PT MRT Jakarta Gunakan Thermal Scanner di Lima Stasiun Besar

0
thermal scanner di stasiun MRT Jakarta (istimewa)

Meski mejalankan protokol Bangkit, Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta juga tak melupakan protokol kesehatan yakni pengecekan tubuh penumpang sebelum masuk ke dalam stasiun. Saat ini hampir semua stasiun MRT Jakarta masih melakukan pengecekan suhu tubuh secara manual yakni menggunakan termometer tembak.

Baca juga: Jumlah Penumpang Meningkat, MRT Jakarta Jalankan Protokol Bangkit

Nantinya jika penumpang memiliki suhu tubuh di atas 37,5 derajat maka mereka tidak diperbolehkan menumpang pada kereta MRT Jakarta. Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar mengatakan akan menghadirkan thermal scanner di pintu masuk stasiun.

Kehadiran thermal scanner ini dikatakan William untuk memudahkan pengecekan suhu tubuh penumpang yang lebih banyak.

“Dengan thermal scanner ini, kita tak lagi satu-satu mengecek suhu tubuh tapi sekali banyak jadi lebih mudah,” ujar William.

Namun, thermal scanner ini tidak di semua stasiun melainkan hanya di lima stasiun besar MRT Jakarta. William menjelaskan lima stasiun tersebut yakni Bundaran HI, Dukuh Atas, Blok M, Fatmawati dan Lebak Bulus.

Dikatakan William, karena penumpang di lima stasiun ini lebih banyak dibandingkan dengan stasiun lainnya. Dia menyebutkan pihaknya juga akan menghadirkan stasiun lainnya secara bertahap.

“Kita sudah uji coba thermal scanner ini dan sampai sekarang belum ada masalah dan semua terpantau suhu tubuhnya,” kata William.

Tak hanya thermal scanner, MRT Jakarta juga menghadirkan ruang isolasi dan evakuasi yang aman jika terjadi insiden dan ditemukan gejala pada penumpang. MRT Jakarta juga menghadirkan tim medis dengan kelengkapan khusus di ruang P3K yang mereka miliki di setiap stasiun.

Selain protokol-protokol ini, MRT Jakarta yang melakukan pembatasan penumpang dengan berbagai marka pun masih terus dilakukan. Kemudian William menjelaskan, bahwa mereka juga melakukan pembatasan kuota penumpang di setiap stasiunnya dan ini berbeda satu dengan lainnya.

“Jika satu kereta hanya bisa mengangkut 390 penumpang, kita punya kuota maksimum seperti Lebak Bulus sekitar 147 penumpang untuk menunggu di platform. Jika lebih maka harus menunggu di concourse dan mennggu kereta berikutnya,” jelasnya.

Baca juga: Hadapi Dampak Covid-19, MRT Jakarta Siapkan Empat Skenario, Dari Moderat Hingga Buruk

Menurutnya pembatasan ini karena tidak semua penumpang naik dari Lebak Bulus sehingga pembagian bisa terjadi dengan baik. Dia menyebutkan saat ini MRT Jakarta masih mampu mengelola antrean penumpang.

Leave a Reply