Stasiun Jepang Tanpa Petugas, Penyandang Disabilitas Terancam Kesulitan Bepergian dengan Kereta

0
penyandang disabilitas di stasiun tanpa petugas (mainichi.jp)

Buntut dari Jepang yang kekurangan tenaga kerja, memang mendorong teknologi otomatisasi dalam beragam industri. Namun, tak semuanya membawa berkah, sebagai buktinya para penyandang disabilitas serta lansia, termasuk yang kerepotan saat akan naik kereta api, pasalnya hampir setengah dari stasiun kereta di Jepang sudah tak lagi menempatkan petugasnya sejak tahun 2019.

Baca juga: Kekurangan Tenaga Kerja, Jepang Canangkan Operasional Shinkansen Tanpa Masinis

Ini termasuk sepuluh persen stasiun di prefektur Tokyo dan Osaka menurut data dari Kementerian Tanah, Infrastruktur, Transportasi dan Pariwisata Jepang. Dilansir KabarPenumpang.com dari mainichi.jp (30/11/2020), bahkan jumlah stasiun tanpa petugas cenderung lebih tinggi di daerah pedesaan, namun yang lebih parahnya lagi stasiun tanpa petugas justru semakin banyak di daerah perkotaan di mana pengguna kereta lebih banyak.

Adanya hal ini kemudian berdampak pada kehidupan sehari-hari para penyandang disabilitas yang menggunakan kereta api dan membutuhkan bantuan saat naik dan turun dari kereta. Karena hal ini, pemerintah Jepang berencana untuk merumuskan pedoman yang menentukan bagaimana operator kereta api dalam menangani masalah tersebut.

Angka-angka tersebut menandai pertama kalinya kementerian mengungkapkan data tentang stasiun tanpa pekerja menurut prefektur. Ada 9.465 stasiun kereta api di seluruh negeri pada akhir tahun fiskal 2019 dan 48,2 persen di antaranya atau 4.564, beroperasi tanpa satu pun staf stasiun. Sementara jumlah stasiun kereta api secara keseluruhan di Jepang menurun sebanyak 49 dari akhir tahun fiskal 2001, jumlah stasiun tak berawak tumbuh sebesar 444 dan meningkatkan persentase stasiun semacam itu di negara tersebut sebesar lima poin selama 18 tahun.

Angka tersebut menunjukkan bahwa rasio stasiun tanpa petugas meningkat secara nasional. Prefektur Kochi memiliki rasio stasiun tak berawak tertinggi, yaitu 93,5 persen, dengan 159 dari 170 stasiunnya tidak memiliki petugas. Itu adalah satu-satunya prefektur di Jepang yang melampaui 90 persen.

Persentase stasiun tanpa petugas cukup rendah di wilayah Kanto dan Kansai di Jepang bagian timur dan barat. Namun, 9,9 persen stasiun di Tokyo, yang merupakan prefektur terpadat di Jepang, dan 16 persen di prefektur Kanagawa dan Osaka, yang masing-masing merupakan prefektur terpadat kedua dan ketiga, tidak ada petugas.

Meski begitu ada 19 stasiun di prefektur paling selatan Okinawa, di mana hanya monorel yang beroperasi, memiliki petugas. Penurunan stasiun berawak berasal dari memburuknya kinerja bisnis di antara perusahaan kereta api karena jumlah pengguna kereta turun seiring dengan penurunan populasi Jepang.

Stasiun di daerah pedesaan mengalami penurunan populasi yang signifikan berada di bawah tekanan untuk merampingkan operasi mereka. Perampingan telah menyerukan pembentukan pedoman bagi perusahaan kereta api tentang masalah ini.

Baca juga: Mules Saat Kereta Terakhir, Siswa di Jepang Terkunci di Toilet Stasiun

House of Councilors memberikan contoh ketentuan yang akan dimasukkan dalam pedoman dalam resolusi tambahan ketika undang-undang aksesibilitas transportasi yang direvisi diberlakukan pada bulan Mei. Ini termasuk penempatan pengasuh permanen bagi penyandang disabilitas yang membutuhkan bantuan dan persiapan platform yang memungkinkan penyandang disabilitas yang tidak membutuhkan bantuan untuk naik dan turun kereta sendiri.

Leave a Reply