Serba-Serbi Cathay Dragon, Mantan Pesaing Cathay Pacific yang Kini Jadi Anak Perusahaan

Sumber: South China Morning Post

Kendati namanya tidaklah sebesar Emirates, Qatar Airways, atau bahkan Etihad, namun Flag Carrier Hong Kong, Cathay Pacific memiliki skema pengelolaan sektor udara yang hampir mirip seperti Indonesia. Jika Tanah Air memiliki Garuda Indonesia sebagai induk perusahaan dan Citilink sebagai anak perusahaan yang menjajaki dunia Low Cost Carrier, maka Cathay Pacific pun punya Cathay Dragon yang menjadi anak perusahaan dari maskapai berslogan “Life Well Traveled” ini.

Baca Juga: OMG! Salah Penulisan Livery Pesawat, Nama Cathay Pacific Menjadi ‘Cathay Paciic’

Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Cathay Dragon yang semula bernama Dragonair ini berdiri pada 24 Mei 1985 dan memulai pengoperasian perdananya dua bulan berselang. Pada awal mulanya, maskapai ini berdiri atas inisiasi dari Kuang-Piu Chao, seorang pebisnis asal Shanghai sebagai anak perusahaan dari Hong Kong Macau International Investment Co. Diketahui pula bahwa Dragonair merupakan perusahaan maskapai Cina pertama di Hong Kong.

Di awal pengoperasiannya, Dragonair menggunakan menggunakan armada Boeing 737-200 dan terbang dari Kai Tak International Airport menuju Kota Kinabalu International Airport di Malaysia, tepat setelah pihak maskapai menerima Air Operator’s Certificate (AOC) dari Pemerintah Hong Kong.

Dua tahun setelah penerbangan perdananya, nama Dragonair tercatat sebagai maskapai berbasis di Hong Kong pertama yang tergabung sebagai member aktif di International Air Transport Association (IATA). Maskapai ini juga tercatat sebagai kompetitor lokal utama dari Cathay Pacific yang berdiri pada 24 September 1946.

Persaingan yang terjadi antara Dragonair dan Cathay Pacific terjadi begitu ketat – sampai-sampai pihak Cathay Pacific berjuang keras untuk memblokir aplikasi slot penerbangan dari Dragonair. Persaingan ini lalu berbuntut di hadapan Otoritas Perizinan Transportasi Udara Hong Kong, dimana kala itu, Pemerintah Hong Kong mengadopsi kebijakan “satu rute, satu maskapai”. Kebijakan ini sendiri berlangsung hingga tahun 2001 silam.

Melihat situasi yang sudah mulai tidak kondusif untuk perusahaan dan tidak bisa lagi bersaing dengan Cathay Pacific, Stephen Miller yang kala itu menjadi CEO dari Dragonair mengatakan, “kami mendapat banyak tentangan dari Cathay,”

Baca Juga: Cathay Pacific Hong Kong, Ternyata Didirikan oleh Orang Australia dan Amerika

Singkat cerita, Dragonair yang mulai terseok-seok menghadapi raksasa Cathay Pacific lalu diakuisisi oleh tiga perusahaan sekaligus – Cathay Pacific, Swire Group dan CITIC Pacific pada Januari 1990. Hingga pada 28 September 2006, Dragonair sudah sepenuhnya menjadi anak perusahaan dari Cathay Pacific.

Baru pada Januari 2016 kemarin, Cathay Pacific mengumumkan bahwa mereka tidak lagi menggunakan nama Dragonair, melainkan Cathay Dragon dan nama ini mulai aktif di dunia aviasi global tertanggal 21 November 2016.