Virus Corona Bikin Penerbangan Jadi Mahal?

0
Ilustrasi pesawat sepi penumpang akibat tiket mahal. Foto: mothership.sg

Di awal kemunculan penerbangan jet komersial di tahun 50-an, maskapai penerbangan, seperti Pan Am, United Airlines, dan Qantas, umumnya diisi oleh orang-orang berduit, dengan setelan berupa jas. Sebab, kala itu, tiket pesawat masih mahal. Jelang tahun 80an, barulah era pesawat komersial dengan harga murah dimulai. Bila sebelumnya kabin pesawat dihiasi oleh penumpang dengan setelan berkelas, kini, pemandangan tersebut nyaris 180 derajat berubah.

Baca juga: Proses ‘Anti Bangkrut’ Masih Berjalan, Thai Airways Tunda Refund

Akan tetapi, kekhawatiran kembalinya era seperti itu pun kembali muncul di kalangan pengamat dan pelaku bisnis penerbangan. Faktor-fator pendorongnya (penerbangan kembali mahal karena tiket menjadi mahal) pun banyak, beberapa di antaranya seperti kebangkrutan maskapai yang menyebabkan berkurangnya kompetisi (ogiopoli atau duopoli) hingga keterbatasan armada akibat banyaknya pesawat yang terpaksa pensiun dini.

Selain itu, pada umumnya, maskapai menetapkan harga dan strategi bisnis ke depan (yang pada akhirnya juga mempengaruhi harga) lewat dua hal, by sistem atau manual, sama saat seperti maskapai hendak membuka rute baru.

By sistem, berarti maskapai dibantu menetapkan harga oleh software khusus dengan cara menganalisis waktu keberangkatan , waktu kedatangan, durasi perjalanan favorit penumpang dan mengkombinasikannya dengan data historis, musim, dan indikator atau kecenderungan pasar seperti event, kompetisi pada rute yang sama, dan sebagainya. Celakanya, data dari semua itu kacau dan besar kemungkinan hasil akhir atau rekomendasi harga tiket dari software tersebut juga tak bisa diandalkan.

By sistem tak maksimal, maskapai bisa saja menetapkan harga tanpa bantuan software atau by manual. Biasanya, pakar manajemen harga juga mengkombinasikan berbagai data di atas untuk menetukan harga. Hanya saja, by manual memiliki satu keunggulan, yakni feeling dalam menetapkan harga sesuai kemampuan atau harapan pasar yang tentu saja tak dimiliki oleh software. Namun, tetap saja problem terbesar penumpang saat ini tak melulu terkait harga mahal, melainkan masalah keselamatan (ancaman dari Covid-19).

Dikutip dari BBC Internasional, dengan kondisi tersebut, tentu menjadi tantangan tersendiri bagi maskapai. Selain harus tetap beroperasi, maskapai juga tak boleh sekedar beroperasi alias harus untung dalam setiap penerbangan. Normalnya, harga tiket mahal akan menekan jumlah penumpang. Begitupun sebaliknya. Tetapi, virus corona telah mengubahnya akibat kekhawatiran penumpang dalam bepergian. Belum lagi berbagai pendapat yang menyebut industri penerbangan akan kembali normal setelah tiga tahun mendatang.

Oleh sebab itu, bila dengan menurunkan harga tiket jumlah penumpang tak juga kunjung meningkat, sebagaimana ketika maskapai menaikkan harga tiket, tentu maskapai akan lebih memilih menaikkan harga tiket. Terlebih, likuiditas juga menuntun mereka untuk menunda ketersediaan tiket murah selama beberapa tahun mendatang.

Baca juga: Software Network Planner Jadi Andalan Maskapai Sebelum Putuskan Buka Rute Baru

Paul Simmons, seorang eksekutif senior maskapai penerbangan yang berpengalaman di berbagai maskapai di seluruh dunia, seperti EasyJet dan Malaysia Airlines, menyebut bahwa kekhawatiran bangkrutnya banyak maskapai di seluruh dunia akan menimbulkan ogiopoli atau duopoli yang pada akhirnya mendorong harga tiket menjadi mahal kemungkinannya kecil. Sebab, menurutnya, saat maskapai bangkrut, maskapai baru akan muncul. Namun, ketika penerbangan tak kunjung kembali normal, maka besar kemungkinan harga tiket akan menjadi mahal.

“Meskipun beberapa maskapai penerbangan pasti akan gulung tikar, yang lain pasti akan meningkatkan untuk mengisi kekosongan. ‘Diskon’ penawaran dan permintaan mungkin membutuhkan waktu, namun, mengarah pada penetapan harga yang lebih tinggi dalam jangka menengah,” katanya.

Leave a Reply