Punya Standar Tinggi, Malaysia Airlines Pecat Pramugari yang Kelebihan Berat Badan Meski 1 Kg

0
Pramugari Malaysia Airlines

Menjadi seorang awak kabin, khususnya pramugari banyak sekali aturan yang harus diikuti. Selain tidak boleh memakai kacamata, mereka juga harus memiliki postur tubuh dengan dengan berat badan ideal. Namun tidak semua maskapai menerapkan aturan menggunakan Body Mass Index (BMI) untuk menentukan seseorang memiliki tubuh yang proporsional atau tidak.

Baca juga: Inilah 20 Syarat ‘Tak Resmi’ untuk Jadi Pramugari, Nomor Dua Agak Aneh

Sayangnya, Malaysian Airlines menggunakan pedoman BMI untuk menentukan seorang pramugari kelebihan berat badan atau tidak. Karena hal ini lima orang pramugari harus dipecat karena memiliki berat badan berlebih.

Salah satu pramugari yang dipecat adalah Ina Meliesa Hassim yang sudah bekerja untuk maskapai milik Negeri Jiran tersebut selama 25 tahun. Ina di pecat pada September 2017 lalu karena gagal mencapai berat badan ideal sesuai dengan perawatan perusahaan.

KabarPenumpang.com melansir laman paddleyourownkanoo.com (23/2/2020), lima awak kabin yang dipecat karena kelebihan berat badan itu berusia diatas 50 tahun dan mereka telah bekerja untuk maskapai asal Malaysia tersebut lebih dari 20 tahun.

“Karena alasan inilah perusahaan mempertimbangkan umpan balik yang diterima dari pelanggan kami pada citra kru dan bahkan penampilan awak kabin telah dimasukkan sebagai salah satu atribut dalam survei pengalaman penerbangan penumpang dan yang dilacak setiap bulan,” tulis maskapai tersebut dalam sebuah pernyataan.

Maskapai mengatakan, awak kabin diminta untuk mencapai BMI atau Indeks massa Tubuh dalam kisaran sehat. Karena Tinggi Ina 160 cm maka, berat maksimum yang diizinkan adalah 61 kg. Namun ketika dilakukan penimbangan, tercatat berat badannya 61,7 kg.

Padahal maskapai mengatakan, Ina dan awak kabin lainnya sudah diberi banyak kesempatan untuk mencapai bobot yang dibutuhkan. Mereka juga mengklaim bahwa Ina telah gagal menghadiri beberapa penimbangan resmi.

Adanya pemecatan ini, kemudian membuat Ina mengadukannya ke pengadilan industri dan pengacaranya berpendapat bahwa maskapai penerbangan internasional lainnya seperti Lufthansa, British Airways dan KLM tidak menggunakan BMI untuk menentukan kelebihan berat badan dan tidak ada risiko keselematan yang ditemui.

Mereka juga berpendapat bahwa kelebihan berat badan satu kilogram tidak cukup untuk menghentikan Ina melakukan perannya secara efektif. Namun, pengadilan memihak Malaysia Airlines menyimpulkan bahwa perusahaan dapat menentukan kebijakan manajemen beratnya sendiri tanpa mempertimbangkan aturan yang diikuti oleh maskapai lain.

Diputuskan juga bahwa kebijakan itu tidak diskriminatif karena berlaku untuk semua anggota awak kabin secara setara. Namun, para peneliti mengklaim BMI adalah cara yang tidak akurat dan menyesatkan untuk menentukan apakah seseorang kelebihan berat badan.

Baca juga: Berat Badan Dianggap Berlebih, Awak Kabin Ini Ajukan Tuntutan ke Maskapai

Para peneliti di Perelman School of Medicine, University of Pennsylvania menemukan bahwa BMI tidak memperhitungkan massa otot, kepadatan tulang, komposisi tubuh secara keseluruhan, dan perbedaan ras dan jenis kelamin. Diketahui, Malaysia Airlines ini telah menerapkan program manajemen berat badan pada Oktober 2015 untuk “mempertahankan citranya sebagai maskapai penerbangan premium”.

Leave a Reply