Tiga Pelajaran dari Insiden Pesawat A320neo Citilink Mendarat Darurat di Palembang

0
Citilink Airbus A320

Pesawat Airbus A320-200neo Citilink terpaksa mendarat darurat di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Sumatera Selatan, Senin lalu (27/9). Dari insiden ini, setidaknya ada pelajaran yang bisa diambil, semata agar kejadian serupa tidak terulang kembali di penerbangan lain.

Baca juga: Penumpang Gigit Pramugari dan Coba Buka Pintu Pesawat di Udara, Mustahil!

VP Corporate Secretary and CSR PT Citilink Indonesia Diah Suryani, melalui keterangan resminya kepada wartawan, menyebut insiden pesawat dengan nomor penerbangan QG 944 ini mendarat darurat di Palembang lantaran ulah seorang anak-anak yang duduk di seat row 11. Ia disebut melepas penutup pelindung tuas pintu darurat atau cover handle emergency exit.

Di seat row 11 dan 12 pesawat Airbus A320-200neo memang terdapat pintu darurat atau emergency exit. Dalam insiden pesawat Citilink mendarat darurat, Diah tak menyebut dengan jelas anak-anak tersebut duduk di kursi pinggir aisle (kursi tengah dipastikan kosong untuk physical distancing) atau kursi dekat jendela, persis di samping pintu darurat.

Andai anak-anak tersebut duduk di kursi pinggir lorong dan orang tua yang bersamanya lalai atau mungkin pergi ke toilet, seharusnya pramugari atau kru kabin menggantikan peran orang tua tersebut sebagai pengawas. Bila ini dilakukan, tentu tak akan terjadi hal demikian.

Sebaliknya, bila anak-anak tersebut duduk di dekat jendela atau di seat row 11 ini berarti persis di samping pintu darurat, berarti ada kejanggalan. Umumnya, sebelum pesawat lepas landas, kru kabin akan menjelaskan SOP bagi penumpang yang duduk di dekat pintu darurat. Bisa dibilang, ada tugas berat yang diemban oleh penumpang di dekat pintu darurat.

Karenanya, tak mungkin anak-anak menanggung beban berat tersebut. Dalam kasus pesawat Citilink mendarat darurat, itu berarti ada pelanggaran prosedur oleh Citilink melalui kru kabin.

Masih terkait kursi seat row 11 dan 12 pesawat Airbus A320-200neo, sebetulnya, terlepas dari insiden di atas, penumpang yang duduk di sini memiliki beberapa keuntungan, salah satunya legroom sangat luas dibanding kursi lainnya di kelas ekonomi.

Itu tadi pelajaran pertama, peran kru kabin dalam mengawasi anak-anak dan prosedur penumpang yang duduk di seat row 11 dan 12.

Pelajaran kedua dalam insiden pesawat Airbus A320-200neo Citilink mendarat darurat di Palembang adalah rasa bosan. Selama pandemi Covid-19, maskapai memang tak menyediakan hiburan dalam penerbangan, terlebih pada Citilink yang merupakan low cost carrier (LCC), sehingga memang tidak ada In-Flight Entertainment (IFE). 

Sepanjang perjalanan dari Cengkareng-Batam, sudah pasti anak-anak diliputi rasa bosan dan sangat mungkin menjadi iseng untuk melakukan sesuatu, hingga akhirnya terjadilah apa yang terjadi. Maka dari itu, seharusnya kru kabin dan orang tua menyadari hal itu dan melakukan langkah-langkah pencegahan.

Baca juga: Airbus Tunjukkan Cara Maskapai ‘Curi’ Ruang Kaki Luas Dekat Pintu Darurat

Khusus untuk kru kabin, bukankah mereka sudah memperhatikan satu per satu penumpang saat di pintu masuk, semata untuk menandai mana penumpang yang mesti diberi perhatian lebih?

Pelajaran ketiga ialah berkenaan dengan penumpang. Dalam penerbangan, penumpang memiliki peran yang sama dengan kru kabin dalam mengawasi sesama penumpang. Bila itu terjadi, seharusnya penumpang lain bisa mencegah anak-anak tadi melepas penutup pelindung tuas pintu darurat atau cover handle emergency exit.