Aneh, Meski ‘Berdarah-darah’, Airbus Tak Butuh Bantuan Pemerintah Perancis

0
Airbus A380 saat masih dalam proses perakitan. Foto: Airbus

CEO Airbus, Guillaume Faury belum lama ini memperingatkan karyawannya bahwa keuangan perusahaan tengah ‘berdarah-darah’. Namun, belakangan tersiar kabar bahwa produsen pesawat asal Eropa tersebut justru tak membutuhkan bantuan pemerintah Perancis.

Baca juga: Airbus Rugi Rp7,7 Triliun di Kuartal I 2020, CEO: Ini Masih Permulaan

“Tidak perlu adanya intervensi negara saat ini. Jika ada kesulitan, kami akan berada di sana untuk membantu Airbus,” kata Menteri Anggaran Perancis, Gerald Darmanin kepada Radio J Sunday, sebagaimana dikutip KabarPenumpang.com dari Bloomberg.

Darmanin mengatakan bahwa saat ini Airbus disebut memiliki uang tunai yang cukup. Kepastian itu didapat setelah pemerintah Perancis dan Belanda menyuntikkan dana sebesar 7 miliar euro atau Rp 116 triliun (kurs 16,284) kepada Air France-KLM. Secara tak langsung, suntikan dana tersebut akan berdampak ke Airbus. Belum jelas bagaimana dampak secara tidak langsung tersebut dapat berjalan, namun, sebagian pihak menduga bahwa Air France-KLM mempunyai sejumlah tagihan atas backlog pesawat. Lalu, indikator dalam menilai Airbus masih memiliki uang yang cukup juga masih simpang siur. Entah di atas Rp 1.000 triliun atau kurang dari itu.

Sebelumnya Airbus melaporkan hanya membukukan pendapatan sebesar 10,6 miliar euro pada kuartal I 2020. Bila dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu, pendapatan raksasa produsen pesawat dunia tersebut terkoreksi sebesar 15 persen atau telah merugi sebesar US$515 juta (Rp7,7 triliun – kurs 15,239).

Hal itu pun memaksa perusahaan setidaknya telah mem-PHK sebanyak 3.000 karyawan di Perancis, 3.200 karyawan lainnya di UK dipaksa cuti tanpa dibayar, dan ribuan karyawan lainnya di Jerman menanti giliran untuk di-PHK atau dipaksa cuti tanpa dibayar, serta mencari pinjaman miliaran euro. Celakanya, menurut CEO Airbus, Guillaume Faury, bencana yang belum pernah dialami sebelumnya ini bukanlah akhir, melainkan baru permulaan.

Melihat situasi yang berkembang saat ini, Faury juga menduga, kuartal II 2020 tampaknya tak akan jauh berbeda. Sama- sama suram. Itu berarti, akan ada beberapa langkah efisiensi berkelanjutan yang sudah mulai dilakoni, seperti pengurangan gaji, pengurangan karyawan, memangkas produksi hingga sepertiga, membatalkan rencana menambah jalur perakitan untuk A321 di Toulouse, dan memperlambat proses pengembangan jet terbaru A220. Tak lupa, tentu saja Airbus juga harus mencari pinjaman lain dalam jumlah besar untuk keberlangsungan bisnis.

Bila Airbus benar tidak butuh bantuan dari pemerintah Perancis karena masih memiliki uang tunai yang cukup (bukan hanya sebuah propaganda semata agar perusahaan terlihat dalam keadaan baik-baik saja), maka, hampir dipastikan Airbus mempunyai uang tunai lebih dari Rp300 triliun. Asumsi tersebut setidaknya dapat ditarik dari keuangan kompetitor mereka, Boeing.

Pada akhir Maret lalu, Dave Calhoun, pernah mengatakan kepada CNBC Internasional, bahwa perusahaan yang dipimpinnya, saat itu memiliki uang tunai sekitar US$15 miliar dolar atau sekitar Rp244 triliun (kurs Rp 16.457). Tetapi, dengan stok uang tunai sebesar itu, Boeing mengaku tetap membutuhkan suntikan modal untuk membayar para pekerja dan mengamankan rantai pasokan agar tetap stabil.

Baca juga: Airbus ‘Berdarah-darah,’ Karyawan Diminta Bersiap Kemungkinan Terburuk

Selain itu, suntikan modal juga dibutuhkan Boeing untuk mengamankan pasar produsen pesawat global hingga persiapan untuk ‘berlari kencang’ ketika Covid-19 benar-benar telah berakhir. Dengan berbagai kebutuhan tersebut, CEO Boeing, Dave Calhoun, menyebut setidaknya perusahaan membutuhkan bantuan sebesar US$60 miliar atau Rp978 triliun.

Bila Boeing saja, dengan stok uang tunai sebesar itu masih membutuhkan suntikan hampir Rp1.000 triliun, bisa dibayangkan, bagaimana kondisi keuangan Airbus saat ini tatkala perusahaan disebut tak butuh bantuan pemerintah Perancis.

Leave a Reply