Dianggap Inti dari Ekosistem Pariwisata, Matta Desak Pemerintah Malaysia Selamatkan Industri Penerbangan

0
Matta mendesak agar pemerintah bantu keuangan maskapai-maskapai dalam negeri. Foto: Pamper.My

Asosiasi Tur dan Agen Perjalanan Malaysia (Matta) mengingatkan Pemerintah Malaysia agar segera mencari solusi untuk mendukung kelangsungan hidup maskapai penerbangan di Malaysia saat wabah virus Cina tak kunjung mereda.

Baca juga: Kata Konsultan Penerbangan: Sebagian Besar Maskapai Global Akan Bangkrut Akhir Mei!

Presiden Matta, Datuk Tan Kok Liang, mengatakan industri penerbangan merupakan inti dari seluruh ekosistem pariwisata. Konektivitas udara sangat penting untuk pariwisata dan pemulihan ekonomi negara penganut sistem Kerajaan tersebut.

“Tanpa maskapai penerbangan untuk mendatangkan jutaan wisatawan masuk dan keluar dari Malaysia, tidak akan ada industri pariwisata yang layak,” katanya, sebagaimana dikutip KabarPenumpang.com dari laman thestar.com.my.

“Mereka adalah garda terdepan dari rangkaian garis panjang rantai pasokan di industri pariwisata yang mencakup bandara, transportasi, jalan dan kereta api, akomodasi, makanan dan minuman, hiburan dan belanja serta bisnis, layanan pendidikan dan kesehatan,” lanjutnya.

Kemudian, Tan, yang menanggapi laporan kemungkinan merger antara Malaysia Airlines dan Grup AirAsia, mengatakan maskapai nasional itu membutuhkan dana talangan besar-besaran. Menurutnya, dana talangan tidak hanya akan mengatasi tantangan likuiditas keuangan jangka pendek tetapi juga akan membantu mendorong pertumbuhan yang jauh lebih baik dibanding pelambatan ekonomi akibat pandemi Covid-19 itu sendiri.

“Namun, langkah-langkah perlu diambil untuk membuat perjalanan udara yang lebih nyaman dan aman bagi masyarakat. Hal itu mungkin bisa ditempuh dengan melibatkan banyak pihak dan menerapkan aturan keamanan serta keselamatan baru, seperti berkenaan dengan fasilitas penerbangan, checkpoint kesehatan penumpang, dan melakukan rapid test corona kepada seluruh penumpang, “ujar Tan.

Desakan Tan terkait stimulus keuangan dari pemerintah mungkin bukan isapan jempol belaka. Saat ini, banyak negara di dunia telah melakukan langkah konkret dengan memberikan kucuran dana segar untuk maskapai nasional atau flag carrier mereka. Pemerintah Singapura, misalnya, telah menganggarkan lebih dari 19 miliar dolar Singapura (RM58.59 billion) untuk mendukung kelangsungan bisnis Singapore Airlines (SIA) dalam mengarungi masa krisis akibat corona. Demikian juga dengan Hong Kong yang dalam catatannya telah menyediakan paket bantuan sebesar HK $2 miliar (RM1,13 billion) untuk mengurangi tekanan likuiditas maskapai dan operator bandara.

Tan menambahkan, selain banyaknya negara yang melakukan langkah penyelamatan ke maskapai nasional mereka, Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) secara terpisah sebetulnya juga telah menyerukan kepada pemerintah di seluruh dunia untuk memberikan paket stimulus kepada maskapai.

“Diperkirakan bahwa Covid-19 akan menyebabkan kerugian bagi maskapai global sebesar US$314 miliar (RM 1,36 triliun), 25 persen lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya,” jelasnya.

Saat ini, masih menurut Tan, bandara di Malaysia telah mencatat penurunan sebesar 27,6 persen atau setara 18,4 juta pergerakan penumpang. Rinciannya, pergerakan penumpang internasional dan domestik menurun masing-masing sebesar 32,4 persen dan 22,4 persen.

Baca juga: Tiga Aliansi Maskapai Global Desak Pemerintah di Seluruh Dunia Cari Cara Agar Maskapai Tak Bangkrut

Sementara itu, pergerakan pesawat tercatat menurun sebesar 11,9 persen pada kuartal I 2020 dibanding periode yang sama di tahun 2019. Adapun rinciannya, pergerakan pesawat internasional dan domestik menurun masing-masing sebesar 17,5 persen dan 8,2 persen dibandingkan kuratal 1 2019.

Akan tetapi, menurutnya, penurunan tersebut belum memasuki fase puncak. Diperkirakan, pada kuartal II, kondisinya akan lebih buruk karena hampir seluruh dunia telah menerapkan kebijakan lockdown dan membuat maskapai lebih sulit bergerak kecuali mengandalkan rute domestik.

Leave a Reply