Software Network Planner Jadi Andalan Maskapai Sebelum Putuskan Buka Rute Baru

0
Ilustrasi rute baru pesawat. Foto: asahni.com

Diakui atau tidak, wabah Covid-19 telah banyak membuat perubahan di dunia penerbangan. Belakangan, berbagai perubahan tersebut pun lebih dikenal dengan istilah “The New Normal”. Berbagai perubahan di dunia penerbangan sedikit banyaknya telah memaksa maskapai mau tak mau menyesuaikan dengan kondisi yang ada; salah satunya dengan membuka rute baru.

Baca juga: Emirates Operasikan A380 dengan Rute Terpendek di Dunia, Jaraknya Setara Jakarta – Pangandaran!

Belum lama ini, Bamboo Airways, maskapai berbiaya rendah asal Vietnam mengumumkan Praha sebagai tujuan jarak jauh pertamanya dari Hanoi dan Kuwait Airways meluncurkan penerbangan ke Sarajevo, Bosnia, untuk pertama kalinya. Itu adalah sedikit contoh dari beberapa rute baru yang dijalankan banyak maskapai dunia. Sekali lagi, semua itu dilakukan guna menyesuaikan diri dengan kondisi baru atau “The New Normal”.

Sebagaimana yang sudah ditulis redaksi KabarPenumpang.com sebelumnya, bisnis penerbangan merupakan binsis penuh risiko. Bayangkan, dalam setiap penerbanga, maskapai hanya mengambil margin sekitar lima persen. Padahal, beban biaya harian, bulanan, kuartal, dan tahunan maskapai tak sedikit dan itu semua harus ditambal dengan strategi perjualan yang baik.

Strategi penjualan yang baik tak mungkin tercapai bila rute yang dibuka adalah rute “neraka” atau rute “khayalan” alias sepi atau terlalu banyak pesaing. Bahkan, pada umumnya tim marketing sudah mulai menjual tiket tiga bulan sebelum rute baru dibuka, sekalipun hal itu dilakukan bila pada dasarnya rute tidak menguntungkan, tentu tim marketing akan sulit membuat kursi pesawat penuh di setiap penerbangan.

Dikutip dari Simple Flying, sebelum membuka rute baru, beberapa pertanyaan harus bisa dijawab dengan baik sebagai indikator kesuksesan maskapai di rute baru tersebut. Beberapa pertanyaan itu, termasuk siapa target pasar untuk rute baru? Berapa hari per minggu rute harus dilayani? Pada jam berapa sebuah rute harus dilayani? Jenis pesawat apa yang harus digunakan untuk melayani rute? Siapa yang akan menjadi pesaing utama perusahaan? Berapa biaya dan pendapatan yang saya harapkan saat mengoperasikan rute? Biasanya, tim niaga dan opersional berdebat sengit di sini, semata untuk membuat perusahaan untung. Semua pertanyaan tersebut biasanya disebut Network Planning.

Untuk menjawab pertanyaan itu, setidaknya maskapai punya dua opsi, manual atau by sistem. Manual berarti maskapai mengandalkan cara lama, melalui insting orang-orang berpengalaman di atas kertas dan insting di dalam kepala serta hati. Sekalipun terdengar kuno, cara ini disebut masih dilakukan beberapa maskapai. Masalah uang tentu menjadi dasar utama. Pasalnya, software network planning dbanderol dengan harga selangit. Tentu senilai dengan fungsi dan keuntungan yang didapat pengguna.

Akan tetapi, bila maskapai punya uang yang cukup, tentu software network planner menjadi andalan maskapai sebelum benar-benar membuka rute baru atau mengevaluasi rute yang sudah ada. Ada beberapa software di dunia, termasuk di dalamnya buatan google (google Nested Logit models) dan buatan Jerman/Luftahnsa (Lufthansa Systems’ NetLine/Plan).

Melalui software tersebut, sebuah maskapai dapat mengungguli maskapai lain yang masih menggunakan cara kuno dalam hal kecepatan, transparansi, dan, yang paling penting, akurasi perkiraan. Alat Network Planner atau Perencana Jaringan yang canggih akan melengkapi perencanaan dengan sains terbaru untuk mendukung kasus bisnisnya dalam industri penerbangan yang sangat kompetitif dan dinamis seperti saat ini.

Baca juga: Terbang Lintas Benua! Inilah 10 Rute Terpanjang Penerbangan Non Stop Komersial

Selain itu, berkat algoritma pembelajaran mesin untuk mengkalibrasi model yang mendasarinya berdasarkan data historis, software juga bisa menyajikan data lengkap berupa berbagai rekomendasi.

Dari situ kemudian disusunlah analisis dalam bentuk dua komponen penting, Connection Builder dan the Market Share Model yang bisa menjawab semua pertanyaan sebelumnya (pertanyaan sebelum membuka rute baru). Pada akhirnya data-data dari software akan dibaca oleh ahli software untuk disajikan dalam bentuk statistik dan pada akhirnya digunakan oleh stakehloder untuk memutuskan apakah rute baru akan dijalankan atau tidak.

Leave a Reply