Terganjal Sanksi Nuklir, Korea Utara Kesulitan Membeli Pesawat Baru untuk Air Koryo

(samchui.com)

Akibat sanksi nuklir,  Korea Utara terisolir dari sisi industri dan perdagangan dunia, dan karenanya bukan perkara mudah bagi Korea Utara untuik meramajakan armada pesawat pada flag carrier, Air Koryo. Kalau pun ada opsi pengadaan, pembelian pesawat pilihannya sangat terbatas, yakni dari Rusia atau Cina. Dan memang secara fakta, armada Air Koryo memang didominasi pesawat besutan Negeri Tirai Besi yang usianya tergolong uzur.

Baca juga: Air Koryo, Flag Carrier Korea Utara dengan Predikat Bintang 1 Versi Skytrax

Merespon hal di atas, pada akhir pekan lalu, delegasi anggota parlemen Rusia berkunjung ke Korea Utara untuk membahas penerbangan sipil dengan para pejabat. Dalam pertemuan tersebut terlihat bahwa Korea Utara ada di pasar yang mana harus membeli pesawat baru.

KabarPenumpang.com melansir laman simpleflying.com, Sergei Neverov, deputy speaker of the Russian State Duma Lower Parliament House mengatakan, pada pertemuan dengan Kementerian Luar Negeri Korea Utara pihaknya membahas masalah penerbangan sipil dan keselamatannya.

“Kami mempertahankan layanan udara antara Pyongyang dan Vladivostok dan, tentu saja, kami ingin melihat pesawat yang lebih maju dan lebih aman melayani rute ini,” ujar Sergei.

Sayangnya, saat ini Korea Utara tidak bisa membeli pesawat baru karena berada di bawah sanksi ketat oleh PBB terkait dengan program nuklir milik mereka. Sergei sendiri menyarankan penjualan pesawat oleh Rusia akan dimungkinkan bila mendapat langkah-langkah yang disetujui Dewan Keamanan PBB.

Tetapi hal itu masih dilihat apakah memungkinkan untuk pembelian tersebut. Air Koryo sendiri memiliki posisi penting dalam penerbangan Korea Utara dan ada sejak 1950 dengan nama yang berganti hingga akhirnya menggunakan Air Koryo tahun 1992 silam.

Awalnya Air Koryo fokus pada daya angkut kargo selama bertahun-tahun sampai pada 2007, mereka membeli Tupolev Tu-204-300. Dengan jangkauan dan kapasitas pesawat ini, Air Koryo berharap mereka akan segera mulai terbang ke Eropa. Namun, karena masalah keselamatan dan pemeliharaan, maskapai ini ditambahkan ke daftar maskapai terlarang di Uni Eropa.

Maskapai ini pun fokus pada koneksi Asia, memesan Tu-204-300 dan Tu-204-100 pada 2009. Ini digunakan untuk terbang ke Dalin, Cina dan Shanghai Pudong. Pada tahun 2010, Air Koryo diizinkan untuk melanjutkan operasi di Uni Eropa dengan Tu-204, tetapi hanya dengan pesawat ini saja.

Mereka memulai layanan ke Kuala Lumpur pada tahun 2011, tetapi kemudian berhenti pada tahun 2017 setelah keracunan Kim Jong-nam di Bandara Internasional Kuala Lumpur. Saat ini mereka hanya terbang ke Beijing, Shenyang dan Vladivostok. Armada Air Koryo saat ini berasal sepenuhnya dari Rusia, termasuk lima pesawat Antonov, lima Ilyushin, dan enam pesawat Tupolev.

Air Koryo belum membeli pesawat baru sejak 2013 dan sangat membutuhkan untuk modernisasi armada mereka. Namun, sejauh ini terbukti mustahil bagi mereka, karena sanksi yang sedang berlangsung, berarti mereka tidak diberi akses ke Boeing dan Airbus.

Para Ahli Komite Sanksi 1718, yang dipimpin oleh DK PBB, telah memutuskan bahwa maskapai itu beroperasi di bawah militer Korea Utara. Karena itu, semua negara anggota PBB dilarang menjual kendaraan transportasi apa pun, termasuk pesawat terbang penumpang ke Korea Utara.

Baca juga: Lima Maskapai Ini Kondang dengan Sajian Makanan Yang Buruk

Korea Utara telah meminta bantuan sanksi dengan berjanji untuk mendenuklirisasi di Semenanjung Korea dan menghentikan provokasi rudal balitik. Namun, pembicaraan baru-baru ini antara Kim Jong-un dan Presiden Donald Trump telah berakhir dengan kegagalan, jadi pada saat ini, penghapusan sanksi tampaknya masih jauh dari harapan.