Survei NEC: Mayoritas Calon Penumpang Menyukai Adanya Sistem Pengenalan Wajah di Bandara

Ilustrasi pengenalan wajah biometrik

Bandara masa kini semakin maju dengan mempermudah dalam proses check in penumpang. Pasalnya sekarang berbagai teknologi yang masuk ke bandara seperti sistem pengenalan wajah (face recognition) untuk mengurangi antrean di jalur keamanan sudah digunakan oleh banyak bandara besar di dunia.

Baca juga: Senyum Anda Tak Dibutuhkan Saat Pemindaian Wajah di Bandara

Sebuah survei yang dilakukan oleh Xenophon Strategies mengungkapkan bahwa sebagian besar atau mayoritas penumpang menggunakan teknologi pengenalan wajah untuk meningkatkan keamanan dan mengurangi waktu terpakai saat mengantri. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman airport-technology.com (2/7/2019), Xenophon melakukan survei atas nama NEC Corporation of America (NEC) yang menyediakan solusi biometrik dan kecerdasan buatan.

Hasil yang didapat setelah men-survei 1955 penumpang, maka didapatkan 75 persen diantaranya akan merangkul atau mengajak penumpang lain menggunakan teknologi pengenalan wajah untuk mengidentifikasi pelancong internasional dan domestik. Sedangkan 87 persen responden mengaku akan menyetujui penggunaan sistem pengenalan wajah untuk mengidentifikasi penjahat dan teroris.

Sebab menurut para responden hal ini juga bisa untuk melindungi sistem perjalanan udara. Apalagi gerbang kemanan dan jalur masuk ke bandara bisa dikatakan sebagai masalah paling parah oleh penumpang.

Selain itu lebih dari 71 persen memilih membayar biaya $10 atau Rp141 ribu demi memotong jalur antrean. Sedangkan sebanyak 22 persen mengatakan, mereka mau mempermalukan diri sendiri seperti bernyanyi di depan petugas demi bisa melalui jalur keamanan lebih cepat dari yang lainnya.

Survei ini juga mengidentifikasi kesadaran dan afinitas yang luas untuk penggunaan pengenalan wajah dalam perjalanan udara. Hasil yang didapatkan adalah sebanyak 84 persen memilih bandara di masa depan yang menggunakan teknologi pengenalan wajah tanpa meminta penumpang untuk berhenti dan menunjukkan dokumen seperti paspor, pengecekan tas dan lainnya.

Hampir 78 persen responden survei menunjukkan bahwa mereka mengetahui teknologi pengenal wajah yang digunakan di bandara untuk pelancong internasional yang masuk dan keluar negeri. Sementara 48 persen mengetahui program biometrik yang dilakukan biasanya oleh maskapai penerbangan.

Baca juga: Menjadi yang Pertama di Australia, Bandara Melbourne Hadirkan eGate dan Smart Security

“Maskapai penerbangan melaporkan bahwa mereka dapat naik jet jumbo dalam waktu kurang lebih sepertiga dengan menggunakan pengenalan wajah di pintu gerbang. Sementara itu, US Customs and Border Protection melaporkan mereka mampu menghentikan lebih dari 100 penipu yang mencoba memasuki negara itu dengan dokumen palsu. Keberhasilan ini tidak akan terjadi, dan tidak akan terus terjadi, tanpa pengenalan wajah,” ujar Presiden Xenophon Strategies David Fuscus.