Ternyata! Jakarta Dijadikan Panutan Dalam Program Pengurangan Polusi di Sydney

Sumber: cnn.com

Simpang siur kendaraan di Ibu Kota memang sering sekali membuat sebagian pengguna jalan kesal. Tidak hanya kendaraan pribadi saja, kendaraan umum serta para pengguna jalan lainnya juga seolah terburu-buru sehingga kemacetan yang menjadi pemandangan sehari-hari di sini pun menjadi kian runyam. Belum lagi tingginya tingkat pelanggaran lalu lintas dan polusi di Jakarta semakin “mengharumkan” namanya. Ini berimbas pada disematkannya predikat kota terburuk di dunia karena kemacetan lalu lintasnya pada tahun 2015 silam.

Baca Juga: Tekan Jumlah Kendaraan Pribadi, India Hadirkan Bus Berbasis Aplikasi

Belakangan ini, masalah polusi menjadi topik perbincangan hangat di kalangan otoritas kelas wahid. Tingkat pencemaran udara di Jakarta dinilai sudah melebihi batas dan sudah tiba waktunya untuk memikirkan bagaimana cara untuk meredam tingkat pencemaran tersebut.

Menurut data yang dilansir KabarPenumpang.com dari news.com.au (2/5/2017), tingkat emiter karbon dioksida per-kapita Indonesia berada di angka 1,9 ton per-orang, sedangkan benua tetangga kita, Australia menempati urutan ke-12 dunia dengan tingkat emiter karbon dioksida per-kapitanya berada di angka 16,3 ton per-orang.

Secara mengejutkan, hasil riset menunjukkan tingkat emiter yang karbon dioksida yang dimiliki Indonesia berada jauh di bawah Negeri Kangguru. Ini merupakan salah satu acuan hingga Australia menjadikan Indonesia sebagai panutan dalam dua hal yang dianggap akan berdampak pada kondisi transportasi di sana. Dua aspek tersebut meliputi usaha dalam meredam peningkatan polusi.

Sumber: istania.net

Yang pertama adalah pemberlakuan program “Car Free Day” setiap hari Minggu. Seperti yang diketahui sebelumnya, pemberlakuan program ini bertujuan untuk mengurangi tingkat polusi di Ibu Kota dengan cara melarang kendaraan bermotor untuk melintas beberapa jalur protokol, seperti Jalan Sudirman hingga Jalan M. H. Thamrin, termasuk Bunderan HI. Program ini dilakukan setiap hari Minggu dari mulai pukul 06.00 hingga 11.00 WIB.

Walaupun Car Free Day hanya berlaku sekali dalam seminggu, namun program ini mampu membuat benua tetangga iri, khususnya kota Sydney. Bahkan media luar menilai ini merupakan hal yang luar biasa untuk ukuran kota yang sama sekali tidak memungkinkan para warganya untuk berjalan kaki. Seorang ahli transportasi dan pengamat kota dari University of Sydney, Dr. Stephen Greaves mengatakan Australia bisa saja melakukan hal serupa dengan apa yang diterapkan di Indonesia, selama pihak otoritas setempat memiliki kemauan untuk mengadakan program Car Free Day.

Baca Juga: Peduli Polusi, Hyundai Hadirkan Bus Listrik Untuk Tekan Pencemaran Lingkungan

Lebih lanjut, Stephen mengatakan pemerintah setempat memiliki beberapa rancangan yang bisa dibilang serupa dengan program Car Free Day, namun selalu dibantah karena dianggap tidak memiliki dampak yang signifikan. “Selain itu, kami juga kerap kali meremehkan peran transportasi dalam memproduksi emisi karbon. Namun, emisi karbon tersebut terus tumbuh seiring masyarakat membeli kendaraan yang lebih besar dan mampu menempuh jarak yang lebih jauh,” ungkapnya.

Sumber: sindikat.co.id

Selain itu, kehadiran Gojek juga menjadi poin perhatian Australia. Gojek dinilai oleh media luar sebagai inovasi dalam mengurangi jumlah kendaraan pribadi di jalan, bersanding dengan sarana transportasi lainnya, seperti KRL dan TransJakarta. Kembali, pihak Australia memberikan pembelaan dengan mengatakan pengadaan lebih banyak sarana transportasi akan berbenturan dengan perluasan jaringan bawah tanah yang tengah digarap.

Hadirnya pernyataan seperti ini memang membawa penyegaran tersendiri untuk Indonesia karena masih bisa dijadikan contoh oleh negara lain. Namun, tentu saja kita tidak boleh cepat berpuas diri, karena masih banyak negara yang memiliki tingkat polusi yang jauh lebih rendah dari Indonesia, dan kita harus mencontoh negara tersebut. Sebagai masyarakat, yang harus kita lakukan adalah membantu program pemerintah dalam mengurangi polusi, seperti lebih memilih menggunakan transportasi umum ketimbang kendaraan pribadi. Jadi, siapkah kita membantu program pemerintah untuk mengurangi polusi?