Tahun 2020, Dipercaya 14.419 Pesawat Komersial Gunakan Akses WiFi di Kabin

0
Shutterstock

Sampai saat ini tersedianya koneksi WiFi (wireless fidelity) di kabin pesawat masih hadir secara terbatas di penerbangan full service. Bagi pihak maskapai, adanya koneksi WiFi jelas membawa citra positif bagi kepentingan promosi. Namun karena dibutuhkan investasi tambahan untuk instalasi WiFi, baru penerbangan terpilih jarak jauh yang menghadirkan WiFi hotspot. Dari dimensi pesawat pun, deployment WiFi masih didominasi oleh pesawat berbadan lebar (wide body).

Namun bakal berbeda dalam lima tahun mendatang, sebaran koneks WiFi di pesawat bakal lebih booming, bahkan boleh jadi WiFi akan menjadi layanan standar. Dilansir KabarPenumpang.com dari fortune.com (11/7/2017), Juniper Research memperidiksi bahwa di tahun 2022 bakal ada sekitar 14.419 pesawat komersial yang dilengkapi konektivitas WiFi. Kenaikan ini mencapai 175 persen dari jumlah tahun ini yang baru mencapai angka 5.234 pesawat.

Baca juga: Maskapai Pacu Kemampuan WiFi dalam Penerbangan

Hasil ini merupakan proyeksi dari Juniper Research yang berbasis di Inggris. “Kenaikan hampir 175 persen ini bisa dikatakan setengah dari armada penumpang dunia yakni pesawat komersial akan terhubung dengan konektivitas,” ujar juru bicara Juniper.

Permintaan konektivitas WiFi didorong dari adanya masyarakat yang membawa perangkat masing-masing atau BYOD (Bring On Your Device) booming. Dimana setiap orang ingin menggunakan smartphone ataupun tablet pribadi dimana pun mereka berada, baik itu untuk bekerja, bermain game atau menyusuri website untuk membaca berita serta sekedar membuka media sosialnya masing-masing.

Baca juga: Ookla: Bandara di India Tempati Urutan Empat Asia dengan Kecepatan WiFi Terbaik

Tentu kebutuhan akses internet penumpang tak bisa dilakukan saat smartphone maupun tablet dalam kondisi flight mode (airplane mode), sehingga tidak terhubung dengan jaringan internet. Tantangan tersebut jelas menjadi tantangan besar bagi para maskapai penerbangan dan pihak penyedia solusi teknologi.

Bagi maskapai, hadirnya koneksi WiFi, terutama pada penerbangan jarak jauh bisa meningkatkan pendapatan di luar penjualan tiket. Pasalnya akses WiFi di kabin pesawat tak disajikan secara gratis. Sebagai ilustrasi, Gogo selaku penyedia layanan inflight WiFi di Alaska Airlines mengenakan tarif US$7 (sekitar Rp93 ribu) untuk pemakaian akses internet selama sat jam, atau US$19 untuk akses penuh selama satu hari.

Sebagai layanan yang masih tergolong premium, penumpang dimudahkan untuk membeli voucher akses WiFi bulanan atau tahunan. Di masa mendatang, maskapai American Airlines akan menggunakan layanan satelit Gogo dan ViaSat (VSAT, + 0,24 persen). Juniper Research juga mencatat peningkatan jumlah maskapai penerbangan yang menawarkan layanan streaming nirkabel dalam pesawat sebagai pilihan sistem hiburan. Bagi para pemerhati penerbangan, dengan layanan ini maka pendapatan bulanan dari streaming tersebut akan meningkat 30 persen.

Baca juga: WiFox, Bantu Anda Berburu WiFi Gratisan di Bandara Internasional

Meski ada potensi pasar penggunaan WiFi di pesawat, namun ada satu masalah yang masih mengganjal, yakni kekhawatiran keamanan yang menyebabkan pemerintah AS mengusulkan larangan laptop di kabin penumpang pada beberapa penerbangan. Isu lainnya yakni WiFi yang bertatif premium tidak menjamin pengalaman konektivitas di angkasa itu bisa maksimal seperti di darat. Perlu jadi catatan, bahwa koneksi internet WiF di pesawat memanfaatkan satelit sebagai hub transponder, boleh jadi ancaman cuaca buruk akan mempengaruhi kualitas koneksi inflight WiFi.

Leave a Reply