Singapore Airlines Kirim A380 Ke ‘Kuburan’ Pesawat di Gurun Australia

0
Airbus A380 milik Singapore Airlines. Sumber: NDTV.com

Singapore Airilines (SIA) dikabarkan telah merampungkan proses pengiriman empat pesawat komersial terbesar di dunia, Airbus A380 Alice Springs (ASP), sebuah Gurun Pasir, di antara Darwin dan Adelaide, Australia. Pesawat masing-masing diberangkatkan berjarak satu jam satu dengan yang lainnya dan menempuh sekitar lima jam lebih perjalanan ke ASP dari Bandara Changi.

Baca juga: Walau Nganggur, Pesawat Tetap ‘Merepotkan’ Petugas, Loh

Dengan begitu, SIA Group total sudah mengirim sembilan pesawat, dimana lima lainnya terdiri dari tiga Boeing 777-200ER milik Singapore Airlines serta dua Airbus A320 milik Scoot. Tahun lalu, maskapai SIA Group lainnya, SilkAir, juga pernah menitipkan enam unit pesawat Boeing 737 Max 8 di sana selama kurang lebih enam bulan.

Lokasi yang berada di antara utara dan selatan benua Australia tersebut selama ini memang lekat dengan label sebagai ‘kuburan’ pesawat. Meskipun tak se-ekstrem The Mojave Air dan Space Port di Gurun Mojave, Southern California, AS, Victorville, California, AS, dan Pangkalan Udara Davis-Monthana Air Force Boneyard, Tucson, Arizona, AS, namun, ASP masih menjadi primadona maskapai untuk menjadi tempat peristirahatan sementara pesawat.

Hal itu dikarenakan antara ASP dengan ‘kuburan-kuburan’ pesawat di AS memiliki ceruk pasar yang berbeda. Di AS, hanya pesawat yang hampir pasti sudah purna tugas yang digrounded. Sebaliknya, Alice Spring umumnya menampung pesawat-pesawat yang masih gagah. Hanya saja, karena satu dan lain hal, pesawat tersebut harus di-grounded dalam jangka waktu yang tak menentu, seperti yang terjadi pada SIA belum lama ini.

Dikutip dari Simple Flying, empat pesawat super jumbo dengan nomor penerbangan SQ8865 – 9V-SKT, SQ8866 – 9V-SKW, SQ8867 – 9V-SKY dan SQ8868 – 9V-SKZ yang berangkat dari Singapore Changi (SIN) menuju Bandara Alice Springs (ASP) tercatat masih dalam usia produktif, berkisar tiga hingga delapan tahun. Tentu saja pesawat tersebut masih sanggup memperpanjang jam terbang.

Belum jelas berapa lama armada A380 Singapore Airlines di-grounded di sana. Yang pasti, untuk jangka pendek ataupun panjang, ASP dinilai cocok untuk menggrounded pesawat. Terdapat banyak faktor mengapa hal itu terjadi, mulai dari jarak, iklim, hingga ketahanan permukaan terhadap beban pesawat.

Terkait jarak, Alice Springs terletak persis di tengah benua Australia atau beberapa ratus kilometer jauhnya dari ibu kota Sydney atau wilayah terkenal lainnya di Australia, seperti Melbourne, Adelaide, Brisbane, atau bahkan Perth. Namun dari Changi, ASP tergolong tak terlalu jauh bila dibanding tempat ideal lainnya. Wilayah Alice Springs dikelilingi oleh pedalaman gurun yang luas.

Praktis wilayah ini selalu kering dan sedikit hujan, tidak ada badai, angin Timur dengan kecepatan 13 km per jam, tingkat kelembaban relatif rendah, sekitar 25 persen. Kelembaban udara dinilai menjadi poin krusial mengapa ASP menjadi tempat ideal untuk menggrounded pesawat dibanding wilayah lainnya mengingat pesawat bisa saja menjadi korosi atau berkarat dibuatnya.

Suhu di Alice Springs juga tergolong stabil di angka 30 °C. Di musim panas atau gugur, panas ekstrem memang kerap terjadi, namun dalam jangka pendek hal itu tak terlalu berdampak negatif terhadap sistem elektronik pesawat. Ketika memasuki musim dingin suhu tidak terlalu ekstrem dibandingkan daratan Eropa bagian utara sehingga lebih bersahabat untuk pesawat. Aspek ideal lain dari daerah seperti ini adalah permukaannya cukup kokoh untuk menopang bobot pesawat besar.

Akan tetapi, meskipun tak beroperasi, pesawat tetap harus selalu berada dalam pengawasan petugas. Hal itu dilakukan agar pesawat tetap dalam kondisi prima dan siap digunakan kapanpun, seperti pengecekan pada sistem hidrolik, sistem avionik pesawat, sistem pendingin udara, mesin, ban, komponen elektronik yang jumlahnya begitu banyak dalam sebuah pesawat, dan bagian-bagian lainnya dalam waktu seminggu sekali.

Baca juga: Grounded Besar-Besaran Bikin Bandara Penuh, Haruskah Pesawat Parkir di Gurun?

Tak cukup sampai di situ, untuk mencegah menumpuknya debu serta burung yang bersarang, mesin serta bagian lain pesawat yang terdapat lubang, termasuk ban pesawat pun juga ditutup dengan kain, plastik, atau media lainnya. Interior pesawat juga tak luput dari perhatian. Selama pesawat digrounded, seluruh kaca pesawat ditutup dengan tirai. Fungsinya, akan sinar matahari tak masuk ke dalam dan membuat bagian dalam menjadi lembab. Lantai, in flight entertainmet, sistem penerangan, hingga sarung kursi pun juga tetap rutin dicek.

Kemudian, yang tak kalah pentingnya, bahan bakar pesawat juga harus dalam keadaan terisi penuh. Hal itu untuk mencegah terjadinya karat di bagian dalam tanki bahan bakar. Meski demikian, ketika pesawat hendak kembali dioperasikan, bahan bakar tersebut tetap harus dibuang dan diganti dengan yang baru. Sebab, layaknya bahan makanan, bahan bakar juga bisa ‘basi’ bila terlalu lama disimpan di tangki.

Leave a Reply