Sejarah Concorde Mendarat-Lepas Landas dari Bandara Halim Perdanakusuma, Sonic Boom Bikin Kaca Pecah?

0
Pesawat supersonik Concorde Air France dengan nomor registrasi F-BTSC mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma pada 8 November 1977. Foto: Kompas/Kartono Ryadi

Terkait pesawat supersonik Concorde, maskapai asal Indonesia memang tak ada yang seberuntung Singapore Airlines. Maskapai nasional Singapura itu pernah mengoperasikan pesawat tersebut pada tahun 1977. Meski begitu, Indonesia pernah dikunjungi Concorde dalam rangka penerbangan promosi ke Timur Jauh.

Baca juga: Maskapai Legendaris Pan Am Ternyata Sudah Terbang ke Jakarta Sejak 1960

Dikutip dari Majalah Angkasa Edisi November-Desember 1976, pesawat supersonik Concorde milik Air France dengan nomor registrasi F-BTSC pernah mendarat dan lepas landas di Bandara Internasinoal Halim Perdanakusuma untuk pertama kalinya pada 8 November 1976.

Sekilas tentang Concorde dengan nomor registrasi F-BTSC ini, pesawat pertama kali dikirim ke Air France pada bulan Mei 1975. Menariknya, pesawat ini adalah pesawat yang terlibat kecelakaan nahas tak lama setelah lepas landas di Bandara Charles de Gaulle, Paris, Perancis pada 25 Juli 2000.

Sebelum mendarat dan lepas landas untuk pertama kalinya di Bandara Halim Perdanakusuma, santer diberitakan bahwa efek sonic boom akan membuat kaca-kaca di sekitar bandara pecah. Selain itu, bagi orang-orang di sekitar, getaran dan bisingnya suara juga disebut dapat memekakkan telinga.

Kendati demikian, itu tak lantas membuat antusiasme warga dalam menyaksikan langsung pendaratan dan lepas landas pertama pesawat supersonik Concorde di Indonesia -Bandara Halim Perdanakusuma- hilang. Justru malah sebaliknya.

Disebutkan, Bandara Halim Perdanakusuma dipadati oleh masyarakat sejak pagi hari. Usai mendarat, masyarakat pun terheran-heran lantaran pesawat mampu mendarat dengan mulus tanpa ada berbagai informasi yang disebutkan di awal, seperti bising dan getaran berlebih yang dapat memecahkan kaca.

Demikian juga saat Concorde take off dari Bandara Halim, masyarakat dibuat takjub dengan kemampuan pesawat supersonik itu melesat, terbang, dan menghilang dengan cepat di balik awan.

Saat lepas landas dan mendarat, suara Concorde memang menggelegar tapi tidak serta merta sampai memecahkan kaca, karena kemampuan terbang supersoniknya baru dilakukan saat terbang di ketinggian jelajahnya (50.000-60.000 kaki).

Selama di Bandara Halim Perdanakusuma, pesawat Concorde hanya menemani serangkaian prosesi yang digelar, salah satunya konferensi pers oleh Direktut Jendral Perhubungan Udara Marsekal Muda TNI Kardono. Turut hadir dalam konferensi pers tersebut sederet pejabat Concorde, antara lain Roger Chelvader, Michel Lagorce, Brain Trub Shaw, dan pilot Concorde Jean Frakh serta kopilot Gilbert Defer.

Sayangnya, ketika itu, pemerintah melalui Ditjen Hubud Kementerian Perhubungan belum bisa memastikan penerbangan reguler Concorde dari dan ke Jakarta.

Baca juga: Tiga Negara Ini Tolak Penerbangan Supersonik Concorde, Dua dari Asia

Padahal, Concorde menjanjikan penerbangan dua kali lebih cepat untuk mobilitas pertukaran orang dan barang, seperti misalnya penerbangan Hong Kong – Jakarta bila dengan Fokker F-28 ditempuh selama 4 jam 30 menit, dengan Concorde hanya menjadi setengahnya dua jam 30 menit.

Meski begitu, sebanyak 29 pejabat di Indonesia diberi kesempatan mencicipi penerbangan supersonik Concorde, di antarnya KSAU Marsekal TNI Saleh Basarah, Gubernur DKI Letnan Jenderal TNI Tjokropranolo, Dirjen Hubud Marsekal Muda TNI Kardono, Kapolri Jenderal Pol. Widodo Budidarmo, dan Direktur Merpati Nusantara Airlines Marsda TNI Ramli. Bahkan, KSAU dan Dirjen Hubud sampai menjajal Concorde selama dua kali, salah satunya dari Singapore ke Australia.