisa dibilang tidak mumpuni untuk menempuh jarak Jakarta-Kabul sejauh 6.171 km, jauh dari kemampuan terbang pesawat yang sudah nyaris berusia 28 tahun ini, dikisaran 4.175 km.

Tak ayal, dalam misi kemanusiaan menjemput WNI di Kabul, Afghanistan pada 20 Agustus lalu, pesawat ini harus transit beberapa kali, mulai dari Banda Aceh, Colombo, Karachi, dan Islamabad, untuk mengisi bahan bakar.

Pesawat berkapasitas maksimal 189 penumpang, panjang 36,40 meter, tinggi 11 meter, dan ketinggian maksimum 37.000 kaki, sudah sering ditugaskan menjalani misi evakuasi, dalam dan luar negeri, berbeda dengan saudara kembarnya, A-7308 hibah dari Lion Air, yang diplot oleh TNI AU sebagai pesawat angkut.

Pada Januari tahun ini, pesawat dengan berat lepas landas maksimum 68 ton dan bentang sayap 28 m ini pernah menjalani misi evakuasi 90 orang warga korban gempa dari Mamuju ke Makassar.

Tak hanya itu, dengan konfigurasi VIP, pesawat juga bisa ditumpangi presiden dan wakilnya, serta pejabat setinggi menteri. Tercatat, pesawat yang sudah memiliki 7.000 jam terbang lebih dan tergabung di Skadron Udara 17 TNI AU ini pernah ditumpangi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Joko Widodo.

Baca juga: Taliban Kuasai Kabul, Kemenlu Pastikan 26 WNI Sudah Dievakuasi Pakai Pesawat TNI AU

Untuk kabin kelas VIP, TNI AU menyediakan empat kursi dan dua meja. Letaknya berada di dekat pintu masuk depan di belakang kokpit pesawat. Interior pesawat ini terlihat mewah dan nyaman.

Di belakang ruang VIP, terdapat ruangan berisi dua sleepery seat. Lalu di sampingnya ada semacam tempat meletakan bagasi bagi tamu VIP yang menggunakan pesawat itu.