Unggul di Sejumlah Aspek, Ternyata Autonomous Rapid Transit Dinilai Lebih Efektif Ketimbang LRT

0
ART Cina. Sumber: TheConversation

Bicara soal transportasi berbasis massal yang selama ini sudah hadir di berbagai penjuru dunia nampaknya tidak akan ada habisnya, ya. Beda negara, maka akan berbeda pula masalah yang dihadapinya. Ambil contoh Indonesia – khususnya Jakarta yang punya beragam moda transportasi semacam ini. Mulai dari Commuter Line Jabodetabek, jaringan Bus Rapid Transit (BRT) TransJakarta, Light Rapid Transit (LRT), hingga yang sebentar lagi akan beroperasi, Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta.

Baca Juga: PT KAI Tawarkan Autonomous Rapid Transit Untuk Atasi Kemacetan di Bandung

Hadirnya sejumlah moda berbasis massal tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mengatasi masalah kemacetan di Ibukota yang juga berdampak pada masalah polusi. Namun pada kenyataannya, kemacetan tetap saja tidak dapat terelakkan – terutama ketika peak hours. Ketika perkembangan teknologi sudah coba dikombinasikan dengan sektor transportasi, nyatanya belum mampu untuk mengentaskan ‘masalah klasik’ yang ada di setiap kota-kota besar di seluruh dunia ini.

Nah, berkenaan dengan masalah ini, Cina punya satu alternatif moda yang dinilai kompeten untuk menggantikan peran BRT yang dinilai kurang bisa bersaing dengan kendaraan pribadi dan LRT yang punya sejumlah kelemahan. Dikutip KabarPenumpang.com dari laman theconversation.com (26/9/2018), adalah Autonomous Rapid Transit (ART) atau yang kerap disebut Trackless Trams ini merupakan moda yang dilandaskan pada teknologi yang dikembangkan di Eropa dan Cina mengkombinasikannya dengan inovasi dari jaringan kereta berkecepatan tinggi.

Secara umum, ART menggunakan listrik yang tersimpan di dalam sebuah baterai sebagai tenaga penggerak utamanya. Jika berkaca pada ART Cina, moda ini hanya membutuhkan waktu 30 detik untuk mengisi ulang dayanya di setiap stasiun/halte, atau sekitar 10 menit di stasiun pemberhentian terakhir. ART Tiongkok dapat melaju hingga kecepatan 70km/jam dan fitur otonom yang terdapat di moda ini dipandu secara optikal dengan bantuan teknologi GPS dan LIDAR.

Berbeda dengan jaringan kereta ringan lainnya, ART Cina tidak perlu berjalan di rel karena pada dasarnya moda ini menggunakan roda karet sama seperti mobil pada umumnya. Bicara soal kapasitas angkut, standar jaringan ART Cina mampu memboyong 300 orang sekaligus dalam sekali perjalanan dengan menggunakan tiga gerbong (1 gerbong = 100 orang).

Memang, perkembangan LRT di berbagai negara di dunia memiliki ‘catatan manis’ yang dapat mengimbangi pertumbuhan kendaraan pribadi di suatu negara dan menarik minat dari pengembang. Tapi seperti yang sudah disebutkan di atas, moda ini masih memiliki kekurangan yang jika ditelaah lebih dalam lagi, kekurangan tersebut dapat menghambat perkembangan dari moda itu sendiri.

Sumber: TheConversation

Sebagaimana yang dapat Anda lihat pada tabel di atas, terdapat perbandingan dari tiga moda yang sama-sama memiliki keunggulan di bidangnya masing-masing. Namun secara keseluruhan, jaringan ART Cina bisa dibilang hampir tidak ada kekurangan – mulai dari biaya pengadaan, kualitas berkendara, potensi pengembangan lahan, hingga waktu implementasi.

Waktu implementasi yang cukup lama akan berdampak pada kemacetan di lokasi pembangunan – ambil contoh saja Jakarta yang dalam beberapa tahun terakhir ini mengalami penngkatan kemacetan di sejumlah titik karena adanya pembangunan infrastruktur transportasi baru.

Baca Juga: Gunakan Rel Virtual, Autonomous Rail Rapid Transit Siap Mengular di Zhuzhou

Selain itu, dari soal pembiayaan pun ART mampu mengungguli dua moda pesaingnya. Ambil contoh pengadaan LRT di Sydney yang per-kilometernya pengadaan jaringan tersebut dihargai US$120 juta atau yang setara dengan Rp1,8 triliun. Berbeda jauh dengan jaringan ART Cina yang dihargai US$8 juta atau sekira Rp120 miliar per-kilometernya. Sangat jauh bukan perbedaannya?

Kendati ART unggul di banyak aspek, namun semuanya kembali kepada masing-masing pribadi. Jika para pengguna kendaraan pribadi hanya bisa mengeluhkan soal kemacetan yang semakin meradang tanpa ada aksi nyata (contohnya beralih menggunakan moda transportasi berbasis massal), maka hingga kapan pun kemacetan akan selalu terpampang di setiap jalanan.

Leave a Reply