Tiga Aliansi Maskapai Global Desak Pemerintah di Seluruh Dunia Cari Cara Agar Maskapai Tak Bangkrut

0
Tiga maskapai mewakili oneworld, SkyTeam, dan Star Alliance. Foto: DeviantArt

Belum lama ini, tiga aliansi maskapai penerbangan global terbesar, Oneworld, SkyTeam, dan Star Alliance, mendesak pemerintah di seluruh dunia untuk mencari segala cara yang mungkin bisa dilakukan untuk membantu industri penerbangan. Hal itu guna meringankan tantangan maskapai dalam menghadapi bencana yang diklaim belum dihadapi oleh industri penerbangan global saat ini di tengah pandemi virus corona atau COVID-19.

Baca juga: Kata Konsultan Penerbangan: Sebagian Besar Maskapai Global Akan Bangkrut Akhir Mei!

Dilansir situs resmi oneworld, tiga aliansi global, yang mewakili hampir 60 maskapai penerbangan di seluruh dunia yang berkontribusi lebih dari setengah pergerakan pesawat global, mendesak pemerintah di seluruh dunia untuk mempersiapkan dampak ekonomi yang luas, seiring berbagai upaya pencegahan lainnya yang dilakukan negara untuk menahan penyebaran COVID-19.

Tak hanya itu, ketiga aliansi tersebut juga meminta stakeholder lainnya di seluruh dunia untuk memberikan dukungan. Sebagai contoh, operator bandara didesak untuk mengevaluasi berbagai biaya, seperti landing charges dan pengurangan tarif Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara (PJP2U), dan berbagai biaya lainnya untuk mengurangi tekanan keuangan maskapai akibat anjloknya jumlah penumpang.

“Dampak manusia (korban) dan finansial yang disebabkan oleh wabah COVID-19 terhadap industri penerbangan belum pernah terjadi sebelumnya. SkyTeam, dengan mitra aliansi, dan atas nama maskapai anggota, mendesak semua lembaga dan pemangku kepentingan industri yang terlibat untuk menghadapi masa-masa yang luar biasa ini dengan langkah-langkah luar biasa juga. Ini termasuk tindakan seperti pengurangan (biaya) slot, bandara, dan pengurangan biaya penerbangan lainnya,” kata Kristin Colvile, CEO dan Managing Director SkyTeam.

Di luar langkah dan upaya dari para stakeholder, maskapai penerbangan global sendiri, baik anggota dari tiga aliansi tersebut maupun bukan, sudah sejak pertengahan Januari lalu mulai melakukan beberapa langkah efisiensi, seperti pengurangan karyawan, pemotongan gaji dan tunjangan, menunda segala bentuk invenstasi jangka panjang, meminta karyawan untuk cuti tanpa dibayar atau sukarela, mengurangi beberapa layanan di darat dan di udara, bahkan menunda dan membekukan pesanan pesawat baru, khususnya yang sudah masuk periode pengiriman.

Di samping itu, upaya mendapatkan dana segar juga telah dilakukan banyak maskapai. Setidaknya hal tersebut dapat diketahui oleh pengakuan Domhnal Slattery, bos dari salah satu leasing pesawat terbesar di dunia, Avolon Leases Aircraft, yang menyebut pihaknya telah dihubungi banyak maskapai global, khususnya maskapai-maskapai dari Cina.

Baca juga: Virus Corona, Petaka Buat Maskapai, Bisa Jadi Berkah Buat Perusahaan Leasing

International Air Transport Association (IATA) atau Asosiasi Transportasi Udara Internasional sendiri sudah memperkirakan, jika krisis virus corona sama dengan wabah SARS pada awal 2000-an silam, hal itu sangat mungkin akan menyebabkan hilangnya pendapatan (profit loss) maskapai global tahun ini sebesar $29 miliar atau Rp417 triliun atau turun 4,7 persen sepanjang 2020.

Selain itu, upaya recovery-nya pun tak sebentar, (jika krisis virus corona sama dengan wabah SARS pada awal 2000-an silam) membutuhkan setidaknya sembilan bulan untuk memulihkan ekosistem bisnis di dunia aviasi. Lantas, bagaimana dengan virus corona, akankah sama dengan SARS (dalam hal recovery yang mencapai 9 bulan)?

Leave a Reply